
-Vanca Angelina, usia 28 tahun, TB: 170cm, BB: 53kg. memiliki rambut berwarna coklat yang panjangnya hanya se-bahu, selalu menggunakan bando, matanya berwarna coklat dan memiliki hidung yang sedikit mancung. special ability: healer.
dia langsung menyapaku dan menyuruhku duduk di sebelahnya saat di kereta, dia berbisik padaku dan bilang bahwa di dalam kereta ini ada orang berbahaya yang membawa peledak, ternyata Agam memang sedang menugaskan Vanca dalam misi ini, dan aku tidak sengaja terlibat di dalamnya.
tidak lama setelah kami duduk, sebuah ledakan terjadi tepat pada 3 gerbong di depan gerbong ku, kereta jadi berhenti karenanya, orang-orang di kereta pun panik, tapi mereka tidak bisa lari karena kereta berhenti di tengah jembatan gantung. masih belum diketahui bagaimana keadaan orang-orang yang ada di gerbong depan, tapi sepertinya kepanikan terjadi karna banyak yang berlari ke gerbong ku.
Vanca berlari ke gerbong depan untuk melihat keadaan sekaligus menangkap pelaku, dia menyuruhku membawa orang yang terluka kebelakang untuk di obati. tiba-tiba ditengah asap yang tebal, ada orang yang melemparkan bom tepat ke bawah kaki Vanca.
bom itu meledak dan membuat kepanikan semakin besar, aku langsung berteriak memanggil Vanca, karna dengan ledakan sebesar itu, mustahil dia bisa selamat, tapi tiba-tiba Vanca keluar dari asap yang begitu tebal dengan baju yang sudah terkoyak-koyak.
"Freya... pergilah kebelakang!, cari tempat yang aman dan ajak orang-orang untuk berlindung" ucapku pada Freya. "mereka pasti mau mengikuti mu"
"tapi bagaimana denganmu?" tanya Freya.
"tenang saja... aku akan membantu Vanca di sini" jawabku dan langsung mendekati Vanca.
Freya langsung berlari ke gerbong belakang dan membuka mode penyamaran nya, semua orang kaget karna ada idol di sana, Freya langsung menyuruh mereka berlindung dengan perlahan dan tidak saling menyerobot, ajaibnya orang-orang itu mengikuti arahannya dan langsung berlindung dengan tertib.
"kau bisa bertarung?" tanya Vanca.
"sedikit" jawabku.
"baiklah..., kau ulur waktu sebentar melawan nya, aku harus mengobati orang-orang yang terluka parah dulu" ucap Vanca sambil berlari ke gerbong belakang.
"baik!" ucapku.
tiba-tiba pria dengan peledak itu keluar dari gumpalan asap sambil tertawa terbahak bahak, tanpa perlu basa-basi, aku langsung menerjang nya dan melancarkan pukulan. aku sudah mulai mengerti tentang ability milikku, aku hanya perlu menyentuh orang yang juga memiliki ability dengan telapak tanganku, dan kemampuan milikku akan langsung membuat ability musuh menghilang untuk sementara.
pria itu menggunakan sebuah kacamata dengan lensa berwarna kuning, pakaian seperti dokter, dan menggunakan topi bundar seperti seorang pesulap. dia tidak menghindar dari serangan ku, dan malah bertanya.
"apa kau pernah merasakan ledakan?" tanya pria itu.
dia langsung menangkap tanganku dan memelukku, ternyata di tubuhnya ada sebuah bom yang sudah aktif sejak lama, bom itu akan meledak jika pemicu di tekan. pria itu menekan tombol pemicunya sambil tertawa kencang, "sial!, sepertinya aku akan mati" begitulah pikirku.
bom nya meledak, aku merasakan luka bakar di sekujur tubuhku, bahkan aku merasakan bahwa banyak bagian tubuhku yang terpotong, sepertinya kali ini aku benar-benar mati. tapi ternyata beberapa saat kemudian aku terbangun, walau pakaian ku rusak parah, tapi tubuhku tidak terluka sama sekali, aku malah merasa bahwa energi ku terisi kembali.
"bodoh, jika aku tidak langsung menyembuhkan mu... kau pasti sudah mati" ucap Vanca.
ternyata Vanca yang mengobati ku, ability miliknya memungkinkan dia menyembuhkan apapun, dia juga bisa menyambung organ yang terpisah, dia juga bisa menghidupkan orang yang baru mati selama 10 menit, jika sudah lebih dari itu, dia tidak bisa membangkitkan nya. saat itu aku malah terpikirkan Arum, jika aku mengenal Vanca jauh sebelum operasi Arum, mungkin aku bisa meminta bantuannya dan menyembuhkan Arum.
suara tawa muncul lagi dari asap ledakan tadi, ternyata pria itu tidak terluka sama sekali, bukan hanya tidak terluka tapi bahkan pakaiannya tidak ada yang rusak sedikitpun. pria itu mulai melemparkan peledak dari dalam tas gunung miliknya, jika aku menghindar mungkin peledaknya akan jatuh di gerbong belakang, akhirnya aku memutuskan untuk memukul dan menendang peledaknya keluar kereta, semua peledak itu akhirnya meledak di dalam laut yang ada di bawah kami.
aku mulai kelelahan, dan sepertinya Vanca juga merasakan hal yang sama denganku, terlihat jelas bahwa nafas nya sudah mulai berat, kami berdua tidak bisa mendekati pria itu sedikitpun. hingga akhirnya ada petir yang menyambar pria itu, sepertinya petir itu berhasil melukai pria itu, tapi darimana petir itu berasal?.
"aku sudah lama mengejar mu Satya" ucap pria yang tiba-tiba muncul di sebelahku.
"siapa kau!" tanyaku sambil waspada.
"wah wah, apa yang dilakukan anjing pemerintah disini?" ucap Vanca.
ternyata pria itu adalah anggota rahasia militer yang bekerja untuk menangkap iblis, nama organisasi mereka adalah "Devil Hunter". pria itu memiliki rambut putih dengan gradasi warna merah, mata biru dan mengenakan seragam militer berwarna putih, dengan jubah hitam yang cukup panjang.
"apa yang dilakukan seorang devil Hunter disini?" tanya Vanca.
"kau sendiri?, apa yang dilakukan evening sun disini?" ucap pria militer itu.
"sepertinya kita punya tujuan yang sama" ucap Vanca.
"pria itu bernama Satya, ability nya membuat dia kebal dengan bom, itu juga berpengaruh pada pakaian yang sedang dia gunakan" ucap pria militer itu.
"jika kalian mengejar nya, apa dia memiliki kontrak dengan iblis?" tanya Vanca.
"ya!, dia memiliki kontrak dengan iblis tingkat 5" ucap pria militer itu.
"karna listrik bisa menjinakkan sebuah bom, apa kau bisa melawannya dengan juniorku?" ucap Vanca. "sepertinya aku harus membawa para warga sipil ini turun dari kereta"
"silahkan, asal junior mu itu jangan sampai menghambat pergerakan ku" ucap pria militer itu.
Vanca kembali ke gerbong belakang dan mulai mengevakuasi warga, dia mempercayakan aku dan pria militer di sebelah ku untuk mengalahkan pengebom ini.
"kau... siapa namamu?, sepertinya kita sepantaran" tanya pria militer itu.
"aku Agi, tahun ini usiaku 16 tahun" jawabku.
Rize langsung menyerang Satya dengan petir nya secara membabi buta, aku tidak berani mendekatinya karna takut ikut tersetrum, serangan itu sepertinya benar-benar membuat Satya terpojok. Rize menyuruhku untuk mendekati Satya dan langsung meringkus nya, dia bilang akan melindungi ku jika Satya mau meledakkan dirinya lagi.
tapi saat aku baru ingin mendekati nya, tiba-tiba Satya berteriak sangat kencang, dia terlihat seperti sedang kesakitan, tapi itu tidak berlangsung lama, karna tiba-tiba dia berhenti berteriak dan malah tertawa terbahak-bahak.
"BERHENTI!!!" ucap Rize padaku yang sedang mendekati Satya.
"kenapa?" tanyaku.
"MENJAUH DARI SANA, DIA AKAN BERUBAH!" ucap Rize.
benar saja, tiba-tiba ada api hitam yang mengelilingi Satya, tubuhnya terlihat terbakar, dan saat api itu padam..., wujud Satya sudah bukan manusia lagi. muncul satu tanduk di kepalanya, matanya juga tertutup seperti habis terkena luka bakar, tangannya memanjang, bahkan sampai menyentuh tanah, dengan gigi runcing dan lidah seperti venom, dia benar-benar terlihat mengerikan.
dia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahku, seketika... aku meledak, dan ya... aku mati lagi. seperti tadi akhirnya aku bangun lagi, sepertinya Vanca menyembuhkan ku lagi, aku tidak tahu bagaimana cara dia menyerang barusan.
"kau sudah bangkit?" tanya Rize padaku.
"apa yang sebenarnya terjadi" tanyaku.
"sepertinya dia bisa meledakkan objek yang ia tunjuk" ucap Vanca.
"itu berarti... barusan aku meledak dan mati?" tanyaku.
"ya" jawab Rize.
"sekarang... bagaimana cara kita mengalahkannya" ucap Vanca.
Vanca mengeluarkan sebuah kapak dalam tas nya dan langsung menyerang Satya, Rize membantu nya dan mencoba menyerang Satya dari belakang, mereka melakukan serangan dua arah. tapi Satya yang sudah berubah menjadi iblis pasti kemampuannya sudah meningkat pesat, kapak Vanca jelas mengenai kepala nya, tapi dia tidak terluka sedikitpun, begitu juga dengan Sambaran petir Rize.
"geli" hanya itu kata yang keluar dari mulut Satya saat diserang dengan membabi buta, dia malah cekikikan saat semua serangan itu mengenai nya, sepertinya... ketahanan tubuhnya meningkat pesat, dan saat ini ketahanan tubuhnya sudah bukan lagi ketahanan manusia.
"tunggu... jika ketahanannya termasuk ability, mungkin aku bisa menghilangkan nya dengan ability ku" begitulah pikirku.
"Vanca, Rize, sepertinya aku tau bagaimana cara mengalahkannya" ucapku.
"cepat beritahu apa rencana mu!" ucap Rize.
"ability bisa menghilangkan ability orang lain untuk sementara jika aku menyentuhnya" ucapku. "jadi... jika kekuatan iblis termasuk ability, aku akan mencoba menyentuhnya, saat itu... kalian serang dia bersamaan"
"baiklah, aku akan membantumu mendekati nya" ucap Vanca sambil berlari dan mengayunkan kapak nya.
Satya mulai menyerang dengan ledakannya, Rize membantu ku dengan listriknya dengan cara menyambar tempat yang akan di ledakan oleh Satya, akhirnya Satya menggunakan cakar nya untuk menyerang ku. saat dia mencoba mencakar ku, Vanca menangkis dengan kapaknya, saat itu Rize dan Vanca membuat momen agar aku bisa menyentuh Satya, akhirnya aku naik ke punggung Satya dan memegang kepalanya.
kami tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung menghajar nya, ternyata dugaan ku benar, ability ku bisa menghilangkan ability nya, akhirnya kami bisa membuatnya terluka.
"tahan sebentar lagi, aku akan menyegel kekuatan iblis nya" ucap Rize.
saat Rize sedang membuat sebuah lingkaran yang terlihat seperti lingkaran sihir, tiba-tiba Satya menusuk perut Vanca dengan kukunya yang tajam, bahkan dia juga langsung memegang tanganku dan langsung melempar ku, aku hampir terjatuh ke bawah karna di lempar oleh nya. luka yang di derita Vanca sangat parah, karna kukunya berhasil menembus perut Vanca, Satya menyerang Rize dan membatalkan ritual penyegelan nya.
"kumohon... kalian jangan sampai terluka atau bahkan mati lagi, aku sudah tidak memiliki energi untuk menyembuhkan" ucap Vanca sambil menyembuhkan luka kami.
yang dikatakan oleh Vanca benar, dia sudah tidak memiliki energi untuk menyembuhkan lagi, bahkan luka yang di terima nya tidak benar-benar pulih. itu berarti... jika kami terluka, Vanca sudah tidak bisa memulihkan kami, apalagi jika kami sampai mati.
"JANGAN ADA YANG BERGERAK! JIKA KALIAN BERGERAK SELANGKAH SAJA, AKU AKAN MEMBUNUH WANITA ITU" ucap Satya sambil mengarahkan telunjuknya ke suatu tempat.
aku kira dia mengancam untuk membunuh Vanca, ternyata... telunjuknya mengarah pada Freya yang berada di gerbong belakang, aku kira Freya sudah melarikan diri saat Vanca mengevakuasi warga, ternyata sejak awal dia tidak pernah keluar dari kereta.
"KENAPA KAU TIDAK IKUT LARI?!!" ucapku pada Freya.
"aku tidak bisa meninggalkan mu"ucapnya dengan wajah panik.
sial!.. apa yang harus kami lakukan sekarang, jika aku bergerak sedikit saja, Satya akan langsung meledakkan Freya, apa yang harus kulakukan, tiba-tiba Satya tertawa kencang dan berkata.
"selamat tinggal!!!" ucap Satya dengan wajah sombong.
suara ledakan terdengar, dia menyerang Freya, tidak... dia sudah membunuh Freya, begitulah pikirku, aku berteriak memanggil nama Freya, tapi dia tidak menjawab sama sekali, dia pasti sudah mati. pikiranku langsung kosong saat itu, tanpa banyak bicara aku langsung menerjang Satya dan berniat membunuhnya, aku berhasil mencekiknya dan mencoba menikamnya menggunakan pisau yang kuambil dari Rize.
Rize bahkan tidak sadar kapan aku mengambil pisaunya, saking cepatnya diriku saat itu, karna emosi membuat pikiranku kacau, aku jadi menyerang secara berantakan, aku menikamnya dengan asal-asalan. Satya berteriak sangat kencang saat aku menusuk nya berulang kali di bagian dada nya, tanpa kusadari tangan yang kupakai untuk mencekiknya mulai melemah, hingga akhirnya dia berhasil melepas tanganku darinya dan langsung memukulku hingga terpental.
tapi... tiba-tiba cahaya yang sangat terang muncul dari dalam asap ledakannya Freya, saat itu... aku melihat sosok wanita dengan zirah dan memiliki dua sayap di punggungnya, wanita itu menggunakan mahkota yang terbuat dari bunga di kepalanya, wanita itu adalah... sang Dewi perang "Freya".
bersambung....