Loser's Dream

Loser's Dream
MEREKA BELUM KALAH?


Kupegang tanduk iblis itu, aku tidak bisa mematahkan tanduknya, entah mengapa sangat keras.


"Aku tidak bisa mematahkan tanduknya" ucapku.


Saat aku mencoba menusuk jantungnya dengan belati ku, dia berubah kembali ke wujud manusia nya, tentu saja jika ku tusuk, yang mati bukanlah iblisnya.


"SUDAHLAH... BUNUH SAJA DIA" ucap Lingga.


"Aku tidak mau menjadi pembunuh" ucapku.


Aku mulai merapal mantra, menyiapkan segel evloth, "sepertinya satu-satunya cara adalah menyegelnya".


Lingga juga mulai menyiapkan segel. Saat kami ingin mulai menyegelnya, tiba-tiba dia berteriak, seperti sangat kesakitan.


"Apa yang terjadi?!!" Lingga malah memukul kepalanya.


Dia memegang kepalanya, kemudian... dia berubah menjadi bola, ukurannya sama persis seperti bola kasti.


Bola berwarna hitam bercahaya itu tiba-tiba melesat menuju villa, aku dan Lingga lantas mengejarnya.


***


Kami keluar dari hutan, melihat yang lain sedang menyiapkan segel untuk iblis bersayap dan iblis wajah kera.


Rupanya mereka mengalami hal yang sama, kedua iblis itu berubah menjadi bola.


Ketiga bola itu tiba-tiba berputar membentuk lingkaran.


Sebuah cahaya menyilaukan muncul, ketiga bola itu menyatu, dibarengi dengan kabut hitam yang sangat tebal.


Kabut itu perlahan menghilang, terlihat sosok besar dari dalam, memiliki sayap dan empat lengan. Ketika kabut itu benar-benar hilang, sosok itu terlihat jelas. Iblis berukuran tiga meter, dengan dua tanduk, empat lengan, dan dua sayap.


"Apa itu..." aku tercengang menelan ludah, melihat sosok mengerikan.


Sosok besar itu melesat, seketika dia sudah berada di belakangku. Saat aku menoleh, dia memukulku hingga terpental cukup jauh.


"Agi!!!" Aku mendengar Agatha berteriak.


(Scene berpindah ke Eugene)


Eugene menggendong Dariel pergi menjauh dari villa, "jika mereka menangkap mu, bisa sangat berbahaya" Eugene menyandarkan Dariel pada sebuah pohon.


Setelah Eugene menyelimuti tubuh Dariel dengan kain, dia berniat kembali ke villa. Tapi tangan Dariel tiba-tiba bergerak, menahan langkah kaki Eugene.


"Kumohon.... jangan tinggalkan aku..." dengan mata masih tertutup, Dariel merengek.


Tak lama kemudian Dariel membuka matanya.


"Wah... padahal belum dicium oleh pangeran, tapi putri salju ini sudah bangun lebih dulu" ucap Eugene meledek.


"Dimana yang lain?, dimana teman-temanku?, dimana bapak panti?" Dariel meneteskan air mata.


"Mereka sudah mati, kau sendiri yang membunuhnya" ucap Eugene tersenyum.


Selama satu bulan, Eugene menyelidiki latar belakang Dariel. Panti bobrok yang dia tinggali saat ini, rupanya sudah terbakar sejak setahun yang lalu, dan penyebab kebakarannya, adalah suzaku.


Dia membakar panti itu, tapi kebakarannya tidak terlalu besar. Suzaku mengamuk, menyerang semua anak, termasuk bapak pengurus panti.


Tiga puluh orang tewas karna kejadian itu, dan Dariel... menjadi satu-satunya yang selamat, tentu saja dia bisa selamat, karna dia adalah suzaku itu sendiri.


Tidak ada yang melihatnya saat itu, hingga dua bulan yang lalu, suzaku terbang di langit kalimantan, dia membakar panti itu lagi. Kali ini banyak warga yang melihatnya, Tapi tak ada satupun warga yang melihat perubahan Dariel menjadi suzaku, jadi mereka mengira suzaku adalah dewa yang sedang turun ke bumi.


"Apa maksudmu?... tidak mungkin aku membunuh mereka" Dariel terlihat kebingungan. "Burung itu menyerang mereka, tapi mereka tidak mati, mereka menghilang, aku yakin mereka masih hidup"


"Trauma yang kau alami, membuatmu berhalusinasi, kau berpikir mereka masih hidup, padahal semua temanmu beserta bapak panti, sudah tewas sejak tahun kemarin" ucap Eugene tersenyum.


Dariel memegang kepalanya, dia masih bingung dengan semua perkataan Eugene.


"Selama satu tahun, kau hidup dalam imajinasi mu. Wajar saja jika ingatanmu selama setahun kebelakang tidak jelas, selama setahun, yang merawat mu adalah para warga, kau bisa hidup sampai saat ini adalah berkat mereka" Eugene tersenyum sambil menjelaskan.


"Tidak mungkin... aku melihat bapak panti, aku juga bermain dengan teman-temanku dua bulan lalu, sebelum burung api itu menyerang kami" Dariel kembali meneteskan air matanya.


"Sudah kubilang... ingatan itu hanyalah imajinasi mu" Eugene menegaskan sambil tersenyum.


"Tidak... tidak!" Dariel tidak menerima kenyataan itu, dia membentak Eugene.


Eugene mendekatkan wajahnya pada Dariel, mulutnya sudah dekat dengan telinga Dariel, "dan asal kau tahu... burung raksasa itu adalah dirimu" Eugene berbisik padanya.


Dariel kelihatan semakin gelisah, hingga sebuah sayap tiba-tiba muncul dari punggungnya.


Eugene melompat dua langkah kebelakang, dia bersiap jika Dariel tiba-tiba mengamuk.


"Lihatlah... sudah jelaskan?" Ucap Eugene tersenyum sambil menunjuk sayap Dariel.


Dariel melihat ke sebuah genangan air, dia melihat dua sayap yang lebar di punggungnya, sayap yang sama persis seperti milik suzaku.


Dia melotot melihat bayangannya sendiri, seakan masih belum bisa menerima kenyataan.


Dia mulai memegang kepalanya lagi, berteriak sangat keras, dan perlahan... dia berubah menjadi suzaku.


"Haha... awalnya bukan ini rencanaku, tapi... mau bagaimana lagi" Eugene mengangkat bahunya sambil tersenyum.


Suzaku mulai mengamuk dan menyerang Eugene, dengan cepat, Eugene menghindar.


"Sepertinya kekuatanmu akan sangat berguna" Eugene bergumam sendiri.


Dia merubah arahnya, berlari menuju villa, "kejar aku burung payah" dia mengatakan itu dengan senyum lebar di wajahnya.


(Scene kembali ke Agi)


Vincent turun dalam pertarungan itu, dia melindungi anggota nya yang terluka. Hanya dalam waktu dua menit, iblis raksasa itu berhasil membuat sekitar tiga puluh lima anggota Devil Hunter terluka parah.


Tim medis bersiaga mengobati yang terluka, Agatha maju bersama Isla, mencoba menumbangkan iblis raksasa itu.


"Akan kubiarkan teman-temanmu hidup, jika kau dan burung api mau ikut bersama kami" ucap iblis raksasa itu.


"Coba saja rebut dia jika kau bisa" Vincent mencoba melindungi ku.


Saat ini, yang masih berdiri dan bisa bertarung hanya aku, Lingga, Rize, Agatha, Isla, Vincent, dan enam anggota yang tersisa.


Jumlah kami saat ini hanya dua belas orang, jika yang kami lawan adalah iblis tingkat empat biasa, dengan jumlah ini mungkin kami tidak akan kesulitan. Tapi... yang ada dihadapan kami kali ini berbeda, dia bahkan dapat mendesak Vincent.


"Tapi bagaimana? Iblis itu berhasil menghancurkan senjata kita" ucap Agatha.


"Kita sudah tidak memiliki senjata yang terbuat dari batu surga, sangat sulit untuk membunuhnya" ucap Isla.


"Aku bisa!" Tiba-tiba aku memotong pembicaraan. "Belati milikku ini, terbuat dari batu surga juga"


"Tetap saja sulit, kita membutuhkan lebih banyak kekuatan. Dengan kecepatan dan kekuatan yang dimiliki iblis itu saat ini, sulit bagi kita untuk menang" ucap Vincent.


"Serahkan saja dirimu pada kami, bawa burung api itu juga, kami akan melepaskan kalian jika kalian mengikuti perintah kami" ucap iblis itu.


Vincent mengangkat pedangnya, mengarahkannya pada iblis itu, "yang paling pintar dalam kondisi seperti ini adalah Eugene, sekarang... kita ulur waktu saja sampai dia kembali" Vincent tiba-tiba melesat.


"Kau menginginkan kedua bocah itu?, coba ambil kalau bisa!" Vincent menebas iblis itu.


Dia berhasil melukainya, tapi tetap saja, regenerasi iblis itu sangat cepat, membuat setiap serangan Vincent jadi tidak ada artinya.


Iblis itu menghindar, terbang ke langit, menyebarkan kabut hitam yang sangat tebal, membuat penglihatan kami terganggu.


Tiba-tiba saja ribuan tinju menghujani kami. Agatha membuat tameng besar dari besi, dia berusaha melindungi kami semua. Vincent tidak berlindung, dia menangkis semua serangannya dengan menebasnya.


Aku, Lingga, dan Rize sadar, bahwa penglihatan iblis itu juga sepertinya terganggu karna kabutnya sendiri. Oleh karna itu, kami bertiga berlari keluar dari tameng raksasa Agatha. Kami berlari ke arah yang berlawanan, memanjat keatas pohon besar.


Agatha membantu kami, dia menciptakan pijakan besi, membuat kami bisa berjalan di udara.


Saat dekat dengan iblis itu, kami bertiga lompat bersama, dari arah yang berbeda, membuat iblis itu terkejut.


"Sejak kapan!..." sebelum selesai bicara, kami berhasil menghajar iblis itu.


Lingga memukul wajahnya, Rize memukul perutnya, dan aku menendang punggungnya.


Agatha menciptakan pijakan besi lagi, membuat kami bertiga tidak jatuh ketanah, dan masih melayang di udara.


Melihat kesempatan itu, Isla memainkan biolanya, membuat kabut itu hilang, dengan begitu mereka bisa melihat dengan jelas.


Bersamaan dengan Vincent, para anggota Devil Hunter mulai menerjang iblis itu, tapi saat mereka mendekat, iblis itu mengeluarkan kabutnya lagi.


Kami yang berada di langit tidak sengaja menghirupnya.


Kami semua kecuali Vincent terjatuh, iblis itu memfokuskan serangannya pada Agatha dan Isla, mereka berdua diserang secara membabi buta.


Kami semua terkena ilusi, kesulitan menggerakkan tubuh kami. karna ability iblis itu semakin kuat, ilusi yang tercipta bukan sekedar tubuh kami yang dirantai lagi. Kali ini mata kami juga seakan ditutup, mulut kami tidak bisa dibuka, kami benar-benar dibuat diam.


Hebatnya Vincent, dia tidak terpengaruh dengan ilusi iblis itu. Dengan cepat dia melindungi Agatha dan Isla, setelah itu dia datang menghampiriku.


"Padahal kau bisa menetralkan ability apapun, tapi sepertinya kemampuanmu belum maksimal" aku mendengar suara Vincent di dekatku.


Aku merasa ada yang menyentuh tanganku, membalikkan telapak tanganku, dan menyentuhkan nya ke pahaku.


Seketika aku terbebas dari ilusi itu, nafasku terengah-engah karna ilusi itu, rasanya sangat sesak.


"Aku ceroboh, harusnya aku mengalirkan ability ku ke seluruh tubuhku" ucapku mencoba mengatur nafas.


"Tidak apa-apa, tapi setelah ini jangan di ulangi lagi" Vincent kembali mengangkat pedangnya.


Aku berlari menyentuh yang lainnya, tiga orang anggota terluka karna jatuh dari tempat yang cukup tinggi. Kekuatan tempur kami berkurang, sekarang sisa sembilan orang yang masih berdiri. Meski begitu, Agatha dan Isla sudah terluka sangat parah.


"Kalian berdua jangan memaksakan diri" ucap Vincent pada Agatha dan Isla.


"Tenang saja komandan, aku masih bisa bertarung!" Ucap Isla tegas.


"Aku juga!" Agatha malah terlihat lebih bersemangat.


Iblis itu terbang dengan cepat, menabrak tubuh Vincent, dan membawanya ke langit. Terlihat mereka berdua saling serang diatas, kami hanya bisa melihat dari bawah.


"Apa special ability Vincent?" Aku bertanya pada Rize.


"Kelima indra nya, sudah setara dengan manusia super" jawab Rize.


Pantas saja dia dapat mengimbangi iblis itu, bahkan kelima indra nya saja sudah lebih tajam dari hewan.


Tapi itu belum cukup untuk membuat Vincent bisa menang, dari tenaga dan fisik, jelas dia kalah jauh dari iblis yang bahkan seperti tidak punya batasan pada fisiknya. Vincent dibuat terpental kebawah, dia terjatuh sangat keras, sampai membuat tanah disekelilingnya hancur.


"Kau sangat tangguh!" Vincent berteriak pada iblis itu, padahal jatuh dari ketinggian 12 meter, tapi dia masih bisa berdiri dengan normal, fisiknya juga sudah melebihi manusia normal.


Lingga berjalan dan menarik bahu Vincent kebelakang, "Hey pria tua, sebaiknya kau istirahat, kau kelihatan payah sekali" dia bahkan meledek Vincent.


"Wah... padahal kondisimu saat ini lebih parah dariku" Vincent sedikit tertawa.


Yang dikatakan Vincent benar, kondisi Lingga saat ini lumayan parah, tubuhnya penuh luka lebam, mulutnya juga kelihatan berdarah. Memang dia sudah mencapai batasnya, sejak kami masih bertarung melawan iblis lengan empat di hutan.


Selain Lingga, sepertinya yang lain juga sudah terluka parah. Agatha mulai muntah darah, bahu kiri Isla yang patah, wajah Rize yang babak belur, serta tiga anggota lain yang masih berdiri untuk bertarung. Mereka juga kelihatannya sudah terluka cukup parah.


"Masih mau melawan?" Iblis itu seakan yakin bahwa dirinya akan menang.


Tanpa banyak bicara, Vincent maju untuk menebas iblis itu lagi. Kali ini dia tidak sendirian, Lingga dan Rize berlari bersamanya, sedangkan Isla dan Agatha membantu dari belakang.


Aku bersama tiga anggota lainnya juga ikut maju, tapi kami dari arah yang berlawanan.


Keempat tangan iblis itu memanjang, kemudian dia berputar bagai topan, keempat lengan itu ikut berputar, menyerang tanpa aturan.


Dia membuat kami tidak bisa mendekatinya. Ketiga anggota Devil Hunter yang berlari bersamaku terkena serangannya.


Mereka bertiga terpental menabrak bangunan villa, itu membuat mereka tidak sadarkan diri.


Iblis itu berhenti berputar, "sekali lagi aku bertanya, kalian masih ingin melawanku?" Dia malah terdengar seperti sedang mengejek kami.


Sekarang... untuk mendekat saja kami kesulitan, kami butuh strategi.


Saat kami sedang berharap, rupanya tuhan langsung mengabulkan harapan kami.


Seekor burung raksasa melesat menabrak iblis itu, membuat iblis itu jatuh ketanah.


Dan suara dari orang yang kami tunggu akhirnya terdengar, "maaf membuat kalian menunggu lama".


Eugene datang dengan bala bantuan yang besar, kali ini kami akan menang.


Bersambung....