Loser's Dream

Loser's Dream
DIA KUAT, TAPI KAMI LEBIH KUAT


Suzaku menyerang iblis itu tanpa henti, serangan suzaku juga sepertinya dapat membuat regenerasi iblis itu melambat.


"Jangan buang kesempatan ini, siapkan segel!" Vincent berteriak.


Kami semua segera merapal mantra, dan menyiapkan segel evloth.


Saat kami mencoba untuk mendekatinya, tiba-tiba iblis itu mengeluarkan kabut lagi, kali ini lebih banyak dari sebelumnya. Saking banyaknya, sampai menutupi seluruh hutan.


Karna telah mengaliri ability ku ke seluruh tubuh, kali ini aku tidak terkena efek ilusinya.


Dengan cepat aku membebaskan yang lain lagi dari ilusi. Aku kaget karna tiba-tiba suzaku sudah terkapar lemah.


"Jangan sentuh dia dulu!" Eugene menghentikan ku saat aku hampir menyentuhnya. "Kita masih membutuhkan dia, jika kau menyentuhnya dan dia koma lagi, kita bisa kalah"


Isla memainkan biolanya, mencoba menghilangkan seluruh kabut. Kami sempat kebingungan, karna iblis itu tidak menyerang kami, saat kabutnya menipis, iblis itu menghilang dari hadapan kami.


'Kemana dia..." aku merasa bingung.


"Jangan-jangan..." wajah Eugene terlihat sedikit panik. Dia menoleh kearah pintu ruang bawah tanah, kemudian berteriak, "CEPAT KESANA, DIA MENCOBA BERGABUNG MEMBEBASKAN TEMANNYA!" Sambil menunjuk pintu ruang bawah tanah.


Mendengar perintah Eugene, kami berlari menghampiri ruangan itu. Tetapi... kami terlambat, iblis pendek itu sudah dibebaskan, dia kemudian berubah menjadi bola seperti ketiga temannya.


Iblis raksasa itu menggenggam bola itu, tiba-tiba mereka terbakar api ungu, terlihat tubuhnya membesar, ukurannya kali ini mungkin sekitar lima meter, Mereka berempat sekarang sudah bergabung menjadi satu.


Melihat iblis itu jadi sangat besar, aku hanya bisa terdiam untuk sementara. Kekuatan, kecepatan, serta regenerasi nya pasti semakin kuat. Aku sampai berpikir mustahil untuk menang, bahkan meski ada Eugene disini.


Iblis itu memanjangkan lengannya, mengangkatnya, kemudian mengayunkannya seperti sedang menebas.


Energi itu muncul, melesat sangat jauh, untungnya tidak mengenai kami, Jika saja kena, mungkin kami sudah mati.


Aku menoleh kebelakang, menelan ludah karna melihat efek serangan iblis itu. Sekitar satu kilometer dari tempat kami berdiri, semua pohonnya tertebang, seperempat hutan kini sudah gundul.


"Mengerikan..." Eugene tersenyum melihat kebelakang.


"Jika seperti ini, dia bisa melukai warga setempat" ucap Vincent.


"Agatha... bisakah kau membuat sebuah ruangan besar?" Tanya Eugene tersenyum.


"Untuk apa?" Agatha balik bertanya.


"Untuk arena bertarung kita, supaya serangan iblis itu tidak keluar, dan supaya iblis itu tidak bisa kabur" jawab Eugene tersenyum.


"Bisa saja, tapi... mungkin setelah itu aku tidak bisa bertarung lagi" ucap Agatha. "Tenagaku tinggal sedikit"


"Tenang saja... setelah membuatnya, kau bisa istirahat, biar kami yang selesaikan" ucap Eugene tersenyum.


"Baiklah, aku serahkan sisanya pada kalian!" Agatha kemudian menempelkan telapak tangannya ke tanah.


Besi besar dan tebal muncul dari dalam tanah, perlahan besi itu semakin tinggi, dan membungkus kami.


Iblis itu mencoba kabur, dia terbang keatas, tapi tiga anggota Devil Hunter mencoba menghentikannya. Mereka berhasil membuat iblis itu terjatuh lagi, tapi mereka bertiga malah terpental keluar karna tinju iblis itu.


Akhirnya, kami semua terbungkus dalam barier besi raksasa, tidak ada yang bisa masuk, kecuali cahaya bulan.


Agatha pingsan diluar barier besi yang ia ciptakan, kini didalam hanya ada aku, Lingga, Eugene, Isla, Rize, Vincent, Suzaku serta iblis itu, kini kami siap untuk bertarung lagi.


***


Pertarungan sengit terjadi didalam, berbagai serangan sudah kami keluarkan, tapi kami masih kesulitan menghadapi itu.


Ditambah dengan suzaku yang menyerang siapapun, dia menganggap kami semua musuhnya.


"Jadi kau belum menjinakkannya ya!" Vincent berusaha menghindari serangan suzaku.


"Belum... tapi meski begitu kita membutuhkan kekuatannya" ucap Eugene. "Mungkin saat ini dia hanya panik, seharusnya insting alami Suzaku membuat dirinya menyerang iblis itu"


"Kita jadi dirugikan saat ini" Rize memotong pembicaraan.


"Suzaku malah jadi pedang bermata dua ya..." ucap Eugene tersenyum.


Tiba-tiba Eugene menarik kerah bajuku dari belakang, kemudian tanpa banyak bicara dia melempar ku kearah suzaku.


"Apa yang kau lakukan?!!!" Aku terlempar dan memegang ekor suzaku.


"Sadarkan dia, jika dia bertarung seperti sekarang, itu hanya akan merugikan kita" Eugene berteriak padaku.


Suzaku berubah menjadi Dariel, karna ekornya kusentuh, membuat kami berdua jatuh ketanah.


Aku jatuh sambil memeluk Dariel, berharap agar dia tidak terluka. Pendaratan kami sangat keras, punggungku terbentur, "Sepertinya tulang punggungku patah" kemudian aku menidurkan Dariel di sampingku.


Punggungku benar-benar patah, aku dapat merasakannya walau tidak sakit.


Dariel langsung sadar setelah aku menidurkannya, "kepalaku..." dia memegangi kepalanya, seperti sedang kesakitan.


"Kau tidak apa-apa?" Aku bertanya khawatir pada Dariel.


Tiba-tiba dia menangis, aku memeluknya dengan erat, "ada apa?" Sambil bertanya padanya.


"Yang dikatakan Eugene benar, akulah yang membunuh semuanya.... akulah yang membunuh bapak panti, aku membunuh teman-teman, aku menghancurkan segalanya" dia menangis hebat di pelukanku.


Aku mengusap punggungnya, berusaha menenangkan dirinya.


"Kenapa aku harus seperti ini? Sejak kecil tidak punya orang tua, dan sekarang harus jadi pembunuh, kenapa hidupku seburuk ini? Apakah dunia membenciku? Apa tuhan sangat tidak suka padaku?" Tangisan Dariel semakin kencang.


Melihatnya seperti itu, seperti melihat diriku sendiri. Aku yang suka mengeluh, dan menyalahkan tuhan atas semua yang terjadi pada hidupku. Jika Freya ada di posisiku saat ini, apa yang akan dia lakukan untuk menghibur Dariel?, kenapa aku malah memikirkan Freya.


Aku melepaskannya dari pelukanku, mencengkram bahunya dengan kuat, lalu tersenyum padanya, "Kau tahu, kenapa itu semua terjadi padamu?".


Dariel hanya menggelengkan kepalanya, dia masih menangis.


"Karna dirimu itu kuat!, tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan kita, jika kau dapat cobaan seperti ini, bukan berarti tuhan benci padamu, tapi karna dia ingin kau jadi lebih kuat!" Aku tersenyum berusaha memberikannya semangat.


"Tapi... kenapa aku harus jadi pembunuh?, kenapa monster ini ada dalam diriku?" Dariel seakan kebingungan. "Aku telah membunuh semuanya, itu berarti aku adalah monster, aku dilahirkan sebagai monster"


Kali ini aku menepuk kepalanya, "berhenti memanggil dirimu sendiri monster. Kekuatan itu ada pada dirimu, karna kau adalah yang terpilih" aku tersenyum padanya.


"Yang terpilih?" Air matanya perlahan berhenti keluar.


"Ya!, kau adalah yang terpilih!" Aku mencoba membantunya berdiri. "Kekuatan itu mungkin diberikan tuhan agar kau bisa melindungi dunia. Dirimu yang tidak sengaja membunuh teman-temanmu, itu karna kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu"


Aku menunjuk kearah iblis raksasa itu, "lihatlah!, semuanya sedang bertarung. Untuk apa mereka bertarung?, tentu saja untuk melindungi dunia ini, mereka juga sama sepertimu, memiliki kekuatan aneh. Aku yakin awalnya mereka juga tidak bisa mengendalikan kekuatannya, tapi berkat latihan dan kerja keras, mereka jadi dapat mengendalikannya, bahkan membuatnya jadi lebih kuat"


"Mereka menggunakan kekuatannya untuk melindungi yang lemah, dan menolong banyak orang. Aku yakin... teman-temanmu juga pasti ingin kau melakukan hal itu, aku yakin di surga sana, mereka ingin kau menjadi pahlawan, dan melindungi dunia. Jadi jangan merasa terkutuk karna kekuatan yang ada dalam dirimu, itu adalah anugrah" aku tersenyum lebar pada Dariel.


"Jadi menurutmu begitu?" Dia sudah berhenti menangis.


Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.


Tiba-tiba kedua sayapnya muncul, "terima kasih, aku akan menerima kekuatan ini, mulai saat ini, aku akan menyelamatkan banyak nyawa. Aku akan menjadi orang yang sangat baik, agar teman-temanku dan bapak panti bangga" Dariel tersenyum.


Dia berubah menjadi suzaku, melesat kearah iblis raksasa itu dengan cepat, dia menyerangnya berulang kali.


"Apa-apaan burung ini?!!!" Iblis raksasa itu tidak berkutik sama sekali.


Lengannya memanjang, dia menangkap suzaku, melilitnya dengan dua lengannya.


Vincent dan Isla bergerak cepat, mereka berdua melepaskan Dariel, melukai dua lengan iblis itu.


Dua lengan lain dari iblis raksasa itu mencoba menangkap Vincent dan Isla, kali ini Lingga dan Eugene yang beraksi. Eugene menarik Vincent dan Isla, sedangkan Lingga menyerang dua lengan yang sedang mengincar Vincent dan Isla.


Dariel berhasil lepas dari lilitan lengan iblis itu, dia menangkap Eugene, Vincent, dan Isla yang terjun kebawah. Mereka bertiga sekarang berdiri diatas tubuh Dariel.


Karna kesal, iblis itu memukul Lingga, membuatnya terbanting sangat kencang.


Iblis itu melebarkan sayapnya, mengeluarkan kabut tebal lagi, tapi aku dan Rize menghentikannya. Saat kami berdua diatas tubuh iblis itu, aku langsung menusulan belatiku di pundak iblis itu, dan Rize mengerahkan seluruh tenaganya, menggunakan listrik satu juta volt untuk menyerang iblis itu.


Karna kesakitan, iblis itu jadi menyerang tidak jelas, dia memukul asal, tapi salah satu pukulannya mengenai Dariel, membuat mereka berempat jatuh.


Kali ini dia menggunakan ability milik iblis pendek, dia menebas secara acak, salah satu tebasannya sedikit mengenai lengan kanan Isla, membuat lengan kanannya putus.


"Sial!, jika seperti ini aku tidak bisa bertarung!" Isla mencoba menghentikan pendarahannya.


Iblis raksasa itu kembali menyerang acak, kali ini tebasannya mengarah ke Vincent, Pedang Vincent hancur, tapi dia berhasil menahan serangan iblis itu.


"Kenapa dia masih bisa menggunakan ability?" Aku kebingungan, padahal aku sudah menancapkan belatiku di pundak iblis raksasa itu, tapi dia tetap bisa menggunalan special ability.


"Sepertinya kau hanya menetralkan satu ability nya, lihatlah... lengannya sudan tidak memanjang, sepertinya dia juga belum sadar kalau belatimu tertancap di pundaknya" Eugene tersenyum.


"Ini lebih sulit dari yang aku bayangkan" ucap Vincent.


Lingga sudah kehilangan kesadaran, Isla dilihat dari kondisinya juga sepertinya sudah tidak dapat bertarung.


Iblis itu berhenti menyerang, dia merendahkan tubuhnya, lalu tiba-tiba melompat. Dia melompat keatap barier, lalu melompat lagi kepinggir, dia memantul-mantul didalam barier, seperti sebuah bola tenis.


Kecepatan memantulnya sangat tinggi, jika kami tersenggol sedikit saja, mungkin tubuh kami akan hancur.


Dariel segera membawa Isla dan Lingga, Kami semua berlindung dalam ruang bawah tanah villa, berharap tidak terkena serangan itu, tapi rasanya atap ruang bawah tanah ingin runtuh, akibat iblis raksasa itu.


 "Kita tidak dapat menang, sepertinya kita akan terus diam disini sampai mati" Eugene malah bercanda disaat seperti ini.


"Lawan yang cocok untuk mebghentikan iblis itu adalah, pengendali gravitasi dari dark tree mafia" ucap Vincent.


"Benar sekali, dia pasti dengan mudah bisa membuat iblis itu diam" ucap Rize.


"Kenapa kalian malah membicarakannya?, disini kita juga memiliki orang yang bisa melakukan itu" ucap Eugene.


Tiba-tiba semuanya menatapku.


"Tapi aku belum terlalu menguasainya, terakhir saat aku mencoba merebut ability iblis pendek itu lagi, aku hanya merebut sedikit" ucapku ragu.


"Sudah satu bulan kau melatih ability mu, jadi aku yakin kau pasti bisa" ucap Eugene tersenyum.


"Kalau begitu, berarti tugasmu dan aku adalah menyiapkan segel" ucap Vincent pada Eugene.


"Benar sekali!, komandan memang hebat" ucap Eugene meledek.


"Dariel, kau bisa?" Tanyaku.


"Akan kuusahakan!" Dariel menjawab dengan penuh kepercayaan.


"Baiklah, kita mulai rencananya, dan satu hal lagi... jangan sampai mati!" Vincent sangat bersemangat.


"Maaf karna tidak bisa membantu" Isla terlihat murung.


"Kau sudah cukup membantu sejak tadi" ucap Rize tersenyum.


Kami berlima keluar dari ruang bawah tanah, Rize bergegas menuju tembok barier, Dariel juga langsung berubah menjadi suzaku.


Rize menyentuh barier itu, "one bilion volt!!!" Kemudian listrik bertegangan tinggi muncul menyelimuti barier.


Saat kaki iblis itu menyentuh barier, saat dia mencoba untuk memantul lagi, dia tersengat listrik dengan tegangan yang sangat tinggi, membuatnya berteriak saat terjatuh, jika manusia biasa, mungkin tubuhnnya sudah hancur saat terkena listrik dengan tegangan sebesar itu.


Dariel mengantarku keatas tubuh iblis itu, saat sampai diatasnya, aku langsung menyentuh tubuhnya dengan telapak tanganku.


"Fokus, dan saat telapak tanganku sudah merasakan ability nya, segera genggam dan tarik dengan paksa" aku bergumam sendiri.


Aku berhasil, benang putih itu keluar saat aku mencoba menariknya, iblis itu mulai bangkit, sadar akan diriku yang berada diatas tubuhnya, dia mencoba menyerangku.


Efek dari belatiku sudah hilang, tangannya bisa memanjang lagi, dia mencoba menghancurkan ku dengan keempat lengannya, Tapi untung saja Lingga datang.


Dia tiba-tiba berdiri dibelakangku lagi, menahan empat tinju iblis itu, dia juga tersenyum sangat lebar.


"Kau sudah sadar?" Aku masih berusaha merebut ability iblis itu.


"Aku hanya tidur tadi, rasanya sangat mengantuk!!!" Dia beralasan.


Empat lengan iblis itu meninju secara membabi buta, tapi Lingga menahan semuanya mati-matian.


Tanganku mulai terasa panas, setiap terasa seperti ini, biasanya ledakan energi keluar dari tanganku. Benar saja, iblis itu terjatuh lagi karna ledakan energiku.


Aku dan Lingga melompat turun dari tubuhnya, Dariel menangkap kami berdua, membuat kami mendarat dengan aman.


Benang putih itu putus saat kami terjatuh.


Listrik milik Rize menghilang, dia sudah kehabisan tenaga. Iblis itu bangkit kembali, dia menyerang Vincent dan Eugene dengan keempat lengannya.


Saat dia mencoba untuk lompat, ternyata lompatannya tidak setinggi sebelumnya.


Eugene menghampiriku, "melompatlah" dia tiba-tiba menyuruhku lompat.


Aku mengikuti ucapannya, saat aku melompat, aku kaget... karna lompatan ku sangat tinggi, bahkan aku sampai menabrak atap barier.


Aku terjatuh disebelah Eugene, dia mendekatiku, "sepertinya kau berhasil merebut seluruh ability milik iblis wajah kera. Dilihat dari tenaga lompatan mu, kau mungkin bisa melompar sampai ketinggian tiga puluh meter, itu sungguh menakjubkan" aku seperti kelinci percobaan Eugene.


Aku mencoba berdiri, "apa ini, tubuhku rasanya aneh" aku benar-benar merasa aneh.


"Ada apa?" Tanya Eugene.


Tiba-tiba kabut hitam keluar dari tubuhku, "apa ini?!!" Aku sedikit panik.


Eugene langsung mundur menjauhiku, Lingga tetap disampingku karna sudah tidak memiliki tenaga untuk bergerak.


"ASAP APA INI?!!, MEMBUAT NAFASKU SESAK SAJA" Lingga terlihat baik-baik saja.


"Jadi kau hanya merebut sedikut kekuatan iblis bersayap itu ya" ucap Eugene menghampiri ku lagi.


Iblis raksasa itu fokus pada Vincent, dia terus mendesak Vincent, "Aku kesulitan disini, apa kalian tidak ada yang mau membantuku?".


"Ayolah komandan... kau kan kuat, harusnya kau bisa mengatasi itu" Eugene kemudian tertawa.


"Sialan kau Eugene" Vincent tersenyum.


Vincent dengan cepat naik ketubuh iblis itu, dia mencabut belatiku, dan menyerang iblis itu. Saat dia menyerang wajah iblis itu, terlihat tanduk sebelah kanan nya retak.


Vincent melompat dan mendarat di sebelah Eugene, "apa maksudmu seperti itu?" Vincent tersenyum sombong.


Iblis itu terlihat semakin marah, dia melesat dengan cepat kearah kami, Lingga berdiri di depan kami, dan menahan serangan iblis itu.


"Kau kuat juga!" Iblis itu tersenyum.


Aku mengeluarkan Demon glove, berlari dan melompat, kemudian menyerangnya tepat di wajah.


Iblis itu terbang untuk menjaga jaraknya, saat aku ingin naik ketubuh Dariel, tiba-tiba dia kembali menjadi manusia.


"Maaf... tapi aku sangat lelah" Dariel merintih.


"Tenaganya habis, dia sudah tidak dapat berubah lagi" ucap Eugene tersenyum.


"Lalu bagaimana kita melawannya?" Tanyaku.


"Yang bisa melakukan pertempuran di udara saat ini hanya kau, dan komandan" Eugene tersenyum.


Vincent kemudian duduk, "Punggungku sakit, ya... karna faktor usia. Aku mau duduk saja, biar kalian yang menyelesaikannya" dia malah bersantai.


"DASAR KAKEK TUA TIDAK BERGUNA, TIDAK APA-APA, AKU BISA MENYELESAIKAN INI!" Lingga membunyikan jarinya.


"Agi, coba gunakan ability baru mu, untuk memantul di barier ini. Lakukan itu agar kau bisa menyerang dari segala arah, gunakan juga demon glove" Eugene tersenyum.


Aku mengiyakannya, ku keluarkan kabut tebal, kemudian aku dan Lingga melesat didalam kabut itu.


Kabut yang aku keluarkan sangat tebal, sampai membuat barier penuh dengan kabut ku. Aku melompat dari tembok ke tembok, saat dekat dengan iblis itu, aku memukulnya dengan demon glove, kemudian melompat lagi kearah lain.


"Kau sudah tua ya komandan.." Eugene tersenyum.


"Memangnya kau tidak lihat uban di kepalaku?" Ucap Vincent.


Mereka berdua kemudian tertawa bersama.


Lingga menyerang kaki iblis itu, membuat keseimbangan nya terganggu. Itu adalah sebuah kesempatan, aku langsung melompat dari atap barier, kemudian menendangnya hingga terbentur ketanah. Aku belum bisa mengendalikan kekuatan kaki ini, jadi tendanganku saat ini benar-benar seratus persen, tidak hanya tanah disekitar iblis itu, tapi barier juga hancur karna benturan iblis itu.


Barier runtuh, iblis itu tertimbun, untungnya Eugene dan Vincent sudah membawa Rize, Isla, dan Dariel keluar.


Vincent menyerahkan mereka bertiga, "Cepat obati mereka!" Ucap Vincent pada salah satu anggota Devil hunter.


"Siap!" Mereka bertiga kemudian dibawa untuk di obati.


Iblis itu keluar dari reruntuhan, mengerang kesal, kemudian mengepakan sayapnya.


Empat lengannya sudah siap sedia untuk menyerang, dia akan mengekuarkan jurus pamungkas nya.


"Mari kita selesaikan ini!" Iblis itu kelihatan sangat kesal.


"Kami memang berniat begitu!" Ucapku tersenyum.


Iblis itu menyerang kami dari jarak sepuluh meter, aku dan Lingga maju, menghindari setiap serangannya. Sambil menghindar, aku selalu menyerangnya dengan 'the slasher' (ability milik iblis pendek), seranganku itu berhasil memperlambat dirinya.


Aku merendahkan tubuhku, dengan tangan mengadah. Lingga melompat kearahku, kakinya menggunakan tanganku sebagai pijakan, aku langsung melemparkannya kebelakang, kearah iblis itu.


Dia menabrak iblis itu dengan tubuhnya, membuat kaki iblis itu mundur satu langkah.


Aku berlari kearah iblis itu, kemudian merosot diantara kaki nya, aku langsung menebas kaki kanannya dengan belatiku.


Seranganku membuat dia membungkuk, saat mencoba bangkit, Lingga menyapu kaki sebelah kirinya, membuat dia terjatuh.


Eugene sudah siap dengan rantai nya, dia mengikat iblis itu, karna kelelahan, iblis itu kesulitan untuk memberontak.


Aku mendengar suara Vincent berteriak, "berikan belati mu!" Lantas aku melemparkan belatiku padanya.


Vincent melompat, mengambil belatiku, mendarat diatas tubuh iblis itu, kemudian menusuk jantungnya.


Belatiku berhasil menembus tubuh iblis itu, dan itu berarti, Vincent berhasil menusuk jantungnya.


Iblis itu berteriak sangat kencang, semuanya kecuali aku, merasakan sakit ditelinga karna teriakannya. Kemudian iblis itu perlahan mengeluarkan cahaya, dia seperti ingin meledak.


Vincent yang menyadari sesuatu, langsung menyuruh kami untuk menjauh, "CEPAT, MENJAUH DARI IBLIS INI!" Wajahnya kelihatan panik.


Sayangnya, iblis itu lebih dulu meledak sebelum kami menjauhinya.


Kami semua terpental, ledakannya sangat besar, aku langsung berdiri setelah tubuhku menabrak pohon.


"APA KALIAN TIDAK APA-APA?" Aku berteriak khawatir.


Satu persatu menjawab "kami tidak apa-apa" syukurlah jika mereka tidak apa-apa.


Untung Agatha sempat membuat tembok untuk menahan daya ledak iblis itu, sehingga para anggota Devil Hunter tidak terluka. Karna dia tidak memiliki cukup tenaga, akhirnya hanya aku dan Lingga yang tidak dapat pelindung, dan hasilnya kami terpental.


Ledakan besar itu membuat warga sekitar datang, mereka kaget melihat keadaan sekitar kami.


Saat asap tebal akibat ledakan itu menghilang, iblis itu sudah lenyap dari sana, kami berhasil mengalahkannya.


Bersambung....