Loser's Dream

Loser's Dream
SI PECUNDANG PULANG


Setelah ledakan itu, iblis raksasa lenyap. Tidak ada seorangpun yang melihatnya melarikan diri, menurut Eugene, tubuh mereka ikut lenyap bersama ledakannya.


Para warga membantu kami, dan membawa kami ke rumah sakit. Kami semua terluka, tapi untungnya tidak ada korban jiwa.


***


Matahari telah terbit, malam yang panjang kami lalui dengan sebuah pertarungan, walau kami semua terluka, entah mengapa kami malah tersenyum dan tertawa, seakan latihan yang kami jalani selama sebulan telah membuahkan hasil.


Aku dan Eugene sedang membantu Isla untuk makan, lengan kanannya putus, dan lengan kirinya tidak bisa digerakkan. mungkin diantara kami semua, Isla yang mengalami luka paling parah.


"Terimakasih karna sudah membantuku" ucap Isla.


"Santai saja, sesama manusia memang harus membantu" Eugene tersenyum.


Suasana jadi hening, saat aku sedang membereskan piring bekas makan Isla.


"Besok kita semua akan kembali ke jakarta, Vanca akan mengobati kalian" Eugene memecah keheningan.


Aku dan Isla hanya mengangguk.


Selang beberapa menit, aku dan Eugene pergi untuk membantu anggota yang lain.


Di lorong rumah sakit, saat kami berdua sedang menuju kamar Lingga, tiba-tiba Eugene melontarkan satu pertanyaan, "apa kau masih ingin jadi lebih kuat?" Dengan wajah tersenyum, dia menatap ke arahku.


"Tentu saja!" Aku menjawab dengan penuh keyakinan.


"Lihatlah dirimu yang sekarang, kau bertarung mati-matian, tapi luka yang kau dapatkan tidak terlalu parah. Itu membuktikan bahwa kau sudah cukup kuat" Eugene tersenyum. "Diantara seluruh anggota Devil Hunter, saat ini kau adalah yang terkuat setelah komandan Vincent. Jadi sekali lagi aku bertanya, apa kau masih ingin jadi lebih kuat?"


Langkah kaki ku terhenti, aku melihat tanganku dan mengepalkan nya, "tentu saja, aku masih ingin jadi lebih kuat" aku benar-benar yakin dengan perkataanku saat itu.


"Iblis yang kita lawan semalam, dia bilang ada iblis lain yang mengutusnya, sudah jelas iblis yang mengutusnya pasti sangat kuat. Melawan iblis semalam saja aku kesulitan, apa lagi melawan iblis yang mengutusnya, dengan kekuatanku yang sekarang mungkin aku akan terbunuh. Kekuatanku masih kurang, aku ingin melindungi semua orang yang aku sayangi, untuk itu... aku harus jadi yang terkuat. Bukan diantara teman-temanku, tapi yang terkuat di dunia!" Ucapku tersenyum lebar.


Eugene tiba-tiba tertawa, "itulah jawaban yang aku inginkan!" Kemudian kami lanjut berjalan menuju kamar Lingga.


"Kau sudah berjanji untuk melindungi Freya, karna itu aku harap, kau tidak mengingkarinya, kau harus jadi yang terkuat untuk bisa menepati janjimu" Eugene menatapku serius.


"Ya.... aku akan berusaha untuk menepati janji ku" ucapku.


***


Setelah dari kamar Lingga, kami pergi menuju kamar Rize. Setelah melihat barang-barang ku, aku baru teringat dengan titipan Vanca, sekarang aku ingin sekalian memberikannya pada Rize.


Sesampainya di kamarnya, Rize sedang membaca buku sambil memakan buah.


"Kelihatannya kau pulih dengan cepat..." Eugene tersenyum.


"Sepertinya begitu" Rize menjawab singkat.


Kami berdua mengambil kursi, lalu duduk disebelah Rize. Tanpa banyak bicara Eugene mencomot buah yang ada di piring Rize, dia terlihat biasa saja.


"Mangga nya ternyata sangat manis" dia mencomotnya lagi.


Melihat Eugene yang menyukainya, Rize menutup buku yang sedang ia baca, "jika kau mau, ambil saja semua" dia memberikan piring dengan buah itu pada Eugene.


"Kau serius?" Eugene kelihatan senang.


"Ya" Rize tersenyum.


"Baiklah, akan ku terima dengan senang hati!" Eugene membalas senyumnya.


Eugene sangat cerdas, dia juga jenius bertarung, tapi sifatnya terkadang seperti anak kecil. Ditambah dia sangat menyukai makanan manis, dia memang rumit.


"Ngomong ngomong Rize, Vanca menitipkan ku ini, untuk diberikan padamu" ucapku sambil memberikan kotak kecil titipan Vanca.


Rize menerima kotak itu sambil berkata, "Apa i..." tapi tiba-tiba Eugene memotong ucapannya, "wah... bibimu masih perhatian denganmu"


Aku yang sedang memakan mangga tersedak, lalu memastikan apa yang aku dengar barusan, "BIBI?!!!" Aku sangat kaget.


"Kau tidak tahu?, Rize itu keponakan Vanca" ucap Eugene dengan wajah polos.


"BENAR BEGITU RIZE?" Aku mencoba memastikan lagi.


"Ya" Rize menjawab singkat.


"Tapi kenapa waktu di kereta kalian tidak terlihat akrab?" Tanyaku penasaran.


"Kau tidak perlu tau, itu tidak penting bagimu" jawab Rize ketus.


"Maaf..." aku menundukkan kepala, merasa tidak enak karna terlalu penasaran.


Rize menghela nafas, "terimakasih" lalu sepatah kata keluar dari mulutnya.


"Sama-sama" aku tersenyum.


Rize menatap kotak itu, tak berselang lama dia langsung membukanya.


"Payah..." kata itu keluar dari mulut Rize.


Dia tersenyum, senyumannya sangat tulus, dia juga terlihat bahagia, ini pertama kalinya aku melihat Rize seperti itu.


"Sebuah kalung" Eugene melihat kedalam kotak kecil itu.


"Kalung yang indah..." aku terpana melihat kalungnya.


Kalung perak dengan liontin berwarna biru, terlihat mengkilat, dan sangat cantik. Saat Rize menekan sebuah tombol pada liontin itu, tiba-tiba liontinnya terbuka, didalamnya ada foto anak kecil dan kedua orang tuanya, sepertinya itu Rize.


Tiba-tiba Eugene mengajakku keluar, padahal aku sedang terpesona melihat kalung indah itu.


"Ada apa?" Tanyaku setelah kami keluar dari kamar Rize.


"Tidak apa-apa, tapi sepertinya dia butuh waktu untuk sendiri" Eugene melihat kedalam kamar Rize, lewat kaca yang berada di pintu kamar.


Rize menangis, dia menangis sambil menatap kalung itu. Ini pertama kalinya juga aku melihat Rize menangis. Dia selalu terlihat kaku, wajahnya yang selalu datar, dan jika tersenyum terlihat seperti orang terpaksa, rupanya bisa menangis.


Aku menatap Eugene bingung, "tujuh tahun?" Tanyaku.


"Ya... rumah mereka hancur, terbakar sampai tidak ada yang tersisa. Selama tujuh tahun, Vanca selalu datang ke tempat itu saat sedang senggang, dia terus mencari sesuatu. Melihat Rize yang menangis karna kalung itu, sepertinya benda itu yang dicari oleh Vanca selama ini" Eugene tersenyum.


"Memang apa yang terjadi dengan keluarga mereka?" Aku semakin penasaran.


"Aku tidak tahu pasti, tapi semuanya dihabisi oleh iblis dalam satu malam. Semuanya dihancurkan, hingga tidak ada yang tersisa. Vanca dan Rize, mereka berdua sangat menderita saat itu" ucap Eugene.


Aku diam melihat kedalam kamar Rize lewat kaca, dia terlihat sangat senang, tapi tangisannya semakin kencang, dia juga sesenggukan.


"Sudahlah, mari kita kemasi barang yang lain, besok pagi kita sudah harus kembali" Eugene tersenyum.


Kami berdua akhirnya pergi untuk berkemas. Diantara lima puluh empat orang yang bertarung semalam, hanya aku, Vincent, dan Eugene yang tidak mengalami luka parah. Aku bersyukur, tapi sebagai gantinya, kami bertiga harus mengemas seluruh barang dari anggota yang terluka, sungguh merepotkan.


***


Keesokan harinya, kami semua sudah siap di bandara. Sekitar dua puluh orang sudah bisa berjalan, termasuk Lingga dan Rize. Untuk Isla dan Agatha, sepertinya mereka masih terluka.


Kami pulang menggunakan pesawat yang lebih besar dari sebelumnya.


"MENJENGKELKAN, KENAPA AKU HARUS MEMBAWA BARANG-BARANG INI" Lingga mengeluh.


Seperti biasa, dia marah-marah karna disuruh membantu mengangkat barang ke pesawat.


"Yang kau bawa hanya sedikit, jangan banyak mengeluh" ucap Rize sambil membawa enam koper.


"SIAPA YANG MENGELUH HAH?!!!" Lingga terlihat semakin emosi.


"Sudah... jangan bertengkar" aku mencoba menengahi mereka.


Lingga malah melotot padaku. Aku ketakutan dan menundukkan pandangan, sial... aku belum bisa mengatasi ketakutanku pada Lingga.


"HEI PECUNDANG!, CEPAT BAWA KOPER-KOPER INI!" Dia sekarang malah menyuruhku.


"Ba-baik!" Astaga, kenapa aku malah menurutinya.


Eugene sudah berada di dalam pesawat, menikmati puding coklatnya lagi, wajahnya terlihat sangat senang setiap kali puding itu masuk ke mulutnya.


Pesawat akhirnya lepas landas, kami terbang meninggalkan pulau kalimantan. Akhirnya setelah sekian lama aku akan bertemu kembali dengan adikku, ayah, dan juga Freya.


Aku sangat-sangat merindukan mereka, terlebih selama satu bulan kemarin kami dilarang memegang ponsel, jadi aku tidak dapat menghubungi mereka.


Dariel juga ikut bersama kami, setelah mengetahui semua yang terjadi pada dirinya, dan pada teman-temannya, Dariel memutuskan untuk ikut. Vincent memaksa Dariel untuk masuk Devil Hunter awalnya, tapi Dariel ingin ikut bersamaku, Itu berarti dia ikut dengan Eugene juga. Tentu saja itu membuat Eugene tersenyum sombong didepan Vincent.


Dariel yang duduk di sebelahku, melihat kebawah lewat jendela di pesawat. "Demi menebus kesalahanku, aku akan melindungi dunia" dia bicara sendiri.


Aku yang mendengar perkataannya lantas menyahut, "kalau begitu berarti kau akan membantuku, karna aku juga akan melindungi dunia ini" aku tersenyum.


"Tentu saja, aku akan membantu kakak" Dariel sangat bersemangat.


Beberapa saat kemudian suasana jadi sunyi, hampir semua orang tidur, yang masih terbangun hanya aku dan Agatha, dia duduk di belakang ku.


"Latihan kita sebulan... sepertinya sukses" Agatha bicara padaku dari kursi belakang.


"Kau benar, tapi... ini belum cukup" ucapku.


"Kenapa?, padahal kau sudah kuat, bahkan lebih kuat dari kami Devil Hunter" tanya Agatha dari kursi belakang.


"Untuk melindungi segala hal yang aku sayangi saat ini, kekuatanku belum cukup" jawabku.


"Kau memang keras kepala" ucap Agatha.


Aku hanya sedikit tertawa, setelah itu suasana kembali sunyi, sampai kami sampai di jakarta.


***


Pesawat kami mendarat, kami akhirnya sampai. Aku membangunkan yang lainnya, setelah itu aku membantu menurunkan barang-barang.


Sementara Lingga dan yang lainnya, membantu anggota yang terluka, untuk langsung dibawa ke rumah sakit tempat Vanca bekerja.


Saat yang lain pergi ke rumah sakit, aku memutuskan kembali terlebih dahulu, aku sudah tidak bisa menahan rindu pada keluargaku.


"Eugene, sepertinya aku ingin pulang terlebih dahulu" ucapku.


"Kau harus menyembuhkan lenganmu dulu, aku tidak mau disalahkan karna saat ini kau cacat" ucap Eugene tersenyum.


"Tenang saja... aku akan menutup lengan kananku dengan jubah" ucapku tersenyum.


"Ya terserah padamu. Tapi nanti sore kau harus sudah ada di rumah sakit" Eugene tersenyum.


"Oke!" Aku mengangguk dan tersenyum.


Aku memutuskan naik taksi, tapi saat keluar dari bandara, aku langsung disambut dengan sebuah serangan. Tentu saja aku menghindar dengan cepat, sehingga serangan itu tidak mengenai ku.


"Hebat!" Freya berdiri tepat di depanku.


"Kenapa kamu menyerang ku?" Tanyaku tersenyum.


"Kamu sudah berlatih kan?, aku juga sudah berlatih. Lihatlah, aku bisa memerintahkan dewi perang dengan bebas" ucap Freya tersenyum.


"Jadi kamu ingin pamer?" tanyaku.


"Tentu saja!, karna itu, ayo bertarung!" Freya terlihat sangat percaya diri.


Dicegat oleh Freya, dan langsung diajak bertarung olehnya, Sepertinya dia memang sudah bisa mengendalikan dewi perang.


Aku menjatuhkan tasku, kemudian meletakan koperku, "jika itu yang kamu mau, ayo!" Aku tersenyum.


Bersambung....