Loser's Dream

Loser's Dream
BAHAYA! DEWI PERANG MENGAMUK!


aku baru ingat, bibi Soraya pernah bilang padaku bahwa ability Freya akan keluar saat nyawa Freya terancam, dan ledakan barusan membuat nyawa Freya benar-benar terancam sehingga sang Dewi perang harus muncul. aku bersyukur karna Freya baik-baik saja, aku melihat dia dibelakang ability nya, tapi... ada hal aneh, matanya menjadi putih semua dan tubuhnya seperti mengeluarkan cahaya.


dia tidak bergerak sama sekali, tapi aku melihat bahwa dia masih bernafas, dan tubuhnya tidak terluka. ability nya maju dan menghunus kan pedang pada Satya, dia menyerang Satya dengan beruntun, kecepatannya sungguh luar biasa, tapi tetap saja... dia tidak bisa mengalahkan Satya hanya dengan itu, dia membutuhkan ability ku untuk mengalahkan Satya.


"hebat... bagaimana mungkin gadis itu memilik ability kuat seperti ini?" ucap Satya sambil bertarung.


yang dikatakan Satya benar, ability Freya benar-benar kuat, kecepatan dan kekuatan nya sangat besar, ability itu benar-benar seperti Dewi sungguhan.


"aku akan mencoba melakukan kuncian pada Satya, saat itu... biarkan sang Dewi perang yang melakukan serangan pada Satya" ucapku.


"baiklah, aku akan membantumu untuk mendekati nya lagi" ucap Vanca padaku.


"tidak perlu, kau istirahat saja Vanca" ucapku pada Vanca. "kau harus memulihkan tenaga mu agar bisa menggunakan ability lagi"


"kalau begitu aku yang akan membantumu" ucap Rize padaku. "tapi entah mengapa aku merasa kita juga harus waspada dengan Dewi perang itu"


"aku juga merasakannya, tapi yang terpenting sekarang kita harus mengalahkan Satya terlebih dahulu" ucapku.


selagi Vanca memulihkan tenaganya, aku dan Rize mencoba membantu Dewi perang untuk mengalahkan Satya. Rize menyambarnya dengan jurus yang ia beri nama "flash of death", kekuatannya terlihat sangat kuat, karna berhasil membuat tangan kiri Satya terbakar. meski begitu sepertinya Rize tidak bisa selalu menggunakan jurus itu, dia bilang padaku bahwa dia hanya bisa menggunakan jurus itu satu kali dalam seminggu.


seketika awan di sekitar kami menjadi gelap karna jurus milik Rize, petir menyambar dan mengumpul di tangan kanan Rize, setelah dia melepas serangan itu... suara Sambaran petir terdengar sangat kencang, saat itulah tangan kiri Satya terbakar. walau sudah terkena serangan yang tidak masuk akal, rupanya Satya masih bisa beregenerasi, dia bisa menyembuhkan lukanya sendiri dengan sangat cepat.


"bagaimana cara kita mengalahkannya jika dia mampu beregenerasi seperti itu?" tanyaku pada Rize.


"ada tiga cara untuk mengalahkan iblis" ucap Rize. "pertama; kau bisa menyegelnya dengan merapal sebuah mantra dan membuat lingkaran sihir. kedua; kau bisa membunuhnya dengan cara menusuk jantungnya, masalahnya... bagian tubuh yang melapisi jantung mereka sangat keras, bahkan nuklir tidak bisa menghancurkan bagian itu. ketiga; kita bisa memotong tanduknya"


"bagaimana jika kita coba memotong tanduknya" ucapku.


"itu bukanlah hal yang mudah" ucap Rize. "tanduk mereka hanya bisa dipotong dengan pedang yang terbuat dari batu surga"


"batu surga?, sepertinya kita hanya bisa menyegelnya ya" ucapku.


"ya!... saat ini yang bisa kulakukan hanyalah menyegelnya" ucap Rize.


selama aku berbincang dengan Rize, sang Dewi perang tetap memberikan serangan bertubi-tubi ke Satya, meski serangan itu sia-sia, dia tetap menyerang nya tanpa henti. aku harus segera menyentuh Satya, agar semua serangan yang dilakukan oleh Rize dan sang Dewi perang tidak sia-sia, kali ini Rize sudah tidak bisa menyerang karna kehabisan tenaga, dia menyimpan tenaga nya yang tersisa untuk menyegel Satya, itu berarti... kali ini aku harus benar-benar bekerja sama dengan sang Dewi perang. untung saja serangan terkahir dari Rize tadi membuat tangan kiri Satya sedikit cacat, walau dia bisa beregenerasi, tapi sepertinya tangan kirinya tidak beregenerasi dengan sempurna, dan karna hal itu sepertinya Satya jadi sulit menggerakkan tangan kirinya.


hal itu memberiku keuntungan, saat Dewi perang terus menyerangnya dari sebelah kanan, aku bisa masuk dan menyerangnya dari kiri. aku maju dan mencoba menyerangnya dari sebelah kiri, dia tidak menggunakan lengan kanannya untuk menyerang ku, dia lebih memilih menggunakan lengan kanannya untuk menangkis pedang Dewi perang.


aku berhasil masuk ke sisi kirinya dan langsung menggenggam tangan kirinya, aku berusaha membanting nya dengan jurus yang di ajarkan Ezeo, dia tidak bisa berbuat apa-apa karna ability nya hilang saat aku menyentuhnya, akhirnya semua serangan Dewi perang dapat melukainya, dan aku bisa membantingnya.


"jadi begitu... kau yang membuat ability ku menghilang" ucap Satya. "ability milikmu, benar-benar bisa menjadi kuat"


"ya... aku memang ingin menjadi kuat, agar bisa melindungi Freya!" ucapku sambil memelintir tangannya dengan grappling.


"tahan sedikit lagi, sebentar lagi segelnya akan selesai" ucap Rize.


"tenang saja, kali ini kita akan berhasil menyegelnya" ucapku.


"selesai!, kau kalah satyaaa!!!!" ucap Rize sambil berlari ke arah Satya.


setelah segelnya selesai di buat, segel itu akan menempel ke tangan pembuat nya seperti sebuah tato, dan saat sudah menempel, pembuatnya harus menyentuh iblis yang ingin di segel dengan tangan yang sudah menyatu dengan segel itu.


"hahaha, hebat... sangat hebat, aku penasaran dengan kekuatan penetral mu" ucap Satya padaku. "setelah ini... mereka pasti akan mengincar mu, lebih baik kau lari dan bersembunyi selagi bisa, hahaha"


kami berhasil menyegel iblis Satya, dan Satya pingsan setelah penyegelan nya berhasil, Dewi perang juga akhirnya berhenti menyerang Satya, tapi anehnya dia hanya diam dan tidak kembali pada Freya. akhirnya kami bisa beristirahat, aku langsung duduk dan memulihkan tenaga ku, energi Vanca juga rupanya sudah pulih, dan dia langsung mengobati aku dan Rize, saat itu Rize benar-benar sudah tidak bisa bergerak.


setelah dipulihkan akhirnya kami bisa bergerak lagi, Rize berencana membawa Satya untuk di interogasi, Rize membuat kesepakatan dengan Vanca untuk membagi semua informasi yang di dapat dari Satya, dan kami memutuskan untuk pergi.


tapi... Freya masih saja diam seperti patung, matanya melihat keatas, dan tubuhnya masih mengeluarkan cahaya, bahkan Dewi perang masih belum kembali padanya, aku berulangkali memanggil namanya, tapi dia tidak menjawab sama sekali, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mendekati nya. saat aku berjalan kearah nya, Vanca langsung menarik tanganku dan berkata;


"jangan kesana!, perasaanku tidak enak" ucap Vanca sambil menarik tanganku.


"tenang saja, aku bisa menetralkan ability apapun, mungkin aku hanya perlu menyentuhnya agar dia sadar" ucapku pada Vanca.


"baiklah... hati-hati!!" ucap Vanca.


Vanca langsung menyambungkan tanganku yang putus, sementara Rize menahan setiap serangan dari Dewi perang, kelihatannya Dewi perang terlihat sangat marah, sepertinya dia masih merasakan ancaman pada Freya, sehingga membuat dia tidak kembali dan malah mengamuk. dia benar-benar menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya, bahkan dia sudah hampir menghancurkan seluruh kereta ini, dan hanya menyisakan gerbong tempat kami sekarang.


"kita harus menghentikannya!" ucapku.


"Vanca, kau diam disini dan lindungi Satya, biar aku dan Agi yang mengurus monster ini" ucap Rize.


"wah wah wah, rupanya kau sudah berani memerintah ku" ucap Vanca pada Rize.


"apa kau punya rencana?" tanyaku pada Rize.


"sebenarnya ini cukup mudah, aku hanya tinggal menjauhkannya dari Freya, dan saat dia sudah menjauh, kau bisa menetralkan ability Freya" ucap Rize. "tapi... dia benar-benar cepat, sehingga membuat rencana ini jadi terlihat mustahil"


"kau benar, jika aku mendekati Freya, dia bisa kembali kesini dan menyerang ku, walau kau sudah menjauhkan nya" ucapku.


"tunggu... jika dia ability, mungkin kau bisa menetralkan nya tanpa perlu menyentuh Freya, cukup sentuh si Dewi perang saja" ucap Vanca.


"ya, mari kita coba!" ucap Rize.


kami berdua maju bersama dan mencoba menyerang si Dewi perang, tapi gerakannya sangat cepat, dia bisa menghindari setiap serangan kami. Rize menghentikan setiap serangan Dewi perang dengan listriknya, dan setiap dia melakukan itu, aku berusaha menyentuhnya.


tubuh kami yang awalnya sudah pulih akhirnya terluka kembali, darah juga sudah banyak mengalir dari tubuhku, Vanca juga sudah mencapai batasnya lagi, jika tidak segera di hentikan, kami bisa mati.


setelah sekian banyak percobaan, akhirnya aku bisa menyentuh nya, tapi... ternyata dia tidak menghilang. itu berarti, satu-satunya cara untuk mengalahkan nya adalah dengan menyentuh Freya, tapi bagaimana caranya?, dia selalu menebas apapun yang mendekati Freya, bahkan debu sekalipun, penglihatan ku juga mulai buram karna kehabisan banyak darah.


"Vanca, apa kau memiliki tenaga yang cukup untuk membangkitkan orang mati?" tanya Rize.


"jika hanya satu orang mungkin bisa, tapi setelah itu aku akan benar-benar kehabisan tenaga" ucap Vanca.


"kalau begitu... mari kita bertaruh" ucap Rize. "kau berlari lah kearah Freya, jangan hiraukan si Dewi perang, biar aku yang mengurus nya"


"baik!!" ucapku.


aku langsung berlari kearah Freya, si Dewi perang yang menyadari hal itu langsung menuju ke arahku, saat dia ingin menusukku, Rize langsung melindungi ku dan menerima serangannya mentah-mentah, pedang itu berhasil menembus perut Rize. rupanya pertaruhan yang di maksud Rize adalah ini, dia sengaja membiarkan pedang si Dewi perang menembus dirinya, supaya dia bisa menahan pedangnya.


"sakit!!!, cepat selesaikan!!!" ucap Rize.


tubuh Rize terbelah menjadi dua, aku berlari sekuat tenagaku agar kematian Rize tidak sia-sia, mungkin setelah ini Rize masih bisa disembuhkan kembali oleh Vanca, tapi... jika aku gagal, maka kami semua akan berakhir. di saat-saat terakhir, akhirnya aku bisa menyentuh nya, aku memeluknya dengan erat, aku khawatir jika dia tidak bisa kembali, setelah itu... Dewi perang tiba-tiba menghilang bagai debu yang tertiup angin, warna mata Freya yang tadinya berubah putih semua, akhirnya kembali normal, aku lega saat melihatnya kembali, dia melihat ke arahku dan berkata;


"apa yang terjadi?" tanya Freya. "kenapa kamu memelukku?"


"ah maaf" ucapku kaget sambil mencoba melepas pelukanku.


"jangan di lepas!" ucap Freya sambil membalas pelukanku.


"apa yang kamu rasakan sejak tadi?" tanyaku.


"aku tidak merasakan apa-apa, tapi aku sedikit bermimpi aneh tadi" ucap Freya.


"mimpi apa itu?" tanyaku.


"aku bermimpi bertemu dengan seorang Dewi yang sangat cantik, dia bilang padaku bahwa dia akan melindungi ku, setelah itu tiba-tiba kamu datang sambil meneriakkan namaku berkali-kali" jawab Freya.


"syukurlah jika kamu baik-baik saja" ucapku.


Vanca menghidupkan kembali Rize, tiba-tiba Rei dan pak tua Davis datang menjemput kami, aku mengajak Freya untuk pulang bersama, dan akhirnya kami pulang. di perjalanan aku bertanya pada Vanca tentang kekuatan iblis Satya, aku bertanya tentang bagaimana dia bisa mendapatkan kekuatan itu.


"kekuatan itu bisa di dapat dengan cara melakukan ritual kontrak dengan iblis, dan alasan divisi kepolisian khusus bernama Devil Hunter menangkap nya, karna kemungkinan Satya adalah anggota Decay" ucap Vanca.


"kumohon... ceritakan padaku semua hal tentang Decay" ucapku.


aku kaget saat mendengar nama Decay, itu adalah nama organisasi yang di sebut oleh ibuku dalam buku hariannya, aku ingin tahu semua tentang Decay, karna itu bisa jadi hal penyebab kematian ibuku. dilihat bagaimanapun, kematian ibuku bukan hanya sekedar perampokan, dilihat dari banyak hal janggal dalam kematian ibuku, itu lebih terlihat seperti pembunuhan berencana, mungkin ini juga terhubung dengan adikku yang selalu bilang bahwa dia melihatku iblis, sekarang... ini semua jadi masuk akal.


bersambung....