Loser's Dream

Loser's Dream
PECUNDANG, AYO BERMAIN!


Dewi perang melesat mencoba menyerang ku, dia tidak menggunakan pedangnya, mungkin Freya takut akan melukaiku.


"gunakan saja pedangnya, aku sudah lebih kuat dari sebelumnya" ucapku percaya diri.


"Tidak akan, aku ingin pertarungan tangan kosong yang adil!" Freya tersenyum.


"Adil darimana?, kau hanya diam, dan yang menyerang ku adalah dewi perang haha" aku meledeknya.


Freya tersenyum, kemudian berlari kearah ku "menyebalkan!" Dia mendorong tubuhku.


Saat terdorong, dewi perang langsung menyapu kakiku, membuatku melayang di udara, tapi hal ini sudah pernah aku alami. Saat dia mencoba menendang punggungku saat aku melayang, aku memutar tubuhku, dan menahan tendangannya dengan tangan kiriku.


Tetap saja aku terdorong keatas, dan saat aku kembali menapakkan kaki di tanah, jubah yang aku gunakan lepas, membuat tangan kananku yang buntung terlihat jelas.


"KAMU KENAPA?, KEMANA TANGAN KANANMU?" Freya menghampiriku, dia sangat panik, padahal sebelumnya dia sedang menikmati pertarungan.


"Ya... ada sesuatu yang terjadi..." aku tersenyum dan menggaruk kepalaku.


"KENAPA TIDAK BILANG KALAU KAU SEPERTI INI?, KITA HARUS SEGERA MENEMUI VANCA!" Lalu Freya menarik tangan kiriku.


Dia membantuku membawa barang-barang ku, kami pergi ke parkiran, rupanya supir Freya sudah menunggu disana.


Aku menahan langkah kakiku, "Tunggu dulu... aku ingin pulang dan menemui ayah serta adikku dulu".


"Lebih baik kita ke rumah sakit terlebih dahulu, Aulia akan sedih melihat tanganmu hilang satu" Freya malah meledekku.


Aku mengangguk, masuk kedalam mobil, kemudian kami berangkat menuju rumah sakit.


***


Jalanan cukup macet, suara klakson terdengar dari berbagai macam arah, aku bertanya pada Freya, tentang hal yang dia alami selama sebulan ini.


"Aku setiap sore berlatih dengan Lucy, lalu bermain dengan anak-anak panti, dan aku juga sering mengajak Aulia jalan-jalan" dia bercerita sambil tersenyum.


"Benarkah?, terimakasih kalau begitu" aku tersenyum.


"Kau tahu?... angels48 sudah bebas dari tuntutan, bahkan selama sebulan kemarin, kami sudah tiga kali mengisi acara dalam sebuah konser" Freya terlihat sangat gembira.


"Syukurlah kalau begitu" aku tersenyum.


Aku menikmati perjalanan ke rumah sakit, sambil mendengarkan ocehan Freya, sudah cukup lama aku tidak mendengar suaranya yang cerewet ini.


***


Saat sampai dirumah sakit, kami langsung berpapasan dengan Eugene, "kau bilang ingin menemui ayah dan adikmu" dia tersenyum menggodaku.


"Halo kak Eugene!" Freya melambaikan tangannya, tersenyum menyapa Eugene.


"Halo Freya... bagaimana kabarmu?" Eugene tersenyum.


"Aku sehat, bunda juga sehat" Freya terlihat riang.


"Syukurlah..." ucap Eugene.


"Apa yang lain sedang ditangani Vanca?" Tanyaku.


"Ya, beberapa anggota sudah pulih, mungkin sekitar tiga puluh orang lagi" jawab Eugene tersenyum.


"Begitu ya" ucapku tersenyum.


"Kau langsung masuk saja, aku ingin kembali ke kantor" ucap Eugene tersenyum.


"Kau mau apa di kantor?" Tanyaku.


"Tentu saja tidur, aku sangat lelah.." ucapnya dengan wajah datar.


Eugene menguap, lalu pergi meninggalkan kami berdua. Kami langsung berjalan menuju ruang tempat para anggota Devil Hunter diobati.


Ternyata disana masih sangat ramai, kami berdua menunggu sebentar di luar, lalu tiba-tiba perut Freya mengeluarkan suara, "hehe... aku lapar" dia tersenyum malu.


"Mau turun sebentar?, tadi aku melihat tukang nasi uduk di halaman rumah sakit" ucapku memberi saran.


"Tapi lenganmu?" Tanya Freya.


"Tidak apa-apa, di dalam masih banyak orang, jadi lebih baik kita makan sambil menunggu giliran" jawabku tersenyum.


Freya membalas senyumanku, kami berdua turun lagi kebawah, dan makan sambil menunggu giliranku.


Saat aku membuka terpal penutup warung nasi uduk, di dalam sudah ada Agatha dan Dariel, "kak Agi" Dariel menyapaku.


Aku hanya tersenyum, lalu aku dan Freya duduk di depan mereka.


"Kakak bilang kakak ingin pulang terlebih dahulu, apa tidak jadi?" Tanya Dariel.


"Ya... dia memaksaku untuk menyembuhkan lenganku dulu" aku menunjuk Freya.


Agatha terlihat membatu, "Fre-Freya?..." dia hanya mengucapkan sepatah sambil menatap Freya.


Aku mencoba mengenalkan mereka satu sama lain, "oh ya, Freya, ini Agatha, dan anak ini namanya Dariel" ucapku pada Freya.


Freya mengulurkan tangannya pada Dariel, "halo... aku Freya" dia tersenyum manis.


"Aku Dariel..." mereka berdua berjabat tangan.


Setelah itu Freya mengulurkan tangannya pada Agatha, tapi Agatha masih diam membatu menatap Freya, "kamu... benar-benar Freya?" Tanya Agatha.


"Ya, aku Freya!" Dia tersenyum lebar.


Tiba-tiba Agatha berdiri, dia sedikit menabrak meja, membuat kami bertiga kaget.


"Aku adalah penggemar berat angels48, aku sangat menyukai kalian, terutama dirimu, kau adalah member favorit ku!" Agatha memegang pundak Freya dan menggoyangkannya.


"Serius?, wah... terimakasih kalau begitu!!!" Freya tiba-tiba bersemangat.


"Bagaimana dengan permasalahan kalian?, apa sudah selesai?" Tanya Agatha.


"Sudah kok... ini semua juga berkat bantuan kalian para penggemar kami, terimakasih ya karna selalu mendukung kami!" Freya tersenyum.


"Syukurlah..." Agatha tersenyum.


Mereka berdua sangat asyik mengobrol sambil berdiri, Dariel sampai kebingungan melihat mereka.


"Kalian tidak lelah berdiri terus?" Tanyaku memotong obrolan mereka.


"Ah iya, ayo duduk!" Ucap Agatha.


Freya tersenyum, kemudian mereka berdua kembali duduk.


"Apa Dariel ini juga termasuk anggota Devil Hunter?" Tanya Freya.


"Tidak, dia bilang ingin ikut dengan Eugene, dan Eugene sendiri juga mengajaknya, tapi sekarang dia malah meninggalkannya" ucap Agatha.


"Sebenarnya karna aku belum di obati, jadi dia menyuruhku untuk menunggu, dan pulang bersama kak Lingga" ucap Dariel tersenyum.


"Lalu dimana Lingga?" Tanyaku.


"Dia menghilang juga, dia marah-marah saat disuruh mengantri, akhirnya Vanca mengobatinya terlebih dahulu, setelah itu tiba-tiba saja dia menghilang" jawab Agatha.


Aku hanya tersenyum, dasar Lingga, bisa-bisanya dia meninggalkan Dariel, ya... tapi memang dia orang yang seperti itu, tidak mau direpotkan orang lain.


"kalau begitu Dariel ikut bersama kami saja" ucap Freya.


"Oke, karna aku juga masih ada urusan dengan temanku" ucap Agatha.


Aku memesan nasi uduk, dan tak lama kemudian pesanan kami datang. Selesai makan kami berempat langsung naik ke atas, dan sisa lima orang yang sedang di obati Vanca. Kami berpisah dengan Agatha, lalu masuk kedalam ruang pengobatan.


Beberapa saat menunggu, giliranku tiba, "bagaimana latihanmu kemarin?" Tanya Vanca sambil memulihkan lenganku.


"Cukup berat, tapi sangat menyenangkan" jawabku tersenyum.


"Katanya kau yang berhasil menekan iblis itu" ucap Vanca.


Aku hanya tersenyum canggung.


Lenganku sudah tumbuh kembali, kini aku kembali punya dua lengan, "tolong periksa punggungku juga, sepertinya punggungku patah" ucapku.


"Kau sepertinya sudah jadi kuat" ucap Vanca sambil memeriksa punggungku.


"Ini masih belum cukup" ucapku tersenyum.


"Saat kau latihan kemarin, anggota evening sun yang lain tidak mau kalah. Mereka juga berlatih, dan kau tahu?, kecuali diriku, yang lainnya sekarang bisa mengalahkan iblis tingkat 5 sendirian" Vanca bercerita saat memeriksa punggungku.


"Benarkah?, mereka memang orang-orang hebat, walau sedikit aneh hehe" ucapku.


"Kau lah yang memotivasi mereka, kau berhasil membawa perubahan pada evening sun, bahkan sekarang kita memiliki banyak informasi tentang Decay" ucap Vanca.


"Semoga suatu saat kita bisa memusnahkan mereka semua" ucapku tersenyum.


"Baiklah sudah selesai" ucap Vanca.


"Bagaimana dengan punggungku?" Tanyaku.


"Hanya sedikit retak, tapi sebelumnya memang patah, sepertinya kau beregenerasi dengan cepat. Ya... sejak awal memeriksa mu, tubuhmu memang aneh" ucap Vanca.


"Kalau begitu terimakasih, kami akan langsung pamit" ucapku tersenyum.


"Apa kau akan langsung kembali ke kantor?" Tanya Vanca.


"Tidak, aku ingin pulang kerumah terlebih dahulu" jawabku.


Aku menghampiri Freya dan Dariel, kami bertiga pamit, lalu segera berangkat menuju rumahku.


"Kalian bertarung dengan iblis disana?" Freya tiba-tiba bertanya.


"Iya, iblisnya sangat besar, lebih besar dari rumah" Dariel menjawab.


"Benarkah?!!!, syukurlah kalian baik-baik saja" Freya terlihat kaget.


Aku tidak ingin memberitahu Freya, kalau aku sedang diincar oleh Decay, aku takut dia khawatir padaku. Situasi Dariel saat ini juga sama sepertiku, Eugene bilang sebelum dia dapat membangkitkan potensinya, dia akan terus diincar oleh Decay.


"Oh ya... aku sudah berjanji pada Aulia, untuk pergi ke wahana bermain bersama-sama" ucap Freya.


"Aku... sedang tidak punya uang" aku tersenyum menggaruk kepalaku.


"tidak apa-apa, tidak perlu memikirkan hal itu, kamu cukup ikut saja" ucap Freya tersenyum.


"Baiklah..." ucapku.


"Kau juga harus ikut Dariel, ya... kita sekalian berkeliling, agar kau mengenal jalan di jakarta" ucap Freya.


"Boleh, aku sejak kecil belum pernah ke wahana bermain" Dariel kelihatan senang.


Kami bertiga berangkat menuju rumahku naik mobil Freya.


***


Setelah satu bulan lamanya, akhirnya aku bisa melihat rumah ini lagi. Kami bertiga sudah sampai, aku langsung mengucap salam dan mengetuk pintu.


"Tunggu sebentar" aku mendengar suara malaikat kecilku, adik kesayanganku yang lucu.


Pintunya terbuka, aku langsung tersenyum melihat wajah adikku, "KAKAK!" Dia langsung memelukku.


"KAKAK SEHAT KAN? KAKAK MAKAN NYA TERATUR KAN?" Tanya Aulia dengan senyum lebar.


"Iya!, kamu sendiri? Sehat kan?" Aku bertanya balik sambil mengusap kepalanya.


Aku mendengar suara langkah kaki dari dalam, "Wahhh Agi sudah pulang" ayahku langsung membuka pintu dengan lebar.


"Ayo masuk, kau pasti lelah" ucap ayah.


Kami semua masuk, ayah menyuguhkan teh hangat dan biskuit pada kami.


"Paman, setelah ini aku ingin mengajak Agi dan Aulia ke wahana bermain, paman mau ikut?" Tanya Freya.


"Tidak perlu, biar kalian saja, paman sebentar lagi harus bekerja. Baru saja paman ingin menitipkan Aulia ke panti, dan kalian datang" jawab ayah tersenyum.


"Ayah sudah mendapat pekerjaan?" Tanyaku.


"Iya, ayah bekerja di sebuah proyek" ucap ayah.


"Syukurlah" ucapku tersenyum.


Kami kembali menikmati teh dan biskuit, lalu Aulia bertanya sesuatu, "kakak ini siapa?, Aku baru pertama kali melihatnya" Aulia menunjuk Dariel.


"Namanya Dariel, dia akan tinggal di panti" ucapku.


"Wahhh, itu berarti kakak akan menjadi temanku ya!" Aulia terlihat bersemangat.


"Iya... namaku Dariel" ucap Dariel tersenyum.


"Ya baiklah, ayah ingin berangkat kerja dulu. Ayah juga sudah masak ikan, kalian lebih baik makan dulu sebelum pergi ke wahana bermain" ucap Ayah.


Suasana jadi hening setelah ayah pergi, hanya terdengar suara biskuit yang dikunyah.


"Kakak semua, ayo kita makan" Aulia memecah keheningan.


"Aku ambil piringnya dulu" ucapku lalu berdiri.


"Biar aku bantu" ucap Freya.


"Aku juga akan membantu" ucap Dariel.


"Kalau begitu Aulia juga mau membantu" Aulia ikut-ikutan.


"Kalian bertiga tunggu disini saja, biar aku yang menyiapkannya" ucapku.


"Kau kan baru kembali dari perjalanan jauh, jadi lebih baik kau saja yang tunggu, biar aku yang menyiapkan" ucap Freya.


"Kalau begitu kita menyiapkan bersama saja" ucapku tersenyum.


"Ide bagus, Aulia dan Dariel tunggu sebentar ya" ucap Freya.


Kami makan bersama, setelah selesai makan, Freya membantuku merapikan bekas makan kami.


"sekarang apa?" tanyaku setelah kami selesai merapikan piring.


"TENTU SAJA BERMAIN!!!" Aulia melompat sangat tinggi, dia kelihatan senang.


Bersambung....