Loser's Dream

Loser's Dream
DANIEL ABRAHAM


langit sudah semakin gelap, saat itu aku, Eugene dan Lingga makan di kedai bakso yang terletak di depan kantor, dari luar kami melihat Lucy dan Diana yang sedang kerepotan mengurus para debitur.


“apa kita tidak perlu kesana dan membantu mereka?” tanyaku.


“untuk apa?!!!, aku sudah lelah karna bertarung seharian, jika ingin membantu, kau saja yang kesana!” ucap Lingga sambil menyantap baksonya.


“haha Lingga benar, aku juga sangat lelah” ucap Eugene tersenyum.


“kau lelah kenapa?, bukankah sejak tadi kau hanya memberi perintah pada kami, bahkan kau tidak membantu kami bertarung dan hanya melihat seperti sedang menonton film” ucapku pada Eugene dengan wajah datar.


“kau pikir aku hanya diam saja?, aku memutar otakku, dan sekarang itu terasa panas” ucap Eugene memelas sambil memegang kepalanya.


“jadi... besok mereka akan ditangkap saat sedang menyerang Nusantara Academy?” tanyaku pada Eugene.


“ya!, aku sudah memiliki bukti tentang kejahatan siswa Nusantara Academy, terutama kejahatan Ditya” ucap Eugene dengan wajah percaya diri.


“apa?!, bagaimana bisa?, bukankah sejak tadi kau selalu bersama kami?, sejak kapan kau mencari tahu tentang mereka?” tanyaku.


“bukankah sudah kubilang?, kalian menggunakan tenaga kalian, dan aku akan menggunakan pikiranku” ucap Eugene. “ada banyak kasus bunuh diri di Nusantara Academy, dan setiap kasus itu seperti memiliki kaitan dengan Ditya”


“kenapa kau bisa bilang begitu?” tanyaku.


“Nusantara Academy memang tidak memiliki bisnis gelap, tapi di sekolah mereka banyak terjadi kasus bunuh diri akibat pembullyan” ucap Ditya. “kemungkinan Ditya adalah orang yang jadi pembully utama disana, karna dia adalah bos nya”


seketika aku mengingat bahwa dulu aku juga sering di-bully, bahkan sekarang pembully nya sedang makan di samping ku, dia makan dengan santai tanpa rasa bersalah sedikitpun padaku.


“kenapa kau melihatku seperti itu hah?!!!” ucap Lingga padaku.


“ti-tidak” ucapku sambil memalingkan wajah. “Lingga, sebenarnya apa yang terjadi padamu?, maaf... tapi aku benar-benar penasaran”


tiba-tiba wajah Lingga memelas, tapi di matanya terlihat jelas bahwa dia menyimpan sebuah dendam, dia memegang sendok bakso nya dengan sangat kencang, tangannya juga gemetar seperti orang yang benar-benar marah.


“sudah kubilang, kau tidak perlu ikut campur” ucap Lingga sambil memalingkan wajahnya.


aku hanya mencoba untuk membantu Lingga jika dia punya masalah, tapi dia malah menyuruhku untuk tidak ikut campur, karna hal itulah keheningan tercipta. kami bertiga hanya diam sambil menyantap bakso kami masing-masing, sampai akhirnya Eugene memecahkan keheningan itu.


“keluarlah... apa kau tidak lelah mengikuti kami sambil sembunyi?” ucap Eugene tiba-tiba.


“kau bicara pada siapa?” tanyaku.


“pada orang yang mengikuti kita dari rusun pembuatan narkotika tadi” ucap Eugene serius.


tiba-tiba muncul seorang laki-laki dengan seragam SMA pelita bangsa, dia langsung duduk di depan kami, namanya adalah Fikri, dia bilang dia adalah sahabat Regi.


“maaf, aku mengikuti kalian sejak tadi” ucap Fikri dengan wajah memelas.


“apa yang kau inginkan brengsek?!!!, apa kau ingin balas dendam dan menyerang kami secara tiba-tiba?!!!” tanya Lingga sambil melotot.


“bukan begitu!, aku hanya ingin meminta bantuan pada kalian” jawab Fikri.


“tenang saja, aku mengenal dirinya!” ucap Eugene padaku dan Lingga. “dia adalah sahabat Regi, namanya Fikri, dia pernah melaporkan tentang bisnis narkotika milik SMA pelita bangsa, sayangnya saat rusun itu di geledah, polisi tidak menemukan apapun, untungnya tadi aku sudah memiliki banyak bukti, jadi kita tinggal menyerang dan menangkap orang-orang yang terlibat”


“aku mohon... buat Regi sadar, aku sudah berkali-kali memberitahu nya tentang bahaya obat-obatan itu, tapi dia malah mengacuhkan ku” ucap Fikri.


kemudian Fikri bercerita tentang masa lalunya dengan Regi, Fikri dan Regi sudah berteman sejak mereka masih kecil, sejak kecil mereka berdua sudah memiliki impian untuk menguasai Jakarta. saat kecil Regi lebih lemah dari Fikri, bahkan saat berkelahi dengan SD lain, Fikri lah yang selalu membantu Regi dan mengalahkan, tapi... sejak kecil Regi memang sudah memiliki sifat perundung, dia sangat suka memukuli orang yang lebih lemah darinya.


saat mereka SMP, Regi semakin tidak terkendali, dia mulai merokok dan minum-minuman keras, Fikri selalu mencoba menghentikannya, tapi dia tidak pernah menghiraukan hal itu. hingga suatu hari, Regi didatangi oleh sekelompok pria karna mencuri uang dari mereka, ia dipukuli hingga babak belur, banyak siswa yang melihat Regi dipukuli saat itu, sejak peristiwa itu Regi dikeroyok setiap harinya oleh orang yang ingin balas dendam padanya, akhirnya... Regi menjadi pecundang di sekolahnya.


semua orang merundung dirinya, bahkan teman-teman satu tongkrongan nya terkadang ikut memukuli nya, saat itu... yang benar-benar menjadi teman bagi Regi hanyalah Fikri. Fikri selalu mencoba melindungi Regi, tapi waktu itu dia lengah, dia tidak tahu bahwa Regi sering mengkonsumsi obat-obatan terlarang.


saat itu sebelum berangkat sekolah dia mengkonsumsi obat-obatan terlarang terlebih dahulu, karna merasa kesal pada teman yang mengkhianati nya, Regi membawa dua buah celurit ke sekolahnya. saat jam istirahat dia pergi ke atap sekolah dan menyerang teman-temannya yang sedang merokok pada saat itu, Regi berhasil menebas semuanya hingga mereka bersujud dan meminta ampun padanya, dia merasakan kembali kesenangan karna menyiksa orang.


sejak saat itu Regi menjadi semakin brutal, hingga pada suatu hari ia membunuh seseorang saat sedang tauran, sayangnya dia hanya dapat hukuman 2 tahun dipenjara, dan pada saat itu semua saksi ketakutan dan bilang bahwa itu hanya sebuah kecelakaan, saat bebas... Regi menjadi lebih brutal dari sebelumnya, begitulah yang diceritakan oleh Fikri.


“aku mohon selamatkan dia, saat ini dia jadi orang yang sangat ketergantungan pada obat terlarang” ucap Fikri memohon.


“kau tahu... kami bukanlah tim penyelamat, kami bukan polisi, kami juga bukan dokter” ucap Eugene. “tapi, kami akan mencoba membantumu, karna itu adalah tugas sesama manusia!”


“terimakasih!” ucap Fikri.


hari sudah gelap, Fikri memutuskan untuk pulang, Lingga juga sudah kembali ke kantor setelah selesai makan.


“kau tidak kembali ke kantor?” tanya Eugene sambil mengikuti ku.


“tidak, aku sudah izin pada Agam untuk menjenguk seseorang” ucapku sambil sedikit tersenyum. “ngomong-ngomong, kenapa kau mengikuti ku?”


“entahlah, aku bosan” ucap Eugene dengan wajah jahil.


aku hanya bisa tersenyum canggung, saat itu aku ingin ke rumah Freya untuk menjenguk nya, setelah kami keluar dari rumah sakit, aku selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi nya, dan hari ini aku belum kesana, aku sangat khawatir padanya.


“hmmm... kau ingin mengunjungi rumah seorang perempuan ya?” tanya Eugene sambil tersenyum jahil.


“ba-bagaimana kau bisa tahu?” ucapku tersenyum sambil menggaruk kepala.


“haha aku hanya menebak” Eugene sambil tertawa.


“kupikir kau memang sudah tahu” ucapku sambil tersenyum.


“apa dia berarti bagimu?” tanya Eugene tersenyum.


“siapa?” tanyaku.


“wanita itu” jawab Eugene.


“ya... dia sangat berarti bagiku, suaranya yang lembut saat berbicara, selalu penuh semangat, selalu menghargai orang lain, selalu berbuat hal positif, bahkan energi positif nya seperti tersebar untuk orang disekitarnya, dia baik pada semua orang, dia sopan pada orang yang lebih tua, dia suka membantu orang yang sedang kesusahan, dia selalu memberikan senyuman manisnya pada semua orang, dia adalah alasan aku masih hidup saat ini, dia juga menjadi alasan ku untuk menjadi lebih kuat, dia... segalanya buatku” tanpa sadar semua kata itu keluar dari mulutku sambil tersenyum.


“wah... jadi kau menyukainya ya!” ucap Eugene jahil.


“bu-bukan begitu!” ucapku dengan wajah memerah. “su-sudah lupakan saja omonganku barusan!”


setelah itu aku hanya menjawab setiap pertanyaan Eugene secukupnya, kami berdua sudah sampai dirumah Freya, saat aku menekan bel rumahnya, salah satu satpam langsung menyuruh kami masuk sambil tersenyum, entah mengapa Eugene terlihat sudah akrab dengan semua penjaga disini.


“bibi pikir kau tidak datang hari ini” ucap bibi Soraya padaku. “sejak pagi Freya menanyakan mu”


“maaf bibi, tapi hari ini aku lumayan sibuk” ucapku sambil tersenyum.


“baiklah, bibi panggilkan Freya di kamarnya sekalian mengambil minum” ucap bibi Soraya.


kemudian bibi Soraya meninggalkan ku di ruang tamu sendirian, Eugene sepertinya sedang mengobrol dengan para penjaga diluar, beberapa saat kemudian Eugene masuk dan duduk disebelah ku.


“Agi!, kupikir hari ini kamu tidak datang!” ucap Freya dari tangga dengan wajah cemberut. “aku bosan karna tidak ada teman dari tadi!”


“maaf... hari ini aku sedikit sibuk” ucapku tersenyum.


“kau datang dengan siapa?” tanya Freya.


kemudian Eugene membalikkan wajahnya dan menengok ke arah Freya, sambil berkata;


“yo!... apa kau lupa padaku?” ucap Eugene sambil tersenyum.


“kak Eugene!!!” ucap Freya sambil berlari menghampiri kami dari tangga.


“kalian sudah saling mengenal?!!” tanyaku kaget.


“tentu!, dulu kak Eugene selalu datang dan bermain denganku!” ucap Freya sambil bersalaman dengan Eugene.


“wah... ternyata Eugene juga datang” ucap bibi Soraya sambil membawakan minuman. “apa kabarmu?, sudah lama kau tidak berkunjung kesini”


“kabarku baik, ngomong-ngomong... ada yang ingin aku bicarakan dengan bibi” ucap Eugene dengan wajah serius.


“Freya... lebih baik kau ajak Agi berkeliling diluar, kalau tidak salah ada pasar malam di dekat sini, kalian berdua main lah kesana” ucap bibi Soraya sambil tersenyum.


“baik bunda!” ucap Freya sambil menarik tanganku. “kami pergi dulu!”


“jangan kembali terlalu malam” ucap bibi Soraya. “baiklah... ada hal penting apa yang membuatmu sampai datang kesini lagi?”


“tentang ability Freya, sepertinya sudah saatnya dia bisa mengendalikan kekuatan nya sendiri, kau tidak bisa selalu mengandalkan orang lain untuk melindunginya, dia juga harus bisa melindungi dirinya sendiri!” ucap Eugene.


(scene berpindah ke Agi)


“pelan-pelan, tanganku bisa putus jika kamu menariknya sekencang ini” ucapku pada Freya.


“tidak apa-apa, jika tanganmu putus, minta saja dokter Vanca menyambungkannya lagi” ucap Freya sambil tertawa.


dia menarik ku dengan penuh semangat ke pasar malam, disana sangat ramai, banyak orang yang berjualan makanan, mainan, pakaian, bahkan ada wahana bermain disana. Freya langsung mengajakku naik kincir angin, dari atas pemandangan nya sangat indah, banyak sekali lampu gedung-gedung yang kami lihat dari atas, setelah itu kami memainkan wahana lainnya, aku mendapatkan boneka besar permainan lempar kaleng, dan Freya menyukai boneka itu.


“boneka nya sangat lucu!” ucap Freya sambil memeluk boneka nya erat-erat.


“ambil saja bonekanya, jika kamu menyukainya” ucapku tersenyum.


“benarkah?, terimakasih!” ucap Freya gembira. “tapi... jika aku tidak menyukainya, apa kamu tetap akan memberikannya padaku?”


“tentu saja!, laki-laki kan tidak main boneka!” ucapku tersenyum.


“hahaha kamu benar” ucap Freya tertawa.


kami berdua kemudian pergi ke restoran cepat saji dan makan disana, sepertinya keadaan Freya sudah membaik, dia sudah tidak terlihat murung seperti sebelumnya, dan senyuman tulus nya sudah kembali seperti dulu, aku sangat senang.


“sepertinya kamu mulai bisa tertawa lepas lagi seperti dulu” ucapku.


“tentu saja, aku tidak bisa terus-terusan murung, karna jika Fiona melihatku murung, dia pasti akan sedih juga” ucap Freya. “aku juga sudah melaporkan hilangnya Fiona pada polisi, sekarang mereka sudah memulai pencariannya, aku akan berusaha menemukannya, aku akan menyelamatkan nya!”


tiba-tiba ada seorang pria yang berteriak minta tolong, saat aku menghampirinya, tenyata pria itu sedang dipukuli oleh sekelompok preman, aku membantu pria itu dan mengusir preman nya.


“paman tidak apa-apa?” tanya Freya pada pria itu. “ayo kita kerumah sakit, wajah paman terluka!”


“tidak perlu, paman baik-baik saja, terimakasih karna sudah menyelamatkan paman” ucap pria itu sambil tersenyum.


“apa kau yakin?, kalau begitu dimana rumahmu? biar kami antar kau pulang!” ucapku.


“terimakasih, kalau begitu kalian cukup mengantarkan ku ke halte di dekat sini saja” ucap pria itu sambil berusaha berdiri.


“baiklah, biar aku bantu” ucapku sambil membantunya berdiri.


“apa yang paman lakukan sehingga mereka memukuli paman?” tanya Freya.


“entahlah, paman hanya sedang mencari udara segar, tiba-tiba para preman itu datang dan menyerang paman” ucap pria itu.


aku heran, kenapa dia tidak melawan balik, dia hanya diam saja saat dipukuli, padahal tubuhnya tinggi, dan aku yakin tubuhnya atletis, karna aku bisa merasakan otot lengannya yang besar dan padat.


“kenapa kau tidak melawan?” tanyaku sambil merangkul pria itu.


“aku takut, bagaimana mungkin aku bisa menang melawan empat orang” ucap pria itu tersenyum. “kau hebat karna bisa mengalahkan mereka berempat”


“kita sudah sampai!” ucapku sambil membantu pria itu duduk di kursi halte.


ponselku berdering saat itu, ternyata Eugene yang menelepon ku, dia menyuruhku untuk segera kembali karna saat itu sudah pukul 9 malam, ngomong-ngomong sebelumnya aku tidak memiliki ponsel, 3 hari yang lalu Agam baru membelikannya untukku.


“Eugene bilang bibi Soraya menyuruh kita untuk kembali” ucapku pada Freya.


“paman... kami minta maaf karna tidak bisa menemanimu sampai dapat bis” ucap Freya.


“tidak apa-apa, terimakasih karna sudah menolongku” ucap pria itu.


“baiklah kami pamit dulu” ucap Freya dan aku sambil melambaikan tangan.


“ngomong-ngomong siapa nama kalian?” tanya pria itu.


“aku Agi, dan ini Freya” ucapku pada pria itu.


“sekali lagi terimakasih!” ucap pria itu.


“ya.. sama-sama!” ucapku dan Freya.


kami kembali ke rumah Freya, setelah sampai, aku dan Eugene langsung pamit pulang pada bibi Soraya, kami berdua pulang naik taksi, diperjalanan Eugene menceritakan padaku tentang hal yang dibicarakannya dengan bibi Soraya.


“aku tidak setuju!” ucapku dengan tegas. “aku akan membiarkan Freya bertarung, aku tidak ingin dia terluka!”


“kau tahu?, Freya akan jadi sangat kuat jika dia bisa mengendalikan ability nya” ucap Eugene.


“tetap saja!, aku tidak bisa membiarkannya!” ucapku.


“kalau begitu... kau harus lebih berusaha untuk jadi lebih kuat” ucap Eugene serius. “dia berarti bagimu kan?, buktikan bahwa dia berarti bagimu, dan jangan biarkan dia terluka, lindungi dia, buat dia bahagia, karna sejak kecil ia selalu menutupi penderitaan nya dengan senyuman polosnya”


“aku pasti akan melakukan semua itu!” ucapku tegas. “karna itu... kumohon bantu aku untuk jadi lebih kuat!”


“hahaha bukankah sebelumnya aku sudah bilang padamu?, kau beruntung... karna aku akan membuat mu semakin kuat!” ucap Eugene dengan penuh percaya diri. “aku jamin kau dan ability mu akan semakin kuat!’


setelah sampai kantor kami langsung tidur, karna besok kami harus mempersiapkan sesuatu untuk puncak rencana Eugene, besok empat sekolah di Jakarta akan saling menghancurkan.


(scene berpindah ke pria yang ditolong Agi)


“padahal tadi aku sedang menikmati udara malam” ucap pria itu tersenyum sambil mencengkram wajah salah satu preman yang memukuli nya. “Arga!, habisi dan jual organ preman-preman ini!”


“baik bos!, dengan senang hati hahaha” ucap Arga tertawa (salah satu eksekutif dark tree mafia).


“ku.. kumohon maafkan kami, kami tidak tahu kalau kau adalah bos dark tree mafia” ucap salah satu preman sambil menangis.


“kalian beruntung karna aku tidak langsung menghabisi kalian tadi, karna vision ku memperlihatkan bahwa aku akan bertemu dengan bocah bernama Agi jika kalian memukuli ku” ucap pria itu tersenyum. “tapi aku tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini"


“kumohon lepaskan aku, biarkan aku hidup, aku akan melakukan apapun untukmu” ucap salah satu preman.


keempat preman itu menangis dan meminta maaf agar diampuni, kemudian pria itu memberikan keempat preman itu sebuah pisau.


“silahkan mulai, yang terakhir hidup akan aku lepaskan dan kuberi uang sejumlah 1 milyar!” ucap pria itu sambil tersenyum.


mendengar perkataan pria itu, keempat preman itu langsung menghunuskan pisau dan saling menyerang satu sama lain, hingga akhirnya sisa satu orang yang masih berdiri.


“aku menang, aku menang hahaha” ucap preman yang masih berdiri sambil tertawa.


“wah... ternyata kau juaranya, selamat atas kemenangan mu!” ucap pria itu tersenyum sambil menepuk pundak si preman. “Arga, lepaskan dia dan beri uang 1 milyar atas kemenangan nya!”


“lalu bagaimana dengan mayat-mayat ini bos?” tanya Arga. “padahal tadi aku sudah siap ingin memenggal kepala mereka”


“jual organ yang masih bagus, dan yang sudah rusak lebih baik jadikan pakan untuk babi!” ucap pria itu.


“siap bos!, hahaha” ucap Arga.


“namaku Daniel Abraham, bos dark tree mafia, kau pergilah yang jauh sehingga tidak bisa bertemu denganku lagi, karna jika kita bertemu lagi, aku akan membunuhmu!” ucap Daniel sambil tersenyum.


bersambung....