Loser's Dream

Loser's Dream
PECUNDANG DAN PERUNDUNG VS SI JENIUS


Eugene berlari kearah ku kemudian melompat, dia berputar saat melompat, mungkin sekitar empat kali. setelah itu dia meluruskan kakinya, akhirnya tulang keringnya mengenai leherku.


kejadiannya sangat cepat, aku bahkan tidak bisa menghindar ataupun menangkis serangannya. tendangannya membuat diriku terpental, tendangannya sangat kuat hingga membuat diriku terpental, dan lagi-lagi... aku tidak merasakan sakit.


“bertarung lah!, aku ingin mengukur kemampuanmu secara langsung!” ucap Eugene sambil menendang Lingga.


aku pikir Eugene tidak bisa berkelahi, ternyata dia sangat kuat, sejak tadi dia mendesak Lingga, tanpa menggunakan tangannya, dia hanya mengandalkan tendangan kakinya.


“harusnya kau tahu bahwa serangan mu tidak akan menyakiti ku!” ucap Lingga tersenyum.


“aku tahu itu, tapi... energi mu terkuras kan?, hanya masalah waktu sampai kau pingsan karna kehabisan tenaga” ucap Eugene tersenyum licik.


Eugene mulai melancarkan serangan lagi, sekali lagi dia berhasil memojokkan Lingga, dan sejak awal pertarungan ini dimulai, tak ada satupun serangan Lingga yang mengenai Eugene. aku masih duduk terdiam setelah Eugene menendang ku, gaya bertarung Eugene, seperti ada seni didalamnya, terlihat sangat indah.


aku berdiri dan mulai mencoba menyerang Eugene, tapi ternyata sama seperti Lingga, aku tidak bisa menyentuhnya. dia menghindari pukulan ku yang mengarah ke perutnya, kemudian menendang bagian luar dengkul kiri ku. karna tendangannya... dengkul ku terasa lemas, dan tanpa sadar aku terjatuh, padahal kepalaku belum sampai ke tanah, tapi dia sudah menyambut kepalaku dengan tendangannya.


“hebat!... kau sangat kuat Eugene!...” aku menatap Eugene dengan penuh rasa kagum.


perasaan ini muncul kembali, rasa senang saat bertarung, perasaan yang aku rasakan saat melawan Ditya, tidak aku sangka, aku akan merasakan hal ini lagi saat melawan Eugene.


“gunakan seluruh kemampuanmu!, bahkan ability yang kau dapat dari iblis milik Ditya, gunakan itu!” ucap Eugene tersenyum.


lingkaran sihir muncul di pergelangan tanganku, lalu sebuah energi mulai membungkus tanganku seperti sarung tangan tinju, “baiklah jika kau yang minta!” tanpa sadar aku mengucapkannya sambil tersenyum lebar.


aku mulai menyerang Eugene dari jarak lima meter, jurus yang aku gunakan saat ini kuberi nama 'long smash', karna dengan melakukan gerakan seperti sedang meninju, energi di tanganku seakan menembak, aku belum bisa mengendalikan kekuatan ini, jadi jika mengenai Eugene sekali saja, dia pasti akan terluka parah.


para anggota yang tadinya duduk melingkari kami, kini berpencar mencari tempat aman, kecuali Vincent, Rize, Isla, dan Agatha, mereka tetap berdiri di tempat sambil menangkis serangan-serangan ku yang dihindari Eugene.


“kuat sekali, jika terkena langsung, kita bisa terluka parah” ucap Isla menangkis serangan ku menggunakan biola nya.


“benar sekali, tak kusangka dia berkembang secepat ini” ucap Rize duduk diam didalam bola listrik, agar serangan ku tidak ada yang mengenainya.


aku merasa tidak bisa mengenai Eugene jika hanya menyerang sambil dia di tempat, akhirnya aku berlari menghampirinya, kemudian saat jarak kami hanya sekitar satu meter, aku melepaskan long smash ku.


kami semua kaget, karna Eugene bisa menghindari serangan ku dari jarak yang sangat dekat, dia melompat menghindari long smash, lalu menendang perutku dengan telapak kakinya, sepertinya tulang rusukku patah.


“hahaha kau selalu cepat Eugene!” Vincent tertawa lewat pengeras suara.


“ya... komandan harusnya tahu, aku bahkan belum mengeluarkan setengah kemampuanku" Eugene membalasnya dengan senyuman sombong.


bukan hanya cepat, tapi Eugene juga bisa memprediksi setiap gerakan kami, ini akan jadi sangat sulit.


kali ini aku mencoba untuk tidak menggunakan long smash, dan memukul Eugene secara langsung. aku dan Lingga menghampirinya bersamaan, lagi-lagi dia menghindar dengan lincah, hingga akhirnya Lingga berhasil membuat peluang.


dia berhasil menangkap kaki kanan Eugene, “habisi dia!" Lingga berteriak sambil menahan kaki Eugene. aku langsung mengambil posisi untuk memukul wajahnya dengan tangan kiri ku, tapi... lagi-lagi dia membuatku kagum.


saat tinju kiri ku sudah hampir mengenainya, kedua tangannya langsung menopang tubuhnya, dan kaki kirinya menendang siku ku dengan tumitnya. pukulan ku belok, dan aku malah mengenai Lingga.


Lingga yang terkena pukulan telak dariku terpental, dan sepertinya dia kehilangan kesadaran. karna kaki Eugene sudah bebas, dia menendang ku secara membabi buta, hingga akhirnya penglihatan ku kabur, dan aku juga kehilangan kesadaran ku.


***


saat sadar aku sudah berada di kamar, bersama dengan Rize dan Agatha yang sedang duduk disebelah ku.


“kau sudah sadar” ucap Rize mengompres luka ku.


“dimana yang lain?, kenapa rasanya sepi sekali?” tanyaku.


“mereka semua sedang latihan, Lingga juga ikut berlatih” jawab Agatha.


suasana jadi hening sejenak, sampai Rize berbicara, “kau hebat, bisa bertarung dengan Eugene selama itu” Rize kelihatan kagum.


“tapi kan aku kalah" ucapku tersenyum.


“tetap saja hebat, semua anggota yang ada disini, termasuk aku dan Agatha, hanya bisa menahan Eugene selama dua menit, tapi kalian berdua berhasil menahannya selama sepuluh menit" ucap Rize.


“jadi kalian juga pernah bertarung melawan Eugene?” tanyaku.


“ya!, semua anggota Devil Hunter sudah pernah dikalahkan Eugene, bahkan yang membuat aku, Agatha, dan Isla dan mengendalikan ability dengan baik adalah dia, dia yang melatih kami bertiga” jawab Rize.


aku mengubah posisiku yang awalnya telentang, jadi duduk menyandar pada tembok, “dia sekuat itu ya?” aku sedikit bertanya lagi.


“bukan hanya kuat, dia juga jenius, aku benar-benar mengaguminya, dia menguasai dua puluh jenis beladiri, yang tadi ia gunakan saat bertarung melawan kalian adalah taekwondo” Rize bercerita sambil mengompres luka ku. “bukan hanya itu, dia juga ahli dalam bidang pendidikan, dia menguasai lima puluh bahasa asing, dia hafal setiap rumus matematika, fisika, dan kimia. dia adalah seorang jenius.”


“benarkah?, dia belum pernah cerita hal ini sebelumnya” ucapku.


“ya!, suatu saat aku ingin jadi sepertinya" ucap Rize sedikit tersenyum.


***


Rize meninggalkan aku dan Agatha berdua, karna sekarang adalah jatah piket memasaknya. suasana jadi canggung, sebenarnya sejak semalam aku ingin menelfon ayah dan Aulia, aku juga ingin menelfon Freya, tapi karna ponsel kami disita selama pelatihan, akhirnya aku tidak bisa melakukan apapun, aku merindukan mereka.


“Dariel... nanti kau mau menemuinya?" tanya Agatha memecah keheningan.


“ya... sepertinya aku juga akan mengajak Eugene" jawabku tersenyum.


“tenang saja... tadi pagi aku mampir ketempat nya dan memberikannya sarapan” ucap Agatha seakan bisa membaca pikiran.


“darimana kau tahu aku sedang memikirkan hal itu?" tanyaku.


“wajahmu terlihat khawatir setelah aku menyebut namanya, jadi kupikir kau khawatir takut dia belum makan dan sedang kelaparan sekarang” jawab Agatha.


“kau hebat!, kupikir kau bisa membaca pikiran” ucapku tersenyum pada Agatha.


tiba-tiba wajahnya memerah, lalu dia memalingkan wajahnya, “terima kasih..." sepertinya hanya itu yang dia katakan, aku tidak terlalu mendengar karna suaranya pelan.


suara langkah kaki terdengar, suaranya semakin dekat, lalu ada yang membuka kamarku, ternyata itu adalah Eugene, Agatha kaget karna Eugene masuk secara tiba-tiba.


“maaf... apa aku mengganggu moment berharga mu Agatha?” Eugene cekikikan meledek Agatha.


Agatha berdiri kemudian menghampiri Eugene, lalu dia menampar Eugene dengan sangat keras, suara tamparannya terdengar renyah, “a-apa maksudmu!, dasar aneh!" Agatha lantas meninggalkan kami.


aku hanya melihat mereka dengan tatapan bingung, aku jadi semakin yakin... kalau Agatha memang hobi menampar wajah seseorang.


“maaf jika tadi aku menendang mu terlalu keras” ucap Eugene tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


“tidak apa-apa, aku tahu kau hanya ingin membuatku jadi semakin kuat” ucapku tersenyum.


“aku berjanji padamu, dalam satu bulan ini, aku akan membuatmu jadi yang terkuat!" ucap Eugene tersenyum sombong.


“aku percaya padamu” ucapku tersenyum.


“baiklah aku pergi dulu, nanti sore kita mulai latihan lagi” ucap Eugene membuka pintu.


“soal menemui Dariel, kita akan menemuinya nanti malam!" ucapku teriak.


“ya... kau atur saja!" ucap Eugene teriak dari lorong villa, semakin lama suara langkah kakinya menjauh.


ya... kini aku sendirian di kamar, karna latihannya dimulai sore nanti, aku memutuskan untuk tidur sejenak, sambil memulihkan tenaga ku lagi.


***


sore hari telah tiba, aku mandi terlebih dahulu agar tubuhku terasa segar sebelum berlatih. kami berkumpul lagi di halaman villa, kali ini kami akan melakukan latihan berpedang.


Vincent berdiri di depan dan memberikan instruksi kepada kami, dia mengajariku dan Lingga yang masih pemula, selama satu bulan kedepan, hal ini akan jadi kegiatan rutin kami.


matahari mulai tenggelam, kami bergegas untuk mandi, tak kusangka ternyata berpedang sangat sulit, aku sangat lelah.


saat yang lainnya mandi lalu menunggu di meja makan untu makan malam, aku dan Lingga lari mengelilingi hutan, kami berdua mencoba untuk meningkatkan stamina, agar kami bisa mengalahkan Eugene nanti. kami lari secepat mungkin, dan saling membalap, meskipun nafasku sudah terasa berat, aku menghiraukannya, dan berusaha lari lebih cepat, aku mau melampaui batasan ku saat ini.


Eugene datang kemudian berteriak “sudah cukup!”, mendengarnya aku dan Lingga pun langsung terkapar lelah, “kalian sudah lari tiga puluh putaran lebih, itu berarti dalam setengah jam ini... kalian sudah berlari sejauh 26 kilometer" ucap Eugene tersenyum.


lalu Eugene mengulurkan tangannya membantu kami berdua bangun “langsung bersihkan tubuh kalian, yang lain sudah menunggu di sana" ucap Eugene menunjuk halaman villa.


Bukan hanya latihan, tapi saat makan pun kami tetap di halaman villa. semuanya makan dengan lahap, terkadang ada anggota yang bercanda, sehingga mereka tertawa sampai tersedak, saat itu lah Vincent memarahi mereka, mereka sangat lucu.


Agatha menghampiri ku yang sedang makan, “mau berangkat sekarang?" dia bertanya sambil tersenyum, “aku sudah menyiapkan makanan untuk Dariel juga" dia kemudian menunjukkan plastik putih berisi makanan.


“baiklah, tunggu sebentar, aku mau memanggil Eugene” ucapku meletakan piring.


“jangan terlalu lama” ucap Agatha duduk.


aku segera mencari Eugene, seperti biasa, saat sedang dicari, dia sangat sulit ditemukan. sudah lima belas menit aku mencarinya, tapi tidak menemukannya di manapun, karna sudah terlalu lama, akhirnya aku berpikir untuk pergi tanpanya, dan mengajaknya lain hari.


saat aku kembali ke halaman villa, rupanya dia sedang duduk di atas pohon rambutan tepat di depan pintu masuk villa, dia sedang menikmati rambutan yang ada diatas sana.


“Eugene!... ayo kita berangkat!” aku berteriak padanya dari bawah.


dia melihat kebawah, kemudian melompat, “aduh!!!” pendaratannya tidak berjalan mulus, kakinya mendarat tepat diatas sebuah kulit pisang, dia terpeleset karenanya.


“aduh... punggungku sangat sakit” Eugene mengeluh sambil mengusap punggungnya.


aku hanya sedikit tersenyum melihat tingkah konyolnya, terkadang aku tidak percaya, bahwa orang se-konyol dirinya, adalah seorang jenius.


“jangan tertawa!, ayo kita berangkat” ucapnya sedikit kesal sambil berjalan.


kami berdua menghampiri Agatha, sepertinya dia bosan menunggu, terlihat jelas di wajahnya, “lama sekali!” ucap Agatha ketus. benar saja dia bosan, bukan hanya itu, sepertinya dia juga kesal.


“ayolah.... jangan marah-marah begitu, Waja cantikmu jadi jelek saat kau marah” ucap Eugene meledek.


seperti biasa yang dilakukan Agatha, dia menampar pipi Eugene lagi.


“sial!... punggungku belum sembuh, kini ditambah luka di pipiku, malam ini aku sungguh sial” Eugene mengeluh sambil mengusap pipinya.


aku sedikit tertawa, “sudahlah... ayo kita berangkat!” akhirnya kami berjalan menuju panti.


bersambung....