
Hani bangkit dari duduknya hendak masuk kekamar. Ketika hendak membuka pintu Ia berhenti sejenak menatap ke luar rumah. Terlihat Wahyu sesekali tertawa kemudian menatap pada Hani yang berdiri didepan pintu kamarnya. Wahyu tersenyum. Senyuman yang terlihat jelas mengembang di bibirnya. Senyuman yang tidak seperti biasanya. Senyuman yang mengandung banyak makna. Hani tak tahu apa arti dari senyumnya. Dug.. dug.. dug.. Jantung Hani berdegup lagi. Hani bergegas masuk ke kamarnya.
Hani menatap layar ponselnya. Membuka kotak pesan, berharap Ryan menghubunginya. Tapi tidak ada sama sekali Ryan menghubunginya semenjak mereka berada dikota berbeda. Bukan kota lagi. Bahkan pulau yang mereka tempati sudah berbeda.
***
Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Wahyu sibuk memainkan ponselnya. "Ah telpon saja." serunya. Tuut ttuut tuutt.. Panggilannya tidak diangkat. Wahyu mencoba lagi tetap tidak ada jawaban. "Mungkin sudah tidur." Ia mengurungkan niatnya untuk menelpon Hani. Wahyu membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. Sesekali tersenyum.
Drrtt.. drrtt...
Wahyu meraih ponselnya. Senyumnya tersungging begitu menerima sebuah pesan.
'Ada apa? Aku tadi tertidur.' Dari Hani. Wahyu menekan tombol panggil. Tuut tuut tuut...
"Apa aku membangunkanmu?" Wahyu memulai percakapan.
"Tidak." Jawab Hani.
"Apa aku menganggumu?" Wahyu bertanya lagi. Sebenarnya Ia tak tahu apa yang harus dikatakan pada Hani. Hanya asal mencari bahan pembicaraan.
"Tidak akan ku angkat jika mengganggu." Hani menghela nafas pelan. Wahyu cekikikan tertahan. Ia tak ingin Hani mendengarnya tertawa, tapi terlambat, Hani sudah mendengarnya.
"Apa aku membuatmu marah?" Nadanya benar-benar pelan. Lembut. Membuat hati Hani luluh, tak bisa marah. Sekalipun Wahyu menjengkelkan.
"Berhentilah menggodaku." Hani merendahkan nadanya juga. Kali ini Wahyu yang terdiam. Hani tersenyum. Ia tahu Wahyu juga melemah. Sejenak keduanya terdiam sebelum Wahyu mulai berbicara lagi.
"Besok..' suaranya tertahan 'jalan denganku ya?" Wahyu dengan keraguan memberanikan diri mengajak Hani. Lama tidak ada jawaban. Tidak ada suara. Wahyu menatap ponselnya memastikan apakah panggilannya masih terhubung. "Haan?" Panggilnya lagi.
"Ah y-ya."
"Yaa.. Aku dengar?"
"Lalu. Apa kamu mau?" Wahyu berharap Hani benar-benar mau pergi dengannya.
"Baiklah." Jawab Hani singkat.
"Tapi pakai motormu, ya? Kamu kan tahu aku tidak punya. Hehe.."
"Tak masalah." Keduanya memutus sambungan telepon.
***
Tiin..
Hani membunyikan tombol klakson setelah tiba didepan rumah Wahyu. Sebetulnya bukan rumah sendiri. Ia menyewa per kamar disana. Wahyu keluar dari rumah, berjalan mendekati Hani. Hani turun dari motor mempersilahkan Wahyu naik untuk mengendara. Keduanya tampak tersenyum, seperti dunia milik berdua. Mereka lupa bahwa masing-masing sudah memiliki kekasih.
Mereka melaju menuju ke salah satu ikon kota. Keduanya duduk ditepi jembatan. Tampam sangat jelas laut jika duduk disanan. Wahyu bersandar di salah satu tiang jembatan begitu juga dengan Hani.
"Apa kamu begitu menikmatinya?" Wahyu tersenyum melihat Hani yang begitu menikmati angin laut. Hani hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Wahyu. Sementara matanya masih terpejam, bahkan tak tahu sedari tadi Wahyu memandanginya. Hanu menikmati setiap inci udara yang dihirupnya. Rambut Hani yang pendek sedikit berantakan tertiup angin.
"Dikampungku butuh waktu kurang lebih dua jam untuk bisa ke pantai.' Hani mengubah posisi duduk memeluk lutut. Ia sejenak menatap Wahyu dan pandangannya beralih lagi kedepan. 'Aku benar-benar suka laut. Tapi begitu menyebalkan jika harus menempuh jarak yang jauh. Kamu tahu? Aku saangaat menyukai laut, tapi laut juga membuatku takut." Hani menundukkan pandangannya. Dagunya bertopang di kedua lututnya.
"Kenapa kamu takut?" Wahyu menyerngitkan dahinya heran. Menatap Hani lekat.
"Aku takut ketika aku mencoba menyentuh laut, ia malah menenggelamkanku. Atau mungkin laut bisa saja menenggalamkan keluarga, orang-orang yang aku sayangi. Aku sangat sering membayangkan hal-hal seperti itu." Hani menoleh pada Wahyu kemudian tersenyum.