
"Kenapa kemalaman pulangnya?" Tanya Puri.
"Tadi Wahyu mampir ke rumah kerabatnya." Hani membuka kulkas, mengambil minuman dingin kemudian meneguknya sampai habis.
"Besok kamu udah masuk kerja lagi?" Tanya Puri sedang berdiri di pintu kamar Hani.
"Belum. Besok kan hari libur kak. Kenapa?"
"Kakak besok ada acara nikahan teman, habis itu mau pergi jalan-jalan ngajak anak-anak. Kamu ikut?"
Hani dengan cepat menggelengkan kepalanya tanda tak ingin pergi. "Yakin? Nanti kakak pulang kemalaman kamu tidak apa-apa sendirian dirumah?"
"Tidak apa-apa. Kakak pergi saja." Hani mengibaskan tangannya pada Puri, memberi isyadata pada Puri untuk beranjak dari tempatnya berdiri karena menghalangi Hani untuk masuk ke kamarnya.
Puri masuk ke kamarnya, begitu juga Hani masuk ke kamarnya merebahkan diri karena kelelahan.
***
Lelah hati yang tak kau lihat
Andai saja dapat kau rasakan
Letihnya jiwaku karna sifat
Indah cinta yang kau berikan
Kini tiada lagi ku rasakan
Pedihnya jiwa
Baiknya ku pergi tinggalkan dirimu
Sejauh mungkin
Untuk melupakan πΆπ΅πΆπ΅πΆπ΅
Lagu dari band Ungu melantun dengan merdu. Hani sesekali menggerakkan bibirnya mengikuti lirik lagu yang bejudul sejauh mungkin itu. Ia tampak sibuk membolak-balikkan daftar menu yang disediakan pelayan diatas meja. Sesekali Hani mengecek ponselnya menunggu kabar dari Wahyu. Entah kenapa tiba-tiba Wahyu mengajak Hani makan diluar. Dirinya yang takut datang terlambat malah lebih duluan sampai dari Wahyu yang mengajak bertemu. Hani menunggu Wahyu sambil menikmati tiap lagu yang diputar oleh pemilik cafe.
Tok.. tok..
Wahyu mengetuk pelan meja yang sedari tadi ditempati Hani.
"Apa aku terlalu lama?" Tanya Wahyu sembari menduduki kursi didepan Hani kemudian meletakkan sebuah kantong di atas meja mereka.
"Apa yang kami bawa?" Tanya Hani sedikit menggerakkan dagunya.
Wahyu sibuk membuka bungkus sate kemudian melahapnya. 'Cuma beli satu bungkus?' Hani kesal Wahyu hanya membeli satu saja tanpa memikirkan Hani yang sedari tadi kelaparan menunggu Wahyu. 'Awas kamu!' Gerutu Hani dalam hatinya.
"Sayaang.. Kamu tidak lihat aku juga lapar?" Tanya Hani mencoba menggoda Wahyu.
Huk. Huk. Huk.
Wahyu tersedak mendengar ucapan Hani yang tidak biasanya memanggilnya dengan kata sayang apalagi ditempat umum. 'Rasakan'. Senyum killer mengembang dibibir Hani melihat Wahyu tersedak.
"Mas tolong air putih satu." Pinta Hani pada pelayan. Tidak lama kemudian si pelayan pun datang memberikan segelas air. Tanpa ditawari, Wahyu langsung meneguk habis air tersebut.
"Kamu belum memesan apapun?" Wahyu terkekeh melihat Hani yang tampak kesal padanya. "Tapi tadi kamu bilang apa? Sayang? Aku menyukai itu." Wahyu mengedipkan mata mencoba menggoda Hani.
"Apa kamu seperti itu pada semua wanita?" Hani protes dengan sikap Wahyu yang terlalu ramah dan mudah tersenyum.
"Tentu saja tidak. Hanya padamu. Tidak usah berpikiran yang aneh. Jadi kamu mau pesan apa sayang?" Wahyu sibuk membolak-balikkan daftar menu yang kini ada ditangannya.
"Kenapa keterusan itu manggil sayang begitu? Aku kan tadi becanda." Wajah Hani memerah karena Wahyu malah memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kamu kekasihku, wajar saja jika aku memanggilmu dengan kata sayang?"
Hani mendengus pelan mendengar jawaban Wahyu. Apa yang dikatakan Wahyu benar. Ia tidak bisa membantah lagi. "Aku mau jus alpukat saja." Pinta Hani.
"Tidak makan? Katanya lapar?"
"Sudah kenyang. Udah jus saja pesan." Wahyu kemudian memanggil pelayan cafe kemudian memesan dua jus alpukat dan satu porsi nasi goreng.
"Nasi goreng untuk siapa?" Tanya Hani heran.
"Untukku." Wahyu malah tersenyum dan menggoda Hani dengan mengedipkan matanya. Hani geleng-geleng melihat tingkah kekasihnya yang kembali melanjutkan melahap sate yang tadi Wahyu beli.
"Sayang tadi waktu mau keluar ditanyain kak Puri?" Tanya Wahyu disela makannya.
"Tidak. Kenapa?"
"Aku hanya ingin tau."
Tidak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Wahyu melahap lagi nasi gorengnya. Ini porsi kedua setelah sate yang ia makan. Tapi Hani malah senang melihat Wahyu yang begitu lahap makan didepannya. Bahkan ia tak malu makan dua porsi sekaligus. Sesekali Wahyu menyuapi nasi goreng pada Hani. Hani menerima satu suap nasi kemudian menolak ketika Wahyu ingin menyuapi lagi.
"Habiskan olehmu." Hani tak ingin mengganggu Wahyu. Hani sebenarnya hari ini hanya ingin berbaring dikamar saja, tapo Wahyu meminta untuk menemaninya makan diluar. Ia tahu dari pagi kekasihnya pasti belum makan apapun. Jika Hani menolak ajakan Wahyu tentu saja Wahyu mungkin akan malas untuk makan sendirian.
"Pinjam ponselmu." Pinta Hani seraya menyodorkan tangannya. Wahyu mengeluarkn ponsel dari saku celananya kemudian memberikan pada Hani. Wahyu masih sibuk dengan nasi goreng yang ada didepannya. Sedangkan Hani, sibuk dengan ponsel Wahyu. Sesekali ia melirik Wahyu yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
Jari Hani tertuju pada kotak pesan milik Wahyu. Tiba-tiba ia penasaran apa Wahyu. masih berhubungan dengan Sinta afau tidak. Tapi untungnya Hani tak menemukan apapun dan ia merasa senang. Hani membuka kotak panggilan suara, ia melihat satu persatu siapa yang dihubungi oleh kekasihnya, lagi-lagi tak menemukan kontak Sinta. Kemudian, mata Hani tertuju pada satu kontak yang bernama Nisa. Hani membuka riwayat panggilan Wahyu dengan Nisa tersebut. Ada beberapa panggilan keluar dan masuk yang berdurasi cukup lama antara mereka berdua.