
Bagiku, atau hidupku, tidak ada yang namanya kebahagiaan. Sekalipun itu ada, takkan bertahan lama dan akan pergi secepat mungkin. Tinggallah aku, sendiri. Bersama duka, luka dan sakit yang masih terasa.
Aku lupa bagaimana rasanya bahagia itu.
Aku juga tak ingin merasakannya lagi.
Cinta? Aku juga tak menginginkannya.
Aku tidak memiliki tenaga lagi untuk mencintai siapapun, termasuk diriku sendiri.
Juga, aku tak ingin dicintai oleh siapapun. Menerima orang baru dihidupmu berarti kau siap untuk dibebani. Itulah yang selalu otakku katakan. Dan aku tak mau itu.
Dibebani oleh apapun dan siapapun, sungguh aku tak ingin.
Aku hanya membiarkan diriku berjalan kemana pun dibawa oleh kakiku melangkah. Menjalani hidup, merancang mimpi dan meraih cita-cita tak pernah ada dalam hatiku.
Aku melewati hari demi hari begitu saja, ya begitu saja. Seperti sedang berjalan melewati lorong panjang yang sepi dan kelam.
Satu-satunya alasan sekarang aku masih hidup adalah...
.
.
.
.
.
.
karena aku ditakdirkan untuk hidup.
Oleh karena itu, aku tak akan bergantung pada apapun dan menaruh harapan pada siapapun.
Aku menikmati kesendirianku.~~
Meski sekarang aku sedang tertawa, tapi hatiku tidaklah begitu. Didalam sana, akan tetap menjadi ruang kosong tak berpenghuni.
"Haniii!" Teriak Dion memecah lamunannya.
Hani menjawab dengan anggukan dan berlaru kecil menyusul Dion yang sedang menunggunya.
Dimana saja, mereka akan selalu mencari tempat duduk yang berada di pojok. Karena Hani tidak suka dengan keramaian, apalagi dengan suara bising pelanggan lainnya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Hani pada Dion.
"Aku heran denganmu. Apa jangan-jangan kau penyuka sesama jenis?"
"Kau gila!" Mata Hani melotot mendengar ucapan Dion.
"Jika tidak, kenapa kau tidak menyukai pria setampang aku." Jawab Dion sambil merapikan dasinya.
"Hahahaa. Kau pikir aku seperti wanita lain yang sangat tertarik dengan ketampananmu?"
"Sekarang kau mengakui aku tampan?"
"Tentu saja tidak. Aku mengatakan itu adalah penilaian wanita lain. Bukan aku."
"Jika kau tidak tertarik dengan ketampananku, lalu apa yang bisa membuatmu menyukaiku?" Dion menyilangkan kedua tangannya didadanya.
Dion menatap keluar jendela restaurant, matanya mendapati seseorang yang dikenalnya. Wahyu sedang berdiri diseberang jalan menatap ke arahnya dan Hani. Dion melambaikan tangannya memberi isyarat untuk Wahyu masuk kedalam dan ikut bergabung bersama mereka.
Wahyu tersenyum tipis kemudian berjalan menuju restauran. Melihat kedatangannya, wajah Hani berubah 180 derajat dari sebelumnya. Ia menatap Wahyu datar tanpa ekspresi apa-apa.
"Apa dikehidupan sebelumnya kalian adalah sepasang kekasih?"
"A-apa maksudmu?" Hani tampak terkejut dengan ucapan Dion yang tiba-tiba seperti mengetahui sesuatu.
"Kau tau kan tentang reinkarnasi? Manusia bisa hidup pada masa lalu. Meninggal, kemudian hidup lagi dimasa sekarang." Jelas Dion.
"Lalu apa hubungannya dengan perkataanmu barusan?" Tanya Hani sambil menggerakkan dagunya.
"Oo.. Hahahha... Tiap kali melihatnya, ku lihat ekspresimu langsung berubah. Ku pikir kau dengannya memiliki hubungan dikehidupan sebelumnya. Mungkin saja hubungan seasang kekasih." Jawab Dion asal-asalan.
"Ckk. Pikirmu kejauhan." Hani membuang pandangannya dari tatapan mata Dion.
'Tapi kau benar.' Batin Hani.
"Apa tidak masalah jika aku ikut bergabung?" Tanya Wahyu setelah sampai di meja Hani dan Dion. Hani tak menjawab bahkan tak menatapnya sama sekali. Hanya Dion yang membalas dengan anggukan, kemudian Wahyu duduk disampingnya.
"Anda mau kemana?" Tanya Dion.
"Tidak masalah memanggil nama saja jika diluar jam kerja. Kau bisa panggil aku Wahyu."
"Oh? Baiklah kalau begitu. Ku rasa itu akan mengurangi kecanggungan bagi kita." Jawab Dion menepuk pelan bahu Wahyu.
Wahyu menatap sekilas pada Hani yang duduk didepannya, kemudian beralih menatap Dion. Paham dengan sikap Wahyu yang seolah ingin bertanya, Dion langsung berbisik "Dia akan seperti itu kalau bertemu orang baru. Maklumi saja." Jawab Dion lirih.
Wahyu manggut-manggut tanda mengerti, tanpa bertanya lebih jauh lagi. Sedangkan Hani tak menghiraukan dua pria didepannya yang sedang berbisik-bisik.
"Dion, aku ke toilet dulu." Hani segera bergegas meninggalkan dua pria tersebut.
Dion membalas dengan anggukan.
"Apa pencetakan berjalan lancar?" Tanya Dion sambil menuangkan minuman ke gelas Wahyu.
"Lancar." Jawab Wahyu singkat.
"Oh ya kau sedang apa disini?"
"Aku ada beberapa urusan yang harus diselesaikan disekitar sini. Saat ingin pulang, aku melihatmu disini dengan rekan kerjamu." Jawab Wahyu.
"Oh begitu." Dion mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu diluar masalah kerja?" Tanya Wahyu sedikit ragu.
Dion mengangguk setuju. "Silakan."
"Apa kau menyukai rekan kerjamu?"
Dion terdiam sejenak, menatap gelas yang dipegangnya. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Wahyu dan tersenyum kecil.
"Tentu saja. Aku sangat menyukainya. Tapi, saat wanita lain tergila-gila denganku, dia tidak menatapku sama sekali, bahkan saat aku berada tepat didepannya. Aku menyukainya karena dia tidak menyukaiku. Selama ini aku tidak pernah ditolak tapi Hani selalu menolak ku. Satu-satunya alasan kami dekat adalah karena dia selalu memintaku untuk menyunting tulisannya. Ku pikir lebih baik seperti itu daripada dia menjauh dariku. Tidak ada caraku bagiku untuk menggapainya."
Wahyu memainkan gelas ditangannya namun tetao fokus mendengarkan Dion. Terbayang olehnya bagaimana dahulu mendapatkan Hani menjadi kekasihnya.
"Hanya kau yang tau. Ini adalah rahasiaku. Karena aku sudah memberi tau rahasiaku, sekarang kita berteman bukan?" Tanya Dion pada Wahyu.
Wahyu mengangguk. "Tentu saja."