
.
.
.
Dua bulan berlalu semenjak keputusan Hani mengakhiri hubungannya dengan Ryan. Meskipun sakit ia harus tetap melanjutkan hidupnya dan melupakan Ryan. Hani menyibukkan diri dengan pekerjaan barunya. Oh yaa.. Dua minggu yang lalu Hani diterima bekerja di perusahaan yang cukup ternama di kota Batam, begitu juga dengan Wahyu, ia juga diterima bekerja di perusahaan yang berbeda dengan Hani. Meskipun begitu tempat mereka tidak terlalu jauh dan tentu saja setiap harinya Hani dan Wahyu berangkat dan pulang kerja selalu bersama-sama. Hubungan mereka terlihat semakin baik, dan.. tentu saja semakin dekat.
Setelah sampai mengantarkan Hani ke perusahaannya, Wahyu juga berangkat menuju tempat ia bekerja. Tampak Hani melambaikan tangan pada Wahyu dan tersenyum sangat indah. Seseorang yang sedari tadi memandangi mereka berdua datang menghampiri Hani setelah melihat Wahyu pergi. Langkah Hani tertahan ketika merasakan seseorang menahan kemudian menarik tangan Hani. Dan.. Paaaakkk... Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Hani.
"Aaah.." Hani memegangi pipinya yang terasa panas. "Apa yang kau lakukan?" Teriakan Hani sontak melihat semua orang disekelilingnya memperhatiakn apa yang sedang terjadi.
"Dasar kau ******. Kau tak ingat siapa aku?" Wanita mendekati Hani dan mendorong Hani hingga terjatuh. Lama Hani terdiam, kemudian menyadari siapa wanita yang ada didepannya. Perempuan itu adalah kekasih Wahyu. "Apa sekarang kau sudah ingat?" Wanita itu berjongkok mendekatkan wajahnya pada Hani. "Apa yang sudah kau lakukan pada kekasihku sehingga dia mengabaikanku. Apa kau serendah itu hingga harus mengganggu kekasih wanita lain?" Tatapannya benar-benar tajam, seperti ingin melenyapkan Hani saat itu juga.
Hani menyadari semua orang menatap padanya.
"Apa benar yang dikatakan wanita itu. Dasar murahan sekali."
"Jadi selama ini pria yang selalu bersamanya adalah kekasih orang lain."
"Dia sangat rendahan sekali."
Semua yang menyaksikan berbisik membicarakan Hani tapi tetap saja Hani bisa mendengarkannya. Hani berdiri dan membersihkan pakaiannya yang kotor. "Sepertinya kau salah paham padaku?" Hani mencoba menjelaskan.
"Apa yang kau maksud salah paham? Aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri kau tersenyum seakan ingin menggoda kekasihku."
Hani menghela nafasnya. Ia tidak bodoh, tentu saja melawan dengan emosi membuat Hani jadi terlihat semakin rendah. "Jadi kau mau aku bagaimana? Kami pergi bersama karena arah yang kami tuju itu sama. Apa kau lihat aku memeluknya atau aku memegang tangannya? Jika sebuah senyuman kau anggap sebagai godaan, tentu saja kau juga menggoda pria lain saat kau tersenyum padanya." Hani pergi meninggalkan kekasih Wahyu yang tak lagi mampu menjawab ucapannya. Beberapa langkah berjalan, Hani menghentikan langkahnya dan kembali berbalik arah. "Jika kau terus seperti ini, aku menjamin hubunganmu dengannya tidak akan bertahan lama. Jika aku mau, aku bisa merebutnya darimu tanpa harus menunggu kau putus dengannya. Tapi, aku punya harga diri untuk tidak melakukannya. Aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri seperti saat ini kau yang sedang mempermalukan dirimu sendiri." Hani melanjutkan langkahnya meninggalkan kekasih Wahyu yang menanggung malu. Tentu saja ucapannya tidak benar-benar serius. Hani hanya ingin memperlakukan kembali wanita itu.
"Aahh.." Hani memegangi pipinya yang masih merah bekas tamparan. "Apa aku harus mengoleskan bedak lebih tebal agar lebamnya hilang?" Hani berdiri didepan cermin toilet menatap wajahnya yang gusar.
***
Wahyu terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pegawai yang masih berstatus magang, ia harus teliti mengerjakan pekerjaannya agar tidak terjadi kesalahan.
"Apa kau tahu apa yang aku saksikan pagi ini?" Vino menghampiri Wahyu dengan secangkir kopi yang ada ditangannya. Vino juga pegawai berstatus magang diperusahaan tempat Wahyu bekerja. "Apa kau tidak dengar aku sedang berbicara denganmu?" Vino mendekatkan wajahnya ada Wahyu, mencoba menggoda Wahyu.
"Menjauhlah. Kau tidak lihat aku sedang bekerja?" Wahyu mendorong Vino dengan tangannya, menyuruh Vino menjauh darinya.
"Ini tentang kekasihmu."
"Biarkan saja."
"Kekasihmu membuat keributan didepan perusahaan tempat Hana bekerja."
"Apa maksudmu?" Wahyu menatap lekat pada Vino. Seketika ia menghentikan aktivitasnya.
"Waaah..." Vino tercengang melihat sikap Wahyu. "Melihat ekspresimu yang seperti ini membuatku jadi bingung, siapa sebetulnya yang jadi kekasihmu." Vino terkekeh.
"Kau jangan bercanda. Jelaskan apa yang kau katakan tadi." Melihat Wahyu yang begitu serius membuat Vino menghentikan candaannya.
"Oke okee tenang. Tadi saat berangkat kerja aku melewati perusahaan tempat Hani bekerja. Aku melihat orang-orang begitu ramai, tentu saja aku menghentikan motorku dan mendekati keramaian tersebut. Dan aku melihat...."
"Apa yang kau lihat?"
"Aku melihat Sinta, kekasihmu menampar Hani. Dia mengatakan Hani wanita ******. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang kau lakukan pada kedua wanita itu." Vino balik bertanya pada Wahyu yang tampak terkejut.
"K-kau kau yakin dengan apa yang kau lihat?" Wahyu menatap Vino berharap apa yang dikatakannya tidak benar. "Hani tidak apa-apa?"
"Kenapa kau tidak menghubunginya?" Vino beranjak menuju meja kerjanya. Wahyu menatap ponselnya lama tapi tidak melakukan apapun. Ia tampak ragu-ragu untuk menghubungi Hani.
***
Hani berdiri ditaman dekat perusahaannya sambil menunggu Wahyu datang. Tidak lama kemudian Wahyu datang dan memberikan helm pada Hani untuk dipakai.
"Han.. Apa kamu lelah? Kamu ingin langsung pulang?" Wahyu memecah keheningan antara dia dengan Hani.
"Apa kamu ingin ke suatu tempat dulu?"
"Apa.... kamu ingin ikut denganku?" Tanya Wahyu ragu-ragu. Tanpa menunggu lama Hani menyetujui ajakan Wahyu.
Mereka berhenti ditaman dekat pusat kota. Suasana terlihat ramai karena memang setiap sorenya selalu dikunjungi oleh orang-orang yang ingin berolahraga atau oleh keluarga yang hanya sekedar ingin berduduk santai. Wahyu menunjuk sebuah bangku kemudian mengajak Hani duduk disana. Wahyu membuka tutup botol minuman yang ia beli kemudian memberikannya pada Hani. Hani tersenyum kemudian meneguk minuman tersebut. Wahyu terus menatap Hani.
"Ada apa?" Tanya Hani, sadar bahwa pria disebelahnya sedang menatap kearahnya.
"Maafkan aku." Ucap Wahyu lirih. Ia masih menatap Hani.
"Maaf untuk apa?" Hani kembali meneguk minuman yang ada ditangannya.
"Apa masih terasa sakit?" Hani menghentikan aktivitasnya ketika merasakan jari-jari Wahyu menyentuh pipinya. "Kau? Kau melihatnya?"
"Tidak. Aku tau dari temanku. Han.. Aku minta maaf atas kelakuan.."
"Tidak usah dibahas." Hani memotong ucapan Wahyu.
"Tetap saja, aku minta maaf padamu." Wahyu mengusap kasar wajahnya. Ia tampak gusar dengan sikap Hani yang lebih banyak diam. Tentu saja itu juga kesalahannya.
"Kamu tidak salah. Aku juga tidak menyalahkanmu. Dan jika kamu salah, aku sudah memaafkannya."
Sesak di dada. Itu yang dirasakan Hani. Ia tak menyangka Wahyu mengetahui apa yang terjadi pagi ini. Meski tak disaksikan langsung olehnya, tetap saja Hani merasa malu. Seumur-umur baru kali ini dia ditampar didepan umum, dan yang lebih memalukan menurutnya ialah penyebabnya hanya karena seorang pria. Hani sesekali mencuri pandang kearah Wahyu, memperhatikan setiap inci wajah yang sangat lugu tapi begitu tampan.
.
.
.
.
.
.
~♥~ Bersambung ~♥~