Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
I know You lie


Hani mengucek-ngucek matanya tapi tidak merubah apapun yang sudah dilihatnya.


"Apa ini sebenarnya?" Hani menutupi mukanya dengan telapak tangan kemudian mengusap sedikit kasar. Ia mencoba mencerna apa yang dilihatnya dengan pikiran lebih tenang. Tetap saja tak menemukan jawaban apapun. Hani mengambil ponselnya kemudian menghubungi seseorang. Dua kali Hani menghubungi tidak dijawab. Cukup lama untuk panggilan ketika si penerima telpon mengangkatnya.


"Halo." Suaranya terdengar datar.


"Ceritakan padaku apa sebenarnya yang terjadi.' Hani mengatur nafasnya agar lebih tenang. "Apa yang telah kamu lakukan?' Hani bertanya lagi. Banyak yang ingin ia tanyakan, tapi Hani mencoba bersikap tenang meski emosi didadanya begitu sesak ingin keluar. Memaki-maki Ryan.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Ryan.


"Kamu benar tak ingin mengatakan apapun padaku?" Hani menekan kata demi kata agar Ryan berkata jujur.


"Sungguh tidak ada yang terjadi." Ryan meyakinkan Hani.


"Ceritakan padaku atau aku yang mencari tahu sendiri. Jika aku menemukan jawabannya sendiri kamu sendiri tahu apa akibatnya. Lebih baik kamu yang mengatakannya padaku dari pada aku mencari tahu atau tahu dari orang lain. Kamu tahu siapa aku dan bagaimana aku bukan?" Hani menatap layar laptopnya berharap Ryan memberi tahu apa yang terjadi. Ini bukan lagi pertanyaan. Lebih tepatnya adalah ancaman. Dan Ryan menyadari itu. Hani sedang mengancamnya. Hani memang pendiam, tp Ia memiliki temperamen yang buruk bahkan bisa dikatakan sangat buruk. Beberapa orang yang baru mengenalnya mungkin sangat percaya Hani adalah wanita yang saangat pendiam dan tidak neko-neko. Itu semua karena mereka belum melihat ketika emosi sedang menguasai Hani. Ia tak pernah mengusik atau ingin mengurus hidup orang lain. Bahkan bisa dianggap tidak peduli dengan orang disekitarnya. Tapi jika ada yang mengusik hidupnya bahkan mengancamnya karena sesuatu yang tidak ia perbuat seperti yang terjadi saat ini, dia mungkin bisa saja berubah seperti monster.


Tidak ada yang bisa mengatasi bila Hani sudah marah bahkan sampai murka. Ryan pun tidak bisa berkutik.


"Tidak ada apa-apa." Ryan menjawab dengan kalimat yang sama.


"Kenapa kamu di Pekan baru?" Tanya Hani.


"Aku hanya mengunjungi kerabatku."


"Lalu ini apa? Kau memang PEMBOHONG.' Hani berteriak frustasi. Tangan kirinya mengusap kasar rambutnya. 'Jelaskan apa yang aku lihat ini Ryan?"


"Apa yang harus ku jelaskan?" Ryan kebingungan.


"KAU TERDAFTAR SEBAGAI DPO DAN KAU MASIH TANYA KENAPA? HARUSNYA AKU YANG TANYA KAU KENAPA RYAN? APA YANG KAU LAKUKAN!!!!!!' Hani memukul keras meja yang ada didepannya, tentu Ryan yang menerima telepon mendengar dan kaget. Muka Hani seketika berubah merah padam. Seandainya Ryan saat ini ada didepannya entah apa akan yang terjadi. 'Kau tau? Seseorang memosting fotomu dan sebuah sepeda motor. Ia mengatakan kau sudah mencuri sepeda motornya.' Hani diam sejenak mengatur nafasnya kembali. 'Bahkan saat orang yang tidak aku kenal mengirimiku pesan ancaman atas apa yang tidak aku lakukan kau masih tak ingin menceritakan padaku apa yang terjadi?" Mata Hani mulai berkaca-kaca. Ia mengatur suaranya dengan baik agar Ryam tidak tahu dia menahan sesak didadanya.


Ryan menghela nafasnya pelan.


"Akan aku ceritakan, tapi nanti.' Ia menghentikan sejenak bicaranya. 'Aku janji akan menceritakan semuanya padamu. Jangan hiraukan pesan itu. Jangan kamu balas." Ryan menutup sambungan telponnya.


Hani terlihat benar-benar frustasi. Tentu saja dia tak akan mau diam menunggu jawaban dari Ryan. "Aku harus mencari tahu sendiri!" Hani mulai menggerakkan kursor kesana kemari. Mencari tahu apa yang terjadi.


.


.


***


Langit malam begitu cerah dipenuhi bintang-bintang dan bulan purnama. Sesekali terlihat pesawat melintas di udara. Pak De, mas berambut gondrong, yaitu mas Edi, Bintang dan Wahyu tampak duduk santai diteras rumah Puri sambil berbincang-bincang dengan suaminya. Tak lupa dengan segelas kopi yang sudah disediakan Puri.


Hani turun dari sebuah motor. Ia bersama Vika yang tak lain adalah teman Puri. Hani melihat didepan rumahnya ramai. Ia menatap Wahyu sejenak kemudian menarik kembali pandangannya.


"Terimakasih Han sudah menemani kakak." Wanita itu tersenyum pada Hani. Kemudian menatap ke teras rumah menyapa pak De dan mas Edi bergantian.


"Mau kemana." Tanya mas Irul.


"Mau pulang." Jawab teman Vika. "Duluan ya semuanya. Puri aku kembalikan adikmu. Terimakasih." Puri membalas dengan anggukan. Vika melajukan motor meninggalkan rumah Puri.


"Tadi kemana?" Tanya Puri pada Hani yang sedang melepas sepatunya.


"Ke pasar. Anak kak Vika ingin makan sate katanya." Hani sibuk membuka ikatan tali sepatunya. Tanpa disadari, Wahyu memandanginya.


"Kenapa lama?"


"Yaa ngantri lah kak. Masa baru mesan langsung dapat.' Hani meletakkan sepatunya di rak sepatu yang berada disudut kemudian berpamitan pada semuanya untuk masuk ke kamar.


"Hanniii sudah pulang?" Ica berlari ke arah Hani dan memeluknya.


"Iyaa sayang. Ica main dulu ya nak. Hanni mau ke toilet." Ica mengangguk kemudian melepas pelukannya dari Hani. Wahyu tersenyum melihat pemandangan yang ada didepannya. Jiwanya tersentuh melihat Hani dan Ica. Hani yang pendiam dan tak banyak bicara, namun penuh dengan kasih sayang.


Selesai mencuci tangan Hani duduk di sofa dan mengecek ponselnya. Satu pesan masuk.


'Kamu dimana? Aku dirumahmu tapi daritadi kamu tidak terlihat. Pesan dari Wahyu. Lama Hani menatap layar ponselnya. Jantung berdegup kencang lagi. Wahyu bertingkah seolah Hani adalah sesuatu yang penting untuk Ia ketahui keberadaannya. Hani tidak membalas karena Ia rasa Wahyu sudah mendapat jawabannya ketika melihat Hani pulang tadi. Hani bangkit dari duduknya hendak masuk kekamar. Ketika hendak membuka pintu Ia berhenti sejenak menatap ke luar rumah. Terlihat Wahyu sesekali tertawa kemudian menatap pada Hani yang berdiri didepan pintu kamarnya. Wahyu tersenyum.