Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
She is my girl


"Terimakasih." Hani mengembalikan kaleng kosong pada Wahyu. Wahyu tersenyum geli melihat tingkah wanita yang ada didepannya. Ia menatap Hani dari kepala sampai ujung kaki. Ia berusaha menyembunyikan tawa melihat Hani yang hanya mengenakan sendal jepit. Tapi terlambat, Hani sudah melihatnya.


"Apa begitu aneh?" Hani menatap ke arah sendal yang ia gunakan sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


'Apapun yang kau kenakan, kau tetap cantik Han. Dan aku selalu terpesona denganmu.' Batin Wahyu.


"Hei!" Hani membuyarkan lamunan Wahyu.


"Tidak.. tidak.. Kamu tidak terlihat aneh sama sekali."


"Aku sengaja berpakaian seperti ini agar kak Puri tidak curiga."


Wahyu manggut-manggut dengan alasan yang diberikan Hani. Memang logika, mengingat hubungannya hanya mereka berdua yang tau. Belum dengan kak Puri.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Han?" Tanya Wahyu pensaran.


Hani memiringkan duduknya menghadap Wahyu. Ia menatap Wahyu lekat. Membuat Wahyu jadi sedikit gugup.


"A-apa?" Tanya Wahyu.


"Kau pikir aku akan menerkam mu? Kenapa kau gugup sekali? Hahahaha." Hani tertawa puas sampai tak sadar tangannya memukul-mukul paha Wahyu.


Tak ada tanggapan dari Wahyu melainkan hanya tatapan datar, Hani menghentikan tawanya. Kini wajahnya kembali serius.


"Apa... Bintang ada bercerita kepadamu tentang aku?" Tanya Hani. Wahyu sejenak berpikir kemudian menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Hani.


"Kenapa? Apa ada masalah dengannya?" Tanya Wahyu.


"Aku merasa aku berbuat suatu kesalahan padanya tanpa aku sadari. Kau tau? Dulu dia sangat ramah padaku. Waktu kita melamar bekerja bersama-sama, apa kau tak ingat dia sering menggodaku." Hani tertunduk lemas.


"Kau senang digoda olehnya. Kau sedih karena dia berubah?"


"Bukan.." Hani membantah ucapan Wahyu. Ia melihat raut wajah kekasihnya berubah kesal. "Kau jangan salah paham." Jawab Hani sambil menggenggam tangan Wahyu.


"Kamu tau teman pertamaku disini adalah kamu, juga Bintang. Dulu setiap berpapasan dengannya, biasanya dia selalu menyapaku, bahkan menggodaku. Tapi sekarang, bahkan setelah aku menegurnya duluan dia tak menjawab sama sekali. Aku berpikir keras dimana letak kesalahanku. Mungkin ada sikapku yang tidak aku sadari membuatnya terluka dan tak suka padaku." Hani menjelaskan pada Wahyu agar ia tak salah paham dengan situasi yang sedang terjadi.


"Kau lihat kemarin, saat dia datang bersamamu, aku menyapanya, dia hanya tersenyum miring seakan malas menjawab sapaanku."


"Aku tak menyadari sikapnya." Jawab Wahyu singkat.


Apa mungkin dia juga menyukaimu Han? Batin Wahyu.


"Apa kamu berharap lebih padanya?" Tanya Wahyu.


"Apa maksudmu?" Tanya Hana heran. "Kau mencurigaiku?" Tanya nya lagi.


Wahyu hanya diam tak menjawab pertayaan Hani. Melihat gelagat kekasihnya, Hani yakin dengan apa yang dia ucapkan barusan. "Apa perkataanku benar?" Hani menatap lekat pada Wahyu, tapi lagi-lagi pria itu tak menjawab. "Waah.. Kau benar-benar?" Hani memalingkan wajah merasa tak percaya dengan sikap Wahyu. Mulutnya masih terbuka, bentuk keterkejutan darinya.


"Kau tak ingin menjawabku?" Tanya Hani.


"Kau benar-benar akan diam seperti ini?"


"Kau tak ingin menatapku?"


"Baiklah. Terserah kau saja."


Hani bangkit dari duduknya meninggalkan Wahyu. Ia benar-benar kecewa, bahkan sangat kecewa Wahyu meragukan dirinya.


Teganya dia seperti itu padaku. Batin Hani.


Hani mempercepat jalannya meninggalkan Wahyu. Berharap Wahyu akan mengejarnya, menghentikannya dan meminta maaf padanya. Hani menghentikan langkahnya, kembali menatap Wahyu, tapi Wahyu hanya duduk, tertunduk dan mematung. Entah apa yang ia pikirkan.


Apa kau benar-benar tak ingin mengejarku? Kau jahat!


***


Cukup lama Wahyu melamun, akhirnya ia bangkit dari duduknya. Kemudian kembali pulang. Sesampainya dirumah, tanpa sengaja Wahyu bertemu dengan Bintang yang tengah sibuk memainkan ponselnya.


"Apa aku bisa bicara denganmu?" Bintang menatap pria yang sekarang berdiri didepannya, yaitu Wahyu.


"Kau mau bicara apa?" Jawab Bintang kembali menatap ponselnya.


"Bin.." Suara Wahyu sejenak tertahan "Kau menyukai Hani." Jari-jari Bintang yang tadinya sibuk bermain game berhenti mendengar pertanyaan Wahyu. Bintang terdiam cukup lama kemudian melanjutkan kembali gamenya.


"Apa yang kau bicarakan? Aku tak paham." Jawab Bintanh singkat.


Wahyu yang memperhatikan gelagat tubuh Bintang sudah mendapatkan jawaban. Bintang diam-diam menyukai kekasihnya, Hani. "Aku tak tau kau juga menyukainya. Aku minta maaf untuk itu. Ku harap kau tak akan mengacuhkan Hani lagi. Dia wanita yang baik, mungkin dia sedih kau berubah padanya." Wahyu menjelaskan dengan hati-hati agar Bintang tak salah paham dengan maksudnya.


"Kalau begitu tinggalkan dia untukku." Kali ini Bintang menatap Wahyu. Ia tampak tak main-main dengan ucapannya.


Lama Wahyu berpikir, menatap Bintang. "Maaf, untuk itu aku tidak bisa."


"Kalau begitu jangan bahas ini denganku." Bintang kembali menatap layar ponselnya.


"Baiklah. Tak akan." Wahyu pergi meninggalkan Bintang yang masih asik dengan ponselnya. Langkahnya terhenti, berbalik menatap Bintang. "Aku tak akan pernah melepaskannya untik siapapun." Jawab Wahyu lagi kemudian pergi masuk ke dalam kamarnya.


***


Sudah satu jam tapi Wahyu tak menghubungi Hani. Hani menatap layar ponselnya, meletakkannya lagi, menatap lagi, terus seperti itu berulang-ulang hingga akhirnya Hani tertidur.


***


Hari ini Hani bersama yang lainnya akan ke bandara untuk mengantar papanya dan juga dua ponakannya. Wajah Hani tampak sedih harus berpisah dengan Ica dan Mumtaz. Ia ingin Ica dan Mumtaz lama disini, tapi ia juga kasihan dengan mamanya yang juga merindukan kedua cucunya. Hati Hani benar-benar sedih, belum lagi ditambah dengan masalahnya dengan Wahyu. Hani menunggu kabar dari Wahyu, tapi tak ingin untuk menghubungi duluan.


Perjalanan menuju bandara dihiasi canda tawa. Sesekali Ica dan Kayla bertengkar menambah riuh suasana. Hani mencoba berbaur dengan suasana. Tak ingin menampakkan wajah sedih pada papa dan juga kakaknya.


Sesampainya di bandara, Hani masuk untuk melakukan check-in. Hani melalui beberapa security check. Untungnya cepat karena barang-barang yang akan masuk bagasi tidak banyak sehingga lebih mempersingkat waktu. Hani memberikan tiket pada petugas bandara untuk check-in dan boarding pass. Hani meminta pada petugas untuk memberi kursi penumpang bagian ke depan agar Ica dan Mumtaz bisa melihat pemandagan dari dalam pesawat. Petugas bandara menyetujui permintaan Hani, memberikan kursi bagian D. Setelah selesai Hani kembali keluar menemui keluarganya yang sudah menunggu. Ica berlari menghampiri yang kemudian digendong Hani.


"Hanni ikut pulangkan." Tanya Ica polos. Ica tau bahwa Hani ikut pulang dengannya. Hani kembali sedih, ia menahan sekuat mungkin isak di dadanya.


"Iyaa Hanni ikut pulang, tapi Ica naik pesawat duluan ya nak?" Jawab Hani.


"Kenapa?" Tanya Ica lagi.


"Karena pesawat pertama sudah penuh. Hanni naik pesawat kedua." Jawab Hani asal berharap Ica percaya. Dan tentu saja, anak sepolos Ica percaya begitu saja.


Panggilan pertama untuk penumpang pesawat yang dinaiki papa sudah dipanggil menuju ruang tunggu. Dada Hani semakin sesak rasanya melihat Ica dan Mumtaz. Ia memeluk ponakannya bergantian, cukup lama hingga Ica dan Mumtaz melepaskan pelukan Hani. Mata Hani sudah memerah menahan tangis. Ica dan Mumtaz juga bergantian berpelukan dengan Kayla dan Akbar, begitu juga dengan Puri dan Denis.


'Aku tak boleh menangis. Aku harus kuat.


Hani menyemangatinya diri sendiri.


.


.


.


.


.


.


~♥~ Bersambung ~♥~