Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
Sea and See


Jam sudah menunjukkan pukul 9, Hani yang sedari tadi sudah bangun masih bermalas-malasan ditempat tidurnya. Diluar terdengar suara Ica, Mumtaz, Akbar dan Kayla yang sedang bermain. Hani sibuk memainkan handphonenya.


Van, aku sudah sampai. Semalam jam 11." Hani mengirimkan sebuah pesan. Pesan tersebut tertuju kepada sahabatnya, Vani. Vani adalah salah satu sahabat Hani semasa bangku SMA. Meski keduanya satu sekolah dari SMP, namun mereka baru dekat dan bersahabat setelah dibangku SMA. Hani tidak banyak bergaul disekolah dulu. Bahkan Hani hanya memiliki teman laki-laki hanya tiga orang semasa SMP. Setelah SMA, tiga tahun sekolah Hani hanya berteman dengan orang yang sama. Lira, Vani, Firi, Erin dan juga Rezi. Keenamnya bersahabat dari kelas 10.


Tok.. tok.. tok..


"Han sudah bangun? Mau makan?". Terdengar suara Puri memanggil dari luar.


"Nanti kak.. Hani masih ingin tiduran." Tak ada lagi sahutan setelah Hani menjawab panggilan Puri. Puri yang memaklumi adiknya tidak memaksa untuk keluar dari kamarnya. Sementara Hani dikamar masih sibuk dengan handphonenya.


Hingga waktu menunjukkan pukul 2 siang. Hani malah kembali tertidur. Ia benar-benar betah dikamarnya. Hingga beberapa menit Hani tertidur, terdengar sayup-sayup suara orang yang sedang berbincang-bincang diteras rumah. Hana terbangun tapi tak berniat keluar dari kamarnya. Hingga suara itu menghilang, barulah Hani keluar dari kamarnya.


"Sepertinya tadi ramai sekali. Siapa yang datang kak?" Hani mengambil air dingin dari dalam kulkas kemudian meneguknya. Sementara Puri sedang santai didepan tv bersama anak-anak.


"Oh itu teman-temannya kak Denis yang tnggal di blok A sana." Pandangan Puri tetap tertuju pada layar tv.


"Ooh.." Jawab Hani singkat.


"Oo iya Han." Puri merubah posisi duduknya berbalik menghadap Hani yang berada dibelakangnya. "Besok kita diajakin teman kak Denis ke pantai. Nyari kerang. Ikut?" Tanya puri pada Hani.


"Hhmm." Hani menjawab dengan anggukan, matanya sibuk dengan handphone yang berada ditangannya. Hani berjalan ke arah Puri dan duduk disamping Puri. Puri sibuk dengan tontonannya. Hani sibuk dengan handphonenya.


***


Keesokan harinya.


.


.


"Sudah siap semua?" Tanya denis pada Puri yang sedang membereskan perlengkapan yang akan mereka bawa ke pantai. Puri membalas dengan anggukan.


"Han kita pakai motor. Kakak sama kamu. Akbar dan Mumtaz biar sama kak Denis. Ica, Kayla sama kita." Puri memberikan arahan dengan memonyongkan mulutnya.


"Oke." Jawab Hani singkat kemudian mulai menyalakan motornya.


"Mau ke pantai ya kak Denis?" Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari rumah sebelah. Pria itu berdiri didepan pintu rumahnya. Hani tidak menghiraukan keberadaan pria tersebut.


"Iyaa.. Pak De ngajak. Kamu mau ikut?" Tanya Denis basa-basi pada pria tersebut.


"Tidak kak. Lanjut. Terimakasih." Jawabnya. Kemudian matanya beralih kepada orang baru, yaitu Hani. Hani yang sedari tadi tidak menghiraukan pria tersebut tidak menyadari bahwa ia sedang dipandangi.


***


Sesampainya dijalan menuju pantai. Hani memarkirkan motor mengikuti Denis. Jalan tersebut dibatasi dengan pagar kawat tanda bahwa tempat tersebut tidak boleh dilewati. Hani yang melihat Puri dan Denis melintasi pagar tersebut sambil menurukan anak-anak satu per satu hanya diam mengekori dari belakang. Didekat pagar kawat ada sebuah selokan kering karena air laut sedang surut. Selokannya sedikit lebar dan dalam, jadi mereka harus turun dan naik kembali untuk sampai ke sisi selanjutnya.


Ica, Mumtaz, Akbar dan Kayla berlari menuju bibir pantai yang diikuti oleh Hani. Hani ingin mengawasi mereka agar tidak terlalu jauh bermain.


"Bar sedang apa." Hani menghampiri Akbar yang sedang menggali pasir. Hana berjongkok didepan Akbar sedangkan Akbar duduk dengan santai dipasir dengan pakaiannya yang setengah basah.


"Cari kerang Hanni." Akbar terus menggali pasir didepannya. "Nah dapat!" Akbar memungut dengan jarinya. Ia sangat antusias memperlihatkan kepada Hani, karena ini adalah pengalaman pertama untuk Hani. Hani tang sedari tadi berjongkok dan memangku tangannha dilutut mulai mencoba mencari seperti yang Akbar lakukan. Tapi Hani tidak mendapat satu kerangpun.


"Dapat tidak?" Puri berjalan menuju Hani dan Akbar. Melihat Hani yang tidak menjawab sudah mengetahui jawabannya. "Sepertinya sudah mulai habis. Dulu banyak dan mudah mencarinya. Mungkin karena orang-orang sudah mulai tahu tempat ini jadi banyak yang berdatangan. Ada yang mencari untuk dinual kembali, untuk dimasak atau ada juga yang sekedar melepas candu mereka." Puri menjelaskan pada Hani namun juga sibuk mencari kerang.


Sementara Ica, Kayla dan Mumtaz asik bermain dan berenang bersama. Hani menyerah mencari kerang yang tidak juga ditemukannya. Hani memilih bergabung dengan anak-anak tapi tidak berenang, hanya berdiri mengawasi mereka. Sesekali mata Hani melihat keseluruh bagian pantai. Terlihat diujung pantai lainnnya kapal-kapal sedang berlabuh.


"Kak kenapa airnya hitam?" Tanya Hani pada Puri yang kini sudah berada didekatnya. Hani menyilang kedua tangannya didadanya, pandangannya melihat kebawah dan kakinya kirinya sibuk memainkan air.


"Itu karena disini ada galangan." Hani menyerngitkan jidatnya tidak mengerti apa yang Puri sampaikan. "Itu kamu lihat disana." Puri menunjuk ke satu arah. "Itu namanya galangan, tempat perbaikan kapal mungkin ya. Kakak kurang paham juga. Jadi mungkin oli atau bahan bakarnya membuat air jadi seperti ini." Celoteh Puri menjelaskan. Hani hanya manggut-manggut tanda mengerti. Tidak ada lagi suara yang terderngar dari mulut Puri. Ia kembali sibuk mengitarkarkan pandangannya ke segala arah. Hani menatap langit, dari pantai itu Hani bisa melihat sangat dekat pesawat melintas di udara. Pandangannya kembali memandangi sekitar pantai, kemudian terhenti di sebuah pohon. Hani melihat segerombolan pria mendekat ke arah Denis, kakak iparnya. Mereka kemudian duduk bersama dan terlihat sedang berbicara santai. "Oh mungkin itu teman kak Denis." Gumam Hani kemudian mengalihkan pandangannya.


***


"Kenapa langsung pergi saja Nis?" Tanya salah seorang teman Denis.


"Silakan duduk semua." Mereka kemudian duduk hanya dengan bertikarkan pasir. Denis sebetulnya membawa tikar tapi sudah penuh dengan barang bawaan dan makanan yang disiapkan Puri.


"Tadi aku pergi lewat blok A. Tidak melihat siapapun. Kupikir semua sudah pergi duluan. Makanya aku langsung kesini. Sampai disini kalian juga tidak kutemukan." Jawab Denis.


"Hahaha tadi kami ke Mesjid dulu, pinjam becaknya mas Sepri." Timpal seseorang lainnya. "Adik iparmu jadi datang kemarin nis?" Pak De menimpali Denis dengan pertanyaan.


"Jadi. Semalam. Itu dia yang berdiri didekat Puri." Jawab Denis mengarahkan dengan isyarat. Semua mata tertuju ke arah Hani dan Puri.


Tidak lama kemudian Puri, Hani dan anak-anak berjalan ke arah Denis.Terlihat Ica dan Kayla menggigil karena terlalu berendam dari mereka datang tadi. Sementara Mumtaz dan Akbar yang tidak ingin keluar ditarik paksa oleh Puri. Takut terjadi apa-apa karena tidak ada yang mengawasi mereka nanti.


Hani sibuk mengganti pakaian Mumtaz dan Ica. Begitu juga dengan Puri yang sibuk dengan anaknya. Setelah selesai mengganti pakaian Hani menyuapi anak-anak makan. Sesekali terdengar candaan dari teman Denis yang dilemparkan pada Hani, tapi Hani tidak begitu merespon.


Tiba-tiba langit terlihat mendung. Awan hitam mulai menyelimuti langit pantai tersebut. Terlihat kilat sesekali. Hani sudah selesai menyuapi anak-anak makan. Puri sibuk membereskan semua pakaian basah. Mereka bergegas untuk pulang.


***


Hani berjalan santai. Ia menyandang tas ransel berisi pakaian basah anak-anak.


"Hanni gendong." Ica memegang tangan Hani.


"Jalan saja ya nak. Tas Hanni berat." Kepala Hani sedikit menoleh ke belakang melihat tas yang dibawanya. Tapi Ica terus merengek minta digendong. Hani tidak tega dan akhirnya digendong juga.


Mereka sampai di selokan dikering. Puri turun ke dalam selokan dan dibantu naik oleh Denis. Pak De yang masih berada di selokan membantu anak-anak satu persatu yang disambut oleh Denis yang sudah berada diatas. Didepan Hani terlihat seorang pria yang mulai memanjat disusul dengan pak De. Hani yang paling terakhir naik. Saat Hani hendak memanjat, tiba-tiba pria yang tadi berada didepan Hani sudah berada diatas mengulurkan tangannya. Tetapi dibelakangnya ada pak De yang juga mengulurkan tangan ingin membantu Hani naik. Sejenak Hani menatap kedua tangan tersebut.