Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
Effort to forget


Wahyu membelai rambut Hani, kemudian menyelipkan kebelakang telinga Hani. Tangannya lambat berangsur menuju tengkuk Hani, mendorong wajah Hani untuk lebih dekat dengannya. Perlahan, semakin dekat hingga bibir mereka kembali menyatu. Tak ada penolakan sama sekali, Wahyu mulai ******* pelan bibir ranum Hani. Tangannya beralih mengusap-ngusap punggung Hani, kemudian mendekap Hani lebih erat dalam pelukannya.


Wahyu memutar tubuhnya, sekarang Hani berada dibawahnya. Semakin lama lumatannya menjadi semakin dalam. Kini lidah Wahyu menyapu pelan bibir Hani, membuat Hani terkejut yang membuatnya spontan membukak bibirnya. Kesempatan itu digunakan oleh Wahyu untuk memasukkan lidahnya kedalam mulut Hani, mencari lidah Hani untuk saling berpagutan.


Hani membalasnya dengan mengulum lidah Wahyu, sesekali menghisapnya pelan. Benda yang membangkitkan gairahnya itu terasa sedikit panas, mungkin karena pemiliknya sedang sakit. Hani memukul Wahyu pelan karena merasa kehabisan nafas. Wahyu melepas ciumannya dan beralih mencium leher Hani. Menyusuri setiap inci bagiannya. Wahyu tak ingin meninggalkan jejak disana karena akan mudah dilihat orang lain. Tangan Hani sesekali meremas rambut Wahyu, melepas sensasi yang diberikan Wahyu padanya.


Wahyu menghentikan aktivitasnya, menatap Hani dengan tatapan penuh gairah. Wahyu kembali mencium bibir Hani, ia menelusuri setiap inci mulut Hani. Dibalas cumbuannya oleh Hani, Wahyu merasa Hani sudah memaafkannya. Wahyu menatap Hani penuh senyum bahagia, karena Hani telah memaafkannya.


Tapi, tiba-tiba...


"Terimakasih sudah merawatku." Wahyu memberi jeda untuk kalimat berikutnya. Ia menatap Hani dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. "Aku rasa, lebih baik kita akhiri hubungan ini, cukup sampai disini." Wahyu menundukkan pandangannya, helaan nafasnya terasa berat. Ia tak mampu lagi menatap Hani yang masih berada dibawah tindihannya.


Hani menatap Wahyu dengan tatapan datar, tidak ada ekspresi sama sekali diwajahnya. Hani mendorong tubuh Wahyu untuk melepas pelukan pria itu dari tubuhnya. Kemudian bangkit dari tidurnya, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakkan dan juga rambutnya yang sedikit acakan.


"Lalu apa arti yang barusan?" Tanya Hani memecah keheningan.


"Anggap saja itu salam perpisahan dariku." Hani mendengus kasar dengan ucapan Wahyu. Murka? Tentu saja Hani murka, bahkan ia tak mampu berkata apa-apa lagi. Hani sangat marah, tapi ia mencoba mengendalikan dirinya agar tetap terlihat tenang. Pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Setidaknya beri tau aku apa alasannya?" Tanya Hani lagi.


"Karena kamu terlalu baik untukku." Hani mendengus kasar mendengar jawaban Wahyu. Tapi, lagi-lagi ia mencoba mengendalikan dirinya agar tetal tenang.


"Apa kamu tidak berpikir bahwa kamu terlalu kekanak-kanakan?" Wahyu tidak menjawab sama sekali. "Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" Tanya Hani lagi. Ia mencoba mempertahankan hubungannya, namun tak ingin memperlihatkan harapnya pada Wahyu. Hani yakin bahwa Wahyu saat ini diliputi rasa bersalah, tapi tidak seharusnya ia mengambil keputusan seperti ini. Akan tetapi, Wahyu tetap tidak mau menjawab atas apapun yang Hani pertanyakan. "Apa kau tak ingin mendengar jawabanku?" Lama menunggu, Hani hanya mendapati Wahyu mematung tak bicara.


"Baiklah." Dengan langkah gontai Hani kemudian melangkah keluar dari kamar Wahyu. Seluruh tubuhnya terasa lemas, ia berusaha memusatkan kekuatan pada kakinya yang sudah gemetar. Hani diajak terbang tinggi sesaat, namun dihempas begiti kejamnya.


'Apa hanya sebatas ini perjuanganmu? Apa harus berpisah?' Hani menghapus bulir air mata yang mengalir dipipinya. Ia mempercepat langkahnya meninggalkan rumah Wahyu.


***


Diputuskan sepihak tentu saja menyakitkan. Sungguh menyakitkan. Apalagi kalau berada diposisi yang sangat menyayangi. Pertengkaran? Tentu saja pasti ada disetiap hubungan. Itulah pelengkapnya. Cemburu? Pasti. Itu tandanya kau cinta dan sayang pada pasanganmu.


Itulah yang dirasakan oleh Hani.


Merasa diyakinkan sekali, kemudian luluh dan jatuh lagi pada cinta, tapi kemudian dilepas disaat ia tak ingin melepas.


🍃 TIGA TAHUN KEMUDIAN 🍃


Semenjak kandasnya hubungannya, Hani tak pernah lagi berjumpa dengan Wahyu. Benci, marah, kecewa, cinta dan masih sayang, semua rasa berkecamuk dalam dada Hani. Tapi, semuanya hanya kenangan, Hani tak ingin larut dalam duka masalalu. Hani bahkan tak tau lagi bagaimana kabar pria itu.


Setahun setelah putus dengan Wahyu, Hani memutuskan untuk resign dan pergi dari Batam. Puri, kakak Hani juga sudah kembali ke kampung halaman mereka. Lain dengan Hani yang lebih memilih mendatangi ibu kota.


Dua tahun di Jakarta, Hani bergelut dalam dunia kerja yang berbeda. Sekarang Hani bekerja di perusahaan Jennie Publisher.


Salah satu perusahaan penerbit terkenal di kota Jakarta, dengan jabatan yang sama, yaitu staff acounting.


Sebenarnya menulis adalah salah satu hobi Hani semasa sekolah. Karena di tingkat kejuruan tidak ada jurusan yang berhubungan dengan menulis, Hani kemudian memilih jurusan Akuntansi. Namun, sesekali Hani masih menulis cerita pendek yang selalu ditunggu-tunggu Vani sebagai satu-satunya reader setia Hani.


Hani selalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga kadang harus pulang larut malam. Meski tidak pernah menempuh pendidikan khusus sastra, Hani mengasah bakatnya dengan pengalaman yang ia dapat selama bekerja. Terkadang beberapa editor pun bertanya bagaimana pendapat Hani tentang sebuah karya tulis salah satunya novel. Begitu juga dengan Hani, diwaktu senggang Hani melanjutkan menulis novelnya dan menanyakan pada editor bagian mana yang salah dan apa yang harus diperbaiki.


Sang editor tampan yang bernama Dion Anggara dengan senang hati selalu membantu Hani. Terkadang beberapa kali Dion menyarankan pada Hani jika novel yang ditulisnya sudah selesai, akan bagus jika diterbitkan juga. Tetapi Hani menolak saran Dion dengan alasan hanya untuk koleksi pribadinya dan sekedar melepas hobi saja.


Dion terkenal dengan sosok yang tampan tapi terkesan cuek dengan wanita disekelilingnya. Ketampanannya membuat wanita mana saja ingin dikencani olehnya, namun Dion tak tertarik sama sekali dengan wanita-wanita itu. Kecuali....


Kecuali satu wanita, yaitu Hani Pradita. Dion ingat sekali bagaimana pertemuan pertamanya dengan Hani. Semua mata tertuju pada Dion yang dulunya adalah karyawan baru, bahkan para senior editor pun tak segan-segan untuk mengajaknya walau hanya sekedar makan malam. Tetapi Hani berbeda, ia sama sekali tak tertarik pada Dion. Jangakan berbicara, saling bertatapan saja tak akan terjadi jika bukan menyangkut urusan kerjaan.


Hani dan Dion pertama kali saling berbicara ketika bertemu disebuah cafe. Hani yang tampak sibuk dengan laptop yang ada didepan mejanya tak sengaja dilihat oleh Dion. Hari itu, Dion memberanikan diri untuk menyapa Hani duluan. Sebab diperusahaan, antara staff acounting dan editor tak akan memiliki hubungan kerja sama sekali sehingga tak kan ada kesempatan untuk berbicara bagi mereka.


Dion mendekati meja Hani yang berada disudut ruangan cafe.


"Hai. Apa boleh duduk disini?" Tanya Dion sedikit ragu