Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
Memorist


Hani menoleh pada Wahyu kemudian tersenyum. Wahyu memandang lekat tanpa ekspresi diwajahnya.


"Jangan memandangku seperti itu!" Hani membuang mukanya, sadar juga terlalu lama menatap pria disampingnya.


"Setiap kata yang kamu ucapkan membuat kepalaku penuh dengan tanda tanya.' Wahyu tak mengalihkan pandangannya dari Hani. 'Seperti menyimpan banyak luka." Deg... Hani seperti terhunus sebuah belati. Tepat didadanya. Ia seakan paham apa yang tersembunyi dibalik kata-kata Hani.


"Apa maksudmu?" Hati menatap Wahyu lekat.


"Kata-katamu membuat aku berpikir bahwa kamu terlalu takut untuk pergi meninggalkan sesuatu yang sangat jelas akan menyakitimu. Sesuatu itu mungkin bisa jadi adalah seseorang' Kali ini kata-kata Wahyu juga mengisi kepala Hani penuh tanda tanya. 'Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi kamu harus tahu. Laut tetap saja laut, tidak akan berubah. Manusia juga tidak akan berubah. Saat kamu berkata kamu menyukai laut tapi kamu takut laut akan melukaimu, aku berpikir bahwa kau menyukai seseorang yang hanya menyakitimu tapi kamu juga tak ingin meninggalkannya. Apa aku salah?" Wahyu menoleh ke Hani yang kini menatapnya. Wahyu menatap lekat mata Hani mencari tahu apa yang dikatakannya adalah sebuah kebenaran.


"Kamu benar.' Hani menghela napas pelan. Mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kemana saja. Selagi itu tidak pada mata Wahyu. 'Dulu aku menyukai seseorang, sampai saat ini aku masih menyukainya."


•••• Flashback On ••••


.


.


'Apa yang sudah Ryan lakukan? Ceritakan padaku karena aku benar tidak tahu apa-apa. Hani mengabaikan perintah Ryan untuk tidak membalas pesan ancaman itu.


'Ryan meminjam motor kepada juragan tempat dia bekerja. Janji seminggu akan dikembalikan, tapi sebulan berlalu dia tak kunjung datang. Katakan dimana Ryan berada atau kau juga akan kami laporkan.'


'Laporkan sekarang juga. Aku tak takut. Aku memang kekasihnya tapi jangan libatkan aku dengan masalah ini.' Hani naik pitam diamcam oleh si pengirim pesan.


***


Hani bersama teman-temannya tampak sibuk sedang latihan menari. Hampir tiap hari Hani berlatih disekolah karena beberap minggu lagi pagelaran disekolahnya akan dimulai. Suasana semakin riuh karena yang latihan bukan hanya Hani dan teman-temannya, ada grup randai, grup tari pasambahan (tari yang berasal dari daerah minang) sedangkan Hani mendapat jatah di group tari daerah aceh, yaitu tari saman.


"Haaan.' Bela meneriaki Hani sambil menunjukkan layar ponselnya Hani yang dipinjamnya. 'Ada yang telpon." Teriaknya lagi. Hani bergegas berlari ke arah Bela. Ryan. Gumam Hani pelan. Hani kemudian mengangkatnya tapi ternyata yang berbicara bukanlah Ryan melainkan Dina, adiknya. Dina memberi tahu Hani bahwa Ryan ditangkap polisi. Hani tidak terkejut mendengar ucapan Dina karena Ia lebih dulu tahu. Sedangkan keluarga Ryan, Ryan meminta agar Hani tidak menceritakannya dengan syarat yang diberikan Hani yaitu pulang dan selesaikan masalahnya baik-baik.


Beberapa hari kemudian Ryan masuk rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa asam lambungnya kumat. Hani mendatangi rumah sakit dan mencari Ryan. Tampak bu Ina, Ibu Ryan menangis disamping Ryan yang tak sadarkan diri. Hani menghampiri Ryan dengan langkah gontai. Ia memang marah pada Ryan, tapi hatinya hancur ketika melihat orang dicintainya terbaring tak berdaya.


•••• Flashback Off ••••


.


.


"Dia sembuh, tapi jadi tahanan kota. Setelah beberapa kali sidang dia dinyatakan tidak bersalah. Dia sempat mengabariku saat itu, tapi..' Hani tersenyum getir 'Ia kembali menghilang sesuka hatinya. Mencampakkanku saat tidak lagi membutuhkanku. Padahal mulutnya sendiri berkata bahwa hanya aku yang respect padanya saat dia sedang terjatuh sedangkan temannya entah kemana."


"Lalu sekarang kamu dengannya bagaimana? Maaf aku banyak bertanya. Jika tak suka, kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku." Hani menghembuskan napas kuat.


"Entahlah. Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi dari hubungan dengannya. Dia adalah manusia berhati batu. Aku harap, perlahan mungkin saja waktu bisa membuat aku mati rasa padanya..... Aku malah curhat padamu. Hanya kamu yang tahu. Jaga rahasiaku baik-baik." Hani tersenyum kemudian berdiri mengajak Wahyu mencari makan. Wahyu mengarahkan tangan kanannya pada Hani. Meminta untuk membantunya berdiri. Hani tersenyum kemudian meraih tangan Wahyu.


***


Waktu menunjukkkan pukul 8 malam. Hani berbaring sambil memainkan ponselnya. Rasa lelah menghampirinya, ingin tidur tapi matanya tak bisa terpejam. Hatinya merasa sedih entah kenapa, ia merasa hampa. Terpikirkan olehnya setiap ucapan Wahyu tadi siang. Ibarat sedang memanah, pria itu melepas anak panah tepat pada titik sasaran. Setiap kata yang diucapkannya seolah-olah dia juga sedang mengalaminya atau mungkin pernah merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan. Hani mengambil guling yang ada disampingnya. Memeluknya erat, membenamkan wajahnya pada guling tersebut.


'Dia bukan siapa-siapa tapi kenapa aku merasa ada sesuatu pada diriku yang tertinggal padanya. Hani kembali mengambil ponselnya mencoba menghubungi Ryan. Seperti biasa, Ryan tidak menjawab atau lebih tepatnya mengabaikan Hani.


Hani teringat masa ketika Ryan masuk rumah sakit saat masih jadi tahanan. Hani yang dipapah oleh Vani berjalan bolak-balik di ruang IGD mencari keberadaan Ryan. Ia melihat tangan Ryan dipasang selang infus dan juga diberikan oksigen tak sadarkan diri. Semua keluarga Ryan tampak berkumpul mengelilingi, menatap Ryan yang tak sadarkan diri. Melihat kedatangan Hani, Ibu Ryan memeluk Hani sambil menangis tersedu-sedu. Hani benar-benar tidak bertenaga lagi, orang yang dicintainya terbaring tak berdaya. Air matanya ikut tumpah bersama isak tangis Ibu Ryan. Hani memeluk erat Ibu Ryan mencoba menenangkannya meskipu Ia sendiri juga tidak berdaya. Tapi ternyata setelah semua badai berlalu, Ryan tak pernah berubah sama sekali, tetap sama bahkan lebih parah dari sebelumnya. Hani bahkan tak oernah bertemu Ryan lagi, setiap mendatangi rumah Ryan keluarganya selalu mengatakan Ryan pergi keluar. Entah kemana. Hani seperti tak dihargai bahkan oleh keluarga Ryan juga.


.


.


.


.


.


'Mengapa aku begitu bodoh mencintai manusia tak berhati seperti pengecut itu. Apa aku harus benar-benar mengakhiri semua ini? Hani menatap layar ponselnya. 'Ayolah Han.. Kamu mengakhiri semuanya karena masalah antara kamu dan dia. Tidak ada orang lain. Hani mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa apa keputusan yang diambilnya adalah benar.


~♥~ Bersambung~♥~