
"Saya tidak mengerti apa yang anda maksud pak. Permisi." Hani keluar meninggalkan ruangan Pialy. Hatinya kembali kesal mengingat Pialy yang menciumnya tiba-tiba. Murahan.! Kata-kata itu terngiang kembali di telinganya.
Hani pulang cepat hari ini karena pekerjaannya sudah selesai. Setengah 4 ia sudah keluar dari kantor. Langkahnya terhenti melihat Wahyu yang sudah berada didepan perusahaan. Tatapannya terlihat sendu, tapi tidak dengan Hani yang hatinya seperti akan meledak. Wahyu sudah keterlaluan dan Hani tidak bisa memaafkannya. Hani berjalan tanpa melihat pada Wahyu, menganggap seolah-olah tidak ada orang disana.
"Han, tunggu." Langkah Hanu terhenti ketika Wahyu menggenggam tangannya.
"Apa kau ingin memulai keributan disini?" Jawab Hani tanpa menoleh pada Wahyu. "Jika tidak, lepaskab tanganku." Hani menepis dan menghentakkan tangan Wahyu dengan keras. Wahyu hanya menatap punggung Hani yang mulai menjauh.
Zzzzttt...
Tiba-tiba hujan turun dengan deras. Hanu berlari menuju halte yang tidak jauh dari perusahaannya. Menunggu bis disana. Sedangkan Wahyu masih terpaku melihat kepergian Hani. Ia tak menghiraukan lagi badannya yang basah kuyub karena hujan.
***
Dirumah 🍂
Hani melempar heels nya ke sembarang arah. Ia berjalan menuju dapur, kemudian meneguk air dingin yang ada di kulkas.
"Tadi pagi Wahyu kesini." Puri tiba-tiba sudah berada dibelakang Hani.
"Oh ya?" Jawab Hani singkat, berpura-pura tak tahu.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Puri penasaran.
"Tentu saja tidak." Hani memungut tas nya dari meja makan kemudian pergi ke kamarnya.
Sesampainya dikamar, Hani langsung mandi membersihkan badannya yang sudah lengket. Setelah selesai mandi, Hani tertidur dikamarnya. Bukan karena badannya letih, tapi pikirannya yang lelah. Dengan tidur, sejenak ia bisa melupakan semua masalah. Walaupun itu hanya bersifat sementara.
***
Tok.. tok.. tokk..
Ceklek..
Puri masuk ke kamar, hendak membangunkan Hani yang sedang tertidur.
"Han." Puri memukul pelan pundak Hani. "Makan dulu." Ajak Puri.
Hani bangkit dari tidurnya tanpa menjawab perkataan Puri. Ia langsung menuju toilet untuk mencuci muka kemudian keluar menuju meja makan.
Selesai makan, Hani menonton televisi ditemani Akbar dan Kayla untuk membuang suntuknya. Besok adalah jadwal cuti mingguan Hani, jadi ia bisa begadang sampai tengah malam.
Sudah jam 11 malam, Hani masih betah didepan televisi. Sedangkan Akbar dan Kayla disuruh Puri untuk tidur. Merasa bingung Hani kemudian masuk ke kamarnya. Hani mencari ponselnya didalam tas yang sedari tadi belum ia keluarkan.
25 Panggilan Tak Terjawab.
1 Pesan Baru.
Hani membuka ponselnya, ternyata yang menghubunginya berkali-kali adalah Wahyu. Dan satu pesan masuk hanya dari operator telkomsel. Hani meletakkan ponselnya kembali. Dan..
Drrttt...
Drrttt..
Wahyu menghubungi Hani kembali. Hani menatap layar ponselnya lama sebelum mengangkat telponnya.
"Ada apa la-..." Belum sempat menyelesaikan perkataannya, si penelepon sudah menyela duluan.
"Han, ini aku Bintang. Wahyu sepertinya sedang sakit. Apa kamu bisa datang kesini?" Tanya Bintang pada Hani.
"Apa kamu tak bisa memberi obat padanya?"
"Sudah ku coba. Tapi dia menolak."
"Aku kesana." Jawab Hani lalu memutuskan sambungan telepon.
Hani mengambil gardigan nya yang tergantung dibelakang pintu. Kemudian keluar dari kamarnya.
"Mau kemana?" Tanya Puri yang sedang menonton televisi.
"Keluar sebentar kak." Hani bergegas keluar rumahnya menuju blok A, ke kosan Wahyu.
Hanya berjalan sekitar tiga menit, Hani sampai di tempat Wahyu. Ia melihat pintu kamar Wahyu sedikit terbuka. Hani melihat dari sela pintu, tampak Bintang sedang duduk menemani Wahyu.
"Apa dia tertidur?" Tanya Hani pada Bintang sambil memasuki kamar Wahyu.
"Ya. Baru saja." Jawab Bintang. "Dia tadi pulang basah kuyub." Jelas Bintang lagi.
Hani teringat ketika pulang kerja ia meninggalkan Wahyu begitu saja. 'Dasar kau bodoh.' Gerutu Hani dalam hatinya.
"Terimakasih sudah menghubungiku. Sekarang kau boleh pergi, aku akan menemaninya." Hani menempelkan tangannya pada dahi Wahyu. Terasa panas memang.
Bintang pergi meninggalkan Wahyu dan Hani berdua. Jujur saja dia tak ingin meninggalkan Hani, berduaan dengan Wahyu. Tapi dia juga tak tega melihat temannya yang sedang kesakitan.
Hani mengompres kepala Wahyu dengan air hangat agar panasnya cepat turun. Ia menatap Wahyu sesaat, pria yang dicintainya terbaring lemah dihadapannya. Perasaan marah nya bercampur dengan rasa kasihan. Ia ingin sekali memeluk kekasihnya yang sedang sakit. 'Kenapa mudah sekali bagimu mengatakan hal seperti itu.' Batin Hani. Satu butir air mata lolos mengalir di pipi Hani, dengan cepat ia menghapusnya.
Hani melirik jam ditangannya sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Rasa mengantuk pun menjalar dimata Hani. Tanpa sadar Hani tertidur dikursi, disamping ranjang Wahyu. Kepalanya ia baringkan ke tepi ranjang Wahyu.
Wahyu terbangun dari tidurnya. Ia mengambil kain kompres yang Hani letakkan didahinya. Ada sedikit keterkejutan baginya karena melihat Hani tertidur disampingnya. Wahyu mengusap pelan rambut Hani, ia takut akan membangunkan kekasihnya itu. Tapi Hani benar-benar terbangun.
"Apa masih sakit?" Tanya Hani pada Wahyu sambil meletakkan tangannya didahi Wahyu untuk mengecek suhu badan kekasihnya. Wahyu menjawab dengan gelengan dan seikit tersenyum pada Hani. Senyuman getir, antara rasa bersalah dan juga rasa rindu pada Hani.
"Tidurlah." Hani menyelimuti Wahyu.
"Han." Wahyu menahan tangan Hani.
"Hmm." Jawab Hani singkat.
Wahyu menggeser tubuhnya ke tengah ranjang, kemudian menepuk pelan bantal yang ada disampingnya memberi isyarat pada Hani.
"Tidurlah disini. Badan mu akan pegal jika kamu tertidur seperti tadi." Hani menyerngitkan dahinya melihat sikap Wahyu yang menurutnya cukup berlebihan. Hani masih berdiri mematung di tepi ranjang, tapi kemudian Wahyu menarik Hani, membuat Hani jatuh dalam pelukannya.
Hani tiba-tiba kaku karena tubuhnya berada diatas tubuh Wahyu. Sejenak mereka saling beradu pandang, melepas rindu yang terpendam. Tapi, ego masihlah berkuasa atas diri Hani. Tak ingin mengakui bahwa ia juga rindu kekasihnya.
Wahyu membelai rambut Hani, kemudian menyelipkan kebelakang telinga Hani. Tangannya lambat berangsur menuju tengkuk Hani, mendorong wajah Hani untuk lebih dekat dengannya. Perlahan, semakin dekat hingga bibir mereka kembali menyatu. Tak ada penolakan sama sekali, Wahyu mulai ******* pelan bibir ranum Hani. Tangannya beralih mengusap-ngusap punggung Hani. Memeluk Hani lebih erat pada dirinya.