
Bayangan Papa, Ica dan Mumtaz perlahan menghilang setelah memasuki pintu keberangkatan.
"Kak pulang duluan saja. Aku ada janji dengan Wahyu menemaninya untuk pergi ke suatu tempat. Dia dalam perjalanan menjemput ku kesini." Hani tak kuat menahan kesedihannya. Jika pulang bersama kakaknya, ia takut kakaknya akan melihatnya menangis. Hani memberikan alasan palsu agar kakaknya percaya. Sebab jika sudah dikatakan dengan Wahyu, Puri dan Denis akan percaya begitu saja.
"Baiklah. Kamu hati-hati." Jawab Puri kemudian pergi dengan suami dan anak-anaknya.
Mobil yang dikendarai Denis mulai melaju jauh dan perlahan menghilang. Hani terduduk, kakinya terasa lemas tak berdaya. Tangisnya tumpah. Ia tak peduli dengan orang-orang disekeliling yang memperhatikannya.
Sementara didalam perjalanan Puri menghubungi Wahyu untuk menanyakan apakah benar Hani akan pergi bersamanya. Sempat lama menjawab kemudian Wahyu mengiyakan tanpa tau apa yang Hani rencanakan.
***
Merasa sudah memiliki tenaga, Hani berdiri dan berjalan menuju ujung bandara. Hani berniat menaiki bus bandara. Setelah memesan tiket Hani duduk menunggu bus datang. Tak lama kemudian bus datang. Setelah semua penumpang naik, bus pun kembali melaju.
Hani hampir sampai dipusat kota. Ia turun di salah satu halte di dekat mall yang cukup terkenal. Mall yang sangat luas, yang juga memiliki taman bermain. Hani berjalan menuju taman, duduk disana. Melamun cukup lama.
Hari semakin senja, taman pun mulai sepi tapi Hani tak bergerak sama sekali. Sesekali ia tampak menatap layar ponselnya, tapi yang diharapkan sampai saat ini juga tak menghubungi. Hani membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Cahaya lampu taman yang remang-remang membuat Hani tidak begitu tersorot. Satu bulir air mata lolos mengalir di pipinya. Terdengar samar langkah seseorang berjalan, perlahan semakin dekat ke arah Hani. Hani merasakan kehadiran seseorang tepat dihadapannya. Perlahan ia mengangakat kepalanya, tapi matanya masih buram karena terlalu lama menunduk. Hanu mencoba memfokuskan penglihatannya. Namun pantulan cahaya lampu dari arah belakang membuat Hani tak bisa melihat dengan jelas.
"Mau sampai kapan disini?" Hani langsung mengenali suara itu. Suara yang satu hari ini tidak didengarnya. Suara yang juga dirindukannya, begitu juga dengan pemiliknya, yang tak lain adalah Wahyu.
Hani kembali menangis, kali ini isaknya semakin keras. Hani kembali menunduk menyembunyikan wajahnya yang sembab karena menangis. Wahyu berlutut dihadapan Hani, kemudian memeluk kekasihnya. Hani membalas pelukan Wahyu, membenamkan wajahnya didada bidang Wahyu. Satu hari saja tidak berkomunikasi dengan Wahyu membuatnya merasa benar-benar kehilangan. Hani tak sanggup terlalu lama saling diam dengan kekasihnya.
"Maafkan aku." Ucap Hani disela tangisnya. Wahyu mengangkat wajah Hani dan menatap heran. "Aku tak bermaksud melukai perasaanmu dengan bercerita tentang Bintang. Aku hanya ingin kau tau apa yang sedang aku rasakan. Aku tak ingin menyembunyikan apapun darimu. Tapi jika aku salah bersikap sehingga melukai perasaanmu. Sungguh aku minta maaf."
"Han.. Kamu tak bersalah. Aku yang terlalu egois, maafkan aku Han." Wahyu mencium tangan Hani. Ia benar-benar menyesal telah mengacuhkan Hani seharian.
'Ku pikir kau baik-baik saja tanpa kabar dariku Han. Batin Wahyu. Wahyu kembali memeluk Hana yang masih terisak.
"Kenapa mengacuhkanku?" Hani menatap Wahyu. Matanya benar-benar sembab karena menangis. "Kenapa tak mengirimiku pesan?" Tanya nya lagi.
"Aku tak pernah mengacuhkankan mu dan aku tak akan pernah sanggup untuk melakukan itu." Wahyu membelai rambut Hani.
"Kau bohong." Hani memukul pelan dada Wahyu.
"Aku tak ingin kehilanganmu. Aku tak ingin kau meninggalkan ku. Membayangkannya saja membuatku setengah gila." Hani menghentikan sejenak perkataannya. "Jika perasaan takut kehilangan ini adalah nama lain dari cinta. Sungguh aku telah jatuh cinta padamu." Wahyu tak bergeming mendengar ucapan Hani. Ia serasa seperti sedang bermimpi.
Hani mencintaiku? Sungguh? Apa ini nyata?' Batin Wahyu.
Hani menatap lekat pada Wahyu.
"Aku mencintaimu." Hani mengulangi ucapannya. Air matanya mengalir di pipi.
"Aku juga. Cintaku lebih besar untukmu." Jawab Wahyu singkat. Tanpa ragu, Hani memeluk kekasihnya sangat erat, seakan tak ingin berpisah. Begitu pun dengan Wahyu memeluk erat Hani. Mereka larut dalam suasana cinta yang telah tumbuh diantara keduanya.
***
"Kenapa tak menghubungiku?" Tanya Hani menghentikan langkah mereka yang kini saling berhadap-hadapan.
"Aku sibuk." Jawab Wahyu singkat.
"Sibuk menghindariku?"
Wahyu terkekeh mendengar ucapan Hani. Ia mengusap kepala Hani sehingga rambut Hani sedikit acakan. "Aku sibuk mengikutimu seharian."
"Kau jangan ber..." Ucapan Hani terhenti ketika ia mulai memikirkan apa yang sebelumnya terjadi. Wahyu yang tiba-tiba berada dihadapannya saat di taman. "Kau tidak bercanda?" Saking terkejutnya Hani sampai menutup mulutnya.
"Iya aku mengikutimu sampai ke bandara tadi." Hani manggut-manggut mengerti dengan situasi yang telah terjadi.
"Aku tak percaya kau begitu mendambakan aku." Ledek Hani tertawa cekikikan.
"Apa tak salah? Baru saja kamu membuat pengakuan bahwa kamu sangat mencintaiku dan takut kehilanganku, takut aku meninggalkanmu." Ledek Wahyu tak mau kalah. Hani mengecutkan bibir nya menahan malu. Wahyu semakin gemas melihat Hani kemudian mencubit pelan pipi Hani.
***
Hani diantar oleh Wahyu sampai ke depan rumah. Hani menawarkan pada Wahyu untuk mampir dahulu tapi Wahyu menolak karena sudah larut malam. Wahyu memeluk Hani sebelum ia benar-benar akan pulang. Ia seperti candu dengan wangi parfum Hani dan tak mau berjauhan.
'Andai kamu istriku Han. Sesaat saja aku tak ingin berjauhan denganmu.' Batin Wahyu.
"Pulanglah. Ini sudah terlalu malam." Hani melepaskan pelukannya. Sebetulnya ia masih ingin berlama-lama dengan Wahyu, tapi Hani sadar semua ada batasannya. Wahyu mengangguk tanda setuju kemudian melajukan kendaraannya.
***
"Kenapa kemalaman pulangnya?" Tanya Puri.
"Tadi Wahyu mampir ke rumah kerabatnya." Hani membuka kulkas, mengambil minuman dingin kemudian meneguknya sampai habis.
.
.
.
.
.
.
~♥~ Bersambung ~♥~