
Dion berjalan mendekati Hani, memunguti buku yang dijatuhkannya. "Han." Dion melambaikan tangannya ke depan wajah Hani yang masih terpaku menatap pria didepannya.
"Han." Panggil Dion dengan sedikit teriakan hingga membuat lamunan diantara keduanya terpecah.
"Y-ya." Jawab Hani singkat. "Dion, Ku rasa aku harus pergi duluan. Aku akan singgah ke suatu tempat. Tolong bawa mobilku ke perusahaan, aku akan naik taksi dari sini. Terimakasih Dion." Dengan langkah tergesa-gesa, Hani meninggalkan dua pria yang masih terpaku melihat sikapnya.
"Apa kalian saling mengenal?" Dion meletakkan kembali buku yang ia pungut dari lantai ke tumpukan lainnya.
"Nghh? T-tidak." Jawab Wahyu asal.
Hani menaiki sebuah taksi tanpa tau arah tujuannya kemana. Hatinya benar tercabik. Patah dan hancur ketika berpisah dengan Wahyu kembali teringat olehnya. Dan itu benar-benar menyakitkan.
Apa harus bertemu kembali? Apa ini takdir atau hanya sekedar kebetulan? Tapi Hani tau, tak ada yang namanya kebetulan didunia ini. Semua sudah sesuai dengan skenario yang Tuhan ciptakan untuk hidupnya. Hani memukul dadanya pelan, berharap sesak didalamnya akan berkurang.
Setelah menyelesaikan urusannya di gudang percetakan, Dion melajukan mobil menuju Jennie Publisher. Tetapi, sesampainya disana ia tak menemukan keberadaan Hani. Dion berpikir mungkin Hani memiliki urusan mendadak yang harus diselesaikannya.
Keesokan harinya🍃
Waktu menunjukkan pukul 08.30, Hani bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, Hani hanya memakai sedikit riasan namun tetap terlihat cantik.
Drrttt drrrtt...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Hani.
*Han, aku didepan.
Setelah membaca pesan Dion, Hani bergegas keluar rumahnya. Hentakkan heels nya pada anak tangga yang terbuat dari besi membuat Dion menyadari kedatangan Hani. Hani menyewa membeli rumah di sebuah bangunan yang hanya terdiri dari tiga lantai. Rumahnya berada ditingkat paling atas. Hani menyukai pemandangan dari lantai tiga gedung tersebut. Rumah Hani adalah yang paling kecil diantara dua rumah lainnya, namun memiliki teras yang cukup luas. Ia mengisi teras tersebut dengan meja yang cukup lebar. Meja itulah yang menjadi kasur kedua Hani jika ia merasa bosan. Ia bisa berbaring disana, menatap langit yang dihiasi oleh bintang-bintang.
"Kenapa kemarin kau tak kembali lagi ke kantor?" Tanya Dion sembari fokus dengan kemudinya.
"Aku merasa lelah dan langsung pulang. Maaf tak mengabarimu." Jawab Hani singkat.
"Apa kau sudah sarapan? Ayo sarapan dulu." Ajak Hani pada Dion.
Dion menuruti keinginan Hani, mereka makan diwarung pinggir jalan langganan mereka. Dion yang dulunya paling alergi dengan makanan pinggir jalan, menjadi paling suka semenjak Hani memaksanya untuk mencicipi nasi goreng bu Asih langganan Hani.
Seperti biasa, jika bu Asih melihat keduanya datang, mereka tak perlu memesan karena bu Asih sudah tau apa yang ingin keduanya makan.
"Kau tak apa-apa?" Tanya Dion membuka percakapan diantara keduanya.
"Maksudmu."
"Kemarin, digudang percetakan kau terlihat aneh."
"Aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau khawatirkan." Jawab Hani singkat.
***
'Tidak denganku!' Batin Wahyu pada dirinya sendiri. Wahyu terduduk didepan tumpukan buku yang sudah dicetak. Hanya dengan melihat punggung saja, ia bisa mengenali Hani.
***
Kepala direktur keuangan Jennie Publisher terlihat sibuk men-trainning Hani yang sebentar lagi akan menggantikan jabatannya. Hani begitu serius mendengarkan setiap arahan dan masukan yang diberikan padanya. Tidak banyak yang perlu diajarkan, karena Hani cukup paham tugas direktur keuangan. Selama menjabat sebagai direktur, Pak Andi banyak dibantu oleh Hani.
Hani berjalan menuju meja kerjanya dengan membawa beberapa berkas laporan keuangan yang harus diperiksa. Hani segera duduk dan mulai membaca satu per satu laporan yang diberikan pak Andi. Konsentrasinya buyar ketika bayangan Wahyu melintas dipikirannya.
Hani memukul pelan mejanya karena kesal, membuat sekelilingnya melihat ke arahnya.
Sementara ditempat lain, diruangan yang berbeda, Dion tampak sibuk mempersiapkan peluncuran buku Beyonce.
"Kau bisa menghubungi nomor ku jika setengahnya sudah selesai dicetak." Perintah Dion pada seseorang yang berada didalam panggilannya.
***
Wahyu berdiri menghadap jendela dengan satu tangan menggenggam ponsel di telinga.
"Baiklah. Aku akan menghubungimu." Jawab Wahyu.
"Mmm.. Dion. Apa kau mengenal dengan baik rekan kerjamu kemarin?" Tanya Wahyu sedikit ragu.
....
....
....
Wahyu mengangguk-ngangguk. "Aku hanya bertanya." Kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Dion menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal sambil menatap layar ponselnya. Tapi ia tidak merasa ada yang aneh, malah biasa saja untuk Wahyu menanyakan hal seperti itu.
"Hani." Teriak Dion. Membuat orang sekeliling menatapnya, namun tak dihiraukan, Dion malah berlari kecil menghampiri Hani.
"Kau mau kemana?" Tangannya merangkul bahu Hani.
"Dion! Kau ini apa-apaan?" Hani menepis tangan Dion yang bergelayut di bahunya.
"Ayo makan siang." Ajak Dion tanpa menghiraukan Hani yang sudah jengkel dengan kelakuannya.
Hani berjalan mengikuti Dion menuju resto yang berada tak jauh dari perusahaan mereka. Hanya butuh berjalan sekitar lima menit, maka bisa sampai disana.
"Hei cepatlah. Kau lambat sekali." Teriak Dion melambai-lambaikan tangannya pada Hani, memberi isyarat agar Hani lebih cepat berjalan. "Han, kau seperti nenek sedang berjalan. Hahahah."
Hani berlari mengejar Dion dan hendak memukulnya, tapi dengan cepat Dion juga berlari menjauhi Hani sambil sesekali berjalan mundur dan mencibiri Hani. Keduanya pun tertawa, menertawai tingkahnya masing-masing.
'Hari ini kau tersenyum olehku.' Batin Dion.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi sepasang mata memandangi mereka dari kejauhan.