
Hani berjalan menuju gang perumahannya sambil sesekali menyeka bibirnya. Ia kesal, tapi Pialy adalah atasannya.
Tanpa Hani sadari, Wahyu yang sedari tadi sudah menunggu diujung gang melihat apa yang dilakukan Pialy pada Hani. Langkahnya terhenti ketika melihat Wahyu. Hani berlari kecil menuju Wahyu, ia ingin memeluk kekasihnya. Tapi belum sampai mendekati, Wahyu pergi meninggalkan Hani. Hani menghentikan langkahnya melihat perubahan sikap Wahyu.
"Ya Tuhan. Apa dia melihatnya?" Hani menyusul langkah Wahyu dengan cepat. Wahyu tak menoleh padanya sama sekali. Hani tau kekasihnya marah saat ini. Hani mengikuti Wahyu hingga sampai didepan kos Wahyu.
Hani mengikuti Wahyu masuk ke dalam kamarnya. Hani bergelayut ditangan Wahyu, mengusap dada kekasihnya pelan. Wahyu tetap saja membuang muka dari Hani, tidak mau menatap Hani sama sekali.
"Sayaang. Apa kamu melihatnya?" Hani menangkup pipi Wahyu, menatap kekasihnya yang sudah dibakar api cemburu. Kali ini ia harus meyakinkan Wahyu untuj tidak salah paham. "Itu tidak seperti yang kamu lihat. Dia memang menc.." Belum sempat mendengar penjelasan Hani, Wahyu menepis tangan Hani dengan kasar.
"Sayang." Hani mendekati Wahyu lagi, memeluk lengan Wahyu. Tapi lagi-lagi Wahyu menepisnya, bahkan mendorong Hani hingga terpental ke dinding.
"Aaghh." Pekik Hani pelan sembari memegangi bahunya yang terbentur dinding. Tapi Wahyu tak mengacuhkannya sama sekali. Hati Hani benar-benar terasa skit melihat sikap kekasihnya. Lebih sakit dari pada tubuhnya yang terpental.
"SUNGGUH KAMU SANGAT MURAHAN!" Ucap Wahyu lantang.
Degg. Hati Hani seperti dihimpit batu besar, terasa sangat sesak mendengar ucapan Wahyu yang menghinanya. Bahkan Wahyu tak tahu apa permasalahannya, tapi dengan lantang ia mengatakan Hani wanita murahan. Hani menghapus air mata yang mengalir di pipinya, kemudian bangkit dari duduknya.
"Ya.. Kau betul. Aku murahan. Seharusnya kau tak mengencani wanita murahan."
Buukkk...
Hani keluar dari kamar Wahyu dan membanting pintu dengan keras. Air mata semakin mengalir deras dipipinya. Bintang yang melihat Hani menangis, mengalihkan pandangannya. Berpura-pura tidak tahu dan tidak melihat Hani.
Wahyu mengusap kasar wajahnya. Ia menyesal telah mengatakan hal bodoh pada Hani. Seharusnya ia dengarkan apa yang akan dikatakan Hani, tapi malah sebaliknya. Wahyu mencaci Hani dengan kata tidak senonoh. 'Apa yang harus aku lakukan setelah ini?' Batin Wahyu pada dirinya sendiri.
***
Sesampainya dirumah Hani langsung masuk kamar tanpa berbicara sepatah katapun pada Puri.
"Han makan dulu." Teriak Puri dari luar.
"Aku tadi sudah makan diluar kak." Jawab Hani singkat.
Hani melempar tas nya ke sembarang arah. Ia menghempaskan tubuhnya yang lelah ke atas kasur. Pikirannya benar-benar kacau. Ia berusaha melupakan semuanya. MURAHAN! Bukannya lupa, kata-kata itu semakin terngiang-ngiang di telinganya. Sakit memang, dituduh saat kau tidak melakukan kesalahan apapun bahkan dihina. Dan yang melakukannya adalah orang terdekatmu. Itulah yang dirasakan Hani saat ini.
'Apa setiap hari harus ada keributan? Apa tidak boleh ada ketenangan diantara kita. Apa hubungan ini begitu sulit? Apa yang salah padaku? Atau ada yang salah pada dirimu?' Hani bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Hani menutup matanya dengan lengan kanannya. Satu butir air mata lolos mengalir di pipinya.
Wahyu kalut dengan emosinya sampai ia tak bisa mengontrol apa yang diucapkan oleh mulutnya. Ia menyesal, tapi apa daya, kata-kata yang telah diucapkan tak bisa ditarik kembali. 'Han maafkan aku.' Batin Wahyu. Ia mengusap rambutnya kasar. Wahyu terlihat sangat gusar.
"Minta maaflah padanya jika kau berbuat salah." Tiba-tiba Bintang sudah muncul didepan pintu kamar Wahyu.
Wahyu menatap Bintang sejenak. "Apa kau melihatnya." Tanya Wahyu penasaran.
"Hhhmm." Bintang menggerakkan alisnya. "Dia terlihat sangat sedih." Jawab Bintang lagi.
"Aaahhh siaal!!" Wahyu meninju lantai kamarnya sendiri. Dia merasa frustasi dengan keadaan yang sedang terjadi.
"Tak kan ada yang berubah jika kau hanya duduk disini. Kau benar-benar payah!" Bintang tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Wahyu. Ada perasaan senang dihatinya melihat Wahyu dan Hani berkelahi, tapi disaat yang sama ia juga sedih melihat Hani menangis.
***
Hani selesai bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, ia mengenakan celana dasar hitam dipadu kemeja berwarna pink dengan aksen pita di leher. Hani menhucir rambutnya, membuat leher jenjangnya yang putih tersorot dengan indah. Hani sedikit menebalkan make up nya hari ini dikarenakan ingin menutupi matanya yang sembab karena menangis semalam. Hani selalu menyukai style yang elegan tapi sederhana, tidak ribet dipakai dan tentu saja nyaman baginya.
Setelah selesai berias, Hani mengambil tas dan high heels nya didalam lemari kemudian keluar kamar.
"Han, ini susu mu, minum dulu." Kata Puri sambil menyodorkan segelas susu pada Hani. Hani mengambil gelas susunya kemudian duduk dimeja makan dan menguknya sampai habis.
Drrrtt... Drrtttt...
*'Tunggu aku didepan yaa.
*'Aku akan pergi sendiri. Balas Hani singkat.
"Kak aku berangkat dulu." Hani berpamitan pada Puri.
"Wahyu kan belum datang?"
"Dia hari ini tidak bisa. Aku akan pergi sendiri." Hani terpaksa berbohong untuk menutupi masalahnya dengan Wahyu. Dan lagian Puri hanya tau Hani dan Wahyu hanyalah berteman.
Hani bergegegas meninggalkan rumah, berlari menuju gang depan agar tidak bertemu dengan Wahyu. Sedangkan Wahyu sudah berada didepan rumah, membuat Puri jadi kebingungan apa yabg sedang terjadi.
"Hani sudah berangkat. Tadi katanya kamu tidak bisa berangkat bersamanya." Jelas Puri pada Wahyu.
***
Hani tiba di perusahaannya. Ketika hendak memasuki kantor, ia berpapasan dengan Pialy. Hani teringat kembali kejadian malam tadi, Pialy mencium bibirnya. Sebetulnya Hani kesal dan ingin memarahi Pialy, tapi pria itu atasannya. Dan ini adalah tempat kerja, ia harus profesional, memisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi.
Hani memasuki kantor keuangan tanpa menoleh pada Pialy sedikit pun. Sikap seperti ini lebih baik untuk menghilangkan kecanggungan dalam dirinya.
Hani mulai paham dengan keadaan dimana hanya ia yang diberi kelonggaran oleh Pialy untuk menulis laporan keuangan pada akhir pekan saja. Sedangkan karyawan lain tidak diperbolehkan.
Hani tidak ingin men-spesialkan dirinya lagi, ia tak ingin memanfaatkan perasaan Pialy padanya. Hani duduk dimeja kerjanya dan mulai menulis laporan keuangan. Hani akan melaporkan setiap hari dan tidak pada akhir pekan lagi.
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 12 siang. Hani bersiap-siap untuk makan siang.
"Han, bagaimana kalau kita makan di caffe luar. Malas dikantin terus." Ajak Deara.
Hani hari ini juga malas berada diperusahaan, karena pikirannya masih sedikit kacau. Kalau pergi ke kantin, ia malah bertemu dengan Pialy, bisa-bisa nafsu makannya malah jadi hilang.
***
Di caffe 🍂
"Han, mau pesan apa?" Tanya Deara membolak-balikan buku menu yang telah disediakan diatas meja.
"Seperti biasa aja, tapi minum nya aku mau luwak white coffe es."
"Oke. Kita sama saja " Ucap Deara kemudian memanggil pelayan untuk mencatat menu makan siang mereka.
Beberapa menit setelah memesan, makanan mereka pun datang. Hani dan Deara. menikmati makan siang mereka bersama.
***
Tepat pada pukul 2 siang, Hani menuju ruangan manager keuangan untuk menyerahkan laporan keuangan pada Pialy.
Tokk.. Tokk..
Ceklek..
Hani membuka pintu ruangan Pialy, ia berjalan menuju meja Pialy yang berada disudut ruangan.
"Pak, ini laporan keuangan hari ini." Hani meletakkan laporan keuangan diatas meja Pialy. Kemudian menunduk tanda ia akan keluar dari ruangan Pialy.
"Hani." Langkah Hani terhenti ketika Pialy memanggilnya. "Maafkan atas sikap saya semalam." Hani memutar tubuhnya menghadapa Pialy.
"Saya tidak mengerti apa yang anda maksud pak. Permisi." Hani keluar meninggalkan ruangan Pialy. Hatinya kembali kesal mengingat Pialy yang menciumnya tiba-tiba. Murahan.! Kata-kata itu terngiang kembali di telinganya.