
"Kau kenapa?" Wahyu duduk didepan Bintang sambil merogoh saku celana mengeluarkan handphonenya.
"Tidak ada." Bintang melirik Wahyu kemudian mengalihkan pandangannya. Wahyu menganggap Bintang biasa saja tidak begitu menggubris sikapnya. Baru saja Wahyu akan mengirim pesan pada Hani, Ia melihat Hani berjalan ke arahnya. Hani berjalan dengan santai. Sesekali melempar pandangannya ke kiri dan kanan. Angin membuat rambutnya yang sebahu sedikit berantakan namun tetap terlihat cantik.
"Cantik sekali." Wahyu tersenyum lebar pada Hani.
"Mau pulang?" Tanya Wahyu pada Hani setelah sampai. Hani membalas dengan anggukan.
"Kamu ingin pulang denganku atau dengan Bintang?" Tanya Hani pada Wahyu. Bintang memberi kode pada Wahyu sebagai tanda bahwa Wahyu pulang dengan Hani saja.
"Denganmu." Wahyu meraih kunci motor yang ada ditangan Hani. Kemudian berjalan meninggalkan Hani dibelakangnya.
"Duluan ya." Hani pamit pada Bintang dan pergi berlalu. Bintang menatap bergantian Hani dan Wahyu. Keduanya masih tampak canggung. Namun sesekali Wahyu tampak tertawa pada Hani.
***
"Mau diantar sampai ke rumah?" Hani menawarkan pada Wahyu saat mereka hampir sampai di komplek.
"Boleh." Jawab Wahyu singkat. Mereka sudah memasuki gerbang komplek. Blok K tempat Hani tinggal tidak jauh dari Blok A tempat Wahyu. Mereka hanya perlu lurus saja dari rumah Hani. Wahyu turun dari motor dan berdiri melihat Hani yang juga akan pulang.
"Terimakasih." Wahyu tersenyum pada Hani yang juga dibalas dengan senyuman dan anggukan. Kemudian Hani pergi.
***
Waktu ke waktu, hari ke hari, hubungan Wahyu dan Hani semakin baik dan mereka semakin dekat. Hani yang sering dihubungi tak menolak, namun ia tak ingin memulai duluan, mengingat Wahyu sudah punya kekasih begitupun dengannya. Tapi itu dengan Wahyu dan Bintang, mereka terlihat semakin jauh karena Bintang yang selalu menjauh. Begitu juga antara Bintang dan Hani, setiap kali berpapasan biasanya Bintang selalu menyapa bahkan mau menggoda Hani dengan candaannya. Tapi sekarang Bintang lebih banyak diam bahkan tidak menatap sama sekali saat Hani yang mulai menyapa duluan.
Sementara itu, hubungan Hani dan kekasihnya tidak berjalan begitu baik. Saat Hani masih dikampung dulu mereka jarang bertemu bahkan hampir tidak pernah. Hanya menghubungi beberapa kali lewat pesan saja jika itu benar-benar penting. Tidak seperti pasangan kekasih lainnya untuk say hello atau menanyakan apa yang dilakukan seharian mereka tidak pernah untuk saling menceritakan. Lebih tepatnya, Hani tidak diberi kesempatan oleh kekasihnya. Sahabat Hani yaitu Vani sering mengingatkan juga bahwa Hani harus sadar dengan hubungannya. Kekasihnya tak menginginkannya. Ia menghilang sesuka hati tanpa memberi kabar apapun pada Hani. Ia hanya memerlukan Hani saat butuh. Lalu akan menghilang lagi saat Ia tidak memerlukan Hani lagi.
Hani tidak menghiraukan apa yang dikatakan Vani. Malah berpikir bahwa kekasihnya adalah memang tipe pria yang seperti itu menjalani hubungan. Ia yakin kekasihnya adalah orang yang setia padanya.
.
.
Suatu ketika Hani menerima pesan dari kekasihnya, Dani. Ryan memberi tahu Hani sandi akun media sosialnya. Bukannya senang Hani malah terheran dengan sikap Ryan, karena bersikap tidak seperti biasanya. Mereka berbalas pesan cukup panjang hingga akhirnya Ryan berkata.
Pegang akun ku, apapun yang terjadi. Maaf jika aku banyak salah padamu." Hani semakin curiga dengan sikap Ryan.
'Kamu kenapa? Ceritalah agar aku mengerti?' Hani menatap lama layar ponselnya. Menunggu balasan dari Ryan. 'Kau dimana?' Tanya Hani lagi.
Drrrtt drrrtt..
Hani langsung membuka pesan masuk.
'Pekan Baru. Jangan beri tahu siapapun. Hanya kamu yang tahu aku dimana.'
'Apa masalahmu?' Hani kesal Ryan hanya mengatakan apa yang ingin dikatakannya tanpa menjawab apa yang Hani tanyakan.
'Tak pernah berubah.' Hani melemparkan ponselnya ke kasur.
Namun beberapa hari kemudian sebuah pesan masuk di ponsel Hani. 'Beritahu Ryan dimana. Jika tidak kau akan kami laporkan karena bersekongkol dengan pencuri. Kau menyembunyikannya.' Hani terbelalak menatap layar ponselnya. Entah siapa dan kenapa orang itu mengirimi Hani pesan dengan kata-kata yang mengancam. Hani tidak tahu apa-apa. Tidak sama sekali. Ia mulai menghubungkan sikap Ryan beberapa hari yang lalu dengan pesan yang Ia terima barusan. Hani baru menyuap beberapa sendok nasi langsung kehilangan selera untuk melanjutkan makan siangnya kembali.
Hani masuk kekamar dan membuka laptopnya. LOG IN. Hani mengarahkan kursor laptop ke kata itu. Ia memasukkan email dan pasword yang diberi tahu Ryan. Hani membuka semua kotak pesan, tapi tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Matanya tertuju pada angka satu yang tertera di kotak notifikasi. Hani memencetnya. Sebuah postingan menandai akun Ryan. Mata Hani terbelalak sampai mulutnya terbuka melihat apa yang ada dilayar laptopnya. Hani menatap lekat memastikan apa yang dilihatnya benar.
Hani mengucek-ngucek matanya tapi tidak merubah apapun yang sudah dilihatnya.
"Apa ini sebenarnya?" Hani menutupi mukanya dengan telapak tangan kemudian mengusap sedikit kasar.