Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
Who she's?


Mata Hani tertuju pada satu kontak yang bernama Nisa. Hani membuka riwayat panggilan Wahyu dengan Nisa tersebut. Ada beberapa panggilan keluar dan masuk yang berdurasi cukup lama antara mereka berdua. 'Siapa perempuan ini?' Batin Hani. Hani membuka kotak pesan.


*Kamu sayang gak sama aku?


*Aku cinta sama kamu.


*Kamu kok berubah sih? Gak pernah lagi balas pesanku.


*Aku beneran sayang sama kamu.


*Kamu punya wanita lain?


'Ini gila. Apa ini? Siapa wanita ini?' Hani terus membacanya hingga pada pesan terakhir....


*Pulsanya habis sayang.


Wahyu membalas pesan wanita tersebut. Lebih parahnya dia memanggil wanita tersebut dengan kata sayang. Dada Hani seperti sedang bergemuruh didalam sana menatap lama layar ponsel Wahyu. 'Itu makanya perempuan itu menghubungimu duluan. Karena pulsamu habis? Kamu mengangkatnya dan kalian saling berbicara cukup lama?'


Hani melihat tanggal pesan tersebut, ternyata masih tiga hari yang lalu. 'Pantas saat itu aku menghubungimu tapi tidak bisa. Ku tanya kenapa, kau bilang sedang menelpon Ibumu di kampung. Kau berbohong.'


Mata Hani berkaca-kaca. Rasanya campur aduk antara marah, benci dan ingin memaki pria yang ada didepannya. 'Tahan Han, biarkan dia selesai makan dulu.'


Tak lama kemudian Wahyu selesai dengan makanannya. "Bayarlah dulu." Hani langsung berdiri dari duduknya, berjalan keluar meninggalkan Wahyu. Setelah membayar Wahyu kemudian menyusul Hani yang sudah menunggunya di parkiran.


"Sayang kita ke taman dulu ya." Ajak Wahyu yang disetujui dengan anggukan oleh Hani. Ponsel Wahyu masih berada ditangan Hani. Ingin rasanya Hani membanting dan menghancurkan ponsel itu.


Setelah sampai ditaman, lagi-lagi Hani mendahului Wahyu berjalan. Ia duduk sembarangan di rumput taman diikuti Wahyu dibelakangnya.


"Ini ambil!" Belum sempat Wahyu duduk Hani melempar ponsel Wahyu. Beruntung Wahyu cepat menyambutnya. Wahyu merasakan perubahan sikap Hani. Hani sama sekali tak ingin menatapnya. Wahyu yang penasaran pun kemudian membuka ponselnya. Apa yang membuat Hani hingga sebegitu marah padanya.


Wahyu menahan tawanya sambil menatap layar ponselnya. "Barusan kamu ketawa?" Hani menatap tajam pada Wahyu. "Masih bisa ketawa?"


"Sayaang, tunggu kamu salah paham?" Wahyu mencoba menjelaskan pada Hani.


'Ini masalah sepele, jika tidak aku jelaskan akan semakin runyam. Apa arti tangisanmu? Takut kehilanganku atau hatimu benar-benar terluka?'


"Han." Wahyu menggenggam tangan Hani mencoba menenangkannya, tapi Hani menepis tangan Wahyu.


"Jangan pegang-pegang aku!" Hani menunduk, memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Bahunya sesekali terlihat bergerak menyertai isak tangisnya.


"Han. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kamu salah paham." Wahyu mendengus pelan, menjeda kalimat berikutnya. "Saat itu aku ingin membalas pesanmu, tapi tiba-tiba pesan dari Nisa muncul. Ponselmu juga begitu kan? Kalau ada pesan baru masuk akan keluar seperti balon obrolan dan otomatis cursor keyboard akan pindah ke pesan baru. Kamu paham kan maksud ku?" Saat itu aku juga tidak melihat ada pesan baru, aku malah sibuk mengetik pesan padamu tanpa memperhatikannya." Wahyu memegang pundak Hani pelan. Kali ini tidak ada perlawanan dari Hani.


"Aku pernah bilang padamu. Kau boleh berteman dengan siapa saja termasuk wanita. Tapi jangan bertingkah berlebihan, atau tidak mereka akan salah tanggap. Sekarang apa yang aku katakan terjadi bukan?"


Wahyu menunduk, perasaan bersalah muncul dalam dirinya. Apa yang Hani katakan benar. Hani dulu pernah memperingatinya untuk tidak terlalu bersikap berlebihan apabila berteman dengan wanita.l lain. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya Han. Percayalah padaku." Wahyu menggenggam tangan Hani. Menatap Hani dengan tatapan memohon.


"Lalu kenapa mengangkat telepon wanita itu. Kau katakan tidak ada apa-apa, tapi kalian menelpon cukup lama. Siapapun akan berpikir itu tidaklah wajar!" Hani memutar tubuhnya sekarang menghadap Wahyu. "Aku secelah pun tak membuka pintu untuk pria lain mendekatiku. Seharusnya kau juga begitu, jika kau menghargai hubungan ini."


"Iya aku salah. Maafkan aku Han."


"Bagaimana aku bisa memaafkanmu jika kau berbohong padaku. Saat itu aku bertanya padamu, kenapa aku tidak bisa menghubungimu? Apa jawabanmu? Kau baru saja menghubungi orangtuamu padahal kau menghubungi wanita lain!" Wahyu menyadari kesalahannya, wajahnya terlihat pucat. Hani mengetahui kebohongannya.


"Aku mau pulang." Hani bangkit dari duduknya hendak meninggalkan Wahyu. Tapi langkahnya tertahan karena tangan Hani dipegang oleh Wahyu.


"Ayo selesaikan ini. Kita pulang ke kos ku dulu." Wahyu menarik tangan Hani mengikutinya berjalan.


***


"Aku mau pulang." Hani berjalan keluar kamar Wahyu tapi Wahyu lebih dahulu berlari mengunci pintu kamarnya. Ia mengambil kunci tersebut dan memasukkan dalam saku celananya.


"Apa kau harus seperti ini?" Hani tak bisa lagi kemana-mana. Ia juga tak mungkin mengambil kunci dari saku celana Wahyu.


"Pintu ini tidak akan terbuka sebelum masalah kita selesai. Aku tak ingin berpisah darimu sebelum semuanya selesai Han."


"Kau gila! Kalau kau tidak mau membukanya aku akan buat orang membukanya dari luar. TOOL...." Belum sempat Hani berteriak meminta tolong, Wahyu sudah membungkam mulut Hani dengan bibirnya.