
Teng Nong Neeng...
"Perhatian! Kepada penumpang Lion Air JT 288 tujuan Batam sebentar lagi kita akan tiba di Bandara Hang Nadim. Untuk kenyamanan mendarat, dimohon kepada penumpang untuk memasang sabuk pengaman." Terdengar salah satu awak kabin memberikan pengumuman.
"Akhirnya... Sampai juga." Hani menggeliatkan tubuhnya. Penerbangan dari kota asalnya menuju Batam tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit. Tapi karena semalam ia begadang, alhasil Hani tertidur pulas selama penerbangan. Pesawat akan mendarat 10 menit lagi. Hani melihat keluar jendela pesawat. Dari dalam Ia masih bisa melihat begitu banyak pulau.
"Waaah.. Aku hanya melihat hutan dari sini. Apa benar ada kehidupan dibawah sana." Hani bergumam didalam hatinya. Mata nya masih tertuju pada pemandangan yang ada dibawah. "Lautnya begitu indah. Waah.. Itu jembatan Barelang." Hani masih bergumam didalam hatinya melihat salah satu ornamen kota yang ia kunjungi itu. Seketika wajahnya berubah jadi sendu. Ini pertama kali baginya berpisah dengan keluarganya. Hani memilih untuk mencari kerja di Batam. Walaupun tidak ada pengalaman merantau tapi ia tekadkan dalam hatinya harus mencoba hal yang baru.
***
Hani berjalan menuju pintu kedatangan. Hani datang tidak sendiri, Ia membawa sepasang ponakannya juga bersama adik dari istri kakak pertama Hani. Kebetulan adik ipar kakaknya itu juga berangkat ke batam, karena ia bekerja di Bandara Hang Nadim sebagai teknisi.
"Hanniiii.. Gendooong." Ica menggelayutkan tangannya ke arah Hani. "Ica capek." Ica adalah anak dari kakak Hani yang kedua. Kakaknya sudah meninggal dua tahun yang lalu, jadi Hani dan Ibunya lah yang merawat kedua ponakannya itu. Sementara akak Ica, Mumtaz, digendong oleh adik ipar kakaknya.
"Sini nak! Capek yaa? Kasihan anak Hanii" Hani segera menggendong Ica. Terlihat Ia begitu kesusahan menggendong Ica, tapi Hani juga tidak tega menyuruh Ica berjalan. Pesawat yang mereka naiki mendarat dipintu gerbang ketujuh yang berada dipaling ujung sisi bandara. Sedangkan pintu kedatangan berada diujung sisi lainnya. Ponakan Hani terbiasa memanggil namanya daripada memanggil Bibi atau Tante. Hani pun tidak ingin dipanggil karena merasa tua bila dipanggil Bibi atau Tante. Karena umurnya baru 21 tahun.
***
"Kakaak." Panggil Hani lirih. Matanya tertuju pada kerumunan orang yang menunggu dipintu kedatangan. Hani melambaikan tangannya dan tersenyum sangat lebar. Tampak diantara kerumunan yang membalas lambaian tangan dari Hani. Keduanya sama-sama tersenyum. Disana.. Ada kakaknya yang sudah menunggu. Kakak Hani sudah 2 tahun di Batam bersama suami dan dua anaknya. Itulah mengapa Hani membawa Ica dan Mumtaz. Karena permintaan kakaknya. Puri.
"Biar aku antar Ica sama Mumtaz ke kak Puri ya." Ilham, ipar dari kakak Hani tersebut berinisiatif untuk mengantarkan terlebih dahulu Ica dan Mumtaz agar tidak repot nanti, karena mereka harus menunggu lagi barang yang dikeluarkan petugas bandara dari bagasi pesawat. "Iya.. Terimakasih ya kak. Aku ambil troli dulu." Hani meninggalkan Ilham setelah mendapatkan anggukan dari Ilham menuju sudut ruangan tempat penyimpanan troli. Setelah mendapatkan troli Hani kembali menuju comveyor berjalan. Disana Ilham sudah menunggu. Hani berdiri disamping Ilham. Tak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Keduanya hanya diam sambil memperhatikan comveyor berjalan, mencari barang-barang mereka.
Setelah barang Hani keluar semua begitu juga dengan Ilham mereka berjalan keluar menuju pintu kedatangan.
"Ilham mau langsung pulang?" Tanya Puri kepada Ilham.
"Iyaa kak.. Besok Ilham mau kerja. Mau istirahat dulu." Jawab Ilham kemudian tersenyum pada Puri.
"Oh baiklah. Hati-hati ya. Terimakasih sudah mau berangkat bersama dengan Hani." Jawab Puri yang sedang menggendong Ica.
"Tidak apa-apa Kak. Jangan sungkan." Ilham sedikit membungkukkan tubuhnya ke arah Puri sebagai rasa hormat kepada yang lebih tua. "Ilham duluan ya kak." Ilham berpamitan kepada Puri.
"Kak Ilham terimakasih." Kata Hani.
"Iyaa Han, sama-sama." Kemudian Ilham pergi berlalu.
***
"Gimana tadi?" Puri bertanya kepada Ica yang duduk tepat dibelakangnya. Sedangkan disamping Puri, suaminya Denis sedang menyetir tak banyak bicara. Hanya menyimak pembicaraan Hani dan Puri.
"Anak-anak berisik sekali didalam pesawat. Aku jadi malu." Mata Hani melotot ke arah Ica dan Mumtaz. "Padahal bukan pertama kali naik pesawat. Untung anak kecil, jadi penupang lain tidak marah malah jadi gemas melihat tingkah mereka." Hani melipat kedua tangannya didepan dada. Ini adalah kali kedua Ica dan Mumtaz datang ke kota Batam. Dulu mereka datang bersama kedua orangtua Hani.
Sepanjang perjalanan Hani melihat sekeliling. Hani melihat sebuah tempat makan yang begitu ramai. Disekelilingnya dihiasi dengan lampu yang berkelap-kelip. Tertulis diatap gedung tersebut Plaza SP.
***
Setelah mampir ke rumah teman Denis. Mereka pun pulang. Mobil yang dikendarai Deni memasuki gerbang yang ditepinya juga dihiasi dengan lampu.
"Sudah mau tengah malam masih ramai begini kak." Hani tercengang melihat sekelilingnya. Orang-orang masih berada diluar rumah. Puri yang mendengar celotehan adiknya tertawa, tapi Ia maklum karena dikota asal mereka, jam sepuluh saja jalanan sudah sepi.
"Disini tidak usah heran. Memang seperti ini adanya." Puri menjawab santai celotehan Hani. "Tapi kamu disini tidak boleh keluyuran malam-malam seperti orang itu." Kali ini Puri menekankan kepada Hani.
"Dipersilahkan keluarpun aku juga tak ingin." Hani menatap keluar jendela. Puri tersenyum mendengar ucapan adiknya. Sudah biasa bagi Puri jika Hani hanya berdiam diri didalam rumah, malah akan heran jika tiba-tiba Hani keluar bahkan jika hanya sekedar duduk-duduk didepan teras rumah. Hani lebih suka dikamar. Masa sekolah dulu Hani selalu pulang jam 4 sore. Selepas maghrib ia akan tidur, kemudian bangun jam 10 untuk mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya. Ia sengaja menunggu ponakannya tidur dulu agar bisa belajar dengan tenang.
"Sudah sampai. Yuk turun." Puri membuka pintu mobil dan berjalan menuju pintu rumah dan membukanya. Hani menyusul puri, sedangkan Denis mengurus Ica, Mumtaz, Akbar dan juga Kayla.
Hani berdiri didepan teras rumah. Menatap langit malam. Cuaca begitu cerah. Bintang menghiasi langit. Tampak juga pesawat terbang diatas sana. Tapi suasana hati Hani tak secerah cuaca. Baru beberapa jam pergi dia sudah merindukan kembali rumahnya. Orangtuanya.
"Kakaak.." Hani berteriak ketika melihat benda hitam berlari dengan cepat didepannya. Puri yang mendengar teriakan Hani berlari kecil keluar.
"Kenapa Han." Puri berdiri dipintu menatap Hani. Hani yang terkejut masih dengan mata melotot.
"Kaak.. Itu yang lewat barusan beneran tikus? Besar sekali. Atau aku salah lihat." Hani mencari tahu apa yang dilihatnya barusan.
"Aaa?? Hahaha sampai seperti itu ekspresimu." Puri tertawa terbahak-bahak melihat tingkah aneh adiknya. "Itu memang tikus. Tikus disini besar-besar beda sama dirumah kita. Kalau dirumah kita belum juga apa-apa udah dikejar sama kucing. Kalau disini kadang kucing malah nongkrong sama tikus. Nanti kamu juga lihat sendiri kalau tidak percaya." Puri menjelaskan pada Hani.
"Jelas tidak mau lah, yang ada kucing malah takut." Hani berlari masuk kedalam rumah.
"Kak yang mana kamarku?" Hani bingung karena ada dua kamar dengan pintu bersebelahan.
"Yang kedua." Mendengar jawaban Puri, Hani langsung membuka pintu kamar dan masuk. Kamarnya tidak begitu besar juga tidak kecil. Pas untuk Hani yang akan menempatinya sendiri. Dinding kamarnya dicat dengan warna hijau. Hani sejenak tersenyum. Hijau adalah salah satu warna favoritnya. Hani merebahkan diri dikasur, kemudian ia tertidur.