Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
Say, Hay!


"Makanya kenalan dulu. Kamu ingat tidak waktu kita kepantai kemarin. Dia juga ikut." Puri mencoba mengenali Wahyu pada Hani.


"Yang mana sih kak." Tanya Hani penasaran.


"Diantara orang-orang kemaren dia yang paling tinggi, putih ganteng juga." Puri menjelaskan sambil senyum-senyum. Hani yang terlihat mulai penasaran membayangkan pria yang dilihatnya tadi sore. "Apa mungkin dia?" Hani bertanya pada dirinya sendiri. Kemudian tersenyum tipis.


"Nanti kalau mereka main kesini lagi pasti dia juga ikut." Tambah Denis. "Biar kakak kenalin nanti." Tambahnya lagi.


Hani hanya diam. Ia masih mengira-ngira apa benar nama yang disebutkan oleh kakak dan iparnya adalah orang yang sama dengan yang dia fikirkan.


***


.


.


.


Keesokan harinya.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam.


"Assalaamu'alaikum." Terdengar teriakan seseorang dari luar rumah. Hani bergegas keluar dan membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam."


Cekleek... Pintu kemudian terbuka. "Eh pak De. Kakak lagi keluar pak De." Jawab Hani sambil membuka pintunya makin lebar. Ada beberapa orang yang datang bersama pak De. Hani memperhatikan semua orang yang datang. Tatapannya berhenti pada seorang pria yang memakai celana jeans panjang berwarna hitam dan memakai kaos oblong. Dia adalah pria yang beberapa kali sempat dipikirkan oleh Hani. Hana sejenak menatapnya, pria tersebut juga menatap Hani kemudian tersenyum. Hani langsung mengalihkan pandangannya tanpa membalas senyum pria tersebut.


"Tidak apa-apa, kami tunggu diluar saja." Jawab pak De sambil menarik kursi yang akan didudukinya. Hal yang sama juga dilakukan oleh yang lainnya.


"Hai Hani." Seorang pria diantara mereka menyapa Hani. Bintang, yang kemarin juga menggodanya saat Hani jalan-jalan dengan Puri. Hani yang melihat tingkah aneh Bintang hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


"Eh ada pak De." Denis datang memakirkan motornya ditepi jalan dekat rumah karena terasnya penuh dengan tamu yang datang. Hani yang melihat kakak dan iparnya sudah datang merasa lega karena tidak harus duduk lama menemani mereka diluar. Hani bergegas masuk ke dalam kamarnya.


"Mau dibuatkan kopi?" Terdengar suara Puri menawarkan minuman pada mereka.


"Boleh Puri." Jawab pak De.


"Nah ini dia si Wahyu." Kata Denis. Hani yang mendengar nama yang membuat dia penasaran dari kemarin langsung menyimak pembicaraan mereka.


"Iya kak. Kenapa." Jawab Wahyu.


"Itu Hani. Dia tidak mau pergi sama kamu karena tidak kenal katanya. Haaan... Hani.." Terdengar Denis memanggil Hani yang segera disusul Hani keluar.


"Iya kak." Hani berdiri didepan pintu.


"Ini yang namanya Wahyu Han." Tunjuk Denis memperkenalkan. "Wahyu ini Hani." Hani hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada Wahyu. "Besok tolong berangkat sama Hani ya. Dia tidak tau jalan." Pinta Denis pada Wahyu juga untuk meyakinkan Hani.


"Siap kak." Wahyu tersenyum dan kembali melirik Hani. Hani seperti menahan sesuatu didadanya. Dug dug dug.. Dadanya berdegup kencang. Ia senang karena nama yang disebut iparnya adalah orang yang sama dengan yang dipikirkan Hani. Hani yang awalnya menolak setuju berangkat dengan Wahyu.


"Awas Yu. Jagain anak orang kalau dibawa." Timpal mas-mas berambut gondrong. Mereka tertawa seperti menggoda Hani dan Wahyu. Hani hanya diam saja, sedangkan Wahyu tersenyum memperlihatkan lesung pipi dan gigi gingsulnya. "Manis sekali." Gumam Hani.


Sementara, diam-diam Bintang terus mencuri pandang pada Hani. Beberapa kali mereka sempat beradu pandang. Hani yang menyadarinya terlihat risih kemudian mengalihkan pandangan tidak lagi melihat pada Bintang meski Bintang masih sesekali menatap Hani. Suasana yang tidak disadari oleh yang lain. Bintang menatap Hani sedangkan Hani menatap Wahyu sesekali.


"Kenapa dia terus memandangiku. Tidak mungkin dia menyukaiku sementara kami baru bertemu beberapa kali." Gumam Hani sesekali juga ikut tertawa bersama mereka.


***


.


.


Waktu menunjukkan pukul 8. Hani yang sedari tadi sudah siap berangkat masih menunggu Wahyu datang. Lowongan kerja yang diberi tahu oleh Denis berubah jadwal kemudian diundur sampai pada hari ini yang sudah ditentukan kembali. Tiba-tiba perutnya mules, Hani pergi ke toilet. Setelah keluar dari toilet, Hani melihat Wahyu yang sudah menunggu didepan rumah. Ia berdiri mematung didekat sepeda motor sambil memainkan handphonenya. Wahyu memakai jeans hitam panjang dan jaket abu-abu. Cocok dengan kulitnya yang putih dan tubuhnya yang tinggi.


"Heem.." Wahyu menyadari kedatangan Hani. "Langsung berangkat?" Tanya Hani singkat.


"Mmm.." Wahyu mengangguk dan tersenyum pada Hani hingga lesung pipinya terlihat di kedua belah pipinya. Hani memberikan kunci motor pada Wahyu. Wahyu langsung memakai helmnya begitu juga dengan Hani.


"Kak.. Hani berangkat ya." Teriak Hani dari luar. Kemudian tampak Puri berdiri didepan pintu.


"Hati-hati Han. Wahyu hati-hati ya." Puri menatap Hani dan Wahyu bergantian.


Wahyu melajukan motor dengan santai. Mereka baru keluar dari gerbang perumahan.


Tidak ada suara diantara keduanya. Kemudian Wahyu berinisiatif memulai percakapan.


"Namanya siapa?" Wahyu membuka pembicaraan.


"Hani Pradita. Panggil Hani saja." Jawab Hani singkat. Hana tiba-tiba penasaran dengan umur Wahyu dan balik bertanya. "Kamu kelahiran tahun berapa."


"98." Jawab Wahyu. "Kamu?" Wahyu balik bertanya. "Sial gerutu Hani." Hani menjadi malu mengingat beberapa hari yang lalu ia pernah berpapasan dengan Wahyu dijalan dan memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'. Hani menepuk jidatnya pelan dan kembali memperbaiki ekspresi wajahnya.


"Bulan?" Tanya Hani lagi.


"Januari." Timpal Wahyu.


"Oo berarti tidak beda jauh." Hani lega karena ia tidak begitu tua dari Wahyu.


"Kamu sendiri?" Tanya Wahyu lagi penasaran.


"Aku bulan sepuluh. Kita beda dua bulan." Jawab Hani. "Jangan panggil aku kakak. Nama saja." Hani kembali menegaskan pada Wahyu. Wahyu tersinyum dengan tingkah Hani.


"Baiklah." Jawabnya.


***


Mereka tiba disebuah tempat. Disana biasa tempat HRD perusahaan merekrut karyawan. Hana berjalan mengikuti Wahyu. Ini bukan kali pertama Hani datang ke tempat ini. Sebelumnya Hanya juga pernah diajak oleh teman yang baru ia kenal juga.


"Duduk disini saja." Wahyu langsung bersila dilantai gedung itu dan mengeluarkan handphonenya. Hani mengikuti Wahyu juga mengeluarkan handphonenya. Tidak pembicaraan diantara keduanya. Hingga...


Kriiing kriiiing...


"Halo." Wahyu menjawab panggilan telepon.


Hani yang bersandar pada tiang yang sama dengan Wahyu samar-samar mendengar obrolan Wahyu.


"Kenapa harus pelan suaranya. Apa jangan-jangan kekasihnya yang menelepon?" Hani bergumam dan tanpa disadari ia tampak kesal dengan Wahyu. Saat dalam perjalanan tadi, Wahyu meminta Hani memegang hanpdhonenya. Hani penasaran membuka galeri handphone Wahyu dan melihat foto pria itu bersama perempuan. Begitu mesra. Perempuan itu menyandarkan kepalanya dibahu Wahyu, begitu juga Wahyu menyandarkan kepalanya dikepala perempuan tersebut. Lama Wahyu berbicara ditelepon kemudian mematikan teleponnya.


Hani masih tampak kesal. Ia cemburu. Padahal Wahyu bukanlah siapa-siapa dan Hani pun juga memiliki kekasih dikampung halamannya. Hani yang tak ingin berbicara dengan Wahyu sibuk mengotak-atik handphonenya. Tanpa ia sadari, sedari tadi Wahyu memandangi Hani dari belakang.