
"Kau gila! Kalau kau tidak mau membuka pintu ini aku akan buat orang lain membukanya dari luar. TOOL...." Belum sempat Hani berteriak meminta tolong, Wahyu sudah membungkam mulut Hani dengan bibirnya.
Hhmmpp...
Hhmmpp..
Hhmmpp..
Hani memberontak dari dekapan Wahyu. Memukul keras dada bidang pria itu agar ia mau melepaskan Hani.
"Apa yang kau lakukan?" Hani berhasil melepaskan ciuman Wahyu. Ia mengusap bibirnya kasar. "Kau benar-benar gila." Tak menjawab apapun, lagi-lagi Wahyu kembali mencium bibir Hani. Ia ******* bibir kekasihnya dengan sedikit kasar. Wahyu memutar tubuhnya dan juga Hani sehingga Hani berada didinding. Hani tidak bisa memberontak lagi, kedua tangan Hani disilang Wahyu kebelakang sehingga Hani tidak bisa bergerak. Hani memiringkan kepalanya kekiri kekanan, menghindari bibir Wahyu. Tapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga kekasihnya. Tangan Wahyu yang lainnya menahan tengkuk Hani.
Hani benar-benar pasrah. Jika memberontak lagi, Wahyu akan semakin mendesak dirinya. Wahyu tampak gusar dan kehilangan akal untuk meyakinkan Hani. Kini tak ada perlawanan sama sekali dari dirinya. Ciuman Wahyu perlahan berubah menjadi lebih lembut, tidak memaksa dan tidak menuntut sama sekali. Tangan Hani yang tadinya ditahan Wahyu kemudian dilepaskannya dan tangannya kini beralih memeluk pinggang Hani. Ia ******* bibir Hani, pelan-pelan berubah menjadi lumatan-lumatan yang memancing Hani untuk membalas pagutan dibibirnya. Hani mengalungkan kedua tangannya dileher Wahyu. Ia larut bersama suasana yang tercipta antara dirinya dengan kekasihnya.
Lama saling memagut, keduanya melepas ciuman mereka. Mengatur nafas yang mulai tersenggal.
"Aku sangat mencintaimu." Ucap Wahyu pelan ditelinga Hani. Hani tidak menjawab, Ia hanya membenamkan dirinya dalam pelukan Wahyu. Mempererat pelukannya seakan tak ingin lepas, tak ingin berpisah. "Han, kamu harus percaya padaku. Tak ada wanita lain. Hanya dirimu." Wahyu mengusap pelan puncak kepala Hani, sesekali menciuminya. Hani tak menjawab, wajahnya masih bersandar didada bidang Wahyu.
Wahyu mengangkat wajah Hani dengan menangkup kedua pipinya. Hani tiba-tiba tampak salah tingkah ditatap oleh Wahyu. Hani menatap ke segala arah, kecuali mata Wahyu. Wahyu menyadari sesuatu melihat tingkah kekasihnya.
"Han.." Suaranya tertahan sejenak. "Apa... ini ciuman... pertamamu?" Tanya Wahyu sambil menahan tawanya melihat Hani yang semakin salah tingkah.
"Hhmm." Hani hanya menjawab dengan anggukan.
Cup.. Wahyu mengecup bibir Hani
Cup.. Mengecupnya lagi.
Cup.. Dan mengecupnya lagi dengan sedikit lumatan ringan.
"Ini juga yang pertama untukku." Wahyu memberikan senyum terbaiknya pada kekasihnya, Hani Pradita.
***
Dikantor Hani 🍂
Hani tampak sibuk mengurus beberapa berkas laporan keuangan yang harus dilaporkannya hari ini. Sebenarnya tidak banyak, tapi Hani suka menumpuk pekerjaannya dengan niat nanti sekali ia kerjakan semuanya. Setelah semua laporan selesai dikerjakan Hani bergegas mengantar ke ruangan manager. Hani mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan manager. Diujung ruangan tampak seorang pria sibuk dengan komputer yang ada didepannya. Ia adalah Pialy, pria keturunan chinese dengan kaca mata lensanya yang membuat penampilannya semakin menawan. Pialy melipat kemeja nya hingga siku. Wanita mana pun akan tergoda dengan ketampanan Pialy. Tapi Pialy tetap profesional dalam bekerja, beberapa pegawai kadang menggoda dengan tingkah laku mereke, tapi tak dihiraukan Pialy.
"Pak, ini laporan mingguan saya." Kata Hani sambil menyodorkan beberapa berkas yang berada ditangannya. Pialy menatap Hani yang berdiri didepannya sesaat sebelum melihat laporan yang berada dimejanya.
"Baik pak. Saya permisi dulu." Hani melangkah keluar meninggalkan ruangan Pialy.
"Han, sampaikan pada yang lain malam ini kita akan dinner team. Saya yang traktir." Ucap Pialy yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Baik pak." Hani melangkah keluar menutup pintu ruangan.
***
Semua tim keuangan yang akan makan malam bersama tampak sibuk memesan makanan mereka masing-masing. Pialy memperhatikan Hani yang sedari tadi sibuk mengecek ponselnya. Hani mengirim pesan pada Wahyu untuk tidak menjemputnya pulang kerja hari ini karena mungkin ia akan pulang sedikit terlambat. Tapi Wahyu belum membaca pesannya, Hani khawatir Wahyu tidak membaca pesannya dan malah menjemput Hani ke perusahaan.
Setelah pesanan mereka datang, semunya fokus pada makanan masing-masing. Sesekali, beberapa diantara partner Hani bersenda gurau diantara mereka.
"Han... kenapa diam saja?" Tanya Deara sambil mendorong pelan tubuh Hani dengan bahunya.
"Nghh? Aku hanya terlalu fokus pada makananku." Jawab Hani kemudian fokus lagi pada makanannya.
"De... habis ini aku langsung balik ya. Ada perlu soalnya."
"Oh iya. Kamu hati-hati ya." Jawab Deara.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, Hani bangkit dari duduknya kemudian berpamitan untuk pergi duluan. Tak lama Hani pergi, Pialy ikut menyusul Hani tanpa Hani ketahui.
"Semuanya, saya pamit duluan. Pesanlah apa yang kalian inginkan. Saya akan bayar ke kasir." Pialy berjalan keluar restaurant menyusul Hani yang masih berdiri di pinggir jalan.
"Pulang dengan saya saja." Tawar Pialy pada Hani. "Disini susah cari taksi." Pialy mencoba meyakinkan Hani. Hani kembali mengecek ponselnya, karena tidak ada balasan dari Wahyu, ia menyetujui pulang dengan managernya tersebut.
***
"Terimakasih atas tumpangannya pak." Ucap Hani sesaat sebelum keluar dari mobil Pialy. Tapi Pialy menahan tangan Hani, dan tiba-tiba mencium bibir Hani.
"Apa yang anda lakukan?" Hani terkejut dengan sikap atasannya yang menurutnya sangat lancang.
"Saya menyukaimu Hani. Sejak pertama kamu bergabung dengan perusahaan. Saya pikir ini lah yang namanya cinta pada pandangan pertama." Pialy membuat pengakuan yang membuat Hani tak mampu berkata apa-apa.
"Sebenarnya sudah lama ingin saya katakan. Tapi selalu saja tidak ada kesempatan. Itulah sebabnya saya mengajak makan malam tim agar bisa bertemu denganmu."
"Maaf pak. Saya sudah memiliki kekasih." Hani bergegas turun dari mobil Pialy.