Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
Telling stories


Waktu menunjukkan pukul sepuluh. Wahyu berpamitan pada Hani untuk pulang karena sudah hampir larut malam. Hani menawarkan pada Wahyu untuk mengantarnya tapi Wahyu menolak. Akhirnya, Hani hanya mengantar Wahyu sampai depan rumah saja.


"Aku pulang ya." Ucap Wahyu yang dibalas anggukan oleh Hani. "Masuklah, nanti kamu kedinginan."


Hani menuruti perintah Wahyu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya tertahan ketika Wahyu menggenggam tangannya. Hani memutar kembali badannya.


"Ada apa?" Tanya Hani.


Wahyu menarik pelan Hani ke dalam pelukannya. Ia seakan tak rela untuk berpisah dengan wanita yang dicintainya. Wahyu semakin mempererat pelukannya ketika tidak ada penolakan dari Hani.


"Aku mecintaimu Han. Sangaat mencintaimu. Aku tak ingin kehilanganmu." Ucap Wahyu lirih ditelinga Hani.


"Terimakasih." Hani kemudian membalas pelukan Wahyu.


***


Hari ini adalah hari kedatangan Papa Hani untuk berkunjung ke Batam sekaligus untuk menjemput Ica dan Mumtaz. Sudah lima bulan Ica dan Mumtaz berada di Batam. Ada perasaan sedih dihati Hani karena akan berpisah dengan kedua keponakannya itu.


Ddrrttt...


Ddrrrtt...


Hani menatap layar ponselnya ternyata yang menelpon adalah Papa nya.


*Iya pa.


*Pesawat papa berangkat jam setengah 5 nanti. Siapa yang akan jemput papa ke bandara Han?


*Kak Denis pa.


*Oh baiklah. Sampaikan pada Denis untuk tidak terlambat menjemput papa.


*Iya pa.


Sambungan telepon pun terputus.


"Kak, bilang sama kak Denis pesawat papa berangkat jam setengah 5." Teriak Hani pada Puri yang berada dikamarnya.


"Iyaa." Jawab Puri singkat.


"Papa tidak ingin kak Denis terlambat." Sambung Hani.


"Iyaa iyaa."


***


Wahyu sedang bersiap-siap untuk pergi ke supermarket yang berada didekat gang perumahan. Seperti biasa, ia mengenakan pakaian santai dan celana jeans selutut. Ia merogoh saku celananya dan mencoba menghubungi seseorang.


*Apa kau sudah siap? Tanyanya saat telponnya sudah diangkat. 'Baiklah aku keluar sekarang. Jawab Wahyu lagi kemudian memutus sambungan teleponnya.


Diluar Bintang sedang menunggu Wahyu dari kamarnya. Ia berdiri santai sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket yang ia kenakan. Menendang-nendang pelan pasir dengan ujung sendalnya.


Klek...


Terdengar suara ganggang pintu dibuka.


"Ayo." Ajak Wahyu sambil mengunci pintu kamarnya. Ia melempar pandangan, melihat disekitarnya. "Mana motormu? Kita jalan?" Tanya Wahyu.


"Ada dirumah. Aku sedang malas berkendara atau kau yang bawa." Tawar Bintang.


Wahyu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kita jalan saja."


Sesampainya di supermarket Wahyu mencari barang yang dibutuhkannya, begitu pun dengan Bintang yang juga tampak sibuk berjalan kesana-kemari mencari apa yang dia butuhkan. Setelah selesai Wahyu menuju meja kasir dan membayar belanjaan. Wahyu mengitari pandangannya disekitar meja kasir dan melihat box pendingin yang isinya tentu saja ice cream. Wahyu tiba-tiba teringat pada Hani, ia memilih beberapa ice dengan aneka varian rasa. Setelah itu kembali ke meja kasir untuk membayarnya.


"Kenapa banyak sekali?" Tatap Bintang pada Wahyu. "Kau akan memakan semuanya? Sendiri?" Tanyanya heran dan coba memastikan.


Wahyu menyeringai mendengar pertanyaan Bintang. "Bukan untukku." Jawabnya.


"Lalu."


"Hani." Jawab Wahyu kemudian tersenyum. "Kau mau?" Tanya Wahyu menawarkan ice ditangannya pada Bintang


Bintang menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya, pertanda ia tak mau. Raut wajah Bintang tiba-tiba berubah mendengar nama Hani. Tapi ia mencoba bersikap biasa seolah tidak ada apa-apa. Setelah selesai dengan transaksi, mereka berjalan keluar meninggalkan supermarket.


"Kita antar ke Hani dulu." Ajak Wahyu sambil mengangkat kantong plastik berisi es.


"Terserah kau saja."


***


Hani tampak sibuk bermain dengan keponakannya. Suasana semakin ramai karena papa juga sudah sampai setengah jam lalu.


"Ini." Wahyu menyodorkan kantong ice cream pada Hani.


"Apa ini?" Tanya Hani ragu sambil melihat isi kantong.


"Nanti saja buka didalam." Suruh Wahyu.


"Baiklah. Tapi kamu darimana?"


"Aku dari supermarket bersama Bintang." Jawab Wahyu sambil mengarahkan tunjuknya pada Bintang. Hani tak menyadari keberadaan Bintang karena tertutup oleh Wahyu yang berada didepannya. Hani menyapa Bintang namun hanya dibalas dengan senyuman tipis seolah enggan untuk menjawab sapaan Hani.


"Apa papamu sudah datang?" Tabya Wahyu sambil melihat ke dalam rumah.


"Sudah, setengah jam yang lalu. Apa.. k-kau ingin masuk dulu?" Tanya Hani ragu-ragu namun tak berharap Wahyu menerima tawarannya.


"Eh ada Wahyu, Bintang, masuk dulu mampir." Tiba-tiba kak Denis sudah berdiri di pintu dan menawarkan pada mereka untuk masuk.


Wahyu melihat Hani tampak gugup dan tidak nyaman dengan situasi yang sedang terjadi. "Tidak usah kak. Terimakasih. Kami terburu-buru. Balik dulu kak." Pamit Wahyu pada Denis.


"Aku balik ya." Ucap Wahyu pada Hani.


"Hmm." Hani mengangguk.


Ia menatap punggung Wahyu yang mulai tampak samar dan kemudian menghilang.


'Maafkan aku.' Ucap Hani lirih


***


Hari ini Hani tidak bekerja, ia meminta cuti dari kantor. Bukan karena sakit atau apa. Ia hanya malas untik berangkat kerja. Sedangkan Wahyu tetap berangkat kerja seperti biasa, meski hari ini ia harus berangkat sendiri.


***


Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Ini adalah jam pulang kerja. Wahyu juga pasti dalam perjalananan pulang, pikir Hani. Hani kemudian mengambil


*Bisa kita bertemu? Aku ingin bicara denganmu. Berdua.' Hani mengirim pesan singkat pada Wahyu.


*Bertemu dimana?


*Terserah saja.


*Ditaman saja. Aku dalam perjalanan pulang. Aku mandi dulu setelah itu menjemputmu. Bersiaplah.


*Tidak. Aku akan kesana sendiri. Kabari saja jika kau akan berangkat.


Kurang lebih satu jam Hani menunggu, akhirnya Wahyu memberi kabar dia akan segera berangkat. Setelah membaca pesan dari Wahyu, Hani bangkit dari tidurnya, mengucir rambut kemudian mengambil jaket dan bergegas pergi. Hani tak peduli dengan penampilannya yang penting nyaman ia kenakan. Ia masih terlihat cantik meski hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong berwarna kuning. Lebih lucunya, Hani hanya mengenakan sendal jepit. Jaket yang tadi di ambilnya dipakai acak-acakan.


Hani bergegas keluar rumah, langkahnya terhenti ketika Puri datang.


"Mau kemana?" Tanya puri heran melihat Hani yang tergesa-gesa.


"Ke taman kak. Ada janji sama teman. Aku tidak akan lama." Hani berlari kecil seraya melambaikan tangan meninggalkan Puri yang masih terlihat kebingungan.


***


Hani mengitari pandangan ke seluruh area taman mencari keberadaan Wahyu.


"Han." Wahyu melambaikan tangan pada Hani. Segera Hani menyusulnya dengan berlari kecil.


"Kenapa nafasmu tersenggal-senggal?"


"Aku..hhh... berlari kesini." Jawab Hani mencoba menetralisir nafasnya.


"Sudah ku bilang tadi aku akan menjemput tapi kamu tidak mau." Wahyu meneguk coca-cola yang ada ditangannya.


"Kau tak akan memberiku minuman?" Tanya Hani menatap Wahyu sinis. Bukannya menawarkan Hani, tapi Wahyu malam minum sendiri.


Wahyu menatap kaleng coca-cola ditangannya. "Aku hanya punya satu. A-apa kau mau minum ini?" Kemudian menyodorkan pada Hani dengan sedikit ragu-ragu. Tanpa pikir panjang Hani mengambil alih dari tangan Wahyu dan meneguknya sampai habis.


"Terimakasih." Hani mengembalikan kaleng kosong pada Wahyu. Wahyu tersenyum geli melihat tingkah wanita yang ada didepannya..


.


.


.


.


~♥~ Bersambung ~♥~