
Di sebuah caffe, Dion dan Hani sedang menikmati makan siang.
"Apa kau sungguh tak ingin menerbitkan novel mu ini?" Dion sang editor pribadi novel Hani masih berusaha meyakinkan Hani untuk menerbitkan karyanya.
"Kau baca saja lalu katakan padaku bagian mana yang tidak tepat?" Hani sibuk dengan makanan yang ada didepannya.
"Lalu untuk apa kau melakukan pengeditan jika tak ingin diterbitkan?"
"Jika tak ingin membantu ku lagi katakan saja." Hani menarik laptopnya yang berada dihadapan Dion, namun dengan cepat Dion menahannya.
Dion menghela nafas pelan. "Oke oke." Memberi isyarat dengan tangannya agar Hani berhenti menarik laptopnya.
Dion membaca tulisan Hani dengan seksama, memperbaiki beberapa kata atau kalimat yang salah. Sesekali ia meneguk coffe latte yang berada disamping laptop. Sedangkan Hani sibuk menghabiskan makan siangnya. Sesekali Dion melirik Hani. Ia merasa tulisan Hani adalah pengalaman hidup dari penulisnya sendiri.
'Apa aku harus bertanya lagi padanya?' Batin Dion pada dirinya sendiri. Sesungguhnya Dion ingin tau Hani menulis berdasarkan imajinasinya atau kisahnya sendiri. Setiap menanyakannya pada Hani, ia selalu mendapatkan jawaban yang sama. Terserah bagaimana kau ingin menilai. Itulah jawaban Hani. Tapi entah mengapa setiap kali membacanya Dion merasa seperti itu adalah sebuah kenyataan. Ya. Perjalanan hidup sang penulis.
"Han apa kau ingat bagaimana pertama kali kita bertemu disini?" Tanya Dion pada Hani.
"Apa aku harus mengingatnya?"
"Hei! Apa kau tidak bisa sekali saja membuat ku senang. Setidaknya kau jawab saja ingat walaupun sebenarnya kau tidak ingat!"
Hani tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya melihat Diob yang sedang merajuk. Tentu saja Hani ingat, tapi ia lebih baik tak menjawabnya karena Dion akan bercerita tentang masa-masa itu panjang lebar. Hani menatap Dion dan teringat bagaimana kali pertama mereka mulai bicara.
Caffe yang mereka kunjungi hari ini, adalah caffe yang sama saat mereka pertama kali saling menyapa. Saat itu Hani sedang asik menulis dilaptopnya. Tanpa sengaja Dion melihat Hani kemudian memberanikan diri untuk menyapa Hani duluan.
Flashback On 🍃
Dion mendekati meja Hani yang berada disudut ruangan cafe.
"Hai. Apa boleh duduk disini?" Tanya Dion sedikit ragu.
Dibalas anggukan, Dion kemudian duduk didepan Hani. Akan tetapi, Hani tak menghiraukan keberadaan Dion.
"Perkenalkan aku Dion."
"Aku tau." Jawab Hani singkat tanpa menatap balik pada Dion.
"Apa kau sedang menulis?" Tanya Dion. "Bukankah kau staff acounting?" Namun Hani tak menjawab apapun dari pertanyaan Dion.
"Aku bisa membantu jika kau butuh bantuan." Jari-jari Hani berhenti bergerak diatas keyboard mendengar tawaran dari Dion.
"Kau yakin?"
"Tentu saja." Jawab Dion sambil tersenyum pada Hani.
"Kalau begitu baca ini dan koreksi bagian mana yang salah." Hani memutar laptopnya kemudian menyodorkan pada Dion.
Flashback Off 🍃
Dion memasuki ruangan editor sambil melambaikan tangan pada Hani yang juga menuju ruangannya. Ruang kerja Hani berada dilantai tiga gedung Jennie Publisher. Ruangan yang dicat dengan abu muda tersebut tampak elegan dihiasi dengan sofa dan rak buku disudut ruangan.
Bila waktu senggang, Hani akan mengisi waktu luangnya dengan membaca novel atau meneruskan menulis karya tersembunyinya.
Beberapa kali Hani teringat ucapan Dion untuk menerbitkan karyanya. Tapi, bagi Hani tentu saja itu tidak mungkin.
Tiga tahun berlalu, bagaimana kabarnya? Hani tak ingin tau sama sekali, karena takut mungkin saja hatinya akan terluka kembali. Ia tidak tau bahwa akan sesulit itu setelah berpisah dengan Wahyu. Akan tetapi, Hani mencoba menikmati setiap rasa yang singgah dihatinya. Semuanya. Baik itu sakit sedih bahagia luka. Namun, yang pasti. Satu rasa tak ingin pergi dari hatinya betapa pun kerasnya Hani mencoba untuk mengusir rasa tersebut, tapi ia tak pernah pergi. Yaitu cinta yang diselimuti benci yang bertubi-tubi.
***
Hani memasuki gudang berisi kertas-kertas kosong yang akan digunakan untuk percetakan novel nantinya. Hani mengitari seluruh ruang di gudang tersebut. Beberapa buku yang sudah dicetak terlihat bertumpuk di beberapa tempat. Aroma kertas tercium dimana-dimana. Hani tertarik untuk mengambil sebuah buku dengan sampul berwarna biru muda, dihiasi dengan beberapa awan. Hal yang disukai Hani, yaitu langit. Hani mulai membuka buku tersebut, dan membaca prolognya.
Sedangkan Dion menemui pemilik perusahaan percetakan untuk membahas berapa banyak buku yang akan dicetak pada tahap pertama.
Dion dan Hani merupakan satu paket lengkap di Jennie Publisher. Ide cemerlang keduanya membantu dalam penerbitan buku-buku yang banyak diminati baik kalangan remaja maupun orang dewasa. Meski menjabat sebagai staff acounting, beberapa editor lainnya juga menanyakan bagaimana pendapat Hani tentang beberapa buku yang mereka sunting.
.
.
.
"Terimakasih. Jika setengah dari jumlah cetakan sudah selesai, anda bisa menghubungi Jennie Publiser." Pinta Dion.
"Baiklah."
Dari arah belakang Hani terdengar suara Dion sedang berbicara dengan seseorang. Langkah kaki mereka semakin mendekat ke tempat Hani berada.
"Perkenalkan ini staff acounting perusahaan kami, sebentar lagi ia akan menjabat sebagai direktur keuangan Jennie Publisher, Hani Pradita." Hani menutup buku yang tadinya ia baca kemudian membalikkan tubuhnya menghadap dua orang dibelakangnya.
Pria disamping Dion terdiam kaku melihat wanita yang tepat berada didepannya.
Buukkkkk..
Buku yang berada ditangan Hani terlepas dari genggamannya dan terjatuh kelantai. Betapa sangat terkejutnya ia melihat pria yang berdiri didepannya. Seluruh tubuh Hani dingin terasa kaku.
Dion berjalan mendekati Hani, memunguti buku yang dijatuhkannya. "Han." Dion melambaikan tangannya ke depan wajah Hani yang masih terpaku menatap pria didepannya.
'Bagaimana mungkin? Apa ini kebetulan? Atau apa ini takdir. K-kenapa? Ya Tuhan apa ini?' Batin Hani pada dirinya sendiri.
'Kau tau rasanya? Itu seperti luka lamamu disayat kembali, kemudian disirami air garam. Terasa nyeri ke setiap bagian tubuhmu. Apa yang sebenarnya Tuhan rencanakan untukku? Dadanya terasa sangat sesak. Bagaimana bisa ini terjadi? Sekarang dia tepat berada didepanku. Pria ini... dia yang meninggalkan luka paling mendalam dihatiku. Bagaimana bisa kami bertemu kembali?'
Ya. Hani sedang berada pada kenyataan bahwa saat ini ia dipertemukan kembali dengan...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wahyu Rohani
~♥~ Bersambung ~♥~