
Wahyu datang dengan membawa beberapa kantong buah-buahan ditangannya. Ia segera masuk ke rumah kemudian memberikan isyarat pada Hani untuk mengambil kantong yang ada ditangannya. Hani berlari kecil dan mengambil kantong buah dari tangan Wahyu. Pria itu menggenggam tangan Hani, sejenak menahan Hani. Hani terbelalak melihat apa yang dilakukan Wahyu, ia takut orang lain akan melihat. Dilihatnya ternyata kak Denis masih sibuk bermain dengan anak-anak, sehingga tidak menyadari apa yang sedang terjadi diantara mereka berdua. "Lepaskan! Perintah Hani dengan sangat lirih agar tidak ada orang lain yang mendengarnya. Hani membelalakkan matanya pada Wahyu agar ia segera melepaskan genggaman tangannya. Wahyu tertawa cekikikan sembari melepaskan genggamannya. Kemudian Hani kembali ke dapur untuk mencuci buah-buahan yang dibawakan Wahyu dan meletakkannya didalam keranjang buah.
Puri memanggil semua anggota keluarga untuk menuju meja makan. Hani yang sudah duluan duduk kemudian disusul Wahyu yang duduk disampingnya.
"Kenapa kamu duduk disini?" Tanya Hani heran.
"Kenapa? Tidak boleh?" Wahyu malah bersikap santai seakan tidak terjadi apa-apa. Ia malah pura-pura menyibukkan diri dengan mengobrol dengan kak Denis. Hani hanya bisa mendengus pelan, tak ingin berdebat dengan pria disampingnya. Justru jika ia mengusir Wahyu duduk dari sampingnya sekarang malah akan menimbulkan kecurigaan oleh kak Denis dan juga kak Puri.
"Han.. ambilkan aku sayurnya." Pinta Wahyu pada Hani.
Hani mulai kesal dengan sikap Wahyu yang sedari tadi selalu mengganggunya. 'Apa tangannya tak sampai mengambil piring sayur itu? Gumam Hani. "Ambil saja sendiri. Aku rasa tanganmu cukup panjang untuk menjangkaunya." Jawab Hani.
"Ambilkan saja kenapa Han?" Protes kak Puri. Lagi-lagi Hanaiharus mengalah. Tanpa jawaban apapun Hani mengambil piring sayur dan menuangkan dengan porsi yang berlebih untuk Wahyu. 'Rasakan! Gumam Hani didalam hatinya.
Wahyu melongo dengan apa yang dilakukan Hani, tapi Hani terlihat santai. Bahkan malah tersenyum licik pada Wahyu kemudian mempersilahkan Wahyu menyantap makanan yang ada didepannya. Hani kembali melanjutkan makannya. 'Makanya jangan menggodaku. Rasakan akibatnya! Gumam Hani merasa puas membalas Wahyu.
"Apa pekerjaanmu lancar Han?" Tanya Puri.
"Lancar kak." Jawab Hani tetap melanjutkan makannya.
Puri sekarang beralih menatap Wahyu. "Bagaimana denganmu Wahyu?" Tanya puri lagi.
"Lancar juga kak?" Jawab Wahyu santai.
"Baguslah." Jawab Puri singkat.
"Hanni... suapin." Rengek Ica yang sudah berada didekat Hani. "Ica mau duduk disini." Sambil menunjuk kursi yang sedang diduduki Wahyu.
"Oo Ica mau duduk disini? Sini pangku sama om aja." Wahyu memberi isyarat dengan menepuk pelan pahanya. Ica hanya menurut kemudian duduk dipangkuan Wahyu. Hani kemudian menyuapi Ica, sedangkan Wahyu tetap melanjutkan makannya sembari memangku Ica. Setelah selesai makan, Ica beranjak dari pangkuan Wahyu kemudian pergi nonton tv bersama Kayla. Sedangkan Hani kembali melanjutkan makannya yang tadi tertunda karena menyuapi Ica.
Setelah semua selesai makan, Puri membersihkan meja makan. Hani mendapat bagian mencuci piring.
"Mau ku bantu?"
"Astaga! Kamu mengagetkanku." Tiba-tiba Wahyu sudah berdiri dibelakang Hani.
"Tidah usah aku bisa sendiri. Kamu kedepan saja." Jawab Hani.
"Baiklah." Hani sekilas menatap punggung Wahyu yang pergi berlalu.
***
Hani dan Wahyu duduk santai diteras rumah.
Sedangkan Denis dan Puri mengajak anak-anak bermain ditaman dekat perumahan. Hani tampak sibuk mengupas buah yang dibawa oleh Wahyu.
"Aaa." Wahyu membuka mulutnya meminta Hani menyuapi buah yang sudah dikupas.
"Ambil saja sendiri." Jawab Hani. Wahyu semakin gemas melihat sikap Hani yang kadang sangat pendiam namun juga bisa bersikap dingin.
Wahyu menatap Hani lama tanpa disadari oleh Hani. "Han." Panggil Wahyu.
"Bagaimana perasaanmu padaku saat ini?" Wahyu terdiam sejenak kemudian melanjutkan kembali perkataanya. "Apa kau... sudah mulai mencintaiku?" Tanya Wahyu ragu-ragu.
"Hukk hukk hukk." Hani tersedak mendengar ucapan Wahyu. Wahyu menyodorkan air pada Hani yang kemudian langsung diminumnya.
"Apa pertanyaanku sebegitu mengejutkanmu sampai kamu tersedak?" Tanya Wahyu lagi. "Jangan paksa menjawabnya jika kamu tak ingin." Wahyu tersenyum getir pada Hani. Ia sadar tak mungkin bisa dalam waktu secepat ini untuk Hani bisa menerima dirinya.
Hani merasa bersalah setelah melihat raut wajah Wahyu yang berubah menjadi memelas.
'Aku nyaman berada didekatmu. Tapi.. aku tidak tahu apakah ini cinta atau bukan. Jika saat ini ku katakan aku mencintaimu, bagaimana jika besok tiba-tiba hatiku berubah? Aku tak ingin kau terluka'
Aku meletakkan pisau yang sedari tadi ku pegang. Tatapanku beralih pada pria yang saat ini ada didepanku. Apa yang harus ku jawab atas pertanyaannya? Apa yang harus ku katakan agar hatinya tak terluka.
"Wahyu." Panggilku pelan, kemudian dia menatap lekat padaku. Hani memberi jeda untuk perkataannya selanjutnya. "Jika kamu ingin sesegera mungkin untuk ku mencintaimu, ku rasa aku tak bisa memberikan kesanggupan untuk itu."
"Kenapa?" Tanya Wahyu.
"Aku butuh waktu. Jujur saja, sebelum kau katakan kau suka padaku. Aku sudah lebih dahulu mengakhiri hubunganku dengannya. Kemarin, ku pikir lebih baik aku sendiri dulu. Aku tak ingin terluka lagi oleh yang namanya cinta. Tapi.. kemarin tiba-tiba aku katakan kau menyukaiku. Aku bahkan tak memberontak saat kau...memelukku. Aku sudah melanggar prinsipku sendiri untuk tidak menjalin hubungan dengan siapa-siapa lagi."
"Apa kamu tidak percaya padaku?" Wahyu melangkah mendekati Hani. Ia duduk bersimpuh didepan Hani.
"B-bukan aku tak percaya padamu. Aku hanya tak ingin terlalu bermudah-mudah masalah perasaan." Hani menatap lekat Wahyu yang sudah duduk didepannya.
Wahyu tak menjawab, dia hanya tertunduk seakan pasrah tapi tak rela dengan ucapan Hani. Ia juga tak bisa memaksakan keinginannya, tapi disisi lain Wahyu tak ingin kehilangan Hani. Baginya, Hani satu-satunya wanita yang dia inginkan saat ini, esok dan selamanya.
Hani meraih tangan Wahyu kemudian menggenggamnya. "Angkatlah kepalamu! Kau tak berhak berlutut seperti ini padaku."
Hatiku terasa begitu sakit, bukankah saat ini, pilihan yang tepat adalah aku tak perlu mempercayainya dengan cepat? Tapi kenapa hatiku juga terluka melihatnya seperti ini.
Hani mendekap wajah Wahyu. Menuntun untuk juga menatapnya. Wahyu juga menggenggam tangan Hani yang masih mendekap di pipinya.
"Aku tau kau laki-laki yang baik." Hani sejenak menghentikan ucapannya.
"Aku juga akan mencoba yang terbaik agar hatiku bisa mencintaimu."
Mendengar ucapan Hani, seketika wajah Wahyu kembali bersinar. "Aku akan menunggumu Han."
.
.
.
.
.
.
~♥~ Bersambung ~♥~