
Hani yang paling terakhir naik. Saat Hani hendak memanjat, tiba-tiba pria yang tadi berada didepan Hani sudah berada diatas mengulurkan tangannya. Tetapi dibelakangnya ada pak De yang juga mengulurkan tangan ingin membantu Hani naik. Sejenak Hani menatap kedua tangan tersebut. Hani memilih uluran tangan pak De yang lebih dekat tanpa menatap pria tersebut. Melihat reaksi Hani, ia kemudian menarik kembali tangannya.
"Terimakasih pak De." Hani berjalan dibelakang pak De.
"Iya sama-sama." Jawab pak De singkat.
"Bunda.. Akbar naik becak sama pak De ya." Akbar menaiki becak tersebut dibantu oleh mas-mas yang berambut gondrong. Semua teman Denis sudah menaiki becak dan telah pergi berlalu. Hani mengendarai sepeda motornya dengan santai. Hujan mulai turun. Gerimis... Kemudian turun semakin deras. Hani melihat dari kejauhan becak yang dinaiki oleh Akbar berhenti. Hani semakin dekat kearah tempat mereka berhenti. Terlihat mereka tertawa. Entah apa yang lucu.
"Pur.. mana suamimu. Ini Akbar bawa pulang dulu." Kata pak De sambil menunjuk ke arah Akbar. "Kami mau mampir sebentar ke tempat lain. Nanti Akbar sakit hujan-hujan. Bawa pulang duluan." Celoteh pak De.
Hani mengurangi kecepatan motornya untuk memberi Puri kesempatan menjawab pertanyaan pak De. "Ada pak De, dibelakang!" Jawab Puri kemudian pergi berlalu.
Sesampainya dirumah, semuanya sudah basah. Puri mengganti lagi baju anak-anaknya. Sedangkan Hani langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Keesokan harinya.
.
.
"Han.."
Tok tok tok..
Puri mengetuk pintu kamar Hani.
"Ya kak. Kenapa." Jawab Hani sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Jalan-jalan yuk. Keliling komplek aja." Ajak Puri.
"Hai Han." Sapaan seseorang membuat Hani mencari sumber suara tersebut. Matanya berhenti pada pria yang sedang berdiri didepan pagar rumahnya sambil menopang dagu. "Kak Pur." Sapanya kemudian. Hani yang kebingungan tidak menjawab, hanya memgangguk pelan.
"Siapa itu kak." Tanya Hani pada Puri.
"Itu namanya Bintang. Dia adik kandungnya dari mantu pak De." Jawab Puri.
"Ooo.. " Jawab Hani singkat. Ia kemudian terbayang kembali pria yang kemarin memberi jabatan untuk membantunya naik. "Mana yaa dia. Rumahnya yang mana." Gumam Hani sambil melihat ke kiri dan kanan. Hani masih mencari berharap bertemu dengan pria itu. Hani bahkan belum tau namanya. Tiba-tiba mata Hani terhenti pada dua orang pria yang sedang asik. Salah satunya memangkas rambut, yang lainnya duduk karena rambutnya sedang dipangkas. Lebihnya lagi ternyata yang sedang dipangkas adalah pria yang Hani cari. Pria itu tampak tersenyum saat masih sedang berbicara. Ia menyadari Hani yang lewat, kemudian sejenak pandangan mereka bertemu. Hani yang melihat pria tersebut bertelanjang dada langsung mengalihkan pandangannya. Hani tersipu malu kemudian tersenyum tipis. Ia tidak ingin bersuara yang akan memancing perhatian Puri.
***
Hani kembali masuk ke kamarnya setelah jalan-jalan dengan Puri. Tampak Denis yang sedang asik menonton tv dengan anak-anak.
"Han.. Ada lowongan kerja ini d PT Z. Coba melamar kesana." Denis masih sibuk melihat handphonenya. "Kalau tidak tau jalan nanti berangkat nya sama Wahyu saja. Kemaren kakak sudah bilang sama dia, katanya dia mau menemani. Kebetulan dia juga tidak punya motor." Jelas Denis lagi.
"Wahyu siapa kak." Tanya Hani heran.
"Itu yang kemarin pergi ke pantai sama kita." Puri menyela pembicaraan mereka. "Dia beberapa hari yang lewat juga main kesini. Kamu sedang tidur."
"Ah.. Aku tidak kenal. Tidak mau." Hani langsung membantah kakaknya.
"Dia baik kok Han." Denis mencoba meyakinkan Hana. Ia tahu adik iparnya tidak mudah bergaul dengan orang baru, apalagi disini Hani masih baru. Tapi, karena Denis tahu Wahyu adalah anak yang baik-baik makanya menyarankan Hani untuk pergia dengan Wahyu saja.
"Tapi aku tidak kenal sama dia kak. Tau orangnya saja tidak." Hani lagi-lagi membantah iparnya.
"Makanya kenalan dulu. Kamu ingat tidak waktu kita kepantai kemarin. Dia juga ikut." Puri mencoba mengenali Wahyu pada Hani.
"Yang mana sih kak." Tanya Hana penasaran.
"Diantara orang-orang kemaren dia yang paling tinggi, putih ganteng juga." Puri menjelaskan sambil senyum-senyum. Hani yang terlihat mulai penasaran membayangkan pria yang dilihatnya tadi sore. "Apa mungkin dia?" Hani bertanya pada dirinya sendiri.