Hello And Good Bye!

Hello And Good Bye!
I like You


.


.


.


"Haan." Wahyu memecah keheningan antara kami. Sudah begitu lama ku rasa keheningan ini tercipta. Sekeliling kami ramai dan begitu berisik, namun diantara kami hanya ada keheningan.


"Hmmm.." Gumamku tanpa menoleh padanya. Aku sadar saat ini dia sedang menatapku dan aku tidak ingin menatapnya.


"Apa aku salah?" Kurasakan suaranya mulai melemah.


"Apa maksudmu?" Aku membalas tatapannya. "Langsung pada inti yang ingin kamu katakan agar aku paham." Aku masih menatapnya mencoba mencari tahu apa yang ingin dia katakan.


"Aku.. Aku tak tahu harus memulainya darimana untuk mengatakan padamu." Dia sejenak memalingkan wajahnya dariku, kemudian menatapku kembali. "Aku.. menyukaimu, Han." Huk huk huk.. Wahyu memukul pelan punggungku. "Kamu tidak apa-apa." Apa aku tidak salah dengar? Apa ini nyata? Bagaimana bisa.. dia? Aku berjalan menuju parkiran, meninggalkannya begitu saja. Aku pikir ini adalah mimpi dan dia sedang mengigau. Tapi, tiba-tiba langkah ku terhenti saat aku rasakan seseorang memegang tanganku. Aku tau itu dia. Aku tak menyukainya, aku tak menyukainya. Ku tegaskan berkali-kali kalimat itu didalam otakku.


"Mau apa lagi? Lepaskan tanganku." Aku mencoba menarik tanganku, namun cengkramannya lebih kuat. "Kenapa kau bisa berkata seperti itu saat kau sudah memiliki kekasih? Belum cukup untukmu kejadian pagi ini? Apa kau ingin aku dipermalukan lagi?" Entah keberanian darimana ku dapat hingga mulutku mengatakan semua yang tertahan tanpa aku bisa mengontrolnya sedikit saja. "Andai kau tau bagaimana aku melalui hari ini, mungkin kau tak akan memiliki keberanian untuk menemuimu. Aku tau ini bukan salahmu. Itu sebabnya aku mencoba untuk tetap tenang sedari tadi. Tapi kau merusak semuanya." Buliran air dari mata ku mengalir begitu saja. Aku sangat marah tapi kenapa aku malah menangis seperti ini.


"Aku tau ini tak masuk akal bagimu. Aku pun juga tak bisa menyangka kenapa aku bisa menyukaimu." Ku rasakan cengkramannya ditanganku mulai melemah. "Yang aku tau hanyalah aku nyaman saat kau ada didekatku?"


"Kau gila."


"Aku tau kau juga menyukaiku. Jujurlah padaku Han!" Aku hanya berdiri kaku tanpa bisa menjawab ucapannya. Aku tak tahu pasti bagaimana perasaanku padanya. Aku hanya takut terluka lagi.. dan lagi. "Aku tak peduli kau memiliki kekasih disana dan kau jangan pedulikan keberadaan Sinta. Setelah ini aku akan mengatasinya." Wahyu mencoba meyakinkanku. Aku benar-benar tak mampu berucap lagi. Aku tak bisa mengendalikan diriku, saat dia menarikku pelan dalam pelukannya. Tanpa ku sadari air mata ku kembali mengalir. Aku tak membalas perlakuannya padaku, tapi aku juga tak ingin melepaskan pelukannya. Biarkan saja seperti ini, beberapa saat saja, pintaku dalam hati. Aku membiarkan tubuhku terbenam dalam pelukannya. Begitu hangat dan nyaman. Beban ku seperti terangkat semua. Seketika aku seperti menemukan ruang baru dalam hidupku, yaitu dekapannya.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanyaku lirih. Ia tak melepas pelukannya, seakan-akan tau bahwa aku juga ingin. "Jangan pikirkan apa-apa. Aku akan mengurusnya." Wahyu mengusap dan menepuk pelan punggungku kemudian melepas pelukannya, menatapku dan.. mencium keningku. "Tak kan ada lagi yang akan menyakitimu." Aku hanya bisa tersenyum. Aku sungguh belum percaya dengan apa yang terjadi padaku saat ini. Baru kemarin aku putus dengan Ryan, belum 24 jam aku sudah memiliki hubungan baru dengan pria yang baru aku kenal atau bisa ku sebut orang asing.


Kami berjalan pulang sambil bergandeng tangan. Kadang saling memandang dan saling melempar senyum. Aku tak peduli lagi jika aku akan dikatakan murahan oleh orang lain. Saat ini aku hanya ingin melakukan apa yang ingin hatiku lakukan. Aku tak akan membiarkan diriku terluka lagi. "Biarkan saja berjuta kata terangkai dalam benakku yang masih tak berani menampakkannya di depanmu. Namun tanpa kusadari ternyata pikiranku telah jauh menguasai hingga saat ini aku memilikimu.


Aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga ingin didekatnya. Seperti saat ini. Akankah ini bisa bertahan lama atau sesaat saja? Apa dengannya ku temukan kebahagiaku atau malah aku menoreh luka baru. Entahlah aku juga tidak tau. Biarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.


***


Hana menjalani hari-hari seperti biasa, berangkat kerja bersama dan juga pulang dengan Wahyu. Tidak ada yang berubah meski Sinta berkali-kali mengancam Hana untuk menjauhi Wahyu. Tapi Hana tak menghiraukan apapun yang dikatakan Sinta. Meski Wahyu sudah memutuskan hubungan dengannya, tampaknya Sinta tak mau berhenti sama sekali. Wahyu juga tak mau kalah, ia selalu meyakinkan Hana bahwa Hana lah satu-satunya perempuan yang saat ini ada dihidupnya. Hanya saja, Hana meminta pada Wahyu untuk tidak memberitahukan dahulu hubungan mereka pada siapapun, termasuk pada kakaknya. Hana tak ingin terburu-buru untuk memberitahukan hubungannya pada siapapun yang ada disekitarnya.


***


Didapur, Hana sedang membantu Puri menyiapkan makan malam. Sedangkan Denis sibuk bermain bersama Ica, Mumtaz, Akbar dan juga Kayla. Puri mulai menyusun hidangan makan malam diikuti Hani dibelakangnya.


"Han.. Ajak si Wahyu makan disini! Suruh kak Puri padaku seraya menyusun piring makan kami.


"Yaa kan kamu selalu diantar jemput sama dia. Hitung-hitung terimakasih. Jelas kak Puri padaku. Aku sedikit ragu tapi kemudian memberanikan diri untuk menghubunginya. Aku pergi ke kamar mencari ponselku. Sepuluh panggilan tak terjawab, tak lain dari Wahyu. Ternyata dari tadi dia sudah menelponku. Ini adalah kali ke sekian Wahyu seperti ini. Dia sering menelpon dan aku sangat suka dengan tingkahnya.


Tuut..


Tuut..


Tuut..


"Ya Han.


"Maaf tadi aku sedang membantu kak Puri. Jelasku padanya.


"Iyaa tidak masalah. Apa sekarang kamu masih sibuk?


"Tidak terlalu, hanya saja aku akan makan malam.


"Oh baiklah. Kalau begitu lanj...


"Kak Puri menyuruhmu datang ke rumah untuk makan bersama kami. Aku memotong pembicaraannya sebelum dia selesai. Lama tak ku dengar jawabannya, akhirnya Wahyu menyetujuinya. Dia harus bersiap dulu dan sepuluh menit lagi akan sampai katanya.


Jika ditanya aku bahagia atau tidak?


Tentu saja aku bahagia.


.


.


.


.


.


~♥~ Bersambung ~♥~