
LONA POV.
Ketika keterpurukan dahulu menggerogoti rongga kehidupanku, lantas saat ini puing-puing sisa nya masih menempel jelas di benak ku.
Aku hanya ingin bertanya kepada semua orang di dunia ini, apakah kalian pernah berada di dalam fase ingin terjun saja dalam kegelapan mengikuti jejak orang tua yang sepantasnya mengajarkan kita kebaikan. Tapi, aku tidak akan mau menjadi seperti dirinya, iya dirinya sosok yang sepantasnya menjadi pedoman ku malah ingin memasukkan diriku ke dunia kelam.
Dulu, semasa aku baru meranjak sekolah menengah pertama. Dia selalu mengatakan bahwa aku ini adalah dia semasa muda. Awalnya aku bangga bisa seperti dia tapi setelah kejadian dimana malam itu dia membawa seorang pria datang ke rumah kami lalu aku bertanya kepada nya.
Siapa orang itu? Apakah dia ayah ku?
Namun hanya gelengan yang aku dapatkan. Beberapa malam setelah nya, dia membawa orang berbeda ke rumah kami. Aku sempat kesal melihat semua itu, ya benar. Pada saat itu aku sama sekali tidak tau apa yang Dia lakukan dengan beberapa orang pria berbeda setiap malam nya.
Aku berusaha tuli saat mendengar beberapa suara yang aku tidak mengerti dengan jelas apa itu dan bagaimana bisa. Lalu aku mulai beranjak ke kelas akhir di sekolah ku. Setiap harinya aku sama sekali tidak mendapatkan seorang teman karena sikap ku yang begitu dingin ini.
Bahkan ada seorang gadis ingin berteman dengan ku, tetapi teman-teman yang lain mengatakan
Jangan mau berteman dengan anak *******
Aku hanya bisa memejamkan mataku dan menahan diri agar tidak mendapatkan masalah apapun selama aku bisa menimba ilmu disini. Sejak saat itu, aku tau kenapa mereka menjauhi aku dan kenapa Dia selalu membawa orang-orang berbeda setiap malam nya ke rumah kami.
"Mba Lona." Aku terkejut mendapatkan panggilan dari gadis berambut panjang dengan senyum manis itu.
"Ah aku kira siapa, kenapa Sabrina?" Tanyaku sambil meneruskan pekerjaan menyusun barang-barang Cafe yang baru saja datang tadi pagi.
Sabrina masih terdiam sambil memainkan baju nya sendiri dan sesekali menggigit bibir bawah nya. Aku menutup lemari penyimpanan dan membalikkan tubuhku agar menghadap ke arah nya.
"Kalau tidak ada yang-
"Ada mba!" Aku yang ingin melangkah pun terhenti mendengar suara Sabrina yang menahan tangisnya.
Dahi ku mengkerut melihat reaksi nya yang jarang sekali aku melihatnya, Sabrina kenapa dia.
"Katakan." Perintah ku dengan suara lirih.
Dia sesekali menarik ingus nya dan mengusap dengan kasar. Lalu menutup wajah mungil milik nya menggunakan lengah kanan.
"Sabrina kamu."
"Gak jadi mba, saya keluar dulu." Apa-apaan anak satu itu, aku yakin dia ingin menyampaikan Sesuatu kepada ku. Tapi apa?
"Loh loh anak jelek nangis, Sab sab." Itu suara Bemo yang masuk dari arah luar sambil membawa buku pesanan.
"Dia kenapa mba?" Aku menggeleng karena sungguh aku tidak tahu apa yang Sabrina lakukan itu.
🌸🌸🌸
Yang di ajak berbicara pun masih diam seribu bahasa. Ia tidak tau bagaimana menjawab semua argumen-argumen dari putra nya itu. Sudah berulang kali juga ia berbicara dengan Suami nya agar melepaskan anak nya ini dari kurungan ekspetasi suami nya.
"Bun! Ayo bilang sama Indra, kalau Indra ini pantes buat memutuskan satu hal yang akan jadi selama nya." Lagi-lagi pria bernama Indra itu mendesak mama nya agar menyetujui masa depan Indra.
"Ngga bisa Indra, bunda gak bisa."
"Kenapa gak bisa Bun, bunda tau kan Indra sudah lama minta sama bunda buat bujuk Papa supaya nggak ikut campur masalah Indra lagi." Suara Indra gemetar dengan kuku-kuku jari mengepal kuat, lalu pria itu menatap sekilas ke arah bunda nya yang masih setia melihat dirinya yang begitu tersiksa batin seperti ini.
Bunda nya hanya menunduk di kursi kayu itu dengan mata sendu nya. Indra sangat benci situasi dimana Ia tidak bisa mengendalikan ke adaan.
"Kalian kenapa selalu menghambat Indra? Kenapa, beritahu Indra!" Lagi-lagi pria ini menekan Bunda nya. Dan lagi-lagi bunda nya hanya bisa diam tidak berkutik.
Indra kecil adalah Indra paling bahagia, dimana pada saat dia belum tau apapun tentang dunia. Indra selalu dimanjakan dan selalu dibiarkan memilih makanan apa yang dia suka, pakaian apa yang ia mau, kemana dia akan pergi.
Namun semua nya berubah, saat Indra sudah beranjak ke sekolah menengah Atas. Indra tidak mengerti mengapa cara orang tua nya memperlakukan dirinya berbeda setelah hari kelulusan nya.
Indra sungguh kebingungan. Bahkan saat Indra ingin memutuskan untuk lanjut kemana pun, mereka tidak membiarkan hal itu. Indra ingin kuliah untuk mencapai cita-cita nya Papa nya malah menyuruh nya untuk melanjutkan usaha keluarga saja daripada membuang waktu dan usia.
Terpaksa Indra mengubur cita-cita nya itu sedalam-dalamnya, dan berharap semua ini hanyalah mimpi. Indra adalah murid yang terbilang pandai di kalangan angkatan nya dulu. Bahkan Indra tidak pernah mendapatkan masalah apapun di sekolah nya selama 3 tahun itu.
Indra di tuntut untuk belajar dan belajar, namun setelah nya ia tidak boleh meneruskan otak yang sudah dipaksa berfikir selama 12 tahun itu.
Tapi, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa seseorang ke jalan yang orang itu inginkan.
Setelah melihat sosok Lona yang terduduk lemas di halte itu, Mata Indra terbuka lebar dan disitu dia mengatakan bahwa akhir dari segalanya belum berakhir tapi baru saja di bangun.
Lona lah alasan mengapa Indra bisa sekuat ini menahan ego dari kedua orang tua nya yang selalu menginginkan kepuasan diri mereka sendiri. Indra tidak pernah menangis bahkan Indra tidak pernah mengatakan bahwa ia tidak setuju.
Karena Indra tidak di boleh kan!
"Bunda, Indra rasa kalian ada menyembunyikan sesuatu di belakang Indra." Indra melangkah maju ke arah Bunda nya yang masih setia dalam ke bisuan nya.
Indra meraih pergelangan sang Bunda sambil menggenggam nya, "Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian jadi seperti ini hah? Bilang sama Indra sebenarnya kalian kenapa."
Bunda melepaskan tangan Indra dari tangan nya, dan menjauh dari jangkauan anak nya. Dia menjauh menuju jendela kamar yang berada di lantai dua dan melihatkan pemandangan bawah yang sangat indah.
"Kamu akan tau jika waktu nya sudah tepat Indra, Untuk saat ini Bunda minta maaf." Lirih bunda nya yang masih bisa di dengar jelas oleh Indra.
Indra berdiri kaku di tempat menatap punggung Bunda nya.
"Kenapa bunda gak kasih tau sekarang? Kenapa?" Frustasi adalah Indra untuk saat ini.
"Walaupun bunda harus mati pun, Bunda tidak akan memberitahu sebelum waktu nya tiba."