BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
24


2 hari setelah kejadian pernyataan cinta yang di utarakan oleh Indra untuk Lona pada waktu itu. Rasanya semua nya akan berubah 90 derajat.


Indra tidak salah mengutarakan cinta yang selama ini ia pendam dengan hati bertanya-tanya setiap waktu nya bertanya apakah Lona juga mencintai nya seperti dia mencintai Lona. Namun keberanian itu ia pendam sampai dimana ia tidak tahan menyimpan rasa ini seorang diri.


Katakan dia egois, katakan dia adalah lelaki banci yang tidak berani mengutarakan sejak awal. Dan di sini bukan hanya Indra yang salah. Tapi Lona juga. Seharusnya Lona peka sama sikap Indra kepada nya. Seharusnya seperti itu tapi, kedua nya enggan ingin tahu, enggan berbicara.


Setelah kejadian itu, Indra jarang mengunjungi Cafe. Padahal Indra adalah orang yang selalu ingin pergi ke tempat dimana ia merasa bahagia. Tapi sekarang Indra jarang memunculkan diri, hampir 2 hari.


Lona di minta oleh Indra untuk menjawab perasaan nya. Dan Indra menyuruh Lona memberikan nya jawaban jika Lona sudah tau. Wanita ini tidak bisa memberitahu Indra bahwa ia sudah memiliki hubungan dengan Bara, pria yang sudah mengikat nya lebih awal.


"Mba, kalau sakit pulang aja." Tepukan di pundak Lona itu berasal dari Sabrina yang terlihat sangat mengkhawatirkannya.


Lona memegang kepala nya. Terasa pening


"Baiklah, kamu tutup Cafe ya." Sabrina mengangguk.


Lona berdiri dari duduk nya menuju ruang ganti untuk mengambil tas nya. Sedangkan Sabrina masih berdiri di meja kasir dengan Bemo yang baru saja datang dari dapur.


Dua orang yang sama umur ini memperhatikan Lona yang nampak lemas dan lesu. Tak ada gairah untuk hidup lagi walau sebelumnya Lona adalah gadis datar tidak berekspresi kecuali jika Indra yang mengajak nya berbicara. Bemo bisa melihat betapa tersiksanya dua manusia yang sama sekali tidak tau perasaan nya sejak dulu. Sabrina ikut merasakan pedih nya menjadi Indra dan bimbang nya berada di posisi Lona.


"Ayo bersih-bersih." Ajak bemo kepada Sabrina, wanita itu mengangguk dan berbalik untuk membersihkan Cafe sebelum tutup.


Sudah 2 hari cafe terasa sepi tanpa ada pertengkaran Bemo dan Sabrina. Tanpa ada Omelan Indra, tanpa ada teguran Indra tanpa ada oceh bemo tanpa ada tawa renyah Lona. Semua nya menghilang sekejap mata.


Rasanya begitu sepi.


...🌸🌸🌸...


Suara lemparan gelas kaca terdengar nyaring di ruangan kerja pribadi milik Adimas. Papa Indra. Saat ini Adimas tengah marah besar kepada putra satu-satunya ini


Indra masih berdiri di depan meja kerja sang Papa. Pria berusia 22 tahun ini sedang menunduk penuh permohonan untuk permintaan yang ia ajukan kepada Adimas. Indra sangat berharap lelaki itu menyetujui apa yang Indra minta


Adimas memijit pangkal hidung nya ngilu, setelah ia melempar gelas kaca yang sering Indra bawakan untuk nya itu kini terpecah beribu potong. Untung saja itu tidak mengenai anggota tubuh Indra.


"Kamu selalu membantah Papa. Apa yang kamu inginkan selalu Papa iyakan dan sekarang kamu malah menghancurkan harapan papa?"


Tunggu dulu, sebenernya di sini siapa yang tersakiti sih? Dan orang tua kejam itu mengatakan itu se enak udel nya?


Indra mengangkat wajah nya menatap sang papa yang sedang menatap nya sedari tadi.


"Bukannya papa, yang selama ini mempermainkan hidup Indra? Papa orang tua egois yang pernah Indra temui." Indra akhirnya berani mengemukakan perasaan nya.


Sudah berulang kali dia memaklumi tingkah Adimas yang selalu mementingkan kehormatan, masa depan yang hanya Adimas yang menikmati, kehidupan yang hanya Adimas menentukan jalannya.


Hanya itu yang selama ini Indra jalani.


Adimas tersentak mendengar Indra mengatakan hal itu pada nya. Selama ini anak lelaki satu-satunya ini tidak pernah melawan atau membantah, tapi sekarang Indra malah


"INDRA JUGA BUTUH KEPUTUSAN SENDIRI PA, Indra mau bahagia dengan cara Indra. Indra hanya mau-


"OKE, mau kamu apa!" Indra memberhentikan kalimat nya saat Adimas menyela nya.


"Indra tidak ingin menikah dengan Cleo." Ucap Indra dengan nada tegas tanpa mau embel-embel di bantah.


Bukan Adimas nama nya jika tidak menyiksa Indra sehari saja dengan rencana-rencana tidak masuk akal yang selalu keluar dari otak nya.


"Setuju." Kalimat Adimas saat ini memancing senyuman di bibir Indra namun 5 detik kemudian


"Tapi, seluruh aset yang saya kasih ke kamu. Tidak akan pernah kembali. Hidupi diri mu sendiri dengan Cafe yang kau bangga-banggakan itu." Jelas Indra sangat terkejut


Adimas memberi tawaran itu. Jelas saja Indra akan terima apapun resiko nya asal, Indra bisa menentukan kehidupan sendiri tanpa campur tangan dari Adimas lagi.


"Iya Pa, semua nya Indra kembalikan."


Percakapan selanjutnya hanya Indra dan Adimas yang tau. Sedangkan ada seseorang yang tengah menguping di balik pintu ruangan ini.


Wanita itu menahan Isak tangis nya dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. Dia menangis mendengar putra nya yang sama sekali tidak tau apa yang terjadi jika dia memilih memutus kan pertunangan dengan Cleo dan memilih gadis Lain di luar sana.


Bunga, wanita ini adalah Bunda Dari Indra. Dia sedang menangis setelah mendengar perdebatan ke dua lelaki yang sangat penting di hidupnya. Adimas suami nya itu selalu mengatakan dan melakukan apapun tanpa ijin dan persetujuan dari nya.


Bunga meninggalkan pintu ruangan itu, dan menuju ruangan yang berada di balik lemari kamar nya. Banyak yang tidak tau jika dia membuat ruangan itu untuk sesuatu yang sangat berharga bagi nya.


Bunga membuka ruangan itu setelah membuka pintu lemari terdapat pintu lagi di balik nya. Jika kalian bertanya-tanya apakah Adimas tidak tau? Jelas saja dia tak akan tau karena Adimas tipe lelaki berdarah dingin. Selalu bodoamat dengan kehidupan orang lain.


Bunga berjalan masuk ke ruangan itu. Lalu menutup kembali pintu nya. Ruangan ini tidak terlalu besar hanya beberapa meter saja. Di dalam nya ada sebuah Lemari kecil dan di dalam lemari itu ada beberapa foto dan kenangan keluarga yang pernah ada.


Bunga membuka nya dan mengambil satu lembar foto yang berserak di dalam lemari berdebu ini.


Foto itu begitu kusam dan sedikit memudar. Karena foto ini di ambil 22 tahun lalu di saat Indra baru saja lahir ke dunia dan Bunga berfoto ria dengan adik ipar nya itu. Adik ipar yang ia sayangi layak nya adik sendiri


Namun kesalahan yang ia perbuat mengakibatkan diri nya di tendang keluar dari rumah ini tanpa ada ampun dari dua orang yang penting di kelurga Adimas.


"Nira, kamu dimana." Bunga mengusap foto berwajah ceria dan cantik itu.


Bunga tau jika Nira nya juga membenci nya jika bertemu lagi dengannya.


20 tahun yang lalu


Nira, gadis itu tengah duduk di ruang tamu dengan wanita tua berusia 60 tahun. Serta Bunga dan juga Adimas. Nira duduk sendiri dengan dada berdebar-debar jika di tanya nanti nya. Nira sangat takut


"Dengan siapa kau melakukan nya Nira." Suara Wanita tua tadi bergema di ruang besar ini.


Nira tersentak kaget dan hanya bisa memejamkan mata nya. Bunga merasa kasihan dengan adik nya itu,


"KATAKAN SIALAN, KALAU KAU HANYA DIAM DARI TADI. TIDAK AKAN MEMBUAT MU MENJADI SEPERTI SEMULA."


Adimas amat sangat marah kepada Nira. Sudah berulang kali Nira di beri pertanyaan siapa ayah dari anak itu. Tapi Nira hanya diam dan diam.


"Nira bilang sama Mama, siapa-


"Kalau kau tidak mau berbicara, keluar dari rumah ini atau gugurkan kandungan mu dan selama nya kau tidak akan pernah bisa berkuliah di luar negeri." Pilihan tidak ada yang menguntungkan bagi nya.


Sama-sama tidak berguna jika Nira memilih pilihan kedua dan membuang bayi yang ia kandung. Ia tak akan pernah mau berbuat dosa yang ke dua kali nya.


"Nggak, Nira gak mau gugurin ini." Nira memeluk perut nya dengan erat, sedangkan Adimas menggeram jengkel.


"BAIKLAH, KELUAR TANPA BAWA APAPUN." Nira di seret keluar dari rumah ini.


Nira di dorong ke tanah oleh Adimas Kaka yang selalu mensupport apa yang Nira lakukan selama ini. Kaka yang selalu membantu nya jika kesusahan belajar matematika.


Sekarang Kaka yang ia banggakan tidak mau membantu nya merawat anak yang tidak bersalah ini.


"Adimas, kamu menyakiti dua nyawa." Bunga berusaha menahan suami nya agar tidak bringas.


"Dia aib keluarga kita, dan aku gak akan pernah mau melihat wajah kotor nya itu lagi."


Nira yang sudah terduduk di tanah dengan memegang perut nya. Hebat nya setelah di dorong reaksi sang bayi tidak menyakiti sang Ibu.


"Ma, Nira."


"Mama tidak punya anak seperti kamu." Setelah mengatakan itu, Ratih berjalan masuk ke dalam rumah nya. Dan hanya tersisa Adimas dan Bunga.


Adimas menatap benci ke arah Nira yang menatap kepergian Mama nya. Nira ingin memeluk Mama nya nira sangat ingin


"Ma."


"KAMU TIDAK PUNYA ORANG TUA, pergi dari sini Nira dan pastikan kau tidak ada di penglihatan kami lagi."


Setelah kejadian itu, Nira tidak pernah terlihat seperti yang Adimas inginkan. Dan seminggu setelah Nira meninggalkan rumah atas kehendak Adimas, Mama mereka pun jatuh sakit dan berulang kali muntah darah.


Penyakit yang dulu nya sudah terkubur, kini keluar lagi karena pikiran yang menumpuk.


Dan 20 tahun itu berlalu menjadi kenangan pahit yang Bunga lihat. Bunga merindukan Anira nya.


Satu kata untuk part ini?