
Dua orang berjenis kelamin berbeda sedang duduk berhadapan di ruangan yang penuh dengan alat-alat memasak. Kedua nya sama-sama masih terhanyut dalam pikiran masing-masing tanpa mau menyuarakan nya.
"Mas Indra."
"Lona."
Kedua nya langsung saling melempar tatap, dan Lona menyuruh Indra terlebih dahulu mengutarakan kalimat nya.
"Kamu mau menikah sama dia?" Pertanyaan Indra membuat Lona muak, sedari tadi hanya pernikahan yang di tanyakan di katakan bahkan selalu terngiang di pikirannya.
"Aku mau nanya sama Mas Indra, sebenarnya pernikahan itu apa sih?"
Indra bergeming di tempat sambil meremas ke dua tangan yang ia satukan menjadi gumpalan. Lona menunggu argumen dari Indra yang masih bergelut ria dengan ke Diaman nya.
"Mas?"
"Pernikahan? Pernikahan itu suatu perjanjian antara dua hati dan dua keluarga. Dimana bukan hanya sepasang suami istri yang menikah, tetapi dua keluarga juga. Lalu pernikahan yang sebenernya itu memiliki kebahagiaan dengan bumbu-bumbu perkelahian kecil."
Tutur Indra sambil menunduk, ia meyakini bahwa pernikahan itu adalah kebahagiaan yang tidak hanya satu atau dua hati. Tapi banyak hati yang harus di bahagiakan.
"Oh begitu."
Indra mengangguk.
Lona berdiri dari duduk nya berjalan menuju kompor yang menyala dan memasak air di atas nya. Lona mematikan kompor dan mengambil Jampel untuk mengangkat tempat air panas tadi. Lalu menuang nya ke dalam cangkir berwarna biru tua yang merupakan cangkir mas Indra.
Lona mengaduk perlahan dan memasukkan gula satu sendok.
Setelah selesai Lona berjalan kembali ke tempat mas Indra sedang duduk, dan menyerahkan cangkir biru itu.
Indra menerima cangkir dan mengucap kan kata terimakasih.
"Menurutku pernikahan itu, adalah akhir dari kebebasan." Ucap Lona yang sudah kembali duduk di tempatnya sambil memperhatikan jendela dapur yang berada tepat di belakang mas Indra.
"Dimana jika kamu sudah menyerahkan semua hidup mu untuk pasangan mu, disitu kamu tidak bisa memiliki kesempatan memilih keputusan sendiri." Lagi dan lagi Indra di buat bingung dengan Pernyataan yang Lona tutur kan.
"Jadi, kamu tidak mau menikah?" Lona langsung mempertemukan mata mereka berdua.
"Tergantung, Yaudah mas aku keluar dulu. Di nikmati Teh nya." Lona keluar dari dapur menuju Ruang utama Cafe.
Dengan demikian Lona bisa terhindar dari pertanyaan-pertanyaan selanjutnya tentang Pernikahan. Lona tidak yakin apakah yang ia rasakan saat ini adalah ke inginan, atau hanya sebuah rasa kagum berkelanjutan?
"Wadoh Anak perawan habis keluar dari Ruangan berduaan sama pak boss." Oceh Bemo yang kini menyusun gelas-gelas kotor ke dalam Keranjang khusus gelas kotor.
Sabrina yang lagi membantu Bemo pun langsung menyubit pinggang pria kurus kering itu.
"Aaaa Sakit **** gue lempar ke Got tau rasa." Pekik Bemo yang di pelototi oleh Sabrina kemudian.
"Lagian mulut kayak emak-emak, gibah aja pikir nya." Sabrina meletakkan beberapa sampah ke dalam kresek warna merah.
"Sabrina, Jangan lupa nanti malam kamu selepas pulang kuliah mampir ke rumah saya ya?" Itu suara Lona yang kini sudah dekat sama dua anak remaja baru lulus SMA.
"Oh iya mba semoga aja dosen saya gak banyak cincong supaya saya Cepet ke rumah mba." Lona hanya mengangguk sambil mengambil kursi berwarna Biru tua yang akan ia duduki.
Lona memijit kepala nya dengan satu tangan di pangku. Sungguh hari yang memuakkan.
"Mba Lona sakit? Kalau sakit pulang aja mba, ntar di anter sama Bemo." Tawar Sabrina yang khawatir melihat kondisi Lona jarang sekali seperti ini
Lona menggeleng lalu mengeluarkan telpon genggam nya dari kantong celemek miliknya.
"Saya pesan gojek aja, kalian lanjut kerja habis itu kita tutup Cafe." Lona memerintahkan ke pada dua orang itu untuk segera menyelesaikan pekerjaan mereka.
Bemo dan Sabrina mengangguk lalu melanjutkan pekerjaan mereka. Lona masih setia mengotak-atik isi handphone nya.
25 menit kemudian
Cafe di tutup tapi Lona sudah pulang terlebih dahulu setelah pesanan ojek nya datang. Dan saat ini Lona sudah berada di jalan menuju rumah nya.
Cuaca belakangan ini tidak bisa di duga, tiba-tiba hujan tiba-tiba terik. Dan sekarang adalah mendung. Jalanan cukup ramai dengan orang-orang yang ingin berpergian entah kemana tujuannya.
Lona sesekali membuang nafas kasar nya. Sudah 3 Tahun sang Mama tidak memunculkan diri di kota ini, ia sangat rindu tapi ia juga sangat tidak yakin jika kembali nya Sosok itu akan baik-baik saja untuk nya.
Lampu merah menghentikan motor ini melaju. Lalu Lona berinsiatif mengedarkan pandangannya ke arah penggunaan kendaraan sekitar, tampak lengah tidak macet seperti ibu kota.
Lalu saat mata Lona mengedarkan ke arah sebelah kiri di mana trotoar tempat pejalan kaki lewat saat lampu merah. Disana ada gadis remaja yang berteriak-teriak minta tolong secara tiba-tiba. Lona jelas saja mendelik kaget dan secara refleks dia turun dari motor nya melepaskan Helm Abang ojek tadi dan membawa nya.
Lona berlari melewati banyak pengendara yang masih melihat saja tanpa ingin tahu kenapa gadis SMA itu berteriak minta tolong.
"Adik kamu kenapa." Lona bertanya setelah ia berada di samping gadis cantik berpita Ungu ini.
Gadis itu menangis dengan tubuh gemetar.
"Ayo jawab adik, kamu kenapa." Lona berusaha mengetahui kenapa dia menangis.
"Saya di tinggal sama supir saya. Dan saya gak tau jalan pulang." Mata Lona langsung mendelik tidak percaya.
"Kamu lupa alamat rumah kamu? Terus handphone kamu mana?" Tanya Lona lagi dan Lagi.
"Itu masalah nya Kak, handphone saya di Copet tadi." Jelasnya dengan nada bergetar
"Y-yaudah pake handphone aku." Lona membuka tas nya dan memberikan handphone milik nya ke gadis itu.
"Seriusan Kak? Makasih." Lona mengangguk dan mereka masih berdiri di pinggir trotoar.
Abang gojek menghampiri Lona yang membawa helm miliknya.
"Mba mau Cancel atau gimana?" Tanya Bang ojek dengan nada kesal.
Lona melihat ke samping dimana gadis itu masih setia memakai handphone nya.
"Saya cancel aja pak, makasih ini Helm nya." Akhirnya Abang ojek pergi dari situ.
Tinggallah Lona dengan gadis yang sudah menyerahkan headphone genggam kepunyaan nya.
"Kamu aku tinggal boleh?" Tanya Lona dengan hati-hati. Tapi jawaban gadis itu hanya diam sambil menunduk.
"Yaudah aku nunggu sampai supir kamu kembali." Akhirnya kalimatnya Lona membuahkan hasil, gadis itu mengangkat wajah nya dan tersenyum. Lona mengelus pucuk kepala gadis cantik ini dengan lembut
10 menit kemudian datang lah satu buah mobil berwarna hitam legam. Berhenti tepat di depan mereka berdua.
...
...
Lalu keluarlah sosok pria yang tak di duga-duga oleh Lona.
"Safira, kamu ini udah Kaka kasih tau jangan ceroboh kalau megang apapun." Itu kalimat pertama yang ia keluarkan saat menghampiri gadis cantik yang Lona temani tadi.
Lona sedikit menunduk, ia berharap Tidak ada kejadian aneh lagi.
"Iya bang maaf, oh iya Bang ini kenalin Kaka nya baik banget loh udah mau temenin sama minjamin Safira handphone buat chat Abang."
Ah Lona mengutuk kejadian hari ini, kenapa harus pria itu lagi sih.
"Lisa?"
"Hah Abang kenal sama Kaka ini? Wah kebetulan yang sangat unik." Puji Safira dengan nada di buat-buat.
Lona berusaha menguatkan diri agar tidak meledak disini, ia marah sama waktu. Kenapa ia selalu di pertemukan dengan orang-orang yang tidak ingin ia temui.
"Abang kamu udah datang, Kaka pamit pulang dulu Permisi." Sayang sekali Lona kali ini Kau tidak bisa lepas.
"Kak Lisa, bareng kami aja oke?"
Kaki Lona berhenti berjalan mendengar teriakkan permintaan dari gadis tengil itu. Lona baru menyadari bahwa gadis ini tengil seperti Abang nya.
"Ga bisa sayang, Kaka mau-
"Daripada kamu buang tenaga sama duit, aku anterin Sampe rumah?" Tawaran itu dari Bara iya si Bara.
Lona berdecak tidak suka.
"Makasih banyak tawaran kalian sangat menguntungkan, tapi saya bisa jalan kaki atau tidak naik ojek. Permisi."
"Iiii kakak kok jadi jahat sih, orang baik itu tidak akan menolak kebaikan. Bang bujuk!" Ya Tuhan ini kenapa jadi Rumit sekali.
Lona menghembuskan nafas kasar nya menahan dongkol dalam hati.
"Tapi adik manis aku ini--
"Abang pliss lah bujuk dia bujuk!" Tangisan sekarang sama seperti tangisan yang ia keluarkan saat kehilangan Handphone.
Lona ternganga melihat ekpresi dari Safira yang begitu kekanak-kanakan di usia nya saat ini
Sedangkan Bara sudah tau dengan sikap adiknya yang suka se enak jidatnya itu hanya tenang namun ber lakon se akan-akan dia tidak tau cara menangani adik nya.
Lona frustasi dan malu
"Iya-iya Aku ikut kalian." Putus Lona pada akhirnya, dan benar saja tangisan itu berhenti sendiri nya.
"Asik ayo buruan bang nanti Mama nyariin kita." Dia berjalan mendahului dua makhluk lebih tua darinya. Se akan-akan tidak terjadi apapun.
Lona pantas mengangkat kedua jempol nya untuk gadis satu itu.
"Mari masuk." Lona masih diam dan menuruti Bara yang membukakan dirinya pintu mobil.
"Asik Berasa jalan sama Kaka Ipar."
"Aamiin."