BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
18


Lona membuka pintu rumah nya


"Ma, Lona pulang." Kata itu yang pertama kali lontarkan saat memasuki rumah nya, dan ternyata rumah nya sepi tidak ada siapapun bahkan gelap gulita.


Lona mengerutkan dahi sambil celingak-celinguk, lalu ia berjalan masuk secara perlahan. Benar-benar tidak ada Rani di sini, bahkan di kamar pun tak ada.


"Mama kemana ya." Pertanyaan itu selalu terngiang, tidak mungkin Rani pergi tanpa pamit oleh nya.


...🌸🌸🌸...


Wanita setengah umur itu sedang berjalan menyusuri jalanan sore sambil menenteng kresek yang berisi makanan ke sukaan anak nya.


Sudah lama sekali ia tidak berkeliling Kota ini dengan berjalan kaki tidak lah buruk. Rasanya sangat bahagia bisa membawakan makanan ke sukaan putri nya itu, terakhir kali ia membeli makanan ini saat Lona berusia 10 tahun. Dan saat itu adalah masa-masa dimana Rani belum memikirkan hal gila yang akan membuat Lona tertekan.


Rani tersenyum saat melihat pedagang kaki lima yang menjual sate Kambing ke sukaan Lona. Ah sepertinya hari ini adalah makan malam yang menu nya makanan ke sukaan Lona semua. Tak apa yang penting Lona bisa Bahagia kembali.


"Bang sate kambing nya satu." Rani berucap kepada penjual sate kambing yang lumayan terkenal itu, sudah lama ia tidak ke sini untuk membelikan Lona sate kambing.


"Eh iya mbak, sebentar ya, duduk dulu mba sambil nunggu." Pedagang itu menyuruh Rani untuk duduk di salah satu bangku kosong, Rani mengangguk meng-iyakan.


Sore yang cukup ramai pembeli, tidak mungkin Rani akan cepat pulang kalau begini. Mungkin ia harus menunggu sampai setengah jam. Ah tak apa yang penting dapat sate itu


Banyak orang-orang sedang bersantai ria dengan teman-teman nya, ada juga yang makan sendiri dan ada juga yang menunggu seperti nya. Tempat ini agak berubah setelah sekian lama, Rani meninggalkan kota ini sekitar 3 tahun atau lebih. Meninggalkan anak gadis nya sendirian di kota sebesar ini walaupun ia memikirkan betapa menyedihkan kehidupan nya di masalalu, dimana ke egoisan seseorang membuatnya seperti ini.


Andai saja seseorang itu tidak ada, mungkin Rani dan Lona tidak akan se menderita ini. Walaupun ini adalah perbuatan nya, tapi jika orang itu tidak ada mungkin kehidupan nya akan Bahagia bersama putri cantik yang selalu memohon untuk tidak pergi dari kota, dimana ia dilahirkan.


Mengingat itu, membuat Rani meremas kresek yang ia pegang. Sungguh kejam dunia ini.


Tapi ada sedikit rasa lega karena Lona akan memiliki keluarga yang menerima nya apa pun kondisi Lona saat ini. Rani sangat bersyukur kepada Tuhan. Dengan itu Rani bisa pergi dari kota ini tanpa beban lagi yang tertanam di sini, ia akan meninggalkan putri nya dengan orang yang menurut nya sudah tepat.


"Ini mba sate nya."


Rani sedikit terkejut, karena sedari tadi dia melamun.


"Ah iya pak, berapa?"


"20rb mba." Rani mengangguk sambil membuka tas yang ia selempang kan, dan mengeluarkan uang berwarna hijau itu. Dengan senyuman penjual sate itu menerima uang nya.


"Makasih mba."


"Sama-sama pak." Rani tersenyum pula dengan tergesa-gesa ia ingin pulang secepatnya. Karena ia pikir Lona sudah sampai di rumah


Tanpa melihat jalan Rani tidak sengaja menabrak seseorang, hingga membuat sate yang ia pegang tadi terjatuh. Rani mendelik kaget


"Maaf Bu saya gak sengaja maaf." Orang itu hanya meminta maaf dan pergi tanpa berniat menolong, Rani kesal dan kesal nya bertambah saat melihat sate itu tercecer di trotoar.


"Eh Lo berhenti, Anda gak kenapa-kenapa kan?" Ada orang yang berbaik hati menolong Rani untuk mengumpulkan barang belanja nya.


Rani masih diam sambil memasukkan  barang-barang nya ke dalam kresek dan sialnya hanya Sate yang tidak layak untuk ia ambil. Rani berdiri sendiri dengan menahan geram orang yang menabrak nya tadi.


"Anda baik-baik aja kan? Anda."


"Terimakasih." Ucap Rani dengan cepat, lelaki itu mematung saat melihat wajah Rani yang begitu terlihat kecewa.


Pria itu melihat ke arah sate yang berserakan, langsung saja ia menyingkirkan bungkusan yang akan membahayakan orang lain. Ia membuang Bungkusan tadi ke dalam tong sampah terdekat, lalu berlari lagi ke tempat asal.


Tak ada Rani di sana, Lalu ia celingak-celinguk dan ya.


Dia mendapati Rani yang tidak jauh dari tempat tadi. Pria itu berlari mengejar Rani dan dapat


"Anda mau pulang? Saya antar ya." Rani menghentikan langkah nya dan menatap lelaki muda di samping nya ini. Seperti nya di seumuran Lona. Pikir Rani


"Kamu naik apa?" Pria itu sedikit Ling-Lung di tanya seperti itu.


"Oh ah anu, saya naik mobil. Kenapa?"


"Saya beli sate di ujung sana, tapi nanti antarkan saya pulang. Mau kan?" Tawar Rani yang berharap pria itu mau mengantarkan nya.


Dan benar saja


Pria itu mengangguk, dan Rani tersenyum bahagia. Lega rasanya akhirnya ia bisa sampai ke rumah dengan cepat tanpa menunggu taksi-taksi lewat lagi.


Rani membeli sate kembali, dan menunggu setengah jam lagi. Tapi kali ini ia di temani oleh anak muda yang baik hati menolong nya, pria itu mengambil mobil nya dan Rani masih duduk di tempat jualan sate itu.


Tok tok


"Mau antarkan saya pulang kan?" Rani mengetuk kaca mobil pria itu setelah sekian menit menunggu sate.


Pria itu membuka jendela nya dan mengangguk, Rani duduk di kursi belakang dan itu tidak di permasalahkan oleh pria itu. Biasanya kalau di Film-film semua orang gak mau di perlakukan layak nya supir, tapi pria ini berbeda.


"Rumah Anda di mana?"


"Nggak jauh dari persimpangan Taman." Pria itu mengangguk.


Lalu Obrolan menanyakan alamat pun terjadi, Rani memberitahu Pria itu Cat dan bentukan rumah nya. Tak sampai 15 menit lelaki itu sudah menempatkan mobil nya di depan rumah Rani.


"Ah ya ini rumah saya." Ujar Rani berbinar sambil membuka dan turun dari mobil.


"Terimakasih atas tumpangan dan-


"Anda siapanya Lona?"


Tuk tuk tuk


"Mama dari mana aja."


Pria itu masih duduk di dalam mobil dengan kondisi kaca terbuka, sedangkan Rani sudah di luar mobil sambil menghadap Lona yang memanggil nama nya.


"Lona, Mama tadi habis beli ini terus gak sengaja ketemu sama dia." Tunjuk Rani kepada pria yang masih setia tertegun di dalam mobil


"Mas Indra." Lona mengerut kan dahi keheranan, Indra ada di sini?


"Hehehe." Indra hanya cengengesan, sungguh ke betulan yang sangat tidak di rencanakan.


Rani melihat ke dua anak muda ini dengan seksama


"Kalian saling kenal?"


Lona mengangguk


"Dia boss Lona di Cafe." Jelas Lona.


"Owh begitu, Eh nak Indra mau mampir?" Indra yang sedikit gugup itu masih berada di dalam mobil.


"Mas, mas Indra?"


"Ah apa Tante?" Rani gemas melihat ekpresi Indra yang begitu menggemaskan di mata nya.


"Mau mampir tidak?" Kata Lona lagi. Indra menggeleng layak nya anak kecil


"Ah anu Tante, saya pulang aja. Lagian ini udah mau malem, saya pulang dulu ya."


Rani mengangguk paham, Lona pun sama hal nya.


"Lona aku pulang dulu."


"Makasih Mas Indra."


"Makasih Nak, hati-hati ya di jalan." Rani melambaikan tangan nya dan mobil Indra sudah berlalu.


"Huh, Cape banget mama." Keluh Rani sambil merenggangkan tubuh nya.


"Kenapa ma? Mama dari mana."


"Mama habis beliin nih makanan ke sukaan kamu semua." Rani mengangkat kantong keresek nya.


"Buat Lona?"


"Iya Lona, sudah ayo masuk mama mau mandi nih."


Rani berjalan dahulu daripada Lona, sedangkan gadis itu masih melihat kepergian mobil Indra yang semakin tidak terlihat oleh pandangan nya. Huh Indra pasti mempunyai banyak pertanyaan besok


Indra sudah bersama nya dalam suka duka tapi Lona tidak pernah memperkenalkan Indra dengan Rani. Karena pertemuan Lona sama Indra itu di saat Rani sudah tidak di kota ini. Pasti itu pasti Indra akan bertanya besok ia yakin sangat yakin.