
Suara kicauan burung menghiasi langit sore yang ke abu-abuan itu. Tetesan bekas hujan serta aroma aspal terasa begitu menusuk melalui rongga-rongga penciuman.
Lona, gadis itu masih setia membersihkan meja-meja Cafe yang akan di tutup beberapa menit lagi. Hari yang lumayan penuh kejutan tanpa ada nya aba-aba.
"Mba Lona, kami pamit pulang ya." Sabrina berpamitan kepada Lona di ujung sana dengan Lap di tangannya. Lona mengangguk sambil tersenyum kecil dan Sabrina serta Bemo berlalu keluar dari Cafe.
Hanya Lona yang tertinggal sendiri, sudah biasa ia melakukan ini setiap harinya. Walaupun Mas Indra sering melarang nya melakukan pekerjaan sendiri, tapi Lona tetap keras mengatakan bahwa ia ini pegawai biasa yang beruntung bisa bekerja tanpa ada nya embel-embel ijazah atau pengalaman hidup.
Terlahir dari keluarga tidak berkecukupan dan ibu yang enggan mau tahu tentang masa depan Lona. Membuat nya depresi sendiri mengingat masalalu nya, ke hadiran mas Indra merupakan wujud titik kebahagiaan yang ia tunggu.
Dimana Mas Indra selalu mengatakan bahwa Lona adalah gadis yang baik tanpa ada celah buruk. Kalian ada yang ingin bertanya? Hubungan apa Antara Lona dan mas Indra?
Hanya pertemanan yang saling menguntungkan satu sama lain.
Lona bekerja disini semenjak umur 17 tahun, dan Cafe ini adalah milik Keluarga Indra. Lona bersyukur sangat bersyukur saat itu bertemu mas Indra di Halte pemberhentian Taksi, jika tidak bertemu dengannya Lona tidak tau apa yang akan terjadi.
Lagi-lagi gadis itu mengembuskan nafas beratnya sambil mengelap meja putih ini. Rambut hitam legam nya hampir terlepas dari kunciran rambut tapi sebelum ia menghadang itu, ada sosok lain yang berusaha memperbaiki rambut milik nya.
Otomatis Lona terkejut dan ingin berbalik, tapi pergerakan tadi di hadang oleh suara.
"Aku bantu, tangan mu lagi kotor." Lona nampak berfiki dalam diam, dan membiarkan sosok itu membantu nya menguncir rambut miliknya.
"Dah selesai." Beritahu nya.
Lona mengangguk dan berbalik menghadap Sosok yang hobi membantu di hidupnya.
"Kata nya gak balik ke sini." Sungut Lona sambil berjalan menuju tempat penyimpanan Barang-barang, tepat nya di sebelah pintu toilet Cafe.
Sosok itu mengikuti Lona dan dia berdiri di dekat pintu.
"Abisnya aku tadi denger ada yang di lamar." Lona terkekeh keluar dari ruangan itu, dan menutup kembali.
Tanpa menghiraukan sungut dari mas Indra, Lona memilih memasukkan barang-barang nya ke dalam tas. Dan bersiap ingin kembali ke rumah nya.
Jaket hitam atau yang sering di sebut Hoodie itu tengah ia kenakan dalam sekejap sebagai pelapis baju Cafe.
"Aku pamit pulang ya mas, Aku kunciin dari luar ini."
Lona sudah tau sosok itu tidak akan berhenti sampai ia mengatakan IYA. Langkah nya begitu kecil menuju pintu masuk Cafe, dan saat ia meraih gagang pintu. Mas Indra kembali
Kembali berbicara.
"Kamu terima?" Tangan Lona mengambang tidak menyentuh gagang pintu itu. Dia memejamkan mata nya sejenak dan berbalik.
Posisi mas Indra berada di meja kasir, dan Lona dekat pintu masuk. Cukup jauh tapi bisa terdengar tanpa berteriak.
"Dulu aku pernah dapat tawaran dari seseorang untuk kerja di Cafe, tapi aku tidak bisa melihat keseriusan di wajah nya yang begitu tidak meyakinkan aku. Tapi lagi saat dia menunjukkan bukti yang bisa aku percaya, Aku meng-iyakan nya."
Tutur panjang kalimat Lona mendiamkan penasaran yang ada di diri Indra.
"Aku pulang dulu." Indra masih diam tanpa ada nya sahutan atau koreksi atau pertanyaan dari Kalimat Lona.
Lona itu orangnya cukup tertutup, Indra sampai frustasi hanya karena ingin tau Lona sudah makan apa belum. Dan sekarang kalimat Lona masih terngiang di telinga nya.
Di lain tempat, Lona sedang berjalan menuju Rumah nya. Dengan langkah lebar melewati beberapa genangan air di jalanan berlubang. Jarak tempuh rumah dan Cafe lumayan jauh, biasanya Lona menggunakan jasa Taksi atau Bus.
Karena hari ini lumayan sejuk, Lona memilih jalan kaki sejenak. Mengurangi beban pikiran yang muncul tadi siang.
"Lona!" Itu suara teriakan dari arah belakang nya. Lona tersenyum miring sambil terus melangkah tanpa melengah untuk memastikan pemilik suara tadi. Hingga suara deru mobil berada di samping tubuh nya.
"Lona, aku anter." Langkah Lona berhenti, dan berbalik ke arah mobil dengan kaca terbuka.
"Baiklah." Lona membuka pintu mobil itu dan duduk damai di samping kemudi. Sambil melepaskan pembungkus kepala nya tadi.
Mobil itu melaju menuju rumah Lona tanpa ada nya pembuka topik di antara mereka berdua.
"Udah dapat jawaban Mas?"
🌸🌸🌸
5 Jam sebelum nya
Mewah, minimalis dan elegan. Adalah gambaran tempat ini.
"Mama udah bilang berapa kali sama Kamu Bara. Menikahlah menikah segera sebelum Mama mu ini mati."
"Mama gak bisa atur Bara ma, Bara sudah bilang kan kalau Bara ini tidak bisa menikah." Sahut pemilik nama Bara itu dengan wajah tenang milik nya. Sedangkan wanita tua berumur 65 tahun itu tengah terbaring di ranjang dengan tubuh lemah.
"Kasih Mama Alasan." Pinta nya dengan nada lirih menatap putra nya yang duduk menyampingi nya.
Melihat tidak ada jawaban setelah menunggu, "Jangan bilang, kalau kamu lagi nunggu gadis gila itu sembuh? Iya Bara!"
Yang mendapat tuduhan pun menundukkan kepalanya.
"Iya ma, Bara nunggu Alena sembuh." Dia sudah muak dengan kehidupan yang selalu di atur tanpa keputusan diri sendiri.
"Kamu tau sendiri kan Bara? Alena mu itu tidak bisa di sembuhkan, dia itu gadis gila Bara." Lirih Ayu Mama dari Bara.
Ayu tau siapa Alena itu, dia adalah anak dari teman semasa kecil nya yang sudah tiada di renggang kecelakaan 2 Tahun lalu.
Dan menyebab kan Alena yang masih berumur 18 Tahun itu mengalami depresi terus menerus tanpa ada yang tahu. Bara? Pada kecelakaan itu Bara sedang keluar kota untuk menjalani ujian akhir kuliah nya. Tentu saja itu tidak bisa di tinggal begitu saja. Ayu sebagai sahabat dari Bunda Alena pun merahasiakan nya dari Bara, agar anak nya itu fokus pada Ujian nya.
Akibat itu, Alena mengurung diri di rumah tanpa ingin tahu dunia luar itu seperti apa. Ditinggal oleh orang tua yang menjadi pemandu hidup, bukan kah itu sangat menyakitkan? Apalagi jika itu penyebab nya adalah dia sendiri. Kecelakaan itu terjadi karena Alena meminta Sang Bunda untuk membelikan nya sepatu model terbaru yang baru saja keluar 2 pekan lalu. Alena itu terlahir dari keluarga yang miskin, bahkan Bunda Alena hanya bekerja di sebuah butik milik keluarga Bara.
Biaya hidup tidak semurah permen sugus, semua orang harus banting tulang untuk mengejar ke inginan. Tapi Alena yang bersikap sok Kaya itu membuatnya temakan oleh penyesalan.
2 Bulan, 2 bulan gadis itu menangis tanpa henti dan tidak keluar dari kamar nya. Ayu sama sekali tidak tau fakta itu, sampai dimana Bara kembali ke kota ini. Ayu langsung memberitahukan bahwa Lia telah tiada 2 bulan lalu.
Bara menanyakan kemana Alena? Dan ayu tidak mengetahui itu. Dengan rasa takut Bara langsung pergi ke rumah Alena di tengah malam.
Dan benar saja, dugaan Bara benar saat ia membuka pintu utama rumah kecil kayu ini.
Bara berlari menuju pintu kamar ber Cat pink itu, dan membukanya secara kasar . Alena, dia sedang duduk membelakangi posisi bara. Dengan foto di tangannya. Serta beberapa bungkus makanan cepat saji berserakan di lantai.
Saat bara mendekati gadis itu, Alena tiba-tiba saja terjatuh dari duduk nya. Bara segera membawa Sosok ini ke rumah sakit, dan ternyata
Dokter mengatakan bahwa depresi yang di idap oleh Alena, sudah kelewatan batas dan akhirnya gadis ini depresi berat.
Bara marah besar kepada Mama nya, yang tidak memberitahu kan semua nya. Bara menyesal karena tidak tahu dan tidak menghubungi gadis ke sayangan nya ini.
Sampai saat ini, Bara masih berusaha menyembuhkan gadis nya dan mengubur cita-cita nya.