
Ketika kamu mengatakan, bahwa kehidupan itu butuh kepastian dalam melangkah. Aku langsung berfikir, apakah kamu kepastian ku?
Ceklek
Gelap dan sepi. Adalah gambaran rumah Lona saat ini, tidak ada siapapun yang berada di dalam nya. Hanya kesunyian menemani.
Sudah hampir 3 tahun Lona mengalami ini semenjak orang yang menjadi pedoman hidup menyuruh nya agar mengikuti jejak nya. Lona akan meng-iyakan itu jika ke inginan dari Mama nya berjalan positif.
Tapi itu bukan pilihan.
Pintu kembali ia tutup dan menaruh sepatu nya ke dalam rak belakang pintu. Lalu berjalan menuju kamar yang tidak jauh dari pintu.
Lona biasanya menghabiskan waktu di rumah dan Cafe, tidak ada lagi yang akan ia kerjakan selain bekerja dan tidur. Menurutnya kehidupan seperti ini lumayan menenangkan ketimbang dulu, di saat dia masih remaja.
Kenangan dimana semua nya begitu menyedihkan.
Suara tamparan itu menggema di ruang tengah Rumah ini, dengan teriakan yang hampir menghiasi tiap detik nya hari itu. Malam hari biasanya jadi ketenangan dari segala waktu, ini malah jadi neraka bagi Lona.
"Mama gak bisa bawa Lona ma, Lona gak mau jadi mama!" Teriak Lona dengan suara gemetar, gadis itu sudah tidak berupa wajah nya. Hanya tangisan dan rasa benci nya
"Lona! Kamu itu harus nya sadar diri! Kamu lahir dari rahim saya dan kamu harus jadi saya!" Lona menggeleng kuat sambil melepaskan cengkraman dari lengannya.
"Lona gak mau jadi ******* kayak mama-
Plak
Lagi-lagi tamparan.
"Kamu sampai Segede ini makan uang hasil mama Jual diri, dan kamu masih menghina pekerjaan mama? Hei Lona kalau bukan karena mama. Kamu udah di buang sama bapak mu itu." Lona memejam kan mata nya, menahan perih di dada akibat kalimat-kalimat keluar dari Mulut mama nya. Mama kandung nya
"Kenapa Lona gak di buang aja Ma? Lona cape sama mama." Detik selanjutnya, tangan Lona di lepaskan. Dan tubuh lemah itu terduduk di lantai.
Sedangkan Rani, mama dari Lona masih setia menatap putrinya yang menyedihkan di bawah sana.
"Kamu udah dewasa Lona, umur kamu udah 17 tahun. Mama ajak kamu cari kerja aja, daripada sekolah." Lona tau, Lona tau alasan kenapa Rani tidak mendaftar kan dia sekolah 1 tahun lalu.
Karena Rani ingin Lona sepertinya, seperti dirinya di usia muda dulu.
"LONA BUKAN MAMA!" dia kembali berteriak dan berdiri dari tempat nya tadi. Dia menatap mata lawan bicara nya itu.
"Lona bukan mama, Lona tau kita nggak kaya, kita gak berkecukupan. Tapi Lona janji, Lona akan kerja tanpa ikut sama mama." Kata nya berusaha meyakinkan wanita berumur 34 Tahun ini.
"Mama boleh pergi, kata mama Lona udah dewasa kan? Iya Lona akan kerja tapi nggak bakal ikut sama Mama."
Setelah kejadian itu, Mama Lona kembali ke kota dimana semua nya berlangsung. Dimana asal usul Lona hadir di dunia. Lona mengutuk tempat itu, karena jika di ingat Rani pernah mengatakan bahwa Lona adalah anak dari sebuah kesalahan.
Kesalahan yang tidak seharusnya di lakukan waktu itu disaat umur Rani menginjak 17 tahun. Kenakalan remaja sudah ada sejak dulu, jadi jika kalian menemukan itu di jaman sekarang. Ketahuilah itu bukan hal tabu lagi di dunia ini.
Mama dari Rani atau Nenek dari Lona. Mengusir Rani dari rumah dan Rani bertemu dengan seseorang yang berasal dari tempat hiburan malam. Rani di urus oleh pemilik hiburan malam sampai ia melahirkan.
Rani sudah meminta tanggung jawab atas kehamilannya kepada ke kasih nya itu, tapi ia di tolak mentah-mentah dan di suruh mengugurkan kandungan nya.
"Mama, Lona kangen."
...🌸🌸🌸...
"Siapa nama nya?"
"Lonalisa Mulya, umur 20 tahun." Jelas seorang pria dengan wajah serius saat membaca berkas itu.
Sedangkan sosok yang berada di kursi dan meja kebanggaan gedung yang sedang ia tempati saat ini. Menunggu kalimat selanjutnya keluar dari pria tadi.
"Tertulis jelas, dia belum menikah." Akhir kalimat dari data yang berada dalam berkas itu membuahkan hasil senyuman dari bibir nya.
Meja besar berwarna coklat dengan papan nama di atas nya bertuliskan BARAZEAN CEO
"Lonalisa, menarik. Aku harus lakukan hal ini, demi kebahagiaan mama."
...🌸🌸🌸...
Pagi hari yang sangat cerah tidak seperti kemarin. Lona dengan telaten menaruh papan nomor di atas meja pelanggan. Dan membalik tulisan close menjadi Open.
Cafe yang sudah berdiri sejak 4 tahun ini, sangat disayangkan jika sepi. Maka dari itu Indra sebagai pemilik baru harus pintar-pintar mengelola.
"Pagi nona Lona." Itu godaan dari Indra di pagi hari, sedangkan Lona hanya bisa memutarkan bola mata nya. Sudah biasa ia dikerjai oleh Indra
"Mas Indra nyapa Mbak Lona terus, kita kapan ya Brin." Cemoh Bemo yang mengelap gelas-gelas dan menaruh kembali di meja.
Sabrina mengangguk setuju, "Biasa lah Bemo, mas Indra lagi pdkt sama-
"Brina! Saya kuncir kuda gak lama itu bibir kamu." Suara gelak tawa tak lama terdengar, dan pelaku nya adalah Bemo si lawak abal-abal.
"Parah, Brina bibir monyong Lo mau di kuncir sama mas Indra. Hati-hati aja gak ada yang mau ambil first Kiss mu." Lona mendelik, Indra terkejut, Sabrina sebagai korban hanya bisa melemparkan tomat ke muka Bemo.
"Aduh brina, baju gue kena tomat ini." Teriak Bemo histeris, Sabrina hanya acuh dan melanjutkan pekerjaan nya.
"Mas Indra kayak gitu takut Sabrina keceplosan sesuatu." Akhirnya Lona mengeluarkan suara.
Indra yang tidak mengerti alur nya mendekatkan diri kepada Lona, bukan pada Tuhan loh ya.Â
"Apa kamu bilang tadi?" Kata mas Indra yang sudah berada tepat di samping Lona. Gadis itu bergidik ngeri dan menjauh dari pria jangkung itu. Berlalu sambil membawa nampan-nampan ke dapur.
"Bemo, ada tuh ya orang Bucin tapi takut ngatain cinta." Cibir Sabrina yang melihat tingkah boss nya.
Bemo yang masih setia mengelap baju nya dengan kain basah pun terhenti, "Lah itu tuh orang nya, lagi merhatiin sang pujaan hati ke dapur."
"BEMO, SABRINA SAYA PECAT JUGA KALIAN YA!"
Klonteng suara yang berbunyi akibat masuk nya seseorang dari pintu utama. Ke tiga Manusia itu masih memperhatikan siapa yang datang.
"Bemo tamu ****, sana Lo samperin." Suruh Sabrina, dan bemo dengan cepat mengambil buku catatan menu.
Mas Indra masih memperhatikan siapa pria itu. Sosok tampan, tegas dan jika di lihat si Sabrina ini akan kejang-kejang melihat orang tampan.
"Brina, siapa itu?" Tanya Mas Indra, Sabrina yang masih fokus dengan buku catatan pelanggan pun berhenti.
"Ya pelanggan lah mas, aneh-aneh juga kamu." Indra mendelik tidak suka sama jawaban dari gadis berumur 18 tahun ini.
"Sok-sokan banget kamu ya, jawab saya tanpa liat saya." Sabrina yang tersadar pun langsung menegapkan dirinya dan menatap lawan bicaranya
"Heheheh."
"Hehehe kamu bilang, tuh siapa?" Mas Indra menujuk melalui dagu nya ke arah pria yang baru saja masuk tadi.
Sabrina pun mengikuti kode dari sang Boss dan seketika
"Mas yang lamar mba Lona, cakep kan mas?" Indra langsung menjitak pegawai nya ini,
"Aduh mas, kasar banget." Sungut Sabrina yang melanjutkan baca nya.
"Lagian, masa dia? Cakep gue lah dimana-mana." Dengan pede dia mengatakan itu sama Sabrina yang tipe cowo nya selangit.
"Ck, mending mas-mas itu lah. Mirip Sehun EXO, lah situ mirip telinga Chanyeol aja syukur Alhamdulillah."
"Sabrina! Saya potong gajih kamu ya!"