
Dua hari yang lalu Indra tidak pernah terlihat di Cafe bahkan tidak mengabari karyawan nya. Tentu saja banyak yang bertanya-tanya kemana pergi nya Indra secara tiba-tiba
Ternyata Indra saat ini berada di ujung tanduk keputusan orang tua nya. Indra sudah di beritahu agar membantu ayah nya di salah satu bisnis yang Adimas bangun. Mau tidak mau Indra meng-iyakan nya.
Saat ini Indra sedang duduk termenung di teras belakang rumah nya dengan memandang dedaunan hijau yang begitu lebat menyelimuti. Kalian yang bertanya kemana Indra? Ya Indra hanya di rumah dan Kantor Ayah nya, lalu membantu Adimas mengurus acara yang akan di lakukan malam ini di hotel ADM
Hotel itu dimiliki oleh Kelurga Indra dan kebetulan Adimas lah yang mendapatkan warisan itu dari sang Nenek nya dulu. Indra sebagai anak tunggal dari Adimas dinyatakan sebagai pewaris satu-satunya.
Indra nampak memikirkan sesuatu dalam diam nya itu. Sesekali pria ini memejamkan mata nya lalu membuka lagi kemudian menyunggar rambut nya dengan kasar.
"Indra, kamu di panggil sama Tante." Suara itu, suara Meisya sepupu Indra yang kini menggendong anak nya yang berusia 2 tahunan itu
Indra melengahkan kepala nya dan mengangguk. Lalu Meisya berjalan dahulu dan Indra dibelakang nya saat ini. Dengan langkah se iring Indra dan Meisya mendatangi Bunga yang sedang berkumpul dengan beberapa orang di ruang tamu.
Indra tidak tau jika ada tamu Se ramai itu hari ini.
"Hai Indra." Langkah Indra tadi langsung memelan mendengar suara panggilan menyebut nama nya. Dan mata Indra mencari siapa pelaku nya
Ternyata, dia salah satu orang yang duduk di sopa ruang tamu. Sosok itu adalah
"Kemari Indra, duduklah." Itu suara Bunga menginterupsi Indra Agar duduk di samping nya. Indra menurut dan Meisya sudah duduk di salah satu sopa tunggal.
Orang-orang sangat rapi berjas-jas lalu ada Adimas yang nampak nya tersenyum bahagia di sebelah Kanan Indra. Lalu ada 3 orang lainnya yang tidak sama sekali Indra ketahui siapa mereka kecuali, yang memanggil Indra tadi.
"Bunda sama Papa, Maaf Indra. Kami mengambil keputusan tanpa meminta mu untuk mengatakan iya atau tidak. Tapi ini yang terbaik buat kamu."
Bunga berbicara panjang lebar tanpa melihat Indra sama sekali. Lalu Indra yang tidak tau apa-apa ini hanya bisa mengedarkan pandangannya mencari tahu maksud dari kalimat Bunga.
Adimas menunduk sejenak, Lalu
"Hai Indra, kamu gak lupa sama aku kan?" Suara cempreng itu lagi-lagi mendominasi keheningan ruang.
Mata Indra begitu datar dan menelisik gadis berambut panjang dengan dress berwarna pink pucat itu.
...
...
"Kamu beneran gak lupa kan ndra?" Itu suara Adimas.
"Dia Cleo, Cleona. Teman Meisya jaman SD apa kamu lupa?" Ah tentu saja Indra tidak lupa.
Hanya saja mengapa ada Cleo dan orang tua nya disini?
Sedikit pemberitahuan, Cleona itu teman Meisya yang sering bermain di rumah Meisya saat umur mereka masih sangat kecil. Lalu Indra ini selalu mengusik Mereka bedua saat bermain berbie di rumah Meisya.
Cleo selalu mengejek Indra kalau Indra ini anak pria jadi-jadian yang mau aja ikut bersama mereka. Lalu Meisya dan Cleo berpisah sejak kenaikan kelas 3, dan yah Ayah Cleo serta Mommy nya pindah Keluar negeri untuk menjalankan bisnisnya.
Sejak saat itu, mereka tidak bertemu lagi. Dan hari ini adalah first time
"Cleo dan kamu akan di jodoh kan, semua nya udah di rencanakan sebelum hari ini." Seseorang tolong sadarkan Indra yang terkejut dengan pernyataan dari Adimas.
Apa kata Adimas tadi? Jodoh? Hah?
"Ayah, apa yang ayah."
"Bunda udah bilang kan Indra? Kalau kami tidak butuh iya dan tidak kamu. Kalau kamu udah tau itu sudah cukup dan Bunda sama Ayah tidak menerima penolakan apa pun." Ujar Bunga menatap anak nya itu. Indra menggeleng tidak percaya.
"Hei Indra, Om senang bisa bertemu kamu." Suara Ayah Cleo menyapa. Indra masih shock di tempat.
Tidak ini hanya khayalan Indra atau hanya mimpi Indra.
"Acara hotel malam ini, adalah acara pertunangan kamu dengan Cleo."
Hari Kamis yang sangat menegangkan untuk Lona. Karena hari ini ia harus menemui Indra yang tiba-tiba saja mengirimkan nya Pesan singkat dan mengatakan ingin bertemu dengan Lona di Tepi sungai tak jauh dari alun-alun taman kota.
Tentu saja Lona meng-iyakan Indra. Karena ia juga ingin mengatakan sesuatu kepada Indra. Sore ini, setelah Cafe tutup Lona segera berjalan ke Tepi sungai itu. Dengan wajah tegang dan jantung berdebar-debar tak karuan.
Lona sudah sampai di tempat, dengan menaiki tumpangan ojek online. Lalu Lona berjalan memutari taman agar bisa sampai di tepi sungai itu, dan butuh waktu 5 menit Lona menemukan Indra yang duduk di salah satu bangku menghadap langsung ke sungai sana.
Kaki mungil Lona berjalan dengan cepat. Dia menghentikan langkah nya saat sudah berada di belakang Indra sekarang,
"Mas." Panggil Lona yang berdiri dibelakang pria itu.
Indra melengah dan langsung bertatap mata dengan Lona. Mata Indra begitu sayu dengan kelopak nya yang sedikit membengkak.
Lona yang awalnya bersemangat, terkejut melihat kondisi Indra sekarang.
"Duduk lah disini." Kata Indra menyuruh Lona duduk di samping nya. Lona menurut dan ikut di samping Indra.
Mereka berdua masih terdiam, Lona pun tidak berani bertanya. Tapi Lona harus bertanya agar tidak penasaran lagi.
"Mas Indra aku-
"Aku di jodoh kan Lona, kemarin 2 hari aku menghilang karena itu." Tubuh Lona melemas di tempat.
Harapan nya musnah sudah
"Mas Indra terima?" Tanya Lona berwas-was menerima jawaban dari Indra.
Indra nampak berat mengatakan iya lalu pria itu mengangguk pelan.
Hancur sudah hancur harapan Lona.
"Aku gak bisa nolak permintaan mereka, Aku akan menikah beberapa bulan lagi Lona." Jelas Indra tanpa melihat gadis di samping nya yang sudah ingin menangis.
Apakah Lona boleh egois? Membenci keputusan Indra dan membenci Indra yang dulu nya selalu perhatian kepada nya dan saat ini ia ingin menikah? Ah jika bukan Indra yang ia minta untuk menikahi nya, Lantas siapa lagi?
Indra melengah kan kepala nya ke arah Lona yang sedang menunduk, Indra mengerut kan dahi
"Kamu baik-baik aja?" Pertanyaan Indra langsung mengangkat wajah Lona. Gadis itu hanya bisa mengangguk dengan senyuman palsu
"Katanya kamu mau mengatakan sesuatu?"
Ada mas, ada yang ingin dikatakan oleh Lona. Tapi Lona memilih
"Ah iya mas, Lona mau bilang kalau beberapa bahan Cafe hampir habis. Kata Bemo, mas boleh belanja lagi."
Ya stok cafe mulai menipis, dan biasanya Indra lah yang mengisi nya.
"Oh begitu." Lagi-lagi Lona mengangguk.
Jika Indra tidak bisa, baiklah mungkin ini adalah takdir Lona yang akan bersama dengan Mama nya di dunia kelam sana.
Lona berdiri dari duduk nya dan menarik dalam-dalam Nafas nya.
"Lona pamit pulang dulu mas, Terimakasih sudah mau memberitahu kan itu." Lona meninggalkan taman tanpa embel-embel Indra menahan tangannya. Atau menyuruh Lona di sini saja
Indra membiarkan gadis itu pergi dan berlari, Indra tidak bisa menyembunyikan air mata nya lagi. Pupus sudah ke inginan dan impian Indra untuk bersama dengan orang yang sangat ia cintai.
"Maafkan aku Lona, maaf." Indra menangis di bangku itu dengan sinar mentari yang hampir tenggelam.
Indra tidak tau seberapa berat masalah Lona yang menyangkut terhadap nya, tapi gadis itu memilih diam tanpa suara dan berusaha menerima takdir nya.