BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
19


Dentingan sendok saling bersahutan dengan piring. Begitu lahap Lona memakan makanan yang Rani beli, sudah sekian lama hal ini dia inginkan dan sekarang terwujud.


"Eum, Boss kamu itu baik banget loh Lona." Rani mencoba membuka topik setelah sekian menit mereka berdoa fokus ke makanan.


Lona yang berada di depan Rani pun mendongak.


"Mas Indra?" Rani mengangguk


Lona masih mengunyah makanannya perlahan, dan Rani menunggu Sabungan kalimat dari Lona.


"Dia emang orang baik Ma." Sambung Lona sambil mengambil gelas berisi air putih itu.


Rani mengangguk lagi.


"Sikap Indra tadi, mengingat kan mama sama seseorang." Lona yang masih fokus meneguk air minum nya pun tersedak.


"Aduh Lona pelan-pelan. Keselek tuh." Tegur Rani yang berdiri dari duduk nya untuk menepuk punggung Lona, meredakan perih di tenggorokan akibat tersedak itu menyakitkan.


Rani masih setia berdiri di samping Lona sambil mengelus-elus punggung anak nya. Memikirkan Indra membuat nya mengingat seseorang, rasanya tidak adil jika itu dia.


Tangan Rani di tahan Oleh Lona agar tidak mengelus punggung nya,


"Mas Indra mirip siapa?" Tentu saja hal itu harus dipertanyakan dengan detail.


"Ah nggak bukan mirip, mama salah bicara tadi. Soalnya Indra itu ganteng." Tidak Rani pasti ngelantur dengan ucapannya.


Lona menatap mama nya yang seperti salah tingkah sendiri


"A-ah mama udah selesai makan, kamu mama tinggal ya." Rani lagi-lagi menghindari nya.


Lona masih diam di tempat, dan ia tahu jika Rani berbohong padanya.


...🌸🌸🌸...


20 tahun yang Lalu


Tepatnya di sebuah Rumah yang lumayan besar. Dengan foto-foto berjejer di setiap dinding nya. Banyak benda-benda antik yang senantiasa berada di setiap pojok rumah.


Dan di sini lah gadis berambut panjang dengan alat tes kehamilan di tangannya. Gadis berumur 17 tahun itu lagi-lagi memejamkan mata nya dan mengembuskan nafas gusar. Ia takut melihat alat tes di tangannya ini, takut jika hasil nya membuahkan masalah yang harusnya tidak ia lakukan waktu itu


Berulang kali dia berucap dalam hati semoga tidak kejadian tidak kejadian, lalu dia membuka alat tes itu perlahan. Dan


Hasilnya Positif.


Tubuh nya hambruk di sebelah tempat tidur sambil menangis tidak percaya, kesalahan semalam saja membuat nya seperti ini. Masa remaja nya akan di renggut secepatnya.


"K-kenapa bisa." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir nya. Ia takut jika orang tua nya serta Kaka tertua nya tau keadaan nya sekarang.


Ia yakin akan dimaafkan tapi tidak tau bagaimana respon pertama mereka semua. Ia sangat takut benar-benar takut tidak bisa kah seseorang menolong nya.


"Ah ya benar, aku harus bertemu dengan dia."


Dia yang dimaksud nya adalah pria yang melakukan hal itu padanya beberapa Minggu lalu. Gadis itu mengambil jaket milik nya dan keluar dari kamar. Menghapus air mata yang mengalir. Menuruni anak tangga menuju pintu utama rumah


Sangking tidak bisa fokus dalam berjalan, Gadis itu menabrak seseorang. Menyebabkan dia hampir terjatuh dari tangga yang lumayan tinggi. Seseorang itu menahan nya dan menatap aneh ke arah nya


"Kamu kenapa Nira?" Gadis itu mengatur nafas nya yang ngos-ngosan lalu mengecek tangannya yang sudah tidak ada benda itu.


Ia panik Sangat panik dan ia yakin alat itu sudah jatuh dari sini, tapi dimana.


"Ini punya kamu Bunga?" Nira merasakan detak jantungnya berhenti dan nafas nya di cekek bagian leher. Susah sekali bernafas saat ini


"Eh bukan mas, Masa Bunga hamil lagi sih." Kaki Nira bergetar sambil menopang nya di pegangan tangga.


Bunga yang sadar atas sikap adik ipar nya itu pun mengerutkan dahi nya


"Kamu kenapa Nir? Sakit?" Nira masih menunduk.


"Terus kalau bukan punya kamu lantas punya." Pria yang berada di bawah tangga itu menatap gadis SMA yang berada di samping istri nya. Gadis itu nampak gusar dan takut


"NIRA TURUN KAMU NIRA."


🌸🌸🌸


"Mas Indra tuh loh mba, dari tadi saya telpon gak di angkat-angkat." Keluh Sabrina yang menaruh kepala nya di atas meja kasir. Hari yang melelahkan bagi mereka bertiga karena hari ini adalah tanggal merah.


Semua orang akan berjalan-jalan atau sekedar singgah sambil meminum kopi dan lain-lain.


"Sibuk kali." Singkat Lona yang menatap layar kasir.


Sabrina menatap tidak suka ke arah Lona, wanita itu sangat tenang tidak tersentuh bahkan jika ia bercerita pun tidak pernah muluk-muluk.


"Heyyo Sabrina." Suara Bemo berteriak nama Sabrina, sedangkan gadis itu menatap geram pria itu.


"Bemo jangan ganggu Sabrina terus." Tegur Lona tanpa menatap dua remaja baru masuk Perkuliahan itu.


"Siapa yang ganggu, orang saya cuma nya-


Lona yang sudah selesai dengan pekerjaan nya itu pun melihat ke arah Bemo yang meremasi nampan di dada nya.


"Kamu kenapa Bem?"


"Mba cewe tuh susah banget ya di tebak. Tuh si Sabrina diemin saya biasanya dia tu paling bacot." Keluhan itu bukan pertama kalinya di Minggu ini, Bemo sering mengeluh sama perubahan Sabrina nya.


"Eh masih tidak peka ternyata."


Bemo yang masih bersama ekpresi gila nya itu menoleh


"Apa mba? Saya kenapa?"


"Bemo kembali bekerja." Ah akhirnya ada orang itu datang juga.


Dua orang yang berada di Kasir langsung mengalihkan pandangannya ke arah Indra yang baru saja datang dengan seorang gadis di sampingnya eh tapi gendong anak berusia sekitaran 2 tahunan ah Lona tidak bisa tahu itu anak usia berapa.


"Mas Indra udah punya bini ternyata." Ceplos Bemo.


Indra yang sudah tau watak ceplas-ceplos Bemo itu langsung menjitak nya pelan


"Sembarangan, dia Meisya sepupu saya." Ya Meisya


Meisya tersenyum ke arah Lona yang kini mengerti dan paham. Lona kaget karena mendapatkan uluran tangan dari Meisya yang masih menggendong anak nya itu


"E-eh?."


"Kenalin aku Meisya, kalau kamu?" Lona rasanya tidak bisa bernafas karena baru kali ini ada satu lagi wanita yang mau berteman dengan nya.


Indra yang melihat itu tersenyum hangat sambil menatap ke dua wanita yang sangat penting di hidupnya.


"A-aku Lona, salam kenal." Suara Lona begitu gugup sampai Meisya pun terkekeh, Lona kebingungan melihat Meisya tertawa pelan untuk nya.


"Meisya." Tegur Indra


"Ah maaf-maaf, sebenarnya kamu itu kenapa gugup? Santai aja kali." Ucap Meisya kepada Lona.


"Mba Lona gugup gara-gara mba ini cantik banget." Bemo adalah Bemo.


"Saya laporin laki nya kamu ya." Ancam Indra yang langsung membuat mereka tertawa.


"Indra aku laper, aku nunggu di sana deh." Meisya berjalan meninggalkan mereka menuju meja cafe. Lona masih memperhatikan wanita cantik yang sudah menggendong anak kecil itu.


"Bemo, tuh." Bemo yang paham sama instruksi dari Indra langsung saja dia berjalan mengambil buku menu dan menyerahkan nya kepada Meisya.


Sedangkan Lona sudah pamit kembali ke dapur sambil menunggu pesanan di berikan pada nya. Lona sudah mencuci tangannya di wastafel lalu mengeringkan nya memakai tisu


"Aku mau tanya."


"Mas Indra, aku kaget." Indra tiba-tiba saja datang dan mengatakan itu, siapa tidak kaget coba. Indra kayak dedemit


"Maaf habisnya bengong terus heran." Cibir Indra, Lona mengabaikan nya.


Indra melihat wanita itu membelakangi nya dan masih menghidupkan air keran. Entah apa yang dia lakukan


"Kamu gak kenapa-kenapa kan? Dia kembali untuk apa?" Indra benar-benar Khawatir dengan ke adaan Lona semalam. Tapi melihat respon Lona yang seakan baik-baik saja sudah cukup membuatnya sedikit lega.


Ingat, hanya s-e-d-i-k-i-t


"Mama gak akan ngelakuin itu lagi kok." Ujar Lona tanpa melihat ke arah nya. Bara mengerutkan dahi


"Mama udah dapat apa yang dia mau."


Rani sudah dapat apa yang dia inginkan, menikahkan Lona adalah melepaskan beban di pundak nya.


"Kamu yakin?" Lona mengangguk.


Indra masih saja khawatir dan cemas. Memangnya hal apa yang Rani dapat kan dari Lona sehingga ia tidak meminta hal itu lagi kepada anak nya. Indra sedikit bersyukur kalau Lona tidak kenapa-kenapa


"Berapa lama sudah dia di sini Lona?"


"Hampir satu Minggu."


"Tapi kamu gak kenapa-kenapa kan?"


Indra begitu protective dan Lona harus sabar menjawab nya.


"Iya mas aku baik-baik aja kok."


"Kalau baik-baik aja, syukur lah."


"Hm." Lona bergumam tanpa menoleh atau membalik kan badannya. Karena ia takut akan menangis di hadapan Indra sekarang, rasanya jika berhadapan dengan Indra ia merasa tidak ada yang harus di palsukan lagi.


Maka dari itu, biarlah dia tidak berbicara sambil tatap. Biarkan ini berlalu tanpa lempar pandang. Biarkan saja