
"Udah dua hari ya mba, mas Indra gak muncul ke sini." Gumam Bemo yang duduk menumpu dagu dengan satu tangan nya. Lona hanya mengangguk dan menyeruput susu coklat dingin miliknya itu.
Cuaca kota sore ini begitu panas menyengat, padahal sudah hampir petang. Dua orang ini sama-sama termenung di sore ini.
"Gimana hubungan kamu sama Safira?" Ucap Lona bertanya sambil melengah sekilas ke arah pria ini.
Bemo melengah ke arah Lona yang menanyakan hal itu ke padanya, Bemo yakin Lona menanyakan ini setelah memastikan tidak ada orang lain. Ya benar, Sabrina hari ini ijin pulang lebih awal katanya dia ingin mengerjakan tugas kuliah nya.
"Begitu deh mba, Safira itu anak orang Kaya dan dia punya abang."
"Iya saya tau." Jawaban dari Lona membuat Bemo mendelik tidak percaya.
"Maksudnya mba?" Otak bemo bukannya lemot, tapi emang gak ngerti sama jawaban dari Lona sekarang.
Lona menyimpan gelas nya di atas meja pantri.
"Safira itu adik nya cowo yang ngelamar saya kan?" Tanya Lona dan Bemo mengangguk dengan serius.
Lona menggeleng sambil berdecak kesal, "pantas aja Sabrina ngatain kamu ****, emang kamu gak bener otak nya."
"Kok ngatain saya sih Mba, kan saya gak mau aja gitu ngerusak suasana mba sama Mas-mas itu." Canda Bemo sambil tersenyum menggelikan.
"Wajah kamu itu bemo, pengen saya kasih parutan keju. Sudah lah saya mau tutup Cafe."
"Saya bantuin mba."
Mereka berdua membersihkan Cafe untuk di tutup, hanya membutuhkan 20 menit saja. Lalu Lona dan Bemo kembali ke rumah masing-masing. Lona kepikiran tentang Indra yang sama sekali tidak bisa di hubungi belakangan ini, Lona sampai bingung kenapa pria itu tidak mengabari nya.
Biasanya Indra selalu gencar menghubungi nya walaupun Lona menolak berulang kali. Tapi kali ini, Indra benar-benar tidak bisa di hubungi. Ada rasa khawatir terbesit di hati kecil nya, tapi ia tidak tau rasa khawatir kepada teman yang selalu ada untuk nya atau seseorang yang Lona cintai.
Tanpa Lona sadari dirinya telah berada di depan rumah nya. Terlihat sepi seperti biasa, tapi
Mata Lona langsung mendelik tidak percaya melihat sepasang sendal berjejer di tangga masuk rumah nya. Tubuh Lona bergetar ditempat ia berpijak sambil menggigit bibir bawah nya. Lalu mundur beberapa langkah dengan gugup. Bibir yang ia gigit tadi sudah bergetar tidak biasa.
Ceklek pintu silver itu terbuka dan menampilkan sosok wanita dengan rambut sebahu itu menatap Lona menggunakan sorot mata tajam menusuk.
"Selamat datang Anak mama." Percayalah Lona sudah berusaha tegar dan tidak takut karena mama nya datang hari ini. Tapi dia gak tau sama sekali kalau Wanita ini datang
Lona berlari memeluk Mama nya yang selama ini menghilang dari pandangan nya. Ia sangat merindukan sosok yang Ibu dalam hidup nya. Dan saat ini Lona sudah bertemu kembali. Lona akan melakukan itu jika Mama nya bukan wanita yang ingin menjual nya itu.
Saat ini Lona masih berdiam diri tanpa berniat melangkah maju.
"Ayo nak masuk, mama bawa banyak Oleh-oleh buat kamu."
"NGGAK! ngapain mama pulang hah?" Lona berteriak tidak bisa menahan tangisannya. Untung saja Rumah Lona jauh dari keramaian, yang bisa di bilang beberapa rumah saja yang ada di sekitar lingkungan nya.
Mama Lona melangkah maju sambil tersenyum layak nya menyambut sang putri kesayangan nya datang ke rumah mereka.
"Ngapain mama pulang, Lona disini baik-baik aja. Mama gak perlu pulang." Ujar Lona sambil berjalan mundur dengan mengeratkan tangannya di tas selempang miliknya.
"Kamu kayak ngeliat setan aja Lona, ini mama mu." Tunjuk nya mengarah kan telunjuk ke dada nya. Lona masih berjalan mundur dengan Mama nya yang makin mendekat.
Lona menangis ketakutan melihat mama nya yang semakin mendekat ke arah nya, lalu
Jantungnya berdetak sangat kencang. Menunggu kalimat apalagi yang akan di lontarkan dari mulut wanita itu
...🌸🌸🌸...
Bemo memberhentikan motor bebek nya di tengah keramaian motor. Lalu menaruh helm nya di atas kaca spion. Bemo berjalan menuju gedung tempat mereka Sabrina dan Bemo berkuliah.
Bemo tidak melihat Sabrina di sini, padahal sudah waktunya kelas malam. Sabrina biasanya lebih awal darinya dan sekarang? Bahkan wujud bayangan saja tidak kelihatan
"Woi Lina," panggil bemo kepada teman sekelas nya, Lina melengah dan mengatakan Apa melalui tatapannya.
"Eum, Sabrina kok gak ada? Biasanya dia udah datang kalau gue-
"Nggak tau, Lo kan pacarnya Sabrina ngapain nanya sama Gue." Bemo menganga karena mendapat jawaban dari mulut Lina.
"Sembarang aja kalau ngomong, Gue itu Cuma sahabat si Sabrina." Bela Bemo tidak mau terjadi fitnah terus menerus.
Lina berdecak kesal melihat kelakuan bemo yang sama sekali tidak peka dengan ke adaan sekitar.
"Kalau bukan pacar, gak usah di perhatiin kayak gitu. Gue sebagai cewe kayak Sabrina tau gimana rasanya kalau di gituin mulu sama Cowo." Oceh Lina tak kalah nyolot lagi
"Apasih Lina, gak jelas banget. Gue sama Sabrina gak pernah begituan aneh nih otak nya mesum." Tuh Bemo itu memang ****.
"Aduh Bemo, sudahlah cape gue bicara sama Cowo kek Lo. Sana sana Ini bukan Kelas Lo." Usir Lina dengan kasar, Bemo hanya bisa berlapang dada mendapatkan perlakuan itu.
Lalu saat bemo sudah keluar dari kelas Sabrina, Bemo melihat Sabrina berjalan menuju kelas nya dengan lesu sambil menunduk.
Bemo memperhatikan gerak-gerik Sabrina yang terlihat tidak bersemangat hari ini, ah ralat sudah 2Â hari Sabrina seperti ini. Bahkan di Cafe saja tidak berbicara kasar lagi pada bemo yang biasanya menjadi makanan sehari-hari Sabrina.
"Eh Anak jelek sudah datang, gimana Tugas Lo gue mau li-
Kata-kata bemo terpotong, karena Sabrina hanya melewati nya tanpa berniat melayani ocehan dari Bemo. Sabrina sudah masuk ke dalam kelas nya dan tidak sama sekali mau menyadari bahwa ada sosok bemo tadi di hadapannya.
Sabrina duduk di pojok kelas sambil menaruh tas nya di atas meja, kemudian mengeluarkan laptop miliknya.
"HAHAHA NYAMIN." Teriak Lina sebagai ejekan untuk Bemo, lalu lelaki itu memilih pergi ke kelas nya saja.
Sabrina dan Bemo itu, udah kenal sejak jaman SMA. Dimana saat itu Bemo anak yang cupu terus ******. Bemo itu cuma berani di kandang doang, bahkan Saat tawuran antar sekolah, bemo selalu bersembunyi.
Sabrina? Ah dia ini anak perempuan yang gak suka sama Bemo dengan tingkah lebay nya itu. Pernah satu ketika Sabrina minta tolong untuk mengantarkan buku cetak ke perpustakaan yang pada saat itu hanya Sabrina dan Bemo belum piket hari Kamis.
Tapi apa jawaban bemo?
"Nggak gue gak bisa Brina, berat tau mana kuat gue."Â Sabrina hanya bisa melongo.
Ada ya anak cowo kayak bemo, setiap ucapara selalu ijin sakit, setiap olahraga selalu ijin toilet dua kali dalam satu jam.
Setiap pelajaran matematika selalu telat, setiap jam pagi selalu sarapan di kelas, setiap apapun bemo bakal cacat
Sedangkan Sabrina, dia cewe disiplin dan pinter di sekolahnya. Walaupun sedikit Urak-urakan.
"Lo kenapa sih sab."