
Hujan di pagi hari bukan lagi hal tabu bagi Lona. Biasanya jika hujan maka Lona akan berangkat ke Cafe lebih lambat dari biasa nya. Sudah berulang pesan ia kirimkan ke Indra bahwa ia akan telat hari ini
Menunggu sampai hujan sedikit reda atau tidak berhenti sekalian. Lona tengah duduk di teras rumah sambil menggenggam payung lipat berwarna hijau milik nya, lalu ada teh hangat di depan nya yang di taruh di atas meja.
Lona tidak duduk sendiri seperti biasanya, kali ini ia bersama dengan Rani yang juga ikut menunggu hujan nya berhenti.
"Gak nyangka banget bisa hujan deres gini ya Lon, padahal semalam itu banyak bintang nya." Oceh Rani yang mata nya menatap tidak percaya jatuhan air hujan yang tidak bisa di hitung jumlah nya itu.
"Emang nya banyak bintang belum tentu akan hujan ma?" Tanya Lona menanggapi omongan Rani. Mereka berdua saling lempar pandang dan Rani orang pertama memutuskan pandangan itu
"Bener juga sih, kadang yang begitu bersinar padahal dia akan suram juga." Gumam Rani.
Lona mengambil cangkir teh milik nya, berusaha menikmati hangat nya teh di pagi hujan ini. Hal yang paling ia sukai dari hujan adalah keheningan dari percakapan dan keributan dari hujan yang jatuh. Begitu indah dan menenangkan
Dulu saat Rani tidak ada di rumah, Lona akan menerobos hujan ini untuk pergi bekerja. Walau akan tau kalau dia pasti akan terkena demam, mau tidak mau ia harus ada di Cafe tepat waktu. Tapi sekarang, Rani yang melarang nya untuk nekat menerobos hujan deras, katanya takut jika Lona akan terkena demam tinggi.
Ting
Pesan masuk dari headphone milik Lona.
Mau aku jemput?
Pesan itu dari Indra. Dia menawarkan tumpangan untuk Lona, padahal rumah Indra itu berlawanan arah. Ya walaupun Lona ga pernah tau rumah Indra dimana, tapi setiap datang atau mengantarkan Lona pulang. Indra selalu melewati jalan yang berbeda.
Sudah jelas jika Arah rumah Lona sama Indra berbeda.
Gak usah mas, aku nunggu reda aja.
Lona segera mengetik balasan pesan singkat Indra, Lona tidak enak jika terus-menerus merepotkan Indra. sudah cukup beberapa tahun lalu ia menjadi temeng kebahagiaan Lona dan senyum Lona. Dan sekarang biarlah Indra bahagia bersama calon istri yang di jodoh kan pada nya
"Dari siapa Lon?" Lona menutup layar handphone nya dan menatap Rani yang bertanya.
"Boss nya Lona, ma." Jawab Lona
Rani mengangguk.
"Boss kamu kelewatan baik ya Lona." Lona tidak menjawab omongan Rani tapi dia mencoba mendengarkan.
"Nama nya Indra ya? Mama kayak gak asing sama nama itu, ah semoga aja bukan dia." Akhir kalimat Rani sengaja ia kecil kan, seperti gumaman saja. Dan pastinya akan tertutupi oleh suara gaduh hujan
"Nama Indra kan banyak Ma." Lona yang tidak mendengarkan kalimat akhir pun menjawab seperti itu, iya sih banyak nama Indra di dunia ini. Ah mungkin satu kota aja bisa lebih sepuluh dah yang nama nya Indra.
"Iya kamu bener."
...🌸🌸🌸...
"Astagfirullah Sabrina, baju kamu basah semua." Indra mengomentari penampilan Sabrina yang sudah basah kuyup di buat hujan deras. Lagian siapa suruh nerobos hujan
Sabrina yang ngos-ngosan mengelap air yang hampir jatuh dari rambut nya pun menatap Indra tajam,
"Eh mas Indra yang cakep tapi boong. Saya ini lari-lari an dari halte ke sini, buat siapa coba? Ya buat Cafe ini lah. Lagian saya di gajih jadi saya harus rajin cari muka." Indra melongo
Jawaban dari pegawai nya ini membuat nya mengelus dada. Ada-ada aja kelakuan manusia di Cafe nya.
M
ata gadis itu gencar mencari pegawai lainnya, dan ternyata tidak ada. Hanya dia yang datang lebih awal daripada Bemo dan Lona
"Alhamdulillah saya jadi yang pertama, naikin gajih dong berarti." Walaupun baju basah hampir masuk ke dalam, tidak meruntuhkan pertahanan Sabrina cari muka.
"Enak aja, sudah sana ganti baju kamu. Jorok banget jadi cewe." Bukannya di iyakan, malah di balas cemohan. Dasar mulut lelaki lebih tajam dari seribu Lambe wanita
"Jahat banget, untung mba Lona ga mau sama Lo." Cibir Sabrina yang berlari melewati Indra, sedangkan pria itu langsung membalikkan badannya karena mendengar samar-samar kalimat Sabrina
"Brina kamu ngomong apa tadi?" Teriak Indra, tapi percuma. Ruang ganti sudah di tutup rapat
Indra membuang nafas nya perlahan, dan mengecek buku-buku menu yang mungkin harus ia cetak ulang. Pesan masuk dari Lona yang menolak tawaran nya, agak sedikit mengecewakan. Indra tau kalau Lona mengurangi kondisi mereka yang biasa nya sangat dekat.
Mengingat Indra sendiri yang memberitahu Lona bahwa ia bertunangan dengan wanita lain. Indra sadar kalau Lona menjaga jarak sedikit demi sedikit padanya.
Ceklek
"PAGI MAS INDRA." Teriak suara pria dari pintu Cafe. Indra yang kaget langsung melinat siapa pemiliknya dan ternyata
"Bemo jelek banget sih Lo."
Bukan Indra yang ngatain Loh, tapi si Sabrina yang sudah selesai ganti baju. Bemo hanya cengengesan di depan pintu sambil menutup payung yang dia bawa, otomatis lantai-lantai cafe basah akibat ulah dua anak tengil ini
Penampilan Bemo sama hal dengan Sabrina tadi, tapi kali ini Bemo memakai jas hujan warna ungu yang kayak kresek itu loh. Terus dia bawa payung gambar hello Kitty
"Sabrina jahat Lambe nya, gini-gini aku kerja buat calon bini." Calon bini katanya. Ia si Safira-safira itu tuh yang dia maksud, cih dasar suka yang muda. Suara hati seseorang yang sedang cemburu
"Bemo, jangan nginjak satu keramik lagi kalau kamu ga mau saya pecat." Ancam Indra.
"Eh ini juga mas Indra jahat banget mau mecat-mecat saya, sudah tau kan mas jaman edan susah cari kerja." Bukannya lekas buka jas hujan, bemo malah nyeramahin orang kayak Indra.
Ya pasti
"Sudah tau cari kerja susah kamu bersikap kayak udah siap di pecat, pokok nya lepas jas hujan kamu dan cepat juga Taroh payung hello Kitty yang kamu pegang itu." Perintah Indra.
Sabrina yang baru sadar gambar payung Bemo, dia ketawa keras sambil memegang perut nya
"Astaga Bemo, payung siapa Yang kamu pake. Bisa-bisa nya gak malu itu loh." Tuhkan, pagi-pagi udah hina orang. Sabar bemo sabar
"Sabrina." Indra menegur Sabrina seperti menegur adik nya.
"Ih mas Indra, coba deh mas Indra aja malu kan pake payung hello Kitty. Hahaha apalagi bemo yang-
"Bukan punyaku, tapi punya Safira."
Sabrina yang ketawa-ketawa tadi langsung diam kicep mendengar jawaban dari Bemo yang membuat nya diam.
Sabrina langsung membalikkan badannya berjalan menuju toilet Cafe. Sedangkan dua pria yang sedang menatap bingung kepergian Sabrina hanya bisa melongo ada apa dengan Sabrina yang tiba-tiba diam gitu
"Bemo, dia kenapa?" Indra menanyakan hal itu kepada Bemo, sedangkan Bemo mengangkat dua bahu nya.
Mata Indra langsung mendelik melihat bemo yang sudah melewati satu keramik.
"Bemo, pulang gih." Yang di suruh pulang pun tidak mengerti
"Eh kenapa mas?"
"KAMU SAYA PECAT."
Bemo yang melihat kebawah dan mendapati kaki nya yang sudah melewati batas boleh Indra. Langsung saja ikut-ikutan teriak
"MAAF MAS MAAF, JANGAN PECAT SAYA!"
Ya begitu lah pagi yang begitu dingin ini. Di hiasi adegan-adegan hot menyayat hati dan jiwa