
"Mba Lona, pesanan kopi pahit sama Biskuit-
"Dia lagi?" Suara Sabrina menjelaskan terhenti,
Sabrina mengangguk.
Lona hanya bisa menghembuskan nafas kasar nya. Lelaki itu kembali ke Cafe ini, untuk apa? Untuk melamar nya yang ke dua kali?
"Mba, Lagian nih ya. Dia ganteng kok Mba menjamin masa depan yang cerah diliat dari muka nya." Oceh Sabrina yang membantu Lona menyiapkan pesanan pertama pagi ini. Lona masih diam seribu bahasa, ia tidak mau repot-repot mengurusi pria tidak jelas asal-usulnya itu.
Kemarin, Kata Sabrina ketika dia mengantar kan pesanan. Pria itu langsung menanyakan siapa yang membuatkan kopi pahit itu dan Sabrina langsung mengatakan Lona lah yang membuat nya. Lalu pria itu menanyakan dimana keberadaan nya langsung saja Sabrina menunjuk ke arah kasir.
Tidak salah kan? Bukannya ketika seseorang menanyakan sesuatu kita harus menjawab nya.
"Dia itu mau nya apa ya Sab? Aku bingung, kok ada orang kayak dia." Gumam Lona yang masih mengaduk kopi milik pria itu dengan telaten.
"Mau nya mba lah, buktinya tanpa mikir dia langsung lamar mba." Jawaban Sabrina mendapatkan tatapan sinis dari Lona.
"Ampun mba ampun, yaudah saya anter-
"Nggak, biar saya yang kasih ke dia."
Lona merebut alih nampan ke tangannya, dan berjalan keluar dapur menuju meja pelanggan. Di sana memang sudah berada satu sosok pria dengan perawakan sama persis seperti kemarin. Lona tanpa sadar melewati Mas Indra yang duduk di meja kasir Cafe ini.
Semakin dekat Lona semakin terasa detak jantung nya. Ia bingung kenapa bisa memberanikan diri muncul lagi ke hadapan Pria itu. Lona menaruh pesanan ke meja pria ini, dengan telaten dan rapi.
"Selamat pagi Lisa." Gerakan Lona berhenti saat ia ingin menaruh sendok kecil di samping Cangkir. Dia mengangkat wajah nya dan mengerutkan dahi sambil menatap bingung ke arah pria itu.
"Tawaran saya masih sama, Mau menikah dengan saya?" Lona langsung menaruh sendok kecil itu
"Silahkan di nikmati, selamat pagi juga." Dia ingin segera masuk ke dapur, Dia tidak ingin melihat pria yang se enak jidatnya menawarkan pernikahan yang bahkan Lona sendiri tidak mengerti.
Sebelum Lona berbalik, tangan kekar pria itu sudah menahan nya lebih dulu. Hingga tatapan mereka berdua kembali bertemu dalam 2 ekpresi
"Saya mohon, menikah sama saya." Suara nya memohon kepada Lona layaknya anak kecil meminta permen kepada sang ibu.
Lona masih mematung di tempat, ekpresi yang sama seperti kemarin disaat ia meminta Lona agar memikirkan lagi permintaan darinya.
"Lepaskan tangan Lona." Suara itu, suara Mas Indra yang datang karena sedari tadi memperhatikan tingkah Pria ini yang mulai menjadi.
"Saya cuma mau bicara sama dia, gak ada sangkut paut sama anda." Balas pria itu dengan nada tajam.
Indra melihat ke arah tangan Lona yang masih di genggam oleh pria ini, dan secepat mungkin Indra ingin melepaskan itu.
Namun,
"Mas Indra, Saya mau bicara sama dia. Jadi tolong, beri kami ruang." Indra terdiam ditempat, dan mengangguk paham.
Lalu Indra pergi meninggalkan dua orang itu dengan rasa kesal, tapi ia yakin. Lona nya tidak akan mengambil keputusan yang salah.
Berdiri di samping meja pelanggan dengan tangan di cekal, bukan lah hal yang lucu untuk mengobrol.
"Saya mau duduk, dan kamu jelaskan apa mau kamu dan sebab nya." Lelaki itu mengangguk dan melepaskan cekalan dari tangan Lona.
Lona yang sudah dilepaskan lalu duduk di bangku berhadapan dengan Pria ini.
"Katakan, apa yang mau kamu katakan." Perintah Lona.
Pria itu mengangguk lalu ia mengeluarkan sesuatu dari dalam Tas kerja milik nya, Lona mengerutkan dahi ketika benda itu adalah sebuah foto wanita paruh baya yang di tunjukkan kepada nya.
"Dia Mama saya." Lona mengangkat wajah nya dan mengangguk paham.
Pria itu menghembuskan nafas sejenak.
"Dia meminta saya mencari istri secepat mungkin, lalu saya-
"Dengan menjadikan saya korban pernikahan kontrak? Iya begitu?" Ucapan Lona tanpa terbantah.
"Saya punya banyak alasan menikahi kamu."
"Katakan kalau begitu."
"Saya akan memberikan kebahagiaan yang tidak kamu temukan sebelum nya. Dan saya akan memberikan Rumah yang layak untuk kamu lalu
"Cukup, Kamu boleh pergi." Pria itu menghentikan ucapannya dan menatap Lona dengan kebingungan.
Lona berdiri dari duduknya dan membuang wajah ke samping.
"Saya bukan wanita yang mau menikah hanya karena materi. Terimakasih sudah menawarkan hal itu." Lona melangkah pergi tanpa melengah sekalipun, ia tidak ingin berbicara lagi dengan pria egois dan menganggap semua wanita hanya mencintai duit duit materi materi saja
Lona berjalan cepat melewati meja kasir dan memasuki Dapur Cafe.
"Mas Indra, mba Lona kenapa itu." Kata Bemo yang berdiri di ambang pintu dapur, Indra menggeleng.
Lalu pandangan Indra masih menangkap sosok itu duduk dengan wajah tertunduk, Indra perlu mengusir pria tidak tau diri itu dari Cafe milik nya.
"Pergi dari sini." Pria itu masih diam dalam kesunyian. Indra yang muak langsung menarik tubuh yang sama besarnya seperti dia itu dari tempat nya. Sayang sekali, pria itu tidak melawan hingga Indra dengan mudah nya mencengkeram kerah baju Bara.
"Sudah cukup menganggu kehidupan Lona. Kamu bukan siapa-siapa nya dia." Bukannya marah, pria itu malah melepaskan kerah baju yang di cengkram kuat oleh Indra.
Dua pria sedang saling tatap dengan ke tahanan diri masing-masing. Sedangkan ada 4 mata yang menyaksikan action itu.
"Bemo pisahin mas Indra sama Mas ganteng buruan ****." Panik Sabrina yang menarik-narik lengan baju Bemo.
"Biarin aja Memunah, Lo gak mau ngeliat adegan bunuh membunuh secara Langsung?" Sabrina langsung mendelik tidak suka dengan jawaban teman satu makan nya ini.
"**** ah gue mau kasih tau sama Mba Lona aja." Sabrina segera memasuki dapur Cafe, sedangkan Bemo berdecak kesal.
Dua orang pria tadi masih berdiri sejajar.
"Kamu juga bukan siapa-siapa Lona, yakan?" Indra di buat membisu. Lalu pria itu menepuk bahu Indra
"Indra ya? Saya Bara. Jangan lupa jagain calon istri saya."
Bara langsung keluar dari Cafe dan meninggalkan beberapa uang berwarna biru di atas meja. Indra menggeram di tempat, sebenarnya siapa pria yang sangat gencar ingin menikahi Lona. Indra rasa ia bukan pria biasa.
...🌸🌸...
"Halo Kevin, Saya mau kerumah sakit. Jadi jangan kasih sharelock ke Mama saya."
Seperti panggilan untuk Kevin kali ini, tugas Kevin itu tidak jauh dari Merahasiakan pertemuan antara Alena dan Bara. Hanya itu
Bara mengembuskan nafas kasar kesekian kali nya, sampai ia bingung harus bagaimana lagi meminta gadis itu menikah dengan nya. Hanya gadis itu yang ia ingin nikahi, hanya dia.
"Tuan Toko bunga yang dekat gedung Perusahaan?" Tanya supir pribadi Bara, dan pria itu mengangguk.
Toko bunga dekat perusahaan? Iya toko yang Bara belikan hanya untuk Alena. Toko yang Bara beli 1 tahun lalu setelah mengetahui bahwa gadis nya sangat menyukai bunga Lili.
Menarik bukan? Iya sangat menarik bahkan Bara saja tidak bisa berkata-kata. Menurut kebanyakan orang Wanita penyuka bunga itu hal yang biasa, tapi tidak dengan Alena. Bara mengingat dulu Alena sangat membenci bunga yang di tanam oleh Bunda nya. Tapi tiba-tiba Alena ingin Bunga yang di pegang oleh salah satu pengunjung rumah sakit.
Sejak saat itu, Bara membawa bunga lili saat menjenguk Alena.