
Dua wanita tengah berbincang ria di taman yang sudah di beri cahaya Orange oleh sang kuasa. Dua wanita ini masih setia duduk di salah satu bangku taman itu yang biasanya tidak terlalu jauh untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Jadi mba Lona sudah mau menikah?" Lona yang memegang kaleng minuman soda berwarna merah itu langsung mengangguk saja tanpa melihat lawan bicaranya.
Ada rasa lega di hati Lona karena bisa bercerita dengan Sabrina.
"Dengan siapa mba?" Tanya Sabrina pelan dan Lona pun menghembuskan nafas nya.
"Bara, kamu ingat dia?" Ucap Lona, lalu Sabrina mengangguk tanda bahwa ia mengingat Orang itu.
"Serius mba sama dia? Bukannya-"
Lona berdiri dari duduk nya tadi, dan melangkah pelan menuju bunga taman yang sangat indah. Rasanya sore ini udara nya cukup segar dengan sinar mentari sore.
"Saya tidak punya alasan untuk menolak nya kan, Sabrina?"
Sabrina yang duduk menatap punggung wanita yang usia nya lebih tua itu hanya bisa mengangguk saja walaupun ia tau bahwa Lona tidak bisa melihat respon nya.
...🌸🌸🌸...
Malam hari nya, Lona di bawa ke rumah Bara. Lona hanya bisa meng-iyakan permintaan dari Ayu Mama Bara.
Lona sudah siap dengan setelan baju kebesaran yang sering ia pakai sehari-hari. Baju kelonggaran serta celana yang sudah terpadu sangat serasi tanpa cela. Walaupun penampilan Lona yang sedikit tidak feminim itu bukan nilai mines untuk tidak melihat betapa cantik nya wanita ini setiap tersenyum.
"Wah anak mama cantik banget." Puji Rani yang menatap anak nya dengan tatapan berbinar, sedangkan Lona yang masih setiap menatap cermin hanya bisa melihat reaksi Rani yang menurut nya benar-benar reaksi bahagia melihat putri nya ingin menikah sebentar lagi.
Rani masih setia berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang sama. Karena orang ketiga tahu segala nya maka aku akan memberikan kalian perasaan yang Rani rasakan.
Rani begitu bahagia akhirnya bisa melepaskan beban hati yang selama ini ia takuti. Rasanya tidak bisa berkata-kata saat Lona mengatakan ingin menikah sebentar lagi, ada rasa sedikit melegakan di lubuk hati wanita berusia 44 tahun ini. Setelah sekian lama mengharapkan bahwa hari ini harus terjadi dan membawa Lona keluar dari kejaran masalalu.
Rasa syukur Rani tidak henti-hentinya belakangan ini, Gara-gara masalalu yang ia lakukan dulu. Membuat Lona menjadi korban dan Rani lah yang harus bertanggung jawab. Menjauhkan Lona dari banyak orang yang mencari tahu tentang mereka adalah tugas dan tujuan Rani selama bertahun-tahun.
Tanpa disadari Lona, Wanita di ambang tua ini menetes kan air mata nya. Air mata bahagia dan sedih sudah tercampur jadi satu
Tok tok tok
Pintu berbunyi, Lalu Rani segera menghapus air mata nya tadi. Berjalan segera menuju pintu dan membuka nya.
"Owh nak Bara, masuk nak." Bara mengangguk dan berjalan menyusul Rani yang dahulu berjalan di depannya.
"Tunggu di sini ya, Saya mau panggilin Lona dulu."
"Iya Tante."
Rani masuk ke dalam Kamar Lona
"Bara udah datang, sana gih buruan jalan." Lona melengah dengan anggukan setelah nya.
Lona berdiri dari duduk nya dan berjalan menyusul Rani, dan benar saja saat Lona mendekati ruang tamu Ada bara duduk di sana dengan setelan Santai yang menurut Lona sangat pas di badan Bara daripada ia memakai Jas kantoran milik nya.
Bara menatap Lona yang baru saja terlihat di mata nya.
"Sebaiknya kalian sekarang saja jalan nya, Nanti kemalaman Loh." Bara tersenyum lalu berdiri dari duduk nya untuk menghampiri Lona.
"Saya pamit ya Tante." Bara mengambil tangan Rani dan mencium punggung tangan nya.
Ke dua insan itu meninggalkan halaman rumah, Rani tersenyum hangat melihat nya.
Perjalanan menuju Rumah bara cukup lama, menghabiskan berpuluh-puluh menit untuk sampai ke sana. Lona yang masih setia menatap lurus ke arah jalanan pun hanya bisa membuat Bara melirik dari samping tanpa suara.
Rasanya gadis di sampingnya ini begitu pendiam dan Dingin. Dengan melihat nya sekali di Cafe waktu itu, Sudah menyadarkan Bara bahwa wanita bukan hanya Alena saja.
Lona membuang wajah nya ke arah jendela mobil di sampingnya, melihat beberapa gedung tinggi menjulang dengan interior berbeda.
Malam yang tidak terlalu memiliki bintang di sisi nya sama sekali tidak membuat Lona tertarik lebih jauh.
"Kita sudah sampai, turun lah." Lona yang sedari tadi melamun sampai tidak sadar bahwa mereka sudah berada di dalam halaman rumah Bara. Mobil Bara sudah terparkir rapi di depan pintu rumah.
Lona melengah ke arah Bara yang sudah keluar dari mobil, lalu berlari kecil menuju pintu mobil yang Lona tempati. Bara membuka nya, dan Lona menatap tidak suka
"Terlalu banyak nonton drama." Oceh Lona yang sudah berdiri di samping Bara.
"Memang nya salah kalau aku memperlakukan calon istri seperti itu Lisa?" Lona menatap tajam ke arah Bara, lelaki yang ia kenal dengan terpaksa ini sudah cukup terbaca jika dia bukan pria yang dingin atau cuek.
"KAK LISA." teriakan gadis berasal dari tengah-tengah pintu rumah Bara, mereka berdua berbalik menatap pemilik suara tadi.
Gadis itu adalah , Safira.
Safira tersenyum lebar melihat ke datangan Lona yang sudah pasti di tunggu-tunggu oleh keluarga ini.
"Ayo masuk buruan kak Bara bawa, Mama udah nunggu." Teriak Safira sekali lagi
Bara mengangguk,
Lona berjalan di belakang Bara, sedangkan Safira sudah berlari menuju ruang makan Rumah ini. Mata Lona tidak bisa berbohong untuk tidak mengangumi titik-titik Rumah yang cukup mewah tapi sederhana.
"Ma menantu Mama datang." Safira lagi-lagi berbicara dengan nada tinggi. Lona hanya bisa tersenyum saat sudah bertemu dengan wanita Yang duduk di kursi meja makan.
Ayu menatap ke datangan Lona dengan antusias tinggi.
"Cantik sekali." Begitulah keluarga bara, tidak menyembunyikan kenyataan.
"Terimakasih Tante." Yap sudah pasti yang memuji Lona tadi adalah Ayu.
Lona di persilahkan duduk di salah bangku berwarna putih itu. Lalu saat bara ingin duduk di samping Lona, Safira sudah merebut nya
"Safira." Tegur ayu melihat kelakuan dua Anak nya ini
Lona tersenyum kikuk.
"Bara ngalah." Teguran lagi dan lagi.
Bara mengalah dan memilih duduk di sebelah Safira, Rasanya menjengkelkan memiliki adik manja cengeng dan keras kepala seperti Safira. Tapi Safira adalah penolong nya jika ia sedang kelaparan malam hari.
"Makan lah dulu. Lonalisa kan?" Lona tersenyum.
"Terimakasih sudah mau menerima lamaran dadakan tanpa acara itu, memang anak nakal."
Ya perkataan ayu tertuju kepada Bara yang se enak jidatnya membawa cincin ke rumah Lona malam itu. Lalu setelah sampai di rumah nya Bara memberitahu Ayu bahwa ia sudah mengikat satu gadis yang akan di nikahi nya beberapa bulan lagi.
Ayu merasa di belakang kan marah besar kepada bara, dan meminta Bara memberikan barang bukti. Dan malam inilah barang bukti itu
"Sama-sama Tante." Sahut Lona.
Mereka makan malam dengan tenang tanpa ada nya halangan, Walaupun Safira sering mengoceh tentang ke hadiran Lona yang sudah ia tunggu tidak membuat Lona muak. Malah Lona setia mendengarkan perkataan dari Safira.
"Safira makan dulu, kamu ngoceh terus." Tegur Bara
"Yaelah Bang kayak gak pernah muda aja."