
Sebenarnya tidak ada yang menginginkan sebuah kenyataan penuh kebohongan itu, sebenarnya tidak ada yang mau menghapus paksa rasa yang tumbuh dengan sendirinya.
Sebenarnya pula Indra tidak mau menuruti orang tua nya yang menurutnya sangat tidak bisa di turuti setiap hari nya. Indra sudah berusaha untuk jadi anak baik-baik dan anak penurut layak nya sebuah peliharaan yang harus menuruti pinta sang majikan apapun itu.
Lelaki berusia 22 tahun itu sedang menatap layar laptop nya dengan kacamata bertengger di hidung mancung yang ia punya. Sesekali meminum kopi hitam yang selalu jadi teman setia setiap dia lembur. Walaupun begitu, Indra tidak mau terlihat menyedihkan di mata semua orang bahkan Indra memilih diam seribu bahasa jika di tanya tentang ke adaan nya yang sebenarnya tidak ada kata Baik-baik saja
Tok tok tok
"Mas Indra, ini sudah pagi. Cafe udah di buka."
Ketukan dari pintu kerja nya membuat Indra sedikit menarik nafas nya berat, lalu pria itu melempar pandangannya ke arah pintu bercat Hitam legam itu. Di balik pintu tersebut ada sosok yang sangat-sangat di inginkan Indra untuk bersama nya
"Mas Indra udah bangun kan? Kalau udah-
"Ya aku udah bangun." Akhirnya Indra mengeluarkan suara nya setelah lama memikirkan kalimat apa yang harus di balas untuk setiap perkataan gadis itu.
Sedangkan Lona
Dia menatap heran, biasanya Indra akan membukakan pintu itu walau Lona hanya mengetuk dan menyebut nama Indra. Tapi saat ini pria itu masih setia di dalam sana tanpa berniat menyapa nya.
"Yaudah mas, aku balik ke dapur dulu." Setelah itu Lona meninggalkan Ruang Indra dengan otak berfikir ada apa dengan lelaki yang biasanya sama sekali tidak pernah bermalam di Cafe lebih dari 3 hari dalam seminggu.
Lona tidak mau menebak hal-hal yang menurut nya tidak harus ia ikuti campur lagi, rasanya begitu berat perlahan harus membiasakan diri dengan ke adaan yang ada. Indra akan pergi dari hidup nya dan meninggalkan beberapa kebaikan yang entah kapan harus Lona balas.
"Mba Lona ini pesanan pertama, Eum dia pesan kopi susu ya mbak." Lona yang baru saja membuka bungkus kopi yang akan ia taruh di wadah penyimpanan terhenti, saat ia melihat Bemo yang muncul di sampingnya.
Lona melengah kan kepala nya
"Udah baikan sama Sabrina?" Tanya Lona yang sudah tau inti dari kemarahan Sabrina yang membuat semua orang berfikir bahwa Sabrina cemburu. Ya cemburu
Bemo yang seperti tidak tau apa-apa itu meringis dan dia menaruh nampan nya di atas meja
"Saya itu bingung mba, sebenernya Sabrina itu kenapa sih. Belakangan ini dia suka marah suka bentak ya walaupun Sabrina watak nya begitu kalau sama saya sih, tapi kan mba."
"Pantas aja Safira bilang kalau kamu suka gak peka." Bemo yang masih setia dengan ocehan nya pun mengehentikan nya
Dia menatap Lona dengan mata menelisik, sebenernya apa yang Lona katakan tadi? Safira?
"Mba bilang apa?"
"Nggak kok." Sahut Lona yang perlahan menuangkan beberapa bahan ke dalam gelas lalu menyeduh nya dengan hati-hati, Bemo yakin dia mendengar Lona mengatakan sesuatu walaupun itu tidak ia tangkap jelas.
"Mba ngomong apa tadi? Saya kan lagi."
"Nih udah jadi, kembali kerja bemo. Kamu mau di pecat sama mas Indra?" Bemo berdecak kesal, Lona memang tidak akan mengulangi kalimat yang ia katakan barusan.
Bemo mengambil cangkir yang Lona Sorong ke arah nya, lalu menaruh cangkir putih itu di atas nampan milik nya. Bemo berlalu pergi dari dapur sedangkan Lona masih berada di sana menunggu pesanan selanjutnya.
Rasanya begitu nyaman di terima baik oleh seseorang yang baru di kenal, seperti hal nya Keluarga Bara yang dengan hangat menyambut nya 2 hari lalu. Ayu tidak seperti bayangan Lona yang akan menanyakan siapa Lona dan Lona berpendidikan Apa.
Tapi ayu hanya mengatakan bahwa apapun pendidikan yang kamu dapat tidak akan mempengaruhi kodrat seorang manusia di mata Tuhan dan ayu juga mengatakan padanya bahwa semua itu tidak penting hanya saja Ayu menginginkan menantu yang apa adanya diri nya tanpa mengubah apapun itu.
Lona sudah melepaskan satu beban yang berada kuat di setiap bahu nya. Dan sekarang hanya satu yang tersisa walaupun itu seharusnya tidak ia pikirkan dan tidak ia cari lagi. Selama ini ia tidak pernah bertemu dengan keluarga dari Rani Mama nya, dan tidak pernah bertemu dengan Ayah nya. Rani pernah bilang kalau Lona seharusnya tidak menanyakan hal itu di masa depan nanti, tapi Lona masih saja menanyakan itu di saat ia baru belajar di bangku SD.
Masa-masa itu memang menyedihkan dan menjijikkan, Sama sekali tidak ingin Lona ulangi ke masa itu.
"Mba Lona udah makan siang? Ini aku bawain nasi goreng buatan Sabrina yang cantik ini." Suara cempreng Sabrina menggema di telinga nya.
Lona menarik kepala nya dari meja yang menjadi tumpuan tidur nya, ia merasa Lelah dan mengantuk dan akhirnya ia tertidur sangat lelap di jam istirahat yang seharusnya ia bekerja dengan giat.
"Kenapa gak bangunin saya?" Lona sedikit tidak enak menatap Sabrina yang masih setia memegang kotak makan berwarna merah gambar Barbie itu
"Abis nya mba kayak cape banget, ya padahal Aku mau bangunin tapi mas Indra bilang jangan." Akhir kalimat sengaja ia kecilkan layak nya sedang berbisik.
Lona menaikkan satu alis nya.
"Ck mba Lona ini, udah ah makan siang dulu walaupun agak melewati batas nya." Sabrina menaruh bekal itu di meja Yang Lona tempati.
"Saya mau bersih-bersih dulu mba." Sabrina pamit keluar dari dapur, Lona masih mengepulkan nyawa yang hilang.
Lalu Lona melihat ke meja dapur dimana Disitulah makanan Cafe ini dibuat. Berarti kalau Indra yang menggantikan nya, otomatis Indra dan dia berada di ruang yang sama dengan keadaan Lona tertidur pulas sampai Cafe ingin tutup?
Wah Lona jika kau berada di Cafe-cafe lain kau pasti akan di pecat tanpa permohonan sama sekali.
"Udah ke kumpul nyawa nya? Makan dulu Lona nanti kamu sakit."
Lona terkejut dan dia langsung bertemu dengan manik mata Indra yang setia berada di ambang pintu antara Ruang utama Cafe dan Dapur.
"Bikin kaget aja." Sungut Lona mengusap dada nya mengurangi serangan terkejut.
Indra tersenyum hangat dan dia melangkah mendekat tapi bukan menuju Lona melainkan menuju Kulkas Dapur. Indra membuka nya dan mengambil satu botol Jus Jeruk botolan yang di jual di warung-warung.
"Nih minum nya, jangan lupa baca bismillah." Indra menaruh itu di meja Lona, sedangkan Lona hanya mengangguk tanpa mau berbicara.
Entah bagaimana rupa Lona saat ini, begitu berantakan karena tertidur.
"3 jam kamu tidur Lona, apa tidak pegal?" Tanya Indra yang masih berdiri di depan nya.
"Kenapa gak di bangunin sih atau gak."
"Di pindahin? Hey Lona kamu itu berat." Lona melotot mendengar kalimat Indra
"Enak aja kalau bilang, jelas-jelas aku ini kurus loh mas. Dasar cowok."
Indra terkekeh mendengar Omelan dari Lona. Rasanya membangun suasana tidak canggung setelah hari itu bukan lah hal mudah dilakukan oleh nya, terlebih Indra adalah tipe pria yang suka mengulur waktu.
"Iya deh iya, yaudah mas pulang duluan ya. Ada kerjaan." Lona mengangguk dengan wajah tanpa ekpresi.
Lona hanya mengangguk tanpa tersenyum atau apapun itu.
Indra mengelus pucuk kepala Lona dengan lembut sebelum ia meninggalkan dapur dengan Lona di dalam nya. Yang menjadi objek tadi pun masih terpaku di tempat, Indra tidak akan pernah berani melakukan itu padanya, bahkan Lona tidak akan pernah diam jika Indra melakukan itu
Tapi sekarang, semua nya berjalan dengan seharusnya.
"Mas Indra, kenapa?"