
Indra berjalan memasuki salah satu tempat makan cepat saji yang lumayan terkenal di kota ini. Dengan gaya cool nya Indra menatap sekitar mencari satu sosok yang mengajak nya ke sini.
Dengan jeli, Indra menemukan sosok itu. Cleona
Cleo melambai ke arah Indra yang masih berdiri di tengah-tengah orang-orang yang sedang berjalan memasuki rumah makan ini. Indra melihat Cleo langsung saja Indra menghampirinya yang berada di meja nomor 13 tepat nya dekat jendela
"Selamat sore tuan Indra." Cleo sedikit menggoda Indra yang nampak nya begitu letih hari ini, sedangkan pria itu hanya menanggapi nya dengan senyum terpaksa.
Cleo sedikit terkejut dengan respon pria yang dulu selalu menempel dengan nya.
"Eum, Mau makan? Ini aku udah pesen tinggal kamu." Tawar Cleo.
Indra menggeleng dan ia menggulung salah satu lengan kemeja putih yang ia kenakan, adegan itu membuat wanita di depannya menahan degup jantung berdebar-debar kurang ajar.
"Aku gak laper, tadi di cafe udah makan." Jelas Indra yang masih fokus memperbaiki lengan kemeja nya.
Cleo pun langsung mengalihkan pandangannya tadi
"O-oh iya ya kamu punya Cafe, kapan-kapan aku ke sana boleh?"
Indra mengangguk tanpa suara, rasanya begitu canggung berbicara dengan Indra yang sama sekali tidak menyukai pertemuan ini. Walaupun status Cleo saat ini lebih di atas Lona tapi rasa cinta untuk wanita tetap saja di menangkan oleh Lona.
"Indra, aku dengar selama ini kamu gak pernah dekat sama perempuan." Cleo membuka topik baru kali ini, dan respon Indra cukup menarik.
Lelaki itu mengangkat satu alisnya sambil menahan tawa, rasanya begitu lucu ketika seseorang wanita bertanya itu padanya.
"Benar begitu Indra?" Cleo mencoba memastikan sekali lagi.
"Pegawai ku ada yang wanita, Bunda ku wanita, Meisya wanita-
"Maksudku bukan yang itu, jadi kamu belum pernah dekat eh gini pacaran intinya."
Cleo sedikit gugup mengatakan itu, rasanya cukup susah berbicara dengan Indra.
"Oh begitu, gak tau deh." Tuh kan, Indra sama sekali ga bisa di ajak kompromi kalau ngomong.
Cleo kesal sekali, rasanya ingin tenggelam aja di dalam lautan cinta Indra. Eh?
"Aku masih normal Cleo, cuma aku gak suka ngumbar apa yang aku jalani." Cleo yang mati-matian menguburkan niat nya berbicara dengan Indra pun lenyap.
"Jadi termasuk hubungan kita?"
Indra yang sedari tadi menunduk tetap tidak mengangkat wajah nya atau nggak kaget gitu loh di tanya kayak gitu sama tunangan sendiri. Bener-bener si Indra gak ada akhlak
"Kamu udah tau kan jawabannya." Suara Indra yang begitu rendah membuat siapapun menggeram kesal termasuk wanita berambut panjang di hadapannya saat ini.
"Baiklah, aku gak bisa lama-lama. Aku pamit pergi." Cleo masih memperhatikan sikap Indra yang tidak sinkron dengan nya, sikap Indra layak nya tidak mau di gapai atau di sentuh itu membuat nya ragu. Ragu untuk mencintai kembali
Indra berdiri dari duduk nya dan dia sedikit melirik Cleo yang sedang menatap nya penuh harap agar dia tidak pergi dari sini. Tapi Indra harus tutup telinga dan hati, ia tidak mau di perbudak oleh hubungan gila ini.
"Dah aku pulang." Indra benar-benar pergi dari sini, menyisakan Cleo yang berfikir keras dengan sikap-sikap yang Indra tunjukkan pada nya.
Cleo berfikir akan mudah mendapatkan sosok itu, nyata nya ia harus memiliki mental yang kuat dan keteguhan hati agar bisa mendapatkan yang ia mau.
...🌸🌸🌸...
Lona berdiri di depan supermarket dengan tas yang ia bawa setiap hari. Seperti biasa Lona menggunakan baju kebesaran serta celana nya juga. Tidak heran walau itu sedikit tidak feminim namun pas sekali untuk gadis cantik seperti Lona.
Wanita itu sedikit demi sedikit menghembuskan nafas kesal nya, sudah 25 menit menunggu satu sosok yang entah kapan muncul nya.
"Bara sialan, awas aja sampai dia PHP. Kalau tau aku udah pesen gojek dari tadi." Kesal, pegal, lelah, dan murka. Adalah kondisi Lona Sekarang
Tin🔊
Kelakson mobil itu mengalihkan pandangan Lona. Dan pemilik mobil itu adalah
"Pagi Nona Lisa." Tanpa berdosa pria itu tersenyum lembut sambil membuka kaca mobil milik nya.
"Dengkul mu Pagi, Lama banget." Sumpah Lona kesal, hampir satu jam dia berdiri di depan supermarket ini dengan mata gencar melihat kendara bolak-balik. Berharap itu Bara yang datang
Bara terkekeh melihat tingkah sebal Lona, rasanya begitu lucu.
"Maaf deh, yaudah masuk gih." Lona merengut dan mau tak mau sudah menjadi bubur menunggu pria sinting di dalam mobil mewah itu. Kalau bukan permintaan Rani mama nya, Lona tidak akan mau menunggu selama itu perhatikan baik-baik Lona tidak sematre itu.
Lona sudah berada di dalam mobil milik Bara namun tidak merubah kondisi wajah nya.
Bara bergidik ngeri
"Maaf Lisa tadi saya ah maksud nya aku lagi ada urusan sebentar pokok nya-
"Buruan Bara pulang, Saya cape mau tidur." Bara yang tidak bisa berbuat apapun menurut saja dengan perintah Lona yang mengeluarkan suara judes nan pedes
Mobil melaju tidak cepat dan tidak pelan, sesekali bara melirik Lona yang masih setia memandang objek di luar mobil daripada menatap wajah tampan milik nya.
Sore menjelang magrib itu adalah posisi paling indah, dimana matahari akan kembali dan bulan akan datang. Bara suka senja, tapi bukan anak senja. Jadi jangan salah kan bara Jika dia menyukai kopi
"Maaf Lisa, tadi ada urusan lagi." Lona menghembus kan nafas nya, jika ia tidak berbicara maka pria di sampingnya akan mengatakan maaf berulang kali.
Lona mengubah posisi kepala nya.
"Ya di maaf kan." Singkat padat dan jelas.
"Gak tanya aku kemana?" Bara berbicara lagi sambil fokus menyetir
"Untuk apa aku bertanya, itu bukan urusan ku kan?"
Bara tersentak dengan pernyataan Lona, ya benar ini bukan urusan Lona tapi Bara ingin tau apakah wanita di samping nya ini berpartisipasi dengan kehidupan Bara atau tidak.
Ternyata tidak.
"Oh ya kamu benar."
Lona mengangguk sambil menyenderkan tubuh nya dengan lemas, rasanya ia tidak ingin mengatakan atau menanyakan apapun kepada Bara. Karena ia tau bahwa mereka berdua tidak pantas melakukan hal itu
Satu setengah Jam yang lalu
Satu setengah jam yang lalu, Bara berada di Rumah sakit tempat Alena di rawat. Bara tau ini bukan waktu kunjungan untuk Alena, tapi rasanya ia ingin bertemu dengan wanita itu.
Padahal Bara sudah buat janji dengan Lona yang sudah menunggu kata nya di depan supermarket gak jauh dari Cafe. Bara merasa bimbang, tapi jawaban hati nya tetap sama. Menemui Alena nya dahulu
Alena sedang duduk manis di ruang khusus untuk nya, dengan wajah yang Pasih serta tatapan kosong.
Bara menatap lekat Alena yang setia menatap bunga Lili bawaan Bara tadi. Bara cukup bimbang dengan perasaan nya sendiri, ia tidak mungkin melepaskan Alena yang kondisinya seperti ini. Dan apakah Bara akan mengaku pada Lona jika Bara menyimpan sesuatu yang sangat berharga di dalam hidup nya.
Memikirkan saja sudah membuat Bara memijit jidat nya sakit, Walaupun pernikahan nya nanti tidak ada Landasan cinta, setidaknya Bara hanya ingin saling terbuka dengan Lona. Bara tidak ingin menyakiti wanita yang sama sekali tidak bersalah pada nya.
"Ba-Ra." Suara rendah dan serak itu membuat Bara tersadar dari lamunan nya. Bara menatap Lekat lagi Alena yang masih setia menatap bunga, Rasanya cukup bahagia nama nya di sebut untuk ke sekian kali nya.
"Iya aku di sini."
Lalu tidak ada lagi obrolan normal yang terjadi, hanya keheningan Ruang serta degup jantung dua manusia ini.