
Lona membuka pintu rumah nya dan mendapati dua orang insan tengah mengobrol saling berhadapan. Lona yang awal nya lesu tidak bertenaga karena harapan satu-satunya telah hilang, kini wajah gadis itu berubah menjadi terkejut melihat sosok pria tengah berbincang dengan Rani.
Rani dan pria itu belum menyadari ke hadiran Lona, sampai Lona menutup kembali pintu rumah nya. Rani menoleh ke arah Lona sambil tersenyum manis, lalu Pria itu ikut menatap ke hadiran Lona.
"Hei Lona, dari tadi loh nak Bara nungguin kamu. Dari mana aja sih kamu?" Oceh Rani kepada Lona, sedangkan gadis itu masih tidak percaya dengan ke datangan Bara.
"Dia ngapain ke sini Ma." Ujar Lona sambil menunjuk Bara yang berada di Sopa rumah nya, Rani keheranan melihat reaksi Lona.
"Apa sih kamu, Calon suami datang di bilang ngapain. Sudah sana ganti baju habis itu temui Bara." Tanpa di jelaskan lagi, Lona sudah mengerti apa yang terjadi sebelum ia pulang.
Bara, pria itu berada di rumah nya saat ini. Ada rasa terkejut dan heran. Dan perkataan Rani yang mengatakan bahwa Bara calon suami Lona.
"Lona mau bicara sama Bara Ma." Saat Rani sudah tidak menoleh ke Arah Lona, Gadis itu berbicara.
"Owh boleh, yaudah mama mau ke supermarket juga nih buat belanja keperluan dapur." Lona mengangguk paham, dan Rani berdiri dari tempat nya berjalan meninggalkan Rumah dengan senyuman.
Rani mengira bahwa Bara lah pria yang di maksud oleh Lona, karena pria itu yang mengatakan
Sore hari, Rani sedang duduk santai di teras sambil menikmati biskuit bulat yang Lona sering simpan di atas meja makan. Rani memilih untuk menunggu Lona pulang, namun siapa sangka mobil mewah terparkir di depan rumah nya lalu keluarlah seorang pria.
Rani sedikit kebingungan siapa pria yang datang ke rumah nya? Dan bukan penagih utang bulanan kan? Setau Rani anak nya itu tidak berani meminjam uang.
"Cari siapa?" Tanya Rani yang sudah menghadang pria bertubuh jangkung itu.
Pria itu tersenyum, "Saya Bara Bu, ini rumah Lona kan?" Tanya Bara.
Rani masih setia mengunyah makanan nya pun mengangguk, dan menanyakan lagi.
"Kamu siapa anak saya?" Dengan nada judes nya.
Bara pun sedikit tersentak, dan dia memilih tersenyum. "Owh Ibu Orang tua nya Lona?"
"Iya saya Orang tua nya, dan kamu siapa? Apa jangan-jangan kamu calon suami anak saya?" Rani menebak dan tentu saja tebakan Rani akan di iyakan oleh Bara yang kebelet mau sama Lona.
"Eh iya Bu, saya calon suami Lona."
Kalian tau? Reaksi Rani?
Wanita tua ini melepaskan cemilan nya dan tersenyum sangat lebar, lalu menyuruh bara untuk masuk ke dalam rumah nya. Sungguh di luar dugaan semua nya.
Bara di ajak mengobrol ini dan itu dan bara di tanya ini itu oleh Rani, untung saja Bara tidak se parno itu untuk hal demikian. Bara meng-iyakan semua apa yang Rani ucapkan pada nya
"Kamu ngomong apa sama Mama ku." Ujar Lona dengan nada kesal.
Bara meminum teh yang di buatkan Rani sebelum Lona datang, Bara meneguk tenang teh hijau itu.
"Calon suami kamu." Tentu saja Lona tidak percaya dengan semua ini.
"Bara, Jangan di anggap serius! Mama ku hanya salah paham." Bara tau, tapi bara sangat di untungkan di sini.
"Kenapa Lisa? Bukan kah ini baik? Mama mu saja sudah merestui kita."
"Masalah nya ini tidak se gampang itu Bara, Kau tidak tau apapun tentang saya! Dan kau memanfaatkan kondisi-
"Benarkan?" Tanya Bara memastikan sekali lagi, Lona yang terlihat gusar pun hanya bisa mengendurkan bahu.
Perkataan Bara memanglah benar, tidak ada bantahan sama sekali.
"Tapi tidak dengan kamu." Kata Lona sekali lagi.
"Kenapa dengan Saya Lisa? Bukan kah kita sama-sama di untungkan?" Bara berkata seperti itu karena pikir nya Pernikahan nya dengan Lona akan menguntungkan bagi nya.
Lona terselamatkan dari derita Dunia dan Bara terselamatkan dari amukan Ayu yang semakin hari menagih ke datangan Lona.
"Saya gak tau Bara, saya gak tau." Sungguh Lona tidak bisa berkata-kata lagi Sekarang.
"Baiklah, Mari kita menikah. Dan anggap saja pernikahan ini saling menguntungkan bagi mu dan bagi ku."
Lona menatap mata tajam Bara yang kini menatap nya penuh mohon.
"Baiklah, tapi saya punya satu permintaan sama kamu." Bara menunggu.
"Apa itu."
"Jangan mencintai ku dan saya tidak akan mencintai kamu." Jelas Lona kepada Bara. Lelaki itu nampak berfikir sejenak.
"Deal."
Dua orang insan itu saling setuju dengan pernikahan yang akan mereka jalani entah kapan dan dimana. Intinya mereka sudah setuju untuk menikah
...🌸🌸🌸...
Indra terduduk lesu di kamar milik nya. Lelaki berusia 22 tahun itu masih memikirkan bagaimana ke adaan Lona saat ini dan sedang apa gadis nya itu.
Jika kalian bertanya, apakah Indra mencintai Lona? Jelas sekali Indra mencintai gadis dengan kepribadian yang sangat tertutup itu. Indra sudah lama mendambakan pernikahan bahagia dengan Lona, tapi takdir berkata lain. Semua yang Indra rencanakan gagal dengan perjodohan
Harapan Indra pupus di tengah jalan tanpa ada nya pertanyaan langsung dari mulut Indra tentang perasaan. Indra memilih bisu dan bungkam Daripada melukai cinta nya.
Bertahun-tahun bukan waktu sebentar dalam mencintai, lantas apakah itu wajar jika segampang itu melepaskan Lona? Sekarang apa yang harus Indra perbuat lagi.
Walaupun Lona belum tau tentang perasaan yang sebenarnya untuk siapa, Tapi Indra yakin jika Lona juga mencintai nya.
"Maafkan aku Lona maafkan aku." Kata-kata itu terus terucap di bibir Indra yang menyenderkan tubuh nya di lemari kaca besar di kamar nya.
Pria ini begitu sedih, Bukan karena cinta nya meninggalkan dia. Tapi dia yang meninggalkan cinta nya
Indra dulu sempat ingin menyatakan cinta nya kepada Lona, tapi ia urungkan karena selama ini dia dan Lona baik-baik saja tanpa mereka sadari sikap yang mereka nampak kan bisa terbaca oleh mereka berdua.
Lona sering bertanya kabar Indra dan bagaimana Indra menjalani hari, sedangkan Indra selalu menanyakan apakah Lona baik-baik saja, apakah Lona ingin sesuatu dan memastikan Lona tidak kejalan yang salah.
Saling menerima perhatian satu sama lain dan tidak mungkin jika Lona tidak jatuh cinta dengan sikap Indra yang sangat Care kepadanya.
Kalian jangan lupa, kalau Indra lah yang membantu Lona bangkit dari keterpurukannya. Indra yang selalu ada Untuk Lona walaupun sering sekali merepotkan Lona dengan otak Lola nya ini.
"Maaf kan aku Lona maaf kan aku."