BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
08


Tak terasa waktu sudah berjalan lebih dari 1 Minggu setelah kejadian Lona di lamar oleh sosok pria tidak di kenal asal-usulnya. Lalu sejak terakhir kali Lona di antar pulang oleh Bara sejak itu juga tidak ada lagi kemunculannya


Saat ini Lona sedang berbincang senggang dengan Sabrina serta Bemo yang sedang melawak padahal sama sekali tidak lucu.


"Mba Lona, besok tuh ya kan saya lagi libur kuliah tuh. Gimana kalau kita semua pergi liburan." Ide cemerlang dari otak Bemo muncul di permukaan sedangkan Sabrina menatap sinis.


"Alah Bemo, uang Lo tabung aja pake acara liburan segala." Cibir Sabrina yang melihat kelakuan Bemo.


Lona hanya menggeleng kan kepala nya melihat dua orang se umuran itu sedang beradu argument.


"Memang nya mau kemana?" Tanya Lona yang nada suara nya begitu datar. Bemo yang mendapat pertanyaan pun tersenyum bahagia sambil membuka kertas gumpalan yang ia dapat di jalanan tadi pagi pas mau berangkat ke Cafe.


Bemo menyodorkan kertas berwarna biru dengan gambar pemandian Kolam besar di kota ini.


"Lihat mba, keren kan. Mana gratis pula ayo lah ayo." Bujuk Bemo dengan wajah memelas nya.


"Ck gak modal jadi laki, mau nya gratis Mulu heran gue!" Sabrina sama Bemo itu adalah perpaduan yang tidak akan bisa sama-sama.


Sabrina orang nya begitu ambisius kalau Bemo ceroboh.


"Maaf ya Bemo, saya gak bisa berenang."


Bemo menghentikan pergerakan nya untuk menghajar bibir lemes Sabrina, dan Sabrina ikut-ikutan melengah ke Lona yang memasang wajah sedih.


"O-oh mba Lona gak bisa berenang." Ujarnya sambil terbata-bata.


Lona mengangguk.


"Hahaha Bemo sendiri aja ya nak ke kolam renang gratisan itu ahaha." Lagi-lagi Sabrina mengejek Bemo dan laki-laki itu hanya mengusap dada dongkol melihat sikap gadis satu ini.


Klonteng


Suara lonceng Cafe berbunyi, mereka bertiga otomatis melihat ke asal suara. Dan ternyata ada pelanggan masuk menggunakan seragam SMA. Bemo langsung melotot melihat siapa yang datang kali ini


Melihat perubahan ekspresi Bemo membuat perhatian Sabrina begitu kepo. Bemo saat ini sangat terkejut sambil meremas kertas yang ia banggakan tadi.


"Kenapa Lo ****?" Tanya Sabrina keheranan.


Bemo menggeleng dan langsung pamit ke toilet kata nya.


"Eh eh Bemo! Gak jelas banget si Setan itu." Teriak Sabrina yang bingung melihat tingkah aneh si Bemo. Mba Lona mengelus punggung Sabrina untuk tidak semeledak itu.


"Udah sana tanyain mau pesan apa." Sabrina menuruti permintaan Lona dan berjalan menuju meja pelanggan, sedangkan Lona sudah kembali ke dapur menunggu Sabrina memberi tahu pesanan dari pelanggan.


Saat Lona membuka pintu dapur, Lona terkejut melihat Bemo yang duduk di pojok dekat Oven sambil menunduk memainkan Headphone nya.


"Owh Toilet sekarang di dapur ya." Tegur Lona yang memasang celemek milik nya dan menatap Bemo yang sudah mematikan Headphone genggam nya.


Bemo meringis dan menggaruk kepala nya yang sama sekali tidak gatal. Lalu Lona menanyakan mengapa Bemo di sini


"Kenapa kamu ke sini? Owh jangan-jangan anak SMA tadi pacar kamu?" Lona menebak-nebak dan berharap Bemo mengatakan tidak.


Karena sesuatu akan rusak jika Bemo mengatakan iya dalam pertanyaan yang Lona lontarkan. Lona menunggu ucapan dari Bemo namun lelaki yang berusia 18 tahun itu berulang kali menghembuskan nafas kasar nya.


"Mba jangan kasih tau sama Sabrina atau siapapun ya." Lona mengangguk sambil menunggu lagi


Bemo menghembuskan nafas sejenak lalu


Lona berjalan mendekat ke arah Bemo.


"Kamu jangan bercanda, Safira anak SMA pacar kamu?" Bemo hanya bisa mengangguk pasrah karena ada satu orang yang mengetahui rahasia nya.


"Jangan bercanda Bemo."


"Saya gak bercanda Mba, sekarang saya lagi ngumpet karena takut di tau kalau saya kerja di sini."


Lona hanya terkejut mendengar Bemo mengatakan bahwa ke kasih nya anak SMA dan kalian tahu? Lona sangat takut jika Safira yang Bemo maksud adalah Gadis Se enak jidat nya itu.


Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang kaki ingin memasuki ruang dapur sebelum Bemo mengutarakan kenyataan tadi. Seseorang itu adalah Sabrina.


Ekpresi Sabrina saat ini begitu kecewa mendengar Bemo mengatakan hal itu. Sabrina Patah hati hari ini


🌸🌸🌸


Ruangan berukuran besar dengan meja panjang berada di tengah nya. Dan saat ini Indra berada di ruangan itu dengan beberapa orang tertua di keluarga nya.


Indra itu adalah anak dari Pak Adimas Bramantyo. Orang yang lumayan berpengaruh di kota, menjadi kepala sekolah di SMP Lona dan Indra dulu, lalu menjadi anak pertama di keluarga nya.


Indra sebagai anak pertama dari Adimas pun mau tak mau akan mengikuti semua perintah dari Adimas. Apapun itu tanpa bantahan sekalipun, umur Adimas saat ini adalah 22 tahun. Bagi keluarga Bramantyo umur segitu sudah mendekati masa pernikahan.


Entah itu perjodohan, atau membawa cinta sendiri.


"Indra, Papa sudah tanya ini berulang kali sama kamu. Sebenernya kamu ini normal atau enggak?" Tanya Papa nya dengan nada mengintimidasi Indra.


Sedangkan yang di tanya memutarkan bola mata nya.


"Pa, Indra ini masih muda. Belum mau menikah!" Ya, Indra bukan tidak mau menikah, tapi nanti! Tunggu sampai mempelai wanitanya siap.


Pak Adimas menyunggar rambut hitam yang hampir menjadi putih separuh nya.


"Papa menikah di umur kamu saat ini, dan kamu tau Meisya sepupu mu itu kan? Menikah di umur 21 tahun." Jelas Adimas.


Adimas bukan hanya kali ini menanyakan pernikahan kepada Indra. Ini sudah ke sekian kali nya Adimas menanyakan hal itu namun lagi dan lagi Indra mengatakan nanti pa nanti dan nanti.


"Papa curiga sama kamu, Kata mama mu. Kamu ini di lihat sama Meisya jalan sama perempuan, jangan bilang kalau dia mantan anak murid papa."


Tubuh Indra meremang di tempat, papa nya juga tau hal itu? Padahal Indra sudah menutup rapat-rapat tentang Lona selama ini.


"Jangan bilang iya Indra, kamu tau sendiri kan. Papa tidak akan setuju kamu menikah dengan gadis yang orang tua nya saja tidak jelas asal-usulnya nak." Tanpa Adimas sadari, tangan Indra sudah mengepal kuat sambil menahan amarah.


Se enak jidat saja papa nya ini mengatakan hal itu kepada Lona nya. Papa nya tidak tau seperti apa Lona itu dan bagaimana Lona nya.


"Pa, Papa nggak bisa menilai orang dari Cover nya. Papa juga harus-


"Cukup. Dari reaksi kamu seperti nya papa benar, sekarang keluar."


Adimas mengusir anak nya keluar dari ruangan kerja milik nya, dan Indra menatap sekilas ke arah papa nya dengan rasa kesal yang menggebu-gebu.


"Baiklah." Indra berdiri dari duduk nya dan berjalan menuju pintu keluar, lalu membuka pintu kayu itu dan menutup nya dengan kasar.


Adimas hanya bisa melihat tingkah Indra yang sudah biasa ia tangani, Indra itu tipe lelaki yang sangat tekun jika menginginkan sesuatu.


"Lonalisa? Kenapa harus dia."