
Suasana se habis hujan begitu menenangkan, walaupun masih ada beberapa tetesan yang jatuh tidak sederas beberapa menit yang lalu.
Ting
Lonceng cafe berbunyi tanda ada seseorang yang masuk. Dan seseorang itu adalah Lona. Setelah menunggu hujan agak reda Lona memutuskan untuk memesan taksi online dan ya untung pagi ini ada yang mau walau hujan sangat deras pake banget.
Lona memasuki Cafe sambil melipat payung yang ia bawa. Tanpa melihat kondisi ia menginjak lantai keramik cafe ini dengan santai nya.
"Mba Lona kenapa di injak lagi sih." Teriakan Bemo membuat Lona menghentikan pergerakan nya di depan pintu itu. Lona mencari keberadaan Bemo dan ternyata pria itu sedang duduk memeluk lutut di dekat pintu Cafe sebelah kanan.
"Itukan belum kering mba, haduh sedih banget saya." Lona meringis melihat ekpresi Bemo seperti orang depresi.
"Aduh maaf-maaf saya gak liat heheh, udah terlanjur sih yaudah saya lanjut dulu baybay bemo." Lona tidak kejam tapi yakan udah terlanjur kena cepritan ya mending basah sekalian.
Bemo nelangsa melihat keramik yang ia jaga dengan sepenuh hati kini sudah kotor kembali. Pasti Indra akan memarahi nya jika tidak segera membersihkan lagi.
Lona memasuki ruang ganti untuk menaruh tas dan juga jaket yang ia kenakan. Saat Lona menutup lemari penyimpanan, Lona terlonjak kaget. Di sebelah lemari ada Sabrina yang memeluk lutut nya sambil menyembunyikan wajah nya di kedua lutut lalu rambut nya itu menutupi wajah keseluruhan.
"Astagfirullah Sabrina, saya kira Setan." Lona mengelus dada nya kaget. Sabrina tidak bergerak hanya saja bahu nya bergetar dan itu terlihat jelas di mata Lona.
Merasa aneh sama Sabrina, Lona berjalan perlahan mendekat ke arah Sabrina dan jongkok di hadapan gadis itu.
"Kenapa?" Lama sekali Lona menatap Sabrina yang masih di posisi awal. Lona nggak tau berapa lama gadis ini duduk di pojokan dekat lemari dengan kondisi seperti sekarang.
Sabrina belum mau mengubah posisi untuk melihat Lona yang bertanya pada nya. Sedangkan Lona masih setia jongkok melihat ke adaan Sabrina.
"Sab kamu-
"Eh mba Lona. Kenapa?"
Lona terdorong kebelakang karena kaget ke sekian juta kali nya. Lona menatap tidak percaya wajah Sabrina sekarang. Gadis itu tiba-tiba mengangkat wajah nya dan tersenyum layak nya tidak tejadi apa-apa. Lona melongo
"K-kamu gak kenapa-kenapa kan?" Lona berdiri dan menatap Sabrina yang masih duduk memeluk lutut nya. Sabrina menggeleng sambil memajukan bibir nya
Lona menghembuskan nafas nya perlahan,
"Syukurlah, saya kira kamu kenapa sampe duduk di situ sendirian. Kerja sana udah reda hujan nanti ada pelanggan datang."
Sabrina hanya mengangguk sambil memaksakan senyuman nya. Dan itu pun tidak di sadari oleh Lona. Lona meninggalkan ruang ganti dan berjalan menuju dapur
Untuk saat ini kondisi Cafe belum terkendali walaupun sudah tersusun rapi. Lona belum melihat Indra di mana pun, mungkin Indra ada di ruang kerja pikir Lona.
Bemo sudah selesai mengelap lantai dan saat ini dia sudah berdiri tampan di sebelah pelanggan pertama pagi ini.
"Selamat pagi Om, mau pesan apa." Ujar Bemo yang memegang buku catatan pesanan. Yang di sebut Om oleh Bemo pun sedang memperhatikan menu-menu
Lona mengikat celemek yang ia bawa dari ruang ganti, lalu meninggalkan pandangan yang barusan tertuju ke Bemo barusan. Lona memasuki dapur Cafe dengan senyuman yang biasanya ia lihat di cermin saja
Atau tidak secara refleks jika dia merasa harinya bahagia. Huh hari ini tidak terlalu bahagia namun cukup membuat nya sedikit lega. Entah apa perasaan yang membuatnya lega seperti ini. Intinya ada sedikit beban yang agak berkurang di pundak nya.
"Oi mba Lona, ini ada pesanan."
Bemo menyerah kan buku pesanan dan Lona membaca nya. Lona mengangguk dan bersiap-siap membuat kan Minuman pertama. Bemo duduk di belakang Lona yang ada meja dan kursi nya. Menunggu Lona selesai dengan racikan coklat panas cukup memakan waktu 5 menit lebih.
"Mba Lona ga ada niatan pacaran gitu kek?" Sabrina mendengar pertanyaan Bemo, dan dia masih menuangkan bubuk coklat ke dalam gelas.
"Kok bisa ga sempat sih mba, lagian mba Lona ini masih muda terus nah tu mas Indra datang. Halo mas."
Kalau ada Indra Bemo gak berani nanya-nanya kayak tadi. Bisa di semprot sama kata-kata pedes. Bahaya banget sumpah
Indra memang masuk ke dapur ini sambil memegang handphone merek apel di makan ulat. Tau lah ya apa.
"Ngapain kamu di sini, sana kerja." Tuh untung mas Indra agak tuli jadi dia gak di semprot sama kata-kata mutiara di pagi hari.
"Ih mas Indra, saya lagi nunggu coklat panas." Sahut Bemo tidak mau kalah.
Indra lelah menanggapi ocehan anak muda kurang asem itu, Indra kembali ke niat awal nya untuk bertanya desain menu Cafe versi terbaru.
"Eh Lona saya mau tanya-
"Sama saya aja mas, saya kan."
"Saya mau tanya sama Lona, bukan sama Kamu bemo." Sebelum Bemo panjang kali lebar, Indra sudah duluan memotong.
Bemo menggaruk rambut nya yang gak gatal, atau mungkin beneran gatel lagi ih jorok gak tuh ada kutu nya.
🌸🌸🌸
Bara sudah memeriksa beberapa berkas yang di bawakan oleh sekertaris nya untuk di data tangani oleh nya. Se pagi ini Bara sudah ada di kantor dengan wajah tampan segar bugar yang tidak pernah layu. Asek
Bara sesekali mengecek Jam di tangan nya. Lima menit yang lalu seharusnya pesanan bubur yang dia minta sudah siap di meja nya. Tapi ini sudah lebih 5 menit berlalu dan Kevin belum ada keliatan batang idung nya loh ya.
"Kevin saya lapar." Gumam Bara yang memang terlanjur menyesal karena tidak sarapan di rumah. Ia terlalu terburu-buru karena takut macet di jalan dan alhasil dia berangkat jam 5 pagi dari rumah nya.
Kevin kemana dirimu, beli bubur aja selama ini ya ampun.
Bara yang gak tau mau ngapain, dia memilih membuka handphone dan melihat-lihat galeri milik nya. Dan ya yang pertama keluar adalah foto nya dan Alena beberapa tahun lalu. Alena yang tersenyum konyol sambil memakan rambut nenek berwarna pink yang pada jaman itu sangat mahal ahahah kalau di ingat Bara akan tertawa melihat ekpresi Alena yang sangat bahagia dibelikan makanan yang pada jamannya pernah begitu Waw harga nya.
Bara menggeser ke satu foto lagi.
Dan foto selanjutnya adalah, Bara yang berdiri di samping Alena yang sedang mengerjakan tugas sekolah akhir tahun pembelajaran. Waktu itu Alena sangat bersemangat ingin belajar bersama Bara yang katanya mau ngambil Perkuliahan di luar kota
Masa-masa itu adalah masa yang paling membahayakan menurut nya. Tidak ada yang bisa mengembalikan ke adaan seperti dulu lagi.
"Ini bubur nya." Bara langsung meng-off kan headphone nya dan menaruh dengan posisi terbalik di atas meja nya.
Bara menatap tajam ke arah Kevin yang datang secara tiba-tiba.
"Gak ketuk pintu, gak sopan Banget." Oceh Bara.
Kevin menarik kacamata nya ke atas yang sempat melorot dari hidung.
"Anda yang terlalu fokus sama foto itu, mangkanya gak sadar." Oke Bara kalah telak
Yang dikatakan oleh Kevin memang benar toh? Bara terlalu tenggelam dalam pesona Alena dan dirinya.
"Makasih." Ucap bara menarik mangkuk dan memakan bubur nya perlahan, Kevin mengangguk dan dia berpamitan untuk keluar ruangan.
Meninggalkan Bara yang masih setia memakan bubur ayam ke sukaan nya. Walau hanya bubur tapi bisa mengganjal perut yang kelaparan ini.