BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
01


Gadis manis tengah mengaduk cairan manis yang berada di dalam cangkir putih khas Cafe tempat ia bekerja. Dengan telaten dia mengaduk cairan itu dengan wajah yang serius.


Suasana Cafe siang ini begitu dingin karena hujan yang terus-menerus turun tanpa ada jeda sama sekali sejak semalam. Banyak pengunjung yang hanya ikut duduk dan meminum Kopi atau Teh tarik.


"Mba Lona, ada pesanan dari meja nomor 3." Gadis yang sedang mengaduk beberapa gelas itu pun menghentikan pergerakan nya. Dan menatap seseorang yang memanggil nama nya.


Ya, gadis itu adalah Lona.


Lona menaikkan satu alis nya agar Sabrina segera memberitahukan pesanan apa yang di pinta.


"Dia pesan kopi pahit sama biskuit gosong." Mata Lona langsung mendelik mendengar kan pesanan dari Sosok pelanggan aneh satu ini.


"Biskuit gosong? Ada-ada aja, terus juga Kopi pahit? Ya ampun doyan banget dia." Bukan Lona yang menjawab, melainkan Mas Indra pemilik Cafe ini.


Lona terkekeh geli mendengar ocehan mas Indra yang menurut nya lucu padahal tidak.


"Ini juga bocah satu ini, ketawa aja. Yaudah Mas bantuin kamu hari ini, dan kamu Sabrina kembali ke kasir."


Perintah mas Indra tanpa mau di bantah, Sabrina pun berlalu dengan nampan di tangannya. Dan Disini tempat pembuatan makanan atau bisa di sebut dapur Cafe, hanya ada Mas Indra dan Lona.


Lona masih diam dengan pekerjaan, sedangkan mas Indra mulai membuat biskuit gosong. Gampang saja membuatnya hanya tinggal menaruh Biskuit itu kembali ke dalam Oven hingga menjadi Biskuit berwarna hitam dan rasa pahit tentu nya.


"Aneh banget ya itu orang, masa iya biskuit mau yang gosong." Ocehan mas Indra yang masih setia melihat proses biskuit di dalam oven.


"Nama nya juga manusia mas, Mereka punya selera masing-masing." Ujar Lona yang sudah siap menekan tombol pemberitahuan kepada pelayan yang mengantarkan minuman siap di nikmati.


Ting


Setelah melakukan itu, Lona kembali membuat Kopi yang di pesan barusan. Dengan Takaran yang tidak biasa ia buat, sedangkan mas Indra memperhatikan gadis yang ia bawa dari rumah berantakan 3 Tahun lalu.


Rumah yang biasanya sarang Bahagia, ini malah menjadi sarang utama pemicu ke gilaan manusia. Ingat itu 3 tahun lalu, dan sekarang gadis itu sudah lebih baik dari sebelum nya.


Indra Nandra itu Kaka kelas Lona dulu semasa dia SMP. Tapi hanya Indra yang menyadari ke hadiran Lona sedangkan gadis itu cuek dengan ke adaan. Otak nya hanya di isi dengan bagaimana mencari uang, sekolah dan bahagia. Ia tidak berniat mencintai atau di cintai.


Sampai dimana saat kelulusan Lona, Indra sebagai anak dari kepala sekolah di SMP Lona pun terkejut mendengar gadis pendiam di sekolah nya tidak melanjutkan sekolah menengah Atas. Jujur saja, waktu itu Indra tidak dapat menemukan Lona dimana pun. Karena tidak seorang pun saat itu tahu tempat tinggal nya.


Indra sempat khawatir tentang masa depan yang sangat di impikan Lona, menjadi wanita sukses dan pintar. Namun semua hanya mimpi Lona semasa ia kecil dulu.


Bertemu lah mereka di tahun ke 2 setelah Kelulusan Lona di SMP. Lona yang masih setia duduk di halte tempat henti Taksi itu menatap kosong ke arah dua kaki di alasi sandal kumuh dan kotor.


Gadis itu terlihat sedih sambil memeluk Map berwarna pink pudar, yang berisi ijazah SMP miliknya. Indra menghampiri sosok itu disaat ia mengisi daya mobil di Pom bensin. Dengan langkah lebar Indra berlari menghampiri sosok yang ia cari.


"Beritahu aku, kenapa kamu disini? Kamu mantan Anak SMP Negeri 2 kan?" Itu pertanyaan dari Indra untuk Lona. Dan tentu saja Lona mengangguk.


Indra tersenyum dan menarik Map yang Lona peluk erat, dan Lona berdiri dari duduk nya untuk mengambil kembali kepunyaan nya. Tapi telat, Indra sudah melihat isinya.


Tentu Lona marah karena pria ini Se enak jidatnya mengambil dan bertanya.


"KAMU SIAPA SIH?" itu teriak Lona dengan mata sendu nya.


"Saya malaikat kamu."


Tlak


Suara pertemuan antara gelas dan piring kecil berbunyi. Pesanan kopi telah siap, Mas Indra sudah mengeluarkan Biskuit tadi dari oven kemudian menaruh nya di atas piring.


Lona sedikit meringis melihat Biskuit hitam pekat dengan aroma yang mengerikan. Apalagi pasangan Biskuit itu adalah kopi pahit.


"Biasa aja muka nya Lona, beritahu Sabrina kalau udah siap." Lona mengangguk dan menekan tombol itu kembali.


Beberapa menit kemudian Sabrina kembali ke dapur dan membawa pesanan menggunakan nampan putih.


"Gak ada pesanan lagi Sab? Kalau gak ada, aku mau bantuin kamu di depan." Sabrina yang sudah mau berbalik pun menghentikan langkahnya.


"Udah gak ada mba, Iya bantuin saya di depan. Yang jaga kasir gak ada, tadi si Bemo ijin toilet lama banget lagi." Lona mengangguk paham dan melepas celemek berlogo Cafe ini.


"Aku mau pergi juga," itu kalimat pemberitahuan dari mas Indra, "Lona kamu tutup cafe." Lanjut mas Indra yang di iyakan oleh Lona.


Mas Indra berlalu melewati dua gadis ini, dan Lona menuntun Sabrina untuk keluar dari dapur. Lona duduk di kasir sambil memainkan ponsel miliknya. Ponsel pembelian di gajih ke 5 dia bekerja disini.


Lona bukan gadis yang mau bergaul dengan sembarangan orang, padahal banyak sekali yang ingin berteman dengannya.


"Permisi, Apakah kamu yang nama nya Lona?" Lona yang fokus dengan ponsel nya tadi, langsung mengangkat wajah nya mendengar suara itu.


Sosok yang memanggil nama nya tadi sedang berdiri tegak di belakang mesin Kasir Cafe ini. Lona mengerutkan dahi sambil memencet daya mati di telpon genggam nya.


Mata nya fokus kepada pria dengan setelan Jas hitam serta kaos putih. Tubuh tegak itu, mata tajam itu akan menghipnotis para kaum hawa jika melihat nya, tapi tidak tau dengan Lona.


"Ya saya sendiri, kenapa?" Lona masih duduk dengan tenang sambil membalas tatapan dari Pria itu.


"Jadi istri saya, mau?"