BETWEEN LOVE AND REALITY

BETWEEN LOVE AND REALITY
22


Setelah menyesuaikan sarapan pagi nya. Bara memutuskan untuk pergi ke rumah sakit yang di tempati oleh Alena. Bukan kebiasaan baru jika Bara selalu mengunjungi Alena hampir setiap hari, jika kalian bertanya mengapa Bara melakukan hal itu. Bara akan mengatakan


"Alena itu segala nya, dia gadis pertama yang membuat ku jatuh cinta dan gadis pertama yang membuatku merasakan benci secara bersamaan."


Bara sangat menyesali kepergian nya waktu itu untuk kuliah. Harusnya dia stay di sini dan kuliah bersama-sama dengan gadis yang sangat ia cintai ini. Andai saja Bara mengetahui lebih awal kondisi gadis nya, maka ini tidak akan terjadi dan mungkin Bara sudah hidup bahagia dalam rumah tangga bersama Alena.


"Sudah sampai Tuan." Suara supir pribadi itu membangun kan Bara dari lamunan nya.


Bara memperbaiki jas hitam nya dan memeluk erat bunga lili.


Bara turun dari mobil sambil membawa bunga lili di tangannya. Dengan senyuman yang biasa di lihat kan ketika seseorang sedang jatuh cinta dan ingin bertemu dengan kekasih tercinta nya.


Hari ini adalah waktu jenguk yang bisa di bilang sangat cepat dari biasanya. Bara memutuskan keluar dari kantor sebelum jam istirahat karena pekerjaan nya sudah selesai. Tanpa ada yang menyadari, ke datangan bara kali ini membuat seseorang tengah kalang kabut.


Bara melewati lorong menuju ruang rawat Alena. Sudah bertahun-tahun dia melewati tempat ini, berbagai macam cuaca, hari, jam, dan ke adaan


Bara sudah melewati nya.


Saat ini Bara sudah sampai di depan pintu kamar rawat, tangan Bara ter-ulur untuk membuka pintu nya. Perlahan tapi pasti, pintu telah terbuka dan menampilkan sosok wanita berambut lumayan panjang lurus dan begitu pucat.


Bara memasuki ruangan itu, dan menutup nya kembali. Bisa di bilang Bara sengaja merancang sendiri kamar yang Alena tempati, demi kenyamanan penyembuhan gadis ini. Walau bertahun-tahun lama nya tidak membuat Bara belok ke lain hati


Tidak tau nanti hahah


Oke lanjut.


Alena menyadari kehadiran Bara pun melengah ke arah pintu, dengan wajah datar yang biasanya sering terlihat di wajah nya.


"Aku datang." Kata itu selalu Bara ucapkan jika mengunjungi Alena.


Alena diam seperti biasa. Bara meratakan bibir nya dan menyerahkan bunga lili yang selalu ia bawa tanpa absen sama sekali. Kalau kalian bertanya, mau di kemana kan bunga yang Bara bawa setiap kunjungan itu?


Alena menerima uluran bunga tadi, dan mencium bunga nya dengan wajah berseri. Bara memandangi wajah cantik Alena yang sedang duduk di depannya.


Posisi Bara di sini sedang duduk di bawah ranjang dan Alena duduk di pinggir ranjang. Bara tanpa sadar menitis kan air mata nya, entah apa yang membuat nya terharu. Dengan cepat Bara menghapus satu tetes keluar dari kelopak mata nya.


"Bara kapan berhenti." Suara itu serak dan lirih. Sangat lirih bahkan jika kalian tidak benar-benar fokus maka suara itu sama sekali hanya jadi angin lalu di telinga.


Bara yang samar-samar mendengar Alena berbicara tapi tidak mengerti kalimat nya pun. Dengan cepat menatap wajah itu dengan intens


Alena masih menimang bunga lili cantik di tangan nya. Tangan Bara ter-ulur untuk mengelus pucuk kepala Alena dengan lembut, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Alena tidak menolak dan tidak membantah Bara tidak bisa merasakan detak jantung gadis itu, ah dia hidup tapi gimana sih kalau orang sedang jatuh cinta? Pasti ada getaran yang aneh kan? Yang berasal dari detak jantung


Bara memang tidak merasakan, tapi Alena merasakan detak jantung Bara yang memacu sangat kencang seperti dia habis lari maraton. Alena sama sekali tidak memejamkan mata nya malahan dia meremas bunga di tangannya. Sedangkan Bara, lelaki itu memejamkan mata nya menahan sesak yang menusuk dari belakang.


"Aku mencintaimu, Alena." Bara mengatakan itu, jelas Alena langsung menarik diri dari pelukan Bara dan menatap lelaki itu dengan tatapan datar tidak terbaca. Bara terkejut tentu saja.


Alena sekilas menatap Bara yang masih berdiri di depannya, lalu kembali menatap bunga lili yang sudah ia remas tadi.


...🌸🌸🌸...


Jam istirahat kantor atau pekerjaan lainnya sudah di mulai. Cafe milik Indra pun agak ramai di buat nya, Mereka semua bekerja di tempat masing-masing.


Kondisi Dapur di kendalikan oleh Lona seorang diri. Kasir di kendalikan oleh Indra. Dan dua orang remaja itu tengah bekerja di lapangan.


"Udah jadi Mba?" Kepala Sabrina muncul di dapur setelah mendengar Suara pemberitahuan makanan jadi. Lona mengangguk sambil menyerahkan minuman, dan cemilan.


Bisa di bilang anggota ini kurang jika hanya Lona yang bekerja di dapur. Tapi kata Indra, sementara hanya mereka berempat saja yang bekerja karena ya Cafe ini tidak sebesar itu.


"Semangat kerja nya Mba." Sabrina menyemangati Lona sebelum dia keluar dari Dapur.


Lona mengangguk dan kembali membuat dua porsi milk shake stroberi.


"Aku bantu?" Lona melirik sekilas ke arah Indra yang baru masuk ke dalam dapur. Lona mengangguk karena benar dia membutuhkan bantuan sekarang.


Indra menyuruh Lona agak geser sedikit supaya dia bisa melihat kertas yang Lona tempelkan di meja. Indra membuat satu jus buah naga dengan eskrim sebagai bahan mix nya.


Mereka berdua sama-sama fokus membuat pesanan tanpa obrolan sama sekali. Tapi sesekali Indra melirik ke arah Lona yang begitu tekun mengerjakan tugas nya.


Inilah yang membuat Indra benar-benar jatuh ke dalam pesona wanita pendiam, cantik, dan ya Lona tidak manis namun ada sisi yang membuat nya nampak elegan.


Elegan itu gak harus feminim kan?


Indra menyukai Lona di saat gadis itu pertama kali bertabrakan dengan nya di lapangan upacara semasa SMP. Indra yakin hanya ia yang ingat masa-masa itu, karena sampai sekarang dia menyukai Lona.


Saat itu, Indra terpaku melihat gadis yang terjatuh di tanah lapangan ber semen putih itu. Jujur Indra sangat merasa bersalah dan langsung meminta maaf, tapi Lona berdiri sendiri dan meninggalkan Indra tanpa mengucapkan Iya dalam permintaan maaf'an Indra.


Huh, sudah bertahun-tahun lama nya tidak terasa. Jika saja ia bisa memberhentikan otak orang tua nya, maka Indra akan melakukan itu tanpa mau berfikir dua kali lagi. Indra tidak akan pernah menyesal jika bisa memutuskan pertunangan nya itu sebelum jauh ke depan lagi


Indra dan Lona tanpa sadar sama-sama mengambil sendok di tempat sendok. Indra melihat tangan kiri Lona yang menggapai satu sendok kecil untuk mengambil bubuk coklat yang kebetulan tidak ada sendok di dalam wadah nya.


Lona melirik Indra dengan ujung mata nya, sedangkan Indra masih memperhatikan sesuatu.


"Eh maaf mas." Lona menarik tangannya segera. Membiarkan Indra yang mengambil benda itu lebih dulu


Tapi sebelum Lona menarik tangannya, Indra sudah bertanya.


"Cincin apa itu Lona?"